My Ekstrovert Wife

My Ekstrovert Wife
Memanggilku?


__ADS_3

“Yasudah aku sekarang harus pergi ketempat meating, Setelah selesai semuanya aku akan langsung terbang.” Ucap lelaki itu dengan senyumnya menatap istrinya.


“Cepatlah kemari.” Balas istrinya dan dibalas senyuman olehnya.


“Yatuhan bagaimana bisa seceroboh ini.” Ucapnya dengan memukul kepalanya sebab tidak lihat jalan.


“Hem wanita itu seperti tidak asing.” Guman lelaki yang ditabrak oleh Tiyara tadi. Lift tertutup dan membawa lelaki barusan turun dengan Tiyara yang menunggu dihadapan lift.


“Nona.” Sapa pelayan yang melayaninya dengan baik sesuai dengan perintah bos.


“Memanggilku?.” Tanya Tiyara dengan wajah bingungnya.


“Iya nona, Baru saja saya hendak ke atas mengantarkan makanan makanan ini untuk anda.” Ucap pelayan dengan menatap ke makanan sekejap dan tersenyum menatap Tiyara.


“Untukku?, Apakah apartemen ini pelayanannya sangat baik dengan harga segitu?.” Tanyannya dengan wajah bingung.


“Ini perintah dari bos nona, Beliau meminta agar kami melayani anda dengan baik tanpa meminta seperpun dari anda.” Jawab pelayan dengan sopannya.


“Tidak usah, Aku memiliki uang untuk membeli makan, Permisi.” Pamit Tiyara yang kembali mendorong kursi rodanya dan keluar dari pekarangan apartemen.


“Nona kita keatas saja, Makanan ini sudah disiapkan secara khusus untuk anda.” Ucap pelayan dengan menyusulnya.


“Aku bilang tidak usah.” Balasnya dengan wajah datar dan kembali mendorong kursi rodanya menjauh sehingga membuat pelayan tidak bisa memaksanya.

__ADS_1


“Dimana aku akan mencari makan?.” Gumannya yang bingung hendak kemana.


“Makanan disana sepertinya lezat.” Ucapnya dengan tersenyum lebar dan mengantri untuk mendapatkan makanan.


“Maaf nona anda tidak boleh masuk.” Ucap penjaga yang menahan Quenza masuk.


“Paman aku dan mamaku ingin bertemu nenek dan ayah, Bagaimana bisa kau menghentikan kami?.” Tanya Qiao dengan wajah datarnya.


“Ayah?, Siapa?.” Guman penjaga dengan wajah bingungnya.


“Bibi.” Teriak Quenza yang baru saja sampai ditempat tinggal Rere. Seluruh pelayan menatap kepadanya dengan tatapan bingung dan dibalas tatapan tajam dari Quenza.


“Dimana bibi Rere?.” Tanya Quenza dengan wajah datarnya.


“Ma, Dimana nenek dan ayah?.” Tanya Qiao putra Quenza.


“Cih pada bisu?.” Umpatnya dengan kesal dan menelpon Rere.


Dritttt


Ponsel Rere berbunyi sehingga membuatnya meraih ponselnya tersebut. “Quenza?.” Ucapnya dengan senyum namun Jasson sama sekali tidak memperdulikannya.


“Halo Eza.” Ucap Rere dengan wajah senangnya saat menerima telpon dari Quenza.

__ADS_1


“Bibi aku langsung terbang ke beijing saat mendengar kabarmu yang masih hidup tapi kenapa kau tidak ada dirumah?.” Tanyanya dengan wajah kesal.


“Kau sudah sampai nak?.” Tanya Rere dengan wajah senangnya.


“Iya, Tapi para pelayan sepertinya tidak tau aku dan malah menatap aneh kepadaku.” Jawab Quenza dengan menatap kesal kepada pelayan.


“Bibi sekarang dirumah sakit, Jasson masuk rumah sakit sebab demam karna semalam dia…….”


“Hah? Rumah sakit mana? Biar Aku dan Qiao kesana.” Potong Quenza yang langsung panik.


“Rumah sakit xxxxx, Tinggalkan saja barangmu dirumah dan minta sopir untuk mengantarmu kemari.” Ucap Rere dengan senyumnya.


“Sebentar, Bibi tolong ulangi ucapanmu agar para pekerja disini mendengarnya.” Ucap Quenza dengan menyalakan speaker ponselnya.


“Hem.”


“Tinggalkan barang barangmu dirumah dan minta sopir mengantarmu kemari, Kerumah sakit xxxx.” Ulang Rere dengan senyumnya.


“Apa kalian mendengarnya?.” Tanya Quenza dengan wajah kesalnya.


“Baik mari nona.” Ucap sopir dengan sopannya saat setelah mendengar suara Rere.


“Yasudah bibi aku akan kesana, Sampai jumpa nanti.” Ucap Quenza dengan senyumnya dan mematikan ponselnya.

__ADS_1


“Ayo sayang kita kerumah sakit, Ayah dan nenekmu ada disana.” Ajak Quenza dengan senyumnya dan menggendong putranya tersebut.


__ADS_2