My Ekstrovert Wife

My Ekstrovert Wife
Aku lapar


__ADS_3

“Kenapa kau menatapku seperti itu? Tidak suka melihatku disini?” Tanya Jasson tanpa menoleh kepadanya.


“Siapa juga yang menatapmu, Aku…… Ah, Sakit.” Teriak Tiyara saat Jasson memasang infus ketangannya.


Jasson menoleh kepadanya dan benar saja wajah wanita itu benar benar kesakitan. “Astaga aku lupa jika dia takut dengan jarum suntik.” Guman Jasson yang baru ingat dan untungnya infus sudah dipasang.


“Apa masih sakit?.” Tanya Jasson dengan memegang wajah istrinya tersebut. Tiyara diam dan menatap lekat wajah suaminya tersebut setelah itu langsung menggelengkan kepalanya.


“Aku lupa bahwa kau takut dengan suntikan, Maafkan aku.” Ucap Jasson yang langsung memeluknya. Tiyara hanya diam dan tidak membalas pelukan dari suaminya tersebut dan menatap ke kakinya.


“Aku lapar, Apakah boleh aku makan sesuatu?.” Tanya Tiyara yang berharap diberikan makanan.


Jasson melepaskan pelukannya dan menatap istrinya tersebut. “Kau tidak boleh makan sembarang, Aku akan memasakkan makanan untukmu, Tapi kau jangan meninggalkan ranjang.” Balas Jasson.


“Em.” Jawab Tiyara dengan menganggukkan kepalanya dengan bibir yang membentuk senyuman lebar. Jasson mengusapkan kepalanya dan keluar dari ruangan sehingga membuat semuanya menoleh kepadanya.


“Bagaimana keadaan Nona?.” Tanya Dery dengan wajah penasarannya.


“Untuk kondisinya saat ini sangat baik, Hanya saja dia masih sedikit lemah.” Jawab Jasson dengan senyumnya.


“Tidak pernah aku melihatnya tersenyum, Apa dia senang saat nona sudah bangun?.” Guman Dery dengan wajah bingungnya.


“Untuk masuk kedalam hanya diizinkan sebatas lima orang saja, Aku akan mengambilkan makanan untuknya terlebih dahulu.” Ucap Jasson dengan sedikit menundukkan kepalanya dan meninggalkan semua orang yang ada didepan ruangan tersebut.


“Ayo.” Ajak Rere kepada Feiy sedangkan Dery menatap kepada Jasson yang terlihat menyapa dengan hangat orang orang rumah sakit itu.


“Aneh sekali, Biasanya tuan hanya mengeluarkan ekspresi datarnya saja, Kenapa saat ini berbeda?” Guman Dery yang masih kebingungan.


“Mungkin karna tuan senang dan bahagia sebab nona sudah bangun dari komanya.” Jawab pengawal yang mendengar perkataan Dery.


“Em mungkin juga.” Balas Dery pula dan langsung berjalan masuk kedalam ruangan Tiyara. Tiyara menoleh kepadanya dan langsung menatap tajam lelaki itu sehingga membuat Dery kebingungan dan menatap kebelakang namun tidak ada siapa siapa dibelakang.

__ADS_1


Tiyara melototkan matanya kepada Dery, Dengan wajah bingung dan heran Dery masih berjalan mendekat kepada Tiyara dan berdiri dihadapannya. “Awas saja kau.” Guman Tiyara dengan wajah kesalnya menatap Dery.


“Sayang, Apa dibagian tubuhmu ada yang sakit?.” Tanya bi Feiy dengan mengusap kepala Tiyara.


“Tidak ada bi.” Jawab Tiyara sambil menggelengkan kepalanya.


“Syukurlah sayang kau sudah bangun, Sudah lama sekali kau koma.” Ucap Rere sehingga membuat Tiyara menoleh kepadanya.


“Emangnya udah berapa lama Tiyara tidak bangun bi?.” Tanya Tiyara dengan wajah bingungnya.


“Sudah lebih tujuh bulan nona.” Jawab Dery. Mata Tiyara langsung membulat saat mendengar jawaban dari Dery.


“Apakah itu benar?.” Tanya Tiyara yang tidak percaya.


“Iya sayang, Kau sudah lebih tujuh bulan berbaring diatas ranjang, Jasson selalu menunggumu dan hanya meninggalkanmu saat dia membersihkan tubuhnya.” Jawab bi Feiy dengan senyumnya.


“Hah? Aku sudah lebih tujuh bulan tidak bangun? Bagaimana bisa?” Guman Tiyara yang sama sekali tidak percaya dan menatap ke semua yang ada diruangan secara bergantian.


“Bi Feiy dia masih terlihat normal.” Sambungnya dengan wajah bingung.


Cklekkk


Jasson masuk dengan membawakan makanan untuk Tiyara sehingga semuanya menoleh kepadanya. “Makanan sudah jadi, Sekarang makan dahulu bagaimana?.” Tanya Jasson dengan senyum yang masih mengembang dan meletakkan makanan disamping ranjang.


Semuanya terlihat bingung akan sikap Jasson saat ini namun setelah itu tersenyum senang saat Jasson tersenyum menatap Tiyara. “Boleh.” Jawab Tiyara menganggukkan kepalanya mengiyakan perkataan Jasson.


“Yasudah kami keluar terlebih dahulu, Nona juga terlihat baik baik saja dan kau pasti akan merawatnya dengan baik.” Ucap Feiy dengan senyumnya dan berjalan meninggalkan ranjang Tiyara itu.


Tiyara meraih tangan bi Feiy. “Bibi ingin kemana?.” Tanya Tiyara dengan wajah menyedihkannya saat Feiy hendak meninggalkannya.


“Bibi keluar sebentar ya nona, Nanti setelah selesai bibi akan masuk kembali, Bibi tidak akan kemana mana bibi akan selalu berada didepan.” Jawab bi Feiy dengan senyumnya sambil mengusap kepala Tiyara.

__ADS_1


“Tidak apa apa ya sayang kami keluar terlebih dahulu.” Ucap Rere pula dengan senyumnya. Dengan hati sedih Tiyara melepaskan tangannya dan semuanya berjalan keluar dari ruangan tersebut.


“Apa kau tidak senang jika aku yang ada di dekatmu?.” Tanya Jasson dengan wajah merajuknya.


Tiyara menatap kepadanya dan setelah itu menatap pula kepada Jasson. “Bukan tidak senang, Hanya saja kau tau bukan saat aku sakit bagaimana pun bi Feiy selalu ada bersamaku.” Jawab Tiyara dengan wajah sedihnya.


Jasson mendudukkan tubuhnya diatas ranjang dan mengusap kepala istrinya tersebut. “Mereka selalu menunggumu dan selalu bersamamu namun mereka tidak disampingmu sebab dengan kau yang masih berada dirumah sakit menyulitkan mereka untuk terus terusan berada disampingmu.” Jelas Jasson singkat sehingga membuat Tiyara mendongakkan kepalanya.


Jasson kembali tersenyum dan menyingkirkan rambut kecil yang menghalanginya menatap wajah cantik itu. “Tapi kau tidak meninggalkanku kan?.” Tanya Tiyara pula.


Jasson tersenyum dan menggelengkan kepalanya, Tiyara membalas senyuman tersebut sebhingga membuat Jasson kembali canggung dan menurunkan tangannya. “Ah iya, Kau mau makan sekarang?.” Tanya Jasson mengalihkan pandangnya dari Tiyara.


Tiyara menganggukkan kepala dengan semangat dan Jasson langsung mengambil makanan tersebut dan membentuk meja makan yang bersatu dengan ranjang itu dan meletakkan makanan diatasnya. “Apa kau tidak berniat untuk menyuapiku? Aku ini pasien.” Ucap Tiyara saat Jasson menatapnya.


“Ah baiklah.” Jawab Jasson yang mendudukkan tubuhnya dihadapan istrinya dan menunggu makanan sedikit dingin agar bisa dimakan oleh istrinya tersebut.


Jasson menyuapi wanita itu dan dia menerimanya dengan senang hati. “Apakah enak?.” Tanya Jasson dengan senyumnya dan menyiapkan makanan lain didalam sendok.


“Em, Ini pasti kau yang memasak bukan?.” Tanya Tiyara dengan menerima lagi makanan yang disuapi oleh suaminya itu.


“Bagaimana kau bisa tau?.” Tanya Jasson dengan wajah bingungnya.


“Jelas saja tau, Setiap aku sakit dan kau yang merawatku pasti kau selalu memasakkan makanan untukku, Sebab kau tau bahwa aku tidak menyukai makanan yang disiapkan rumah sakit.” Jawab Tiyara yang kembali menerima suapan dari suaminya.


Jasson menundukkan kepalanya tersenyum senang saat mengetahui bahwa istrinya mengetahui ciri ciri masakannya. “Selain itu masakanmu enak dan sesuai dengan lidahku.” Sambungnya sehingga membuat Jasson mendongak menatap kepadanya.


“Hatimu pasti begitu senang ya sekarang, Senyummu yang begitu langka kau tebar kepada siapapun hari ini.” Goda Tiyara.


“Em, Jelas saja hatiku begitu senang.” Balas Jasson dengan senyum yang semakin bahagia.


“Apa penyebabmu begitu bahagia saat ini?. Apa karna aku bangun setelah sekian lama?.” Godanya kembali dengan senyum nakalnya. Jasson menatap kepadanya dengan bibir yang masih saja tersenyum senang.

__ADS_1


__ADS_2