
Jasson langsung membuka lebar matanya dan duduk dari baringnya tersebut. "Ehem" Jasson nampak mencoba menstabilkan kerongkongannya.
"Pagi pagi sudah kemari, Apa dia memanggil anda?" tanya Jasson dengan menatap wanitanya yang masih tidur itu.
"Tidak dok, Saya ingin mengecek saja apa nona ini sudah baik baik saja atau tidak" jawab dokter Syeri dengan senyumnya.
"Lalu bagaimana keadaannya?" tanya Jasson dengan wajah datarnya.
Tiyara bisa mendengar sedikit keributan didekatnya dan membuka perlahan matanya. "Jasson apa yang terjadi? Kenapa sangat berisik?" tanya Tiyara dan membalikkan tubuhnya membelakangi cahaya matahari yang berarti membelakangi dokter Syeri.
Jasson dan juga dokter Syeri langsung menoleh kearah wanita itu dan terlihat tali infus yang sudah menegang. "Hey berbaringlah dengan bagus nanti infus ini terlepas" ucap Jasson dengan memegang bahu wanita itu mencoba membuatnya berbaring seperti awal.
"Lampunya terlalu terang" ucap Tiyara yang tidak nyaman tidur dengan matahari yang dikira olehnya lampu.
"Sudah pagi, Itu bukan lampu" balas Jasson. Tiyara sontak langsung membuka matanya dan menatap ke Jasson.
"Sudah pagi?" tanya Tiyara dan menoleh kearah jendela.
"Dokter?" ucap Tiyara dengan wajah bingungnya.
Dokter Syeri langsung melebarkan senyumannya. "Iya nona" balas Syeri dengan senyumnya. Tiyara perlahan memundurkan tubuhnya untuk duduk seperti semula dan menatap lekat wajah Syeri hingga membuat Syeri kebingungan.
"Boleh saya memeriksa anda nona?" tanya dokter Syeri dengan sopan.
Tiyara langsung menganggukkan kepalanya tanpa mengeluarkan suara apapun. Syeri yang sudah mendapatkan persetujuan mulai pemeriksaan terhadap Tiyara yang nampak sudah baik baik saja sedangkan Tiyara pikirannya kembali dipenuhi oleh ucapan Jasson kemarin.
"Kau harus meminta maaf kepadanya" ucapan itu kembali teringat saat dia melihat Syeri.
"Dokter" panggil Tiyara dengan tatapan menyedihkannya.
Jasson langsing menoleh kearah wanita tersebut begitupun dengan Syeri yang baru saja selesai menyelesaikan pemeriksaan. "Iya nona, Ada yang sakit?" tanya dokter Syeri.
Tiyara langsung menggelengkan kepalanya menandakan tidak ada yang sakit hingga membuat Syeri kebingungan begitupun dengan Jasson. "S-saya minta maaf karna kemarin tidak sopan dengan anda" ucap Tiyara dengan menundukkan kepalanya.
Jasson yang awalnya sedikit tegang langsung tersenyum saat mendengar ucapan yang keluar dari mulut wanita tersebut. Dokter Syeri langsung menoleh kearah Jasson dan terlihat dokter Jasson tersenyum lebar menatap Tiyara. "Saya benar benar minta maaf, Kemarin ada yang...."
"Ah nona itu sama sekali tidak masalah, Saya sudah melupakannya" potong dokter Syeri saat tidak suka akan Jasson yang tersenyum menatap Tiyara.
__ADS_1
"Tapi...."
"Saya sudah memaafkan nona, Itu adalah hal biasa yang sering saya alami" potong dokter Syeri kembali.
"Terima kasih sudah memaafkan saya" ucap Tiyara dengan nada sopannya. Syeri kembali menatap kearah Jasson dan terlihat Jasson masih saja tersenyum menatap Tiyara.
"Iya nona" balas Syeri yang masih bisa tersenyum.
"Oh iya nona, Anda sudah baik baik saja, Hari ini anda sudah boleh pulang" ucap dokter Syeri dengan senyumnya menatap Tiyara.
"Baik terima kasih" balas Tiyara dengan senyumnya.
Dokter Syeri mengangguk mengiyakan ucapan tersebut. "Saya permisi dokter Jasson, Nona" pamit dokter Syeri yang sudah selesai melakukan tugasnya.
Tiyara menganggukkan kepalanya mengiyakannya pamitan dari dokter Syeri namun tidak dengan Jasson yang masih menatap wanitanya. "Bersiaplah kita akan pulang" ucap Jasson kepada wanitanya.
Dokter Syeri bisa mendengar itu akibat belum pergi. Dengan wajah bingung dan sedikit kesal dia langsung melangkahkan kakinya berlalu dari sana. "Cih apa hubungan mereka hingga dokter Jasson mengajaknya pulang?" guman Syeri dengan wajah kesalnya dan membuka pintu ruangan tersebut dengan wajah yang kembali dipasang biasa saja.
"Em" Tiyara menganggukkan kepalanya dengan senyum yang mengembang dan turun perlahan dari ranjang. "Infusnya?" tanya Tiyara yang baru ingat infus masih melekat ditangannya.
"Oh iya hampir lupa" ucap Jasson dan berjalan mendekat kearah wanita itu. Dia langsung berhenti dan mengambil tangan yang masih ada infus disana dan melepaskan perlahan infus tersebut.
Jasson yang mendengarkannya langsung menoleh kearahnya dan terlihat wanita itu tengah tersenyum lebar menatapnya sehingga membuatnya langsung terpaku tidak bergerak sedikitpun. "Nona...."
"Ah maaf menganggu" ucap Dery yang masuk tanpa mengetuk pintu ruangan tersebut dan langsung keluar saat melihat tuan dan nona nya yang nampak menatap satu sama lain.
Jasson sontak langsung menjauh dari wanita itu dan menoleh kearah pintu namun tidak dengan Tiyara yang langsung memasang wajah kesalnya. "Cih dasar asisten yang tidak berguna, Beraninya mengangguku" umpat Tiyara dengan wajah kesalnya sedangkan Jasson hanya memasang wajah datarnya saja.
"Cepatlah bersiap, Kau mau menginap disini lagi?" tanya Jasson dengan wajah datarnya.
"Iya, Iya" balas Tiyara dengan wajah kesalnya dan melangkahkan kakinya berlalu dari sana namun terhenti kembali.
"Mana baju yang akan aku kenakan?" tanya Tiyara dengan menengadahkan tangannya meminta baju kepada Jasson.
"Nona apakah boleh saya masuk?" teriak Dery dari luar.
"Masuk" teriak Tiyara pula sehingga membuat Jasson menjauhkan telinganya.
__ADS_1
Dery masuk kedalam ruangan tersebut dengan membawa paperbag yang ada ditangannya. "Nona ini baju yang dibawakan bi Feiyang kemari" ucap Dery dengan menyodorkan paperbag kepada Tiyara.
"Bibi kemari? Kenapa aku tidak melihatnya?" tanya Tiyara dengan wajah bingungnya.
"Dia sekitar jam empat pagi tadi kemari tapi anda dan tuan masih tidur makanya dia kembali kerumah" jawab Dery.
"Tidak menungguku?" tanya Tiyara dengan wajah sedikit kecewanya.
"Bi Fei bilang dia memiliki banyak pekerjaan dirumah makanya tidak bisa menunggu anda" jawab Dery kembali.
"Kau tidak berbohong kepadaku kan?" tanya Tiyara dengan menatap tajam asistennya tersebut. Dery langsung mengangkat kepalanya menatap Tiyara yang nampak tidak mempercayai ucapannya.
"Saya mana berani berbohong kepada nona" jawab Dery.
"Awas saja jika berani berbohong" ucap Tiyara dengan nada mengancam dan langsung berlalu dari sana masuk kedalam toilet untuk mengganti bajunya.
"Apa yang terjadi sehingga dia tidak mempercayai ucapanmu?" tanya Jasson kepada Dery dengan wajah bingungnya.
"Tidak ada tuan" jawab Dery dengan senyumnya.
"Lalu kenapa dia bisa tidak memepercayai ucapanmu?" tanya Jasson dengan wajah bingungnya.
"Nona memang seperti itu, Dia selalu waspada akan ucapan orang lain dan tidak mudah percaya" jawab Dery dengan senyumnya.
"Tapi ini....."
"Kalian berdua mengumpatku?" tanya Tiyara memotong ucapan Jasson. Jasson dan Dery langsung menoleh kebelakang dan terlihat Tiyara berjalan mendekat kearah mereka dengan sudah tidak mengenakan baju rumah sakit lagi.
"Mau saya antarkan kembali nona?" tanya Dery menawarkan diri.
"Tidak, Jasson membawa mobil" jawab Tiyara dengan wajah datarnya.
Drittt
Ponsel Jasson bergetar menandakan ada yang menghubunginya membuat lelaki itu langsung mengambil ponselnya yang berada didalam jas yang ia kenakan saat ini dan terlihat itu dari satpam Derwin. "Halo, Ada apa? Apa semuanya sudah kau siapkan?" tanya Jasson dengan wajah dan nada datarnya saat telpon sudah terhubung.
"Sudah tuan, Saya memanggil beberapa pekerja rumah yang dapat dipercayai dan beberapa penjaga lulusan terbaik dari militer" jawab satpam Derwin.
__ADS_1
"Suruh mereka menyiapkan kamar untuk Tiyara, Ingat jika kamar Tiyara dan kamarku ditukar sebelum kami tiba dirumah semuanya harus siap" ucap Jasson yang masih saja menggunakan nada dan wajah datarnya dan langsung mematikan telpon tersebut.
"Siapa?" tanya Tiyara dengan wajah penasarannya.