
"Maaf, Dia adalah murid saya yang juga mengikuti pelatihan itu, Yasudah saya memiliki urusan. lain ditempat latihan, Jika kau mau kau bisa langsung ke alamatnya ya." ucap Ferdi dengan senyumnya dan berjalan meninggalkan Jasson.
"Tunggu." Jasson menghentikan langkah kaki Ferdi dan mendekat kepada Ferdi.
"Iya?." balas Ferdi dengan menoleh dan tersenyum lebar menatap Jasson saat ini.
“Boleh saya tau dimana tempat anda?” Tanya Jasson dengan menatap lekat lelaki paruh baya dihadapannya tersebut.
Ferdi langsung tersenyum menatapnya. “Disana sudah tertera alamat lengkap, Jika berminat silahkan hubungi nomor yang ada disana.” Ucap Ferdi dengan tersenyum lebar menatap Jasson.
Jasson diam dan kembali menatap brosur yang diberikan. “Jika begitu saya permisi.” Pamit Ferdi dan langsung meninggalkan Jasson yang sama sekali tidak memperdulikannya itu.
Ferdi menghentikan mobil yang melintas dihadapannya seolah olah mobil tersebut adalah taxi dan diapun masuk kedalam nya. Ferdi tersenyum senang saat rencananya berjalan dengan lancar dan mobilpun langsung melaju dengan kecepatan sedang meninggalkan Jasson.
“Apa aku harus kemari?” Guman Jasson dengan melihat alamat yang ada dibrosur tersebut.
Jasson melangkahkan kakinya kembali dan terus saja berjalan kedepan.
“Halo.” Ucap Dery dari sebrang telpon.
“Halo tuan, Tadi Ferdi menghampiri Tuan Jasson dan memberikan sejenis brosur kepadanya dan sekarang Tuan Jasson tidak berjalan menuju kerumahnya melainkan entah kemana ini.” Lapor pengawal yang selalu mengikuti Jasson.
“Cepat masukkan dia.” Ucap Ferdi dengan menatap datar kepada para pengawalnya.
Pengawal dengan segera mengikuti perintah dari lelaki itu dan menyeret tubuh lemah tersebut masuk kedalam mobil. “Kemana lagi kalian akan membawaku?.” Tanya Tiyara dengan nada lemahnya sambil menatap lemah kepada Ferdi.
Ferdi tidak menjawabnya begitupun dengan para pengawal dan mereka kembali melajukan mobil dengan kecepatan sedang menuju ketujuan meninggalkan rumah tersebut.
“Alamat yang tertera memang disini.” Ucap Jasson saat sudah sampai di alamat yang ada di brosur dengan menaiki kendaraan umum sebab tempatnya terbilang cukup jauh.
“Hey, Kau benar benar kemari.” Ucap Ferdi yang langsung keluar dan menyapa lelaki tersebut. Jasson tidak menjawabnya dan hanya memasang wajah datarnya saja menatap lelaki paruh baya itu.
“Silahkan masuk, Silahkan.” Ucap Ferdi mempersilahkan Jasson untuk masuk. Jasson yang memiliki kewaspadaan yang begitu kecil langsung masuk saja kedalam ruangan tersebut.
Mata lelaki itu membelalak kemana mana melihat sekitar ruangan itu, Ruangan yang dipenuhi oleh lokasi untuk belajar bela diri dan menembak saat ini sangat bisa ia lihat, Dia kagum saat melihat pemandangan itu dan itu bisa dilihat oleh Ferdi sehingga membuat Ferdi semakin senang. “Untuk pelatihan awal kau akan diajarkan menembak terlebih dahulu.” Ucap Ferdi dengan senyumnya.
Jasson hanya diam dan Ferdi membawanya menuju ketempat penembakan. “Asal menyuruhnya untuk menembak terlebih dahulu itu akan sangat mudah sebab nanti dia tidak akan bisa melawan saat mengetahui bahwa dia membunuh istrinya sendiri.” Guman Ferdi dengan senyumnya menatap Jasson.
“Bagaimana caranya ini?.” Tanya Jasson dengan wajah penasarannya sambil memegang pistol yang ada ditangannya.
“Matamu harus berfokus kepada titik tersebut, Coba kau lihat baik baik, Angkat tanganmu seperti ini, Kakimu di buat seperti ini dan jika kau sudah merasa pas langsung kau picit ini untuk menembaknya.” Ucap Ferdi yang benar benar mengajarkan Jasson cara menembak.
Jasson mengikutinya dengan kaki yang maju dan sedikit terbuka dan tangan yang lurus dan tegap seperti yang diajarkan oleh Ferdi barusan.
“Lakukan sesuai rencana.” Ucap Dery. Para pengawal yang mengikutinya menganggukkan kepalanya dan turun masuk kedalam pekarangan rumah Ferdi.
__ADS_1
Dorrr
Dorrr
Dorrrr
Dorrrr
Tembakan terdengar sangat jelas dihalaman rumah, Semuanya menyerang satu sama lain dengan Dery yang menerobos masuk.
Dorrr
Lelaki itu menembak penjaga yang hendak menembaknya dan lalu dia berlari menuju keruang bawah tanah yang ia ketahui. Ruangan tersebut terkunci sehingga membuatnya mencoba mendobrak ruangan itu.
Brakkkkk
Dia tidak berhasil mendobraknya sehingga dua pengawal datang dan membantunya sehingga dobrakan ketiga baru pintu tersebut terbuka. “Dimana nona? Mengapa dia tidak ada?.” Teriak Dery saat tidak menemukan Tiyara.
Salah satu pengawal sangat bisa mencium bai darah yang menyengat disana sehingga dia menemukan bercak darah baru. “Sepertinya nona telah dibawa dengan dipaksa oleh Ferdi tuan.” Ucap pengawal saat menyentuh darah yang ada disana.
“Beraninya dia menyakiti adikku sehingga berdarah.” Kesal Dery yang langsung keluar dan terlihat banyak pengawal disana yang mengawasi para pelayan yang tengah tunduk ketakutan.
“Tuan Jasson saat ini berada ditangan Ferdi, Dia tengah memegang pistol, dia diajarkan menembak oleh Ferdi.” Lapor pengawal yang mengawasi Jasson.
Dorrrrr
Tepuk tangan saat tembakan berhasil mencapai target hanya dengan beberapa kali percobaan didapatkan oleh Jasson. Jasson menurunkan tangannya dan menoleh kepada Ferdi dengan tatapan yang masih saja datar. ”Kau begitu hebat, Hanya dalam beberapa menit saja kau sudah bisa mencapai target.” Puji Ferdi dengan senyum senangnya.
“Apa lagi yang harus aku lakukan?.” Tanya Jasson tanpa menjawab perkataan Ferdi.
Ferdi tersenyum. “Kau sudah menembak tepat sasaran dengan mata telanjang, Sekarang kita tutup matamu dan coba menembak dengan mata tertutup.” Ucap Ferdi dengan senyumnya sambil menyodorkan kain untuk menutup mata. Jasson belum menerimanya dan menatap tajam kepada Ferdi yang terus saja tersenyum menatapnya.
Senyuman Ferdi itu membuat tangannya menerima penutup mata dari Ferdi dan mengenakannya. “Dengan menutup mata kau akan lebih peka terhadap musuh dan bisa mendeteksi hanya dengan telinga mu saja.” Ucap Ferdi dengan tersenyum dan menganggukkan kepala menatap penjaga.
Penjaga menganggukkan kepalanya dan mendorong tubuh Tiyara yang berada diatas kursi kehadapan Jasson. Wanita itu benar benar tidak peduli sekitarnya sebab tubuh yang lemah itu menjadi alasan keduanya. “Kau harus mendengar suara dengan jelas.” Ucap Ferdi dengan pengawal yang memukul kotak sehingga Jasson langsung mengarahkan pistol ke arah suara.
Dorrrr
Tiyara mengangkat kepalanya saat mendengar tembakan didekat telinganya dan menatap kedepan. “Bagus, Bagus sekali kau berhasil, Kita coba lagi.” Ucap Ferdi, Jasson hendak membuka penutup matanya namun Ferdi menghentikannya dan kembali menganggukkan kepalanya kepda pengawal dan pengawalpun memukul kursi yang diduduki oleh Tiyara.
Mata Tiyara membulat saat melihat suaminya mengarahkan pistol kepadanya. “Jasson?” Ucapnya dengan wajah tidak percaya.
“Jasson berhenti……..”
Dorrrrr
__ADS_1
“Ah.”
“Nona.” Teriak para pengawal yang mengikuti Jasson tadi. Jasson bisa mendengar suara tersebut dan dia langsung membuka penutup matanya itu.
“Ah.” Tiyara kembali merengek dan meremas dadanya tersebut. Mata Jasson membulat saat melihat dia sudah menembak istrinya sendiri.
“Kau……” Jasson melototkan matanya kepada Ferdi dan Ferdi langsung menendang lelaki itu sehingga tersungkur tepat dihadapan istrinya.
“Jasson.” Tiyara langsung mendekat dan memegang bahu lelaki itu.
“Kau tidak apa apa? Tidak ada yang luka kan?.” Tanya Tiyara dengan memeriksa tubuh lelaki itu dengan darah yang terus mengalir di dadanya yang tertembak itu.
Jasson tidak menjawabnya dan menatap lekat wajah wanita yang ada dihadapannya tersebut. Lelaki itu memegang wajah istrinya yang benar benar lemah itu dan tidak mengeluarkan satu patah katapun kecuali meminta maaf. “Aku tidak apa apa.” Ucap Tiyara.
Dorrrrr
Tembakan kembali terdengar sehingga Tiyara memeluk suaminya untuk melindungi lelaki itu, Para pengawal baik dari belah Ferdi ataupun Tiyara saat ini tengah beradu tembakan dengan Ferdi yang berusaha melindungi diri dan menggapai pistol.
“Bagaimana kau ada disini? Bukannya kau mengatakan bahwa kau ada urusan diluar negri? Kenapa malah ada disini dan……….” Ucapan lelaki terpotong seketika saat melihat darah yang terus mengalir dibagian dada istrinya.
“Tembakan tepat dijantungmu” ucap Jasson dengan wajah hawatirnya.
“Kau harus segera pulang, Saat dirumah nanti akan aku jelaskan semuanya, Bibi menunggumu dirumah, Kau tidak……..” Tiyara yang peka terhadap suara pistol langsung memeluk tubuh suaminya untuk melindungi kembali lelaki itu.
Dorrrr….
“Ah.” Peluru kembali tertancap ditubuh bagian kakinya sehingga wanta itu langsung terduduk lemah dan menatap suaminya tersebut.
“Nona.” Dery yang baru datang langsung melihat ke Ferdi dan terlihat Ferdi tengah berancang kembali untuk menembak Jasson pula.
Tiyara sadar akan hal tersebut dan mengambil pustol yang ada didekatnya. Dengan tangan yang gemetaran lemah dia mengangkat pistol dan menembak Ferdi yang ada dihadapannya.
Dorrr
Tangan wanita itu menutup sebelah telinga suaminya dengan melindungi pandang suaminya agar tidak menyaksikan apa yang terjadi. “Hah, Hah.” Nafas naik turun menahan sakit sangat terdengar, Pistol ditangannya langsung terjatuh, Tubuhnya langsung melemah dan terjatuh dipangkuan Jasson.
Dery yang melihat Ferdi sudah ditembak langsung menoleh kepada Tiyara dan terlihat wanita itu benar benar sudah sangat lemah, Dia kembali menatap kepada Ferdi dan terlihat Ferdi hendak mencoba menembak kembali.
Dorrrrr
Dery menembak tepat tangan Ferdi. “Ah.” Teriak lelaki paruh baya sehingga pistol terpental dari tanganny.
“Berhenti.” Polisi datang sehingga membuat Ferdi yang hendak menembak kembali tidak bisa sebab sudah ditangkap oleh polisi.
“Kita harus segera kerumah sakit.” Ucap Jasson dengan memegang luka didada istrinya tersebut.
__ADS_1
“Akan terlalu lama jika membawaku kerumah sakit, Kau harus menemui bi Rere terlebih dahulu, Dia pasti sudah menunggumu lama, uhukkkk.” Batuk wanita itu mengeluarkan darah sehingga membuat Jasson semakin hawatir.