My Ekstrovert Wife

My Ekstrovert Wife
Nenek


__ADS_3

“Tidak usah memanggilku nona, Panggil saja Zhara.” Ucap Tiyara dengan senyumnya.


“Baik Zhara.” Jawab Jasson.


“Suaramu sangat tidak asing ditelingaku, namamu siapa?.” Tanya Tiyara dengan wajah bingung dan bertanya tanya sebab memang merasa samgat tidak asing akan suara lelaki dihadapannya saat ini.


“Nama saya……”


Dritttt


“Maaf ada telpon.” Ucap Tiyara saat Jasson hendak menyebut namanya. Tiyara mengangkat telpon tersebut dengan Jasson yang terus memperhatikannya.


“Hah?.” Tiyara terlihat kaget dengan ucapan seseorang dibalik telpon sehingga Jasson tampak langsung kebingungan dan Tiyara langsung menatap kepada tetangganya itu.


“Nanti aku akan kesana.” Tiyara langsung mematikan telpon tersebut dan meletakkan telpon itu ketempatnya kembali.


“Aku sepertinya harus pergi, Nanti jika membutuhkan sesuatu jangan sungkan untuk menghubungiku ya, Sampai jumpa.” Ucap Tiyara yang langsung meninggalkan lelaki tersebut.


“Apa yang terjadi?.” Guman Jasson dengan wajah bingungnya.


“Nenek.” Tiyara langsung mendekat kepada neneknya yang terbaring lemah itu.

__ADS_1


“Nyonya besar tadi terjatuh dihalaman rumah saat tengah berjalan jalan nona, Dan…….” Tiyara langsung menoleh kepada paman dan bibinya yang ada didalam ruangan tersebut.


“Kenapa kau melihat kami seperti itu.” Ucap bibinya dengan wajah datar dan ekspresi kesal.


“Kau tau bagaimana aku bukan? Berani kau menyakiti orangku kau akan hancur.” Tegas Tiyara dengan kesalnya.


“Heh, Beraninya kau mengancamku, Apa kau pikir kau itu memiliki kekuasaan lebih? Apa kau pikir kau…..”


Plakkkk


“Tutup mulut sampah itu, Jika menginginkan harta yang berlimpah perbanyak kerja keras jangan menyakiti orang lain.” Tegas Tiyara kembali dengan memukul meja.


“Baik nona.” Balas pengawal dan paman dan bibinyapun berinisiatif keluar dengan sendirinya.


“Cih bocah itu, Akan aku beri dia pelajaran.” Umpat bibinya dengan kesal.


“Mereka siapa?.” Guman Jasson dengan wajah bingungnya melihat sepasang orang keluar dari ruangan yang dimasuki Tiyara.


“Nenek segeralah sembuh, Setelah itu akan menjagamu dengan baik dan tidak akan membiarkan mereka menindasmu lagi.” Ucap Tiyara dengan senyumnya sambil mengusap kepala neneknya yang masih belum sadarkan diri.


Dua bulan berlalu.

__ADS_1


“Selamat tinggal ruangan lama.” Ucap Tiyara dengan senyumnya melihat ruangan yang sudah ia gunakan selama dua bulan lebih ini.


“Mari ikuti saya.” Ajak seseorang yang membantunya.


“Silahkan bu, disini ruangan anda.” Ucap orang itu yang mengangarkan Tiyara ke ruangan baru.


“Terima kasih atas bantuan nya.” Balas Tiyara dengan senyumnya sedangkan orang tadi membalasnya dengan senyuman dan meninggalkan Tiyara disana.


Tiyara menghela nafas dan mendudukkan tubuhnya diatas kursi tempat barunya. “Hem cepat sekali pangkatku naik dan langsung jadi asisten CEO.” ucapnya dengan memutar mutarkan kursi yang ia duduki.


“Tapi sebentar.” ucapnya dan menghentikan kursi yang berputar itu.


Dia mengambil tongkatnya dan kembali berdiri dan mengambil sesuatu, “Aku sama sekali tidak mengetahui siapa pemilik perusahaan ini, Yang aku tau banyak orang mengatakan bahwa pemilik perusahaan ini orangnya sudah sangat tua dan…….”


“Dan apa?.” suara itu menghentikan ucapannya.


“Kejam?.” tanya orang itu lagi sehingga membuat Tiyara menoleh kebelakang. Mata wanita itu membulat saat melihat lelaki dihadapannya saat ini.


“Kau? Kenapa kau bisa disini dan masuk kesini?.” tanya Tiyara dengan suara yang sedikit mengeras.


Jasson berjalan mendekat sehingga membuat tongkat miliknya terjatuh dan dirinyapun juga hampir terjatuh namun dengan segera Jasson langsung meraih pinggang wanita tersebut. “Kenapa kau bertanya seperti itu? Apa aku tidak boleh memasuki ruangan asistenku sendiri?.” tanya Jasson dengan senyum nakalnya dan mendekatkan wajahnya ke wajah Tiyara.

__ADS_1


__ADS_2