My Ekstrovert Wife

My Ekstrovert Wife
Ruang Bawah


__ADS_3

"Baiklah, Nona kemarin masuk rumah sakit karna apa? Bibi kesana kemarin tapi nona dan dokter Jasson masih tidur" ucap bi Feiyang kepada Tiyara dengan wajah sedikit hawatir.


"Ah itu karna sakit perut biasa, Tidak apa apa sekarang Tiyara sudah sembuh" jawab Tiyara dengan senyumnya.


"Nona tidak sedang berbohong kan?" tanya bi Feiyang.


"Tidak, Tiyara keatas dulu" jawab Tiyara dengan senyumnya dan melangkahkan kakinya menaiki anak tangga menuju ke museum nya.


"Dery ikuti aku" teriak Tiyara dari atas.


"Aku keatas dahulu" pamit Dery kepada bi Feiyang dan langsung menyusul Tiyara yang ada diatas.


Tiyara masuk kedalam ruangan museumnya dan mengambil bingkai seukuran gambaran Jasson dan menyimpannya dalam lemari kaca begitupun dengan gambarannya yang diletakkannya didinding sedangkan Dery dia masih berada diluar karna memang tidak ada satupun orang yang diizinkan masuk kedalam ruangan tersebut.


Tiyara kembali keluar dari ruangan tersebut dan menguncinya kembali. "Orang orang kemarin dimana?" tanya Tiyara dengan wajah seriusnya tanpa ada satu orangpun yang berani menguping.


"Mereka diruang bawah nona" jawab Dery dengan menundukkan sedikit tubuhnya.


"Baik, Kau tinggal disini dan jangan biarkan bibi kebawah" ucap Tiyara dengan melangkahkan kakinya kembali turun namun menggunakan tangga yanng berbeda dengan yang ia naiki tadi.


"Nona, Bi Feiyang juga tau tentangmu yang menyekap orang yang menganggumu" guman Dery dengan menggelengkan kepalanya.


Tiyara terus saja menuruni anak tangga yang jauh lebih banyak takaknya dibandingkan dengan tangga yang ia naiki tadi. "Nona" sapa dua pengawal yang ada didepan ruangan tersebut.


Tiyara tidak menjawabnya dan berjalan masuk kedalam ruangan yang kuncinya sudah dibuka itu. "Kenapa belum memberikan nama kepada tempat mereka berdua?" tanya Tiyara dengan membaca seluruh nama perusahaan yang ada ditempat pengurungan orang orang yang mencoba menyakitinya.


Beberapa pengawal yang ada didalam ruangan tersebut langsung menundukkan sedikit tubuhnya saat mendengar suara Tiyara. "Mengapa tidak menjawab? Apa kalian tiba tiba bisu?" tanya Tiyara dengan berjalan mendekat kedua kurungan yang belum diberikan nama dan itu adalah orang kemarin yang ditangkap dirumah sakit.


"Apakah kalian belum mengakui siapa bos kalian?" tanya Tiyara dengan senyumnya dan tangan yang memegang pintu trali tersebut.


"Lepaskan saya, Saya tidak mengenali anda dan...."

__ADS_1


"Berhentilah berpura pura, Kau tau bukan siapa aku? Jika tidak tau itu mustahil, Perusahaan mana yang menyuruhmu?" tanya Tiyara dengan menatap tajam lelaki dan wanita itu.


"Tidak ada yang menyuruh kami" teriak wanita.


"Oh jadi satu perusahaan saja" ucap Tiyara mengangguk mengerti akan teriakan wanita itu.


"Jika kalian patuh akan dilepaskan, Jika tidak ya tanggung saja akibatnya terkurung sampai mati disini" ucap Tiyara dengan senyumnya.


"Lepaskan aku" teriak lelaki pula.


"Buka pintunya" pinta Tiyara dengan pengawal.


"Baik nona" jawab pengawal dan membuka gembok pintu tersebut. Lelaki dan wanita tadi langsung keluar dan langsung ditahan oleh pengawal.


"Lihatlah mereka yang tidak mau berbicara dan menghianatiku" ucap Tiyara dengan senyumnya menunjukkan orang orang yang berada ditempat yang sama namun kurungan yang berbeda.


Tubuh yang sudah mengecil dan mata yang sayu sangat kasihan tinggal menunggu ajal saja mereka menghilang dari dunia ini. "Apa yang kalian berdua inginkan? Mau berbicara dan menjadi pekerja disini atau diam dan menjadi seperti mereka?" tanya Tiyara dengan senyumnya menatap kedua pasangan tersebut.


"Oh baiklah, Masukkan kembali aku memiliki urusan lain, Sampai jumpa" ucap Tiyara dan berjalan keluar dari ruangan tersebut.


"Masuk kembali" tegas pengawal. Namun wanita dan lelaki itu memberontak dan terus saja memberontak namun tidak bisa lepas akibat para pengawal yang berbadan kekar itu terus menahan mereka dan kembali mengurung mereka.


"Hah, Membosankan menjadi gangster seperti ini" ucap Tiyara dan menaiki anak tangga dengan malas.


"Ah iya, Aku harus keperusahaan sebentar, Beberapa pekerjaan perusahaan juga sudah aku kerjakan, Hanya mengeceknya saja tidak apa bukan?" guman Tiyara dengan senyumnya dan kembali turun menuju keruangan utama dengan tangga yang berbeda menuju keruang bawah.


"Dery" teriak Tiyara yang kehilangan Dery pula.


"Iya nona, Saya disini" jawab Dery saat mendengar teriakan tersebut.


"Bagaimana keadaan perusahaan? Beberapa klien waktu itu bisa kau ambilkan?" tanya Tiyara dengan wajah seriusnya.

__ADS_1


"Iya nona, Semuanya berjalan dengan lancar, Ada beberapa yang harus anda periksa dan itu sudah saya kirim ke email anda" jelas Dery.


"Baik, Nanti malam aku akan mengeceknya, Temani aku keperusahaan" ucap Tiyara dengan wajah datarnya.


"Bibi, Tiyara keperusahaan dulu" teriak Tiyara akan bi Feiyang yang berada didapur.


"Nona anda nanti makan siang dirumah kan?" tanya bi Feiyang.


Tiyara terdiam sejenak dan menatap bi Feiyang dari atas hingga bawah yang celemek melekat diperutnya dan rambut terikat bundar dibelakang. "Jelas saja iya, Nanti Tiyara akan pulang tepat waktu" jawab Tiyara dengan senyum yang mengembang kepada bi Feiyang.


"Hati hati ya nona" ucap bi Feiyang dengan mengusap pinggang wanita tersebut.


Tiyara kembali melebarkan lebih lebar senyumannya dan memeluk wanita paruh baya tersebut. "Iya" jawab Tiyara dengan senyumnya dan kembali melepaskan pelukannya dari bi Feiyang.


"Jaga rumah ya kalian" teriak Tiyara kepada seluruh pekerja rumahnya tersebut dan melangkahkan kakinya keluar dari rumah masuk kedalam mobil bersamaan dengan Dery dan beberapa pengawal yang juga mengikutinya untuk mengawalinya.


Mobil awal yang dipenuhi oleh penumpang melaju terlebih dahulu setelah itu baru mobil yang membawa Tiyara dan juga Dery ditengah dengan diikuti oleh mobil satunya lagi dibelakang. "Membosankan diawasi terus terusan seperti ini, Lebih baik kalian mengawasi rumah sakit dan mengawasi suamiku, Jangan biarkan dia kenapa kenapa, Jangan biarkan ada orang yang mencoba menyakitinya" ucap Tiyara dengan wajah sedikit kesal akibat selalu saja diperlakukan seperti itu.


"Pengawal yang bertugas untuk mengawal tuan sudah diutus nona" jawan Dery.


"Kau selalu mendapatkan alasan yang tepat" balas Tiyara dan membuang pandangnya dari Dery.


"Mana jas milikku?" tanya Tiyara dengan tangan yang menengadah meminta jasnya kepada Dery.


"Ini nona" jawab Dery dengan menyodorkan salah satu jas yang ada disampingnya dengan denah duduknya paling belakang. Tiyara menerimanya dan melepaskan jaketnya dan mengenakan jas tersebut.


"Sepatu" ucap Tiyara yang saat ini menggunakan sneakers.


Dery memberikan sepatu tanpa hak kepada Tiyara dan diterima dengan senang hati oleh Tiyara. Menggunakan baju berwarna pink dibalut dengan jas berwarna hitam begitupun dengan celana dan sepatunya. Saat ini wanita itu sudah berubah menjadi pengusaha wanita yang berkelas hanya dalam beberapa detik saja.


Beberapa saat menempuh perlajalanan akhirnya sampai diperusahaan. Para pengawal langsung turun dan membukakan pintu untuk Tiyara dan setelah itu berbaris sejajar diantara pintu hingga mobil. Tiyara yang nampak malas akan perlakuan tersebut membuang nafas kesal dan turun dari mobil tersebut.

__ADS_1


Dengan kemewahan yang ia miliki dan kemampuannya membuatnya dihormati oleh siapapun dan tidak ada yang berani melawannya karna mengetahui apa kemampuannya.


__ADS_2