
Jasson tidak menjawabnya dan mengambil kedua tangan wanitanya dengan sepeda yang disandarkan dipahanya. Jasson mengusap lembut tangan kecil itu sambil sesekali menghembusnya, Perlakuan baru dan pertama kalinya kembali didapatkan oleh Tiyara hingga kembali membuat wanita itu terdiam dan menatap lekat suaminya.
Raut wajah yang biasa saja seketika berubah dan membentuk sebuah senyuman manis akan perlakuan manis. "Masih cukup dingin." ucap Jasson dengan membuka telapak tangan itu dan mengusapnya.
"Eh?, Tangannya cukup kasar, Apa yang dilakukannya hingga tangannya kasar seperti ini?." guman Jasson dengan mengusap dan merasakan telapak tangan tersebut dan setelah itu menatap wanita itu.
Wajah yang tengah tersenyum tulus menatapnya sangat bisa dilihat oleh Jasson. "Tidak sama seperti tangan wanita manja dan sering bermalas malasan, Tangannya terlalu kasar, Dia mengetahui segalanya." guman Jasson hingga akhirnya dia membalas senyuman wanitanya tersebut dan memasukkannya kedalam dekapan hangatnya.
Tiyara langsung tersadar akan lamunannya dan membulatkan matanya akibat saat ini dia tengah berada didalam dekapan lelakinya. "Sudah merasa hangat?." tanya Jasson dengan menyelimuti tubuh kecil itu menggunakan jaket tebal yang digunakannya.
"Em." jawab Tiyara dan membalas pelukan hangat tersebut.
Tangan yang kedinginan mencari celah kehangatan ditubuh lelaki itu hingga akhirnya dia menemukannya dengan kehangatan tersebut terletak dipinggang lelakinya tersebut. "Benar benar hangat." ucap Tiyara dengan mengusapkan kepalanya didada bidang suaminya akibat kenyaman hingga membuat matanya sedikit terpejam.
"Baik, Tunggulah beberapa saat baru kita kembali kerumah." ucap Jasson dan kembali mendekat wanitanya.
"Hem jika dilihat lihat anak itu sangat mencintai istrinya, Jika istrinya berselingkuh dengan lelaki lain apakah dia akan memaafkannya dengan mudah?." tanya Farid dengan senyumnya memikirkan rencananya.
"Aku akan memulainya, Biarkan mereka memiliki waktu sedikit baru menghabisi istrinya nanti setelah itu baru menghabisi keduanya." ucap Farid yang kembali tersenyum lebar.
"Jalan." perintahnya.
"Huh." nafas yang mencoba menghangatkan diri sendiri sangat terdengar oleh Tiyara membuatnya mendongakkan kepalanya dan melepaskan pelukannya.
"Ayo pulang kerumah, Lama lama diluar nanti kita beku." ajak Tiyara dengan senyumnya.
"Baik ayo." ajak Jasson dan mendorong sepeda tersebut untuk kembali kerumahnya.
"Biar aku memboncengmu lagi." ucap Tiyara yang hendak mengambil alih sepeda dari tangan Jasson namun Jasson tidak memberikannya.
"Salju sudah mulai tebal, Jalan kaki saja biar aku yang mendorong sepedanya." jawab Jasson dengan kaki yang terus saja melangkah.
"Baik." jawab Tiyara dengan berjalan disamping suaminya tersebut.
__ADS_1
"Jasson." panggil Tiyara disela sela perjalanannya. Jasson langsung menoleh kearah wanita tersebut.
"Ada apa?." tanya Jasson saat mendengar istrinya memanggilnya.
"Mulai dari mana ya?." guman Tiyara yang nampak bingung ingin memulai pertanyaan dari mana.
"Em, Papamu dimana?." tanya Tiyara yang sedikit ragu.
"Papa sudah tiada." jawab Jasson dengan wajah datarnya.
"Meninggal karna sakit atau...."
"Karna ditembak mati oleh temannya sendiri." potong Jasson. Tiyara langsung menoleh kearahnya, Dengan hati yang penasaran begitupun dengan pikiran dua menatap lekat lelakinya tersebut.
"Siapa yang membunuhnya atau menembaknya?." tanya Tiyara dengan wajah penasaran.
"Jika Jasson tau siapa pembunuh paman sudah pasti orang itu juga yang membunuh ayah." guman Tiyara.
"Temannya sendiri yaitu pamanku." jawab Jasson dengan masih saja memasang wajah datarnya.
"Aku menyaksikannya sendiri, Saat itu paman membawa papa kegedung tua yang sepi dan aku mengikuti mereka setelah itu selang beberapa waktu paman langsung menembak papa dengan pistol yang ada ditangannya." jelas Jasson dengan wajah kesalnya saat mengingat kejadian waktu itu.
"Waktu itu yang ada digedung hanyalah ayah, Paman Drean, Aku, Dery dan juga Jasson, Dan yang paling banyak waktu itu pengawal dari lawan, Aku sama sekali tidak mengetahui siapa mereka tapi kenapa Jasson malah mengatakan paman?, Apakah paman yang dimaksudnya adalah ayah?." guman Tiyara dengan dahi yang mengerut bingung.
"Paman yang kau maksud memangnya siapa?." tanya Tiyara yang sedikit ragu kembali dsn berharap yang dimaksud Jasson bukanlah ayahnya.
Jasson langsung menoleh kearah istrinya tersebut dan sangat terlihat wajah penasaran. "Aku tidak boleh membiarkan dia tau tentang siapa pembunuh papa." guman Jasson dan langsung mengalihkan pandangnya.
"Perhatikan jalanmu, Kau hampir menabrak pagar." ucap Jasson dan berkelok masuk kedalam pekarangan rumahnya tanpa menjawab pertanyaan dari Tiyara tadi.
"Astaga hampir saja." ucap Tiyara dan langsung berlari menyusul suaminya tersebut masuk kedalam pekarangan rumah.
"Jasson, Kau belum menjawab pertanyaanku." ucap Tiyara saat sampai disamping suaminya tersebut.
__ADS_1
Jasson tidak menjawabnya dan hanya memasang wajah datarnya tanpa menghentikan langkah kakinya dan terus berjalan masuk kedalam rumahnya. "Ah baiklah, Mungkin dia tidak mau mengatakannya." ucap Tiyara dengan membuang nafas panjang.
"Aku kekamar terlebih dahulu, Ganti baju setelah itu aku akan kembali menemuimu." ucap Tiyara dengan senyum yang mengembang. Melupakan dengan sekejap apa saja yang dibicarakan keduanya dijalan tadi.
Jasson memperhatikan langkah kaki wanita tersebut hingga dia masuk kedalam kamar baru dia berlalu masuk kedalam kamarnya pula.
"Yatuhan tidak mungkin bukan jika Jasson mengira ayah yang sudah membunuh paman?." tanya Tiyara dengan memejamkan matanya.
"Aku harus segera mendapatkan siapa yang sudah melakukan itu semua agar Jasson tidak terus terusan berpikir ayah yang membunuh paman." ucap Tiyara yang langsung mengganti bajunya dan setelah itu mengambil ponselnya.
"Dery. Bolehkah aku meminta tolong kepadamu?." tanya Tiyara dengan nada memelas nya.
"Iya nona, Minta tolong apa?." tanya Dery dengan wajah penasarannya.
"Kau belum menemukan siapa pembunuh ayah dan paman?." tanya Tiyara dengan wajah sangat iba akan Jasson yang menuduh ayahnya.
"Kenapa nona tiba tiba bertanya tentang ini?." tanya Dery dengan wajah bingungnya.
"Bisahkah aku sedikit meminta kepadamu?, Bisakah kau menemukan pembunuh itu dalam waktu dekat?." tanya Tiyara dengan masih menggunakan nada ibanya.
"Saya akan terus mencari tau siapa yang sudah......"
"Aku menginginkan pembunuh itu sekarang." potong Tiyara yang masih menggunakan nada awal.
"Aneh sekali, Nona tidak pernah berbicara dengan nada ini sebelumnya." guman Dery yang sedikit bingung.
"Hah, Aku benar benar belum ingin Tiyara mengetahui siapa pembunuh papa sebelum aku mendapatkan informasi tentang anak paman Watsons." ucap Jasson dengan menarik nafas panjang dan setelah itu membuangnya.
"Jasson, Lama sekali kau mengganti baju." teriak Tiyara dari luar kamar Jasson sehingga membuat Jasson menoleh kearah pintu kamar tersebut.
"Hah, Wanita ini sudah berteriak saja." ucap Jasson dengan menggelengkan kepalanya dengan bibir yang membentuk sebuah senyuman dan berjalan kearah pintu kamarnya tersebut.
Jasson membuka pintu kamarnya tersebut dan terlihat wanitanya tengah berdiri tepat didepannya dengan tersenyum lebar. "Ah ternyata sudah selesai, Aku pikir belum." ucap Tiyara dengan senyumnya saat melihat suaminya tersebut menggunakan baju yang berbeda dari sebelumnya.
__ADS_1
"Ada apa?." tanya Jasson dengan wajah datarnya.