My Ekstrovert Wife

My Ekstrovert Wife
VVIP


__ADS_3

“Nona sudah sampai.” Ucap sopir taxi.


“Ah baik.” Balas Tiyara dengan senyumnya. sopir taxi turun dan membantu menurunkan kursi roda Tiyara.


“Yasudah aku matikan dahulu, Aku baru saja sampai di apartemen.” Ucap Tiyara.


“Oke, Baiklah.” Jawab Yasmin dan telpon pun berakhir.


“Kenapa sayang?.” Tanya Mama Yasmin saat melihat Yasmin yang hanya diam seperti kebingungan.


“Tidak apa apa ma, Tadi mendapatkan kabar dari Zhara bahwa dia diterima diperusahaan xxxx sebagai menager keuangan.” Jawab Yasmin dengan senyumnya.


“Ah benarkah? Ini harus dirayakan.” Balas Mama Yasmin.


“Boleh ma, Nanti akan aku kabari ke Zhara dan mengajaknya ke restoran Papa.” Jawab Yasmin pula dengan senang hati dan menyetujui keinginan ibundanya tersebut.


Malam harinya.


“Apa kau sudah siap?.” Pesan masuk ke ponsel Tiyara.


“Iya, Ini aku akn turun.” Balas Tiyara dan mendorong kursi rodanya keluar dari apartemen.


“Mau kemana dia?.” Tanya Jasson saat melihat Tiyara meninggalkan apartemen dengan dress bagus.


“Haiss, Apa dia ada acara dengan lelaki lain?, Ini tidak holeh dibiarkan.” Ucap Jasson dan langsung mengenakan jaket hitam, Masker hitam dan kacamata hitam.


Dia langsung mengikuti Tiyara. “Tunggu.” Teriak Jasson sehingga membuat Tiyara mengurungkan niatnya untuk menutup pintu lift. Jasson masuk kedalam lift tersebut sedangkan Tiyara menatap bingung kepadanya dan saat Jasson sudah masuk dia langsung menutup pintu lift.


“Aneh sekali orang ini.” Guman Tiyara dengan tatapan tajamnya namun masih terlihat santai dan tidak terlihat takut sama sekali.


Ting


Lift berhenti dan Tiyara langsung keluar dari lift begitupun dengan Jasson yang berjalan sangat perlahan. “Nona Zhang, Mari, Nona Yasmin sudah menunggu dimobil bersama Nyonya.” Ucap pengawal yang menjemputnya.

__ADS_1


“Baiklah.” Jawab Tiyara dengan senyumnya dan langsung didorong oleh pengawal kursi rodanya tersebut.


Dengan cepat Jasson langsung menuju keparkiran dan mengambil mobilnya dan mengikuti mobil yang membawa Tiyara yang sebelumnya sudah dilihat olehnya. “Yasmin? Apa itu temannya kemarin?.” Tanya Jasson dengan wajah penasarannnya dan terus saja mengikuti kemana perginya mobil yang ditumpangi oleh Tiyara.


Saat sudah sampai.


Tiyara dibantu oleh pengawal dan saat masuk dibantu lagi oleh pengawal suruhan papa Yasmin. “Anak anakku.” Sapa Papa Yasmin dengan nada dan senyum hangatnya dan mengambil alih dorongan kursi roda Tiyara.


“Paman tidak usah, Kan bisa dibantu oleh……”


“Ssssttttt, Tidak boleh membantah, Orang yang akan masuk bekerja besok harus diratukan beberapa jam sebelum masuk kerja sebab nanti saat sudah masuk kerja entah ada atau tidak waktu untuk kemari dan paman layani.” Balas Papa Yasmin dengan senyumnya.


“Kau dengarkan saja apa katanya Zhara.” Ucap Yasmin dengan senyumnya dan mendudukkan tubuhnya diatas kursi yang sudah disediakan.


“Cih ruang vvip.” Umpat Jasson yang tidak bisa mengikuti lagi dan mencari tempat yang bagus untuk memantau wanita itu dari luar.


“Ingin pesan apa tuan.” Pelayan datang dengan membawakan menu san Jasson mengambil menu tersebut.


Perbincangan dan percakapan hangat dilakukan didalam ruangan tersebut. “Aku tidak pernah mendapatkan apresiasi sebagus ini atas apa yang sudah aku lakukan, Tapi keluarga ini seluruh pencapaianku terasa begitu berharga bahkan aku hanya baru diterima diperusahaan mereka sudah menyambutnya sebaik ini.” Guman Tiyara dengan senyum senang dan mata berbinarnya.


“Hey sayang, Kenapa mata mu berbinar, Apa yang membuatmu sedih.” Ucap Mama Yasmin dengan menarik sehelai tisyu dan hendak menghapus air mata yang belum nampak ingin jatuh sedikitpun.


“Aku hanya sedikit terharu dengan kehangatan keluarga ini.” Jawab Tiyara dengan senyumnya dan berusaha menahan air matanya tersebut yang sama sekali tidak ingin keluar dan tidak terlihat.


“Ini keluargamu juga Zhara, Kau ingat itu.” Yasmin langsung memeluk tubuh wanita itu dan diikuti oleh mamanya dan papanya.


“Dari dulu Zhara sudah menjadi anak paman dan bibi, Hanya saja panggilannya mungkin agak kurang nyaman untukmu makanya kau masih memanggil kami paman dan bibi meskipun berulang kali kami menyruuhmu memqnggil panggilan yang sama dengan Yasmin, Tapi kami mengerti hal itu, Kau anak untuk kami berdua.” Ucap Mama Yasmin dengan pelukan hangatnya sambil mengusap kepala Yasmin dan juga Zhara.


Uuugghhhh


Jasson yang kekenyangan bersendawa. “Lama sekali mereka.” Ucap Jasson yang sudah sangat lama menunggu dan menghabiskan banyak makanan.


Tiyara hanya tersenyum dan membalas pelukan mereka. “Sudahlah, Ini sudah larut, Besok Zhara akan masuk kerja pagi dan itu hari pertamanya, Jadi lebih baik kita pulang saja, Bagaimana?.” Tanya papa Yasmin dengan menatap semuanya satu persatu.

__ADS_1


“Kau jangan menangis ya, Nanti malu jika dilihat oleh orang lain jika besok matamu sembab.” Ejek Yasmin.


“Aku tidak secengengmu.” Balas Tiyara dengan senyumnya dan semuanya meninggalkan ruang tersebut.


Cklekkk


“Akhirnya.” Ucap Jasson dan melihat Tiyara keluar didorong oleh lelaki paruh baya yang sempat ia lihat tadi.


“Benar bukan, Dia benar benar teman Tiyara yang waktu itu.” Ucap Jasson dan kembali mengikuti mereka.


Semuanya masuk kedalam mobil begitupun dengan Jasson yang masuk kedalam mobilnya dan kembali keapartemen. Saat sampai diapartemen Tiyara diantar sebatas lift dan setelah itu mereka berpamitan pulang sebab Tiyara yang menyuruhnya.


“Apa aku hampiri dia sekarang? Aku sunggu sangat merindukannya dan ingin memeluknya.” Guman Jasson yang terus saja mengikuti Tiyara dari belakang.


“Semenjak dua minggu lalu, Jasson sudah tidak terlihat disini, Kemana dia? Apa dia sudah kembali ke beijing atau memang dia tidak ingin bertemu denganku?.” Guman Tiyara dengan wajah murung dan menatap sekelililing dan Jasson dengan acuh terus saja berjalan dan membuka pintu apartemennya.


“Eh sudah diisi rupanya apartemen didepan.” Ucap Tiyara saat melihat Jasson yang sama sekali tidak ia kenali.


Jasson membalikkan tubuhnya, Dengan topi dan masker yang ia kenakan Tiyara menatap lekat matanya dengan tersenyum lebar. “I-iya.” Jawab Jasson yang berusaha merubah suaranya.


“Salam kenal ya tetangga baru, Semoga betah disini.”


“Aku tinggal disini tepat dihadapan apartemenmu, Jika perlu apa apa tinggal katakan saja.” Ucap Tiyara dengan senyum ramahnya.


“Iya, Jika aku membutuhkan kau aku akan memberitahu.” Balas Jasson yang langsung menundukkan kepalanya sebab dia tau bahwa wanita itu sedikit merasa tidak asing akan bola matanya.


“Sangat tidak asing, Bola mata siapa itu?.” Guman Tiyara.


“Sudahlah.”


“Yasudah aku masuk terlebih dahulu, Dah.” Tiyara meninggalkannya dan masuk kedalam apartemen begitupun dengan Jasson yang langsung masuk kedalam apartemen juga dan mengintip keluar aparteemn.


“Apa dia mengenaliku? Apa dia akan pergi lagi saat mengenaliku? Apa dia akan marah?.” Guman Jasson yang terlihat panik.

__ADS_1


__ADS_2