My Ekstrovert Wife

My Ekstrovert Wife
Ternyata kau normal


__ADS_3

"Jika tidak salah merk mobilnya itu xxxxxx, Ada tidak ya mobil seperti itu diinternet" ucap Tiyara dengan wajah bingungnya.


"Coba cek saja dulu" ucapnya kembali dan langsung menelungkup mengambil ponselnya yang masih dicas dan memainkannya sambil dicas.


"Mobil xxxxxx" Tiyara mencari merk mobil tersebut diinternet dan banyak poto poto mobil itu dilayar ponselnya.


"Em" Tiyara mencoba mengingat dan menyamakan mobil yang membawa ibu Jasson dengan yang ada didalam ponselnya saat ini.


"Tiyara belum turun?" tanya Jasson dengan wajah datarnya kepada beberapa pelayan yang baru saja berlalu dari dapur.


"Belum tuan, Nona masih diatas" jawab pelayan.


"**** wanita ini tidak tepat waktu sekali, Sudah jam delapan masih belum turun untuk makan" umpat Jasson yang nampak kesal.


"Perlu saya panggilkan nona tuan?" tanya pelayan menawarkan diri.


"Tidak usah, Biarkan saya sendiri" jawab Jasson dengan wajah datarnya dan menaiki anak tangga menuju kekamar lamanya yang sudah menjadi kamar istrinya.


"Nah ini, Ini, Mobil ini sangat mirip dengan mobil waktu itu, Tapi platnya" ucap Tiyara dengan membesarkan poto bagian plat untuk melihat berapa nomor platnya.


Ckleek


"Tiyara kau...." Jasson menghentikan ucapannya matanya membulat saat melihat istrinya saat ini tengah berbaring menelungkup dengan kaki yang bergoyang menampakkan kaki mulusnya dan bagian dada yang cukup terbuka ditambah leher yang sangat terbuka.


"Maaf" ucap Jasson yang langsung menutup pintu kamar tersebut.


"Yatuhan aku ini lelaki normal, Keadaannya yang seperti itu siapa yang tidak tertarik?" guman Jasson dan menarik nafas panjang.


"Hey kenapa kau kembali keluar, Masuklah" teriak Tiyara dari dalam.


"Aku menunggu dibawah" balas Jasson tanpa menjawab ucapan wanita itu.


"Cih ternyata kau normal, Aku pikir kau tidak tertarik dengan wanita" ucap Tiyara dan bangkit dari baringnya dan berjalan keruang ganti.

__ADS_1


"Baju baju semuanya juga sudah disiapkan olehnya" ucap Tiyara dengan senyumnya saat membuka lemari pakaian yang berisikan banyak baju.


"Sedikit kebesaran, Apa ukurannya?" tanya Tiyara dan melihat ukuran baju yang sudah ia kenakan.


"Pantas saja, Ukuranku kan S" ucapnya.


"Tidak masalah" ucap Tiyara dengan senyumnya kembali dan keluar dari ruangan tersebut dan setelah itu keluar dari kamar.


Kakinya mulai menuruni anak tangga dengan perlahan. Tubuh kecil berbalut dengan celana yang besar begitupun dengan baju sangat terlihat oleh beberapa pelayan namun tidak ada yang mempermasalahkannya. Tiyara berjalan menuju kedapur dan terlihat Jasson langsung menatapnya. "Baju bajumu kebesaran?" tanya Jasson dengan wajah datarnya.


"Em, Tapi tidak apa apa aku menyukainya" jawab Tiyara dengan senyumnya.


"Aku pikir ukuranmu M makanya aku membeli M" ucap Jasson.


"Tidak apa apa, Hanya saja besok aku harus kembali kerumah mengambil beberapa baju tidak masalah bukan?" tanya Tiyara dengan senyumnya menatap suaminya tersebut.


"Tidak masalah" jawab Jasson dengan wajah datarnya dan tangan yang mulai memasukkan makanan ke piringnya.


"Kau tidak mau menemaniku suamiku tercinta?" goda Tiyara dengan senyum nakalnya.


"Hmmp baiklah" Tiyara nampak kecewa namun langsung tersenyum saat melihat makanan. Jasson ikut tersenyum menatapnya dan ikut melahap makanan miliknya.


"Kau sudah selesai melukis apa yang aku minta tadi?" tanya Tiyara dengan mulut penuhnya.


"Habiskan makananmu dahulu" jawab Jasson dengan wajah datarnya dan berlalu dari sana terlebih dahulu.


"Hey kenapa kau meninggalkanku?" teriak Tiyara akan Jasson yang meninggalkannya sendiri dimeja makan. Jasson tidak menjawabnya dan terus saja melangkahkan kakinya menjauh dan menuju keruangan utama.


"Palingan dia hanya ingin mengoleksi gambarnya" guman Jasson dan masuk kedalam kamarnya. Dia menarik kursi santai yang ada disamping ranjang dan membawanya kemeja yang ada disana.


Dia nampak mulai menggambar sepeda yang ada dibayangkannya. "Oh ternyata dia belum menggambarnya" guman Tiyara mengangguk mengerti akan Jasson yang meninggalkannya dan dengan langkah kaki yang perlahan dia mengedap edap masuk kedalam kamar suaminya tersebut dan berdiri dibelakangnya yang tengah menggambar itu.


"Gambarannya sangat bagus" guman Tiyara dengan senyumnya saat melihat sepeda yang sangat indah dimatanya itu.

__ADS_1


"Hmmp tapi lebih baik gambaranku" gumannya kembali yang tidak akan membiarkan gambarannya kalah dari gambaran Jasson.


"Ditambah sedikit, Selesai" ucap Jasson dengan senyumnya saat sepeda yang digambarnya terasa sempurna.


"Kenapa tidak kau membuat untuk dirimu sendiri saja? "tanya Tiyara saat melihat sepeda itu bisa memnawa dua orang.


"Hah, Astaga" ucap Jasson yang kaget akan kehadiran wanita tersebut. Tiyara langsung melebarkan senyuman tanpa dosanya menatap Jasson dan mengambil gambaran tersebut.


"Apakah kau menginginkan sepeda ini agar kau bisa memboncengku?" tanya Tiyara dengan percaya dirinya sambil tersenyum lebar menatap vambar tersebut.


"Percaya diri sekali kau ini, Aku ingin membawa pasanganku menggunakan sepeda ini" jawab Jasson dan mengambil kembali gambarannya.


"Pasanganmu kan aku" balas Tiyara dengan senyumnya dan kembali merampas gambaran tersebut.


"Terima kasih ya, Setelah sepedanya jadi kau harus membawaku berkeliling menggunanya" teriak Tiyara dengan senyumnya dan langsung kabur setelah mencuri gambaran suaminya.


"Hey itu gambaranku mau kau...."


"Aku mencintaimu dokter tampan" teriak Tiyara dengan tawanya dan menaiki anak tangga naik keatas dan langsung masuk kedalam kamarnya.


"Kau" teriak Jasson dengan kesalnya. Tiyara sama sekali tidak memperdulikannya ataupun membuka pintu kamar itu.


"Harus dibawa kembali kerumah dan disimpan ditempat lainnya" ucap Tiyara dengan wajah girangnya mendapatkan koleksi terbaru museum cintanya.


Tiyara memasukkan gambaran miliknya dan milik suaminya kedalam map yang sama dengan berkas pengalihan nama tadi dan menyimpannya ditempat yang aman agar Jasson tidak mencurinya. Tiyara menyembunyikan kunci lemari tersebut kedalam bra yang ia gunakan saat ini. "Dia tidak akan berani mencoba merampasnya jika disini" ucap Tiyara dengan senyum percaya dirinya dan kembali keluar dari kamar dan turun kembali kebawah.


"Serius sekali kau membaca" ucap Tiyara dan mendudukkan tubuhnya tepat disamping Jasson.


"Buku apa yang kau baca? Buku dewasa ya?" tanya Tiyara dengan mencoba melihat buku apa yang dibacakan suaminya dan ternyata buku tentang keperwatan.


"Enak saja mulutmu berbicara" ucap Jasson dengan wajah datarnya tanpa mengalihkan pandangnya dari buku yang ia baca saat ini.


"Iya, Iya aku salah menuduh, Tapi tidak menutup kemungkinan bukan jika kau pernah membaca buku dewasa? Kau tadi saat dibelakang kau langsung menyembunyikan buku yang kau baca dariku saat aku sampai" ucap Tiyara yang mencoba menggoda suaminya tersebut dengan senyum jahilnya dia mencoba terus menyudutkan lelaki itu.

__ADS_1


"Itu buku yang sama" jawab Jasson dengan wajah datarnya.


"Benarkah? Kenapa aku tidak percaya ya, Seharusnya jika buku yang sama kau tadi tidak perlu menyembunyikannya dariku" ucap Tiyara yang kembali tersenyum.


__ADS_2