
"Itu buku yang sama" jawab Jasson dengan wajah datarnya.
"Benarkah? Kenapa aku tidak percaya ya, Seharusnya jika buku yang sama kau tari tidak perlu menyembunyikannya dariku" ucap Tiyara yang kembali tersenyum.
"Terserah, Aku juga tidak perduli kau percaya atau tidak" balas Jasson dengan wajah datarnya dan kembali membaca bukunya.
"Bagaimana caranya menyalakan televisi kecil ini?" tanya Tiyara dengan berdiri dihadapan televisi yang cukup besar itu berukuran 70 inci besarmya.
"Cih, Besaran televisi dari pada tubuhmu masih saja bilang kecil" umpat Jasson dan mengambil remot dan menyalakan televisi tersebut.
"Aku pikir remotnya disana tadi" ucap Tiyara sambil berjalan mendekat kearah suaminya tersebut. Tiyara mendudukkan tubuhnya tepat disamping Jasson yang tengah membaca buku itu dan mengambil alih remot yang ada ditangan Jasson.
Jasson tidak memperdulikannya dan terus saja berpokus kebacaannya sedangkan Tiyara dia mencari mana siaran tv yang disukainya. "Aku lihat kau sedari tadi menukar siaran" ucap Jasson dengan wajah kesalnya akibat diganggu.
"Tidak ada siaran yang bagus" jawab Tiyara yang sedari tadi hanya melihat berita, Pelajaran, Sinetron yang tidak berbobot dan hal yang membosankan menurutnya.
"Kemari biar aku carikan siarannya" ucap Jasson dan mengambil remot dari tangan istrinya dan mencari cari siaran yang sering ditonton olehnya.
"Ini bagus untukmu" ucap Jasson dengan senyumnya saat menghentikan pencarian siaran di siaran pelajaran.
"**** bengap kepalaku pelajaran selalu" ketus Tiyara dengan merampas remot dari tangan suaminya dan mencari siaran lain.
"Ini saja cukup bagus" ucap Tiyara dan beranjak dari sana duduk diatas lantai tepat dihadapan televisi.
"Hey itu siaran anak" ucap Jasson saat mendengar lagu doraemon.
"Diamlah kau, Pokus saja belajar hingga kau gila" ketus Tiyara dan mengikuti irama lagu yang diputarkan dikartun tersebut dengan kepala yang bergoyang.
"Jika tidak bersamanya aku tidak akan bisa sesantai ini" guman Tiyara dengan senyumnya.
"Doraemon, Nyam nyam aku sayang sekali doraemon~" Tiyara bernyanyi keras hingga membuat konsentrasi Jasson terganggu dan menatap datar kearahnya.
"Kekanak kanakan sekali" ucap Jasson dengan wajah jengkelnya.
"Biarkan saja dari pada kau sudah tua bukannya mencari kebahagiaan tambahan malah terus belajar" jawab Tiyara yang tidak terima dengan ucapan Jasson.
__ADS_1
"Kebahagiaanku aku bisa sendiri menciptanya, Tidak perlu dicari namun sekarang hidupku bukan untuk itu" balas Jasson.
"Cih bukan kau yang menciptakannya sendiri namun aku yang datang" teriak Tiyara dengan kesalnya.
"Kau..."
"Nobita" Tiyara menaikkan volume televisi sekencang kencang mungkin tidak ingin mendengar ucapan Jasson lagj dan setelah itu meletakkan remot dihadapannya dan menatap lekat televisi menikmati tontonannya.
"Cih beraninya dia bilang seperti itu, Aku sudah berjuang keras namun dia tidak menganggapku" guman Tiyara dengan wajah kesalnya dan memundurkan tubuhnya bersandar dikursi disamping Jasson dan kembali berpokus menonton film kartunnya.
"Jasson, Kau besok benar benar tidak ingin menemaniku kembali kerumah?" tanya Tiyara yang sangat berharap Jasson mau menemaninya kembali kerumah besok.
"Tidak, Dirumah sakit terlalu banyak pasien, Aku tidak bisa mengabaikan mereka hanya untuk menemanimu kembali kerumah" jawab Jasson dengan wajah datarnya dan mata yang terus berpokus kebacaannya.
"Baiklah, Bekerja dengan baik besok ya, Aku akan naik keatas untuk istirahat" ucap Tiyara dengan mencium pucuk kepala lelakinya tersebut dan berdiri dari duduknya. Tiyara mematikan televisi dan berjalan menaiki anak tangga sedangkan Jasson dia terdiam mematung dihadapan televisi tadi saat mendapatkan kecupan dari wanitanya.
"Hah jika dia tidak ikut aku harus menemui mereka yang mencoba meracuniku kemarin" ucap Tiyara dan menghempaskan tubuhnya diatas ranjang itu.
"Gambaran itu?"
"**** dia memang selalu berbuat seenaknya" guman Jasson dengan memegang pipinya yang baru saja dicium oleh istrinya.
"Tuan ini sudah cukup larut, Apa anda belum ingin tidur? Nona sudah tidur diatas" ucap pelayan akan Jasson yang termenung dengan memegang pipinya.
"Ah iya" jawab Jasson dan menurunkan tangannya dari wajahnya dan berdiri dari duduknya.
"Tiyara benar benar sudah tidur diatas?" tanya Jasson kepada pelayan.
"Iya tuan, Nona benar benar sudah tidur" jawab pelayan tersebut dengan senyumnya.
"Baiklah, Besok siapkan makanan pagi pagi, Setiap harinya cek seluruh tanggal kadaluarsa makanan ringan jangan sampai ada yang memakan makanan kadaluarsa" ucap Jasson dengan wajah datarnya.
"Baik tuan" jawab pelayan dengan menundukkan sedikit tubuhnya.
Jasson tidak mengeluarkan suara lagi dan melangkahkan kakinya berjalan menuju kekamarnya dan masuk kedalamnya. Dia meletakkan buku disamping tempat tidurnya dan langsung menghempaskan tubuhnya diatas ranjang. "Hah, Hari ini hanya mendengar wanita itu mengoceh, Telingaku juga hampir pecah karna mendengar suara televisi terlalu garang" ucap Jasson dengan mengusap usap telinganya.
__ADS_1
"Namun selama ini, Rumah ini sama sekali tidak pernah terdengar keributan, Baik dari mulut langsung ataupun dari televisi" ucap Jasson dengan senyumnya.
"Ah sudahlah lebih baik aku istirahat dan besok harus kerumah sakit" ucapnya kembali dan memejamkan perlahan matanya dan tertidur nyenyak.
Keesokan paginya.
"Jasson sudah bangun bi?" tanya Tiyara yang sudah mengenakan baju berbeda dari tadi malam turun dari atas.
"Tuan...."
Ckleekk
Pintu kamar Jasson terbuka membuat Tiyara menoleh kearahnya begitupun dengan pelayan. "Cepat sekali kau bersiap" ucap Tiyara dengan melangkahkan kakinya mendekat kearah suaminya tersebut yang sudah mengenakan pakaian rumah sakit lengkap.
"Hem" jawab Jasson dengan wajah datarnya dan berjalan kedapur. Tiyara mengikutinya dari belakang hingga sampai dimeja makan mereka duduk ditempat masing masing.
Pelayan menyiapkan makanan untuk keduanya. "Terima kasih" ucap Tiyara dengan senyum ramahnya dipagi ini.
"Sama sama nona, Jika memerlukan apa apa panggil saya dibelakang" ucap pelayan dengan membalas senyuman Tiyara. Tiyara menganggukkan kepalanya mengiyakan ucapan pelayan tersebut dengan senyumnya dan Tiyara langsung melahap makanannya dengan cukup lahap.
Tidak ada yang memulai pembicaraan dimeja makan tersebut namun Tiyara melahap makanannya dengan sangat lahap dan senyumnya menandakan dia menyukai makanan tersebut. "Oh iya, Nanti aku kerumah menggunakan mobilku sendiri, Jadi kau tidak usah mengantarku" ucap Tiyara dengan senyum yang mengembang menatap suaminya tersebut.
"Siapa juga yang ingin mengantarmu?" balas Jasson dengan wajah datarnya membuat mood Tiyara yang semulanya sangat baik langsung memasang wajah kesal dan tatapan tajamnya.
"**** kau ini" umpat Tiyara dengan kesalnya dan melahap kasar makanannya.
Jasson nampak tersenyum saat melihat wanita tersebut kesal namun dengan segera dia menghilangkan senyumannya dan kembali melahap makanannya. "Lama sekali kau ini makan Jasson" ucap Tiyara dengan tatapan tajamnya akibat masih kesal.
"Kenapa?" tanya Jasson dengan wajah datarnya.
"Aku ingin mengantarmu kedepan seperti istri istri pada umumnya yang mengantar suaminya hingga pintu depan untuk bekerja" jawab Tiyara dengan senyum yang mengembang menatap suaminya tersebut.
"Tidak usah" balas Jasson yang masih saja menggunakan wajah datarnya.
"Cih, Kau ini kita sebagai pasangan pengantin baru seharusnya banyak romantisnya...."
__ADS_1
"Kau terlalu banyak menonton sinetron hingga terlalu banyak berhayal" potong Jasson dengan wajah datarnya.