
Jasson hanya membuang nafas panjang dan menarik kursi mendekat kepadanya dan duduk diatasnya. Lelaki itu menatap tubuh wanita yang membelakanginya tanpa kembali menatap kepadanya namun dia tidak memaksa agar Tiyara menatap kembali kepadanya melainkan membenarkan selimut agar Tiyara dapat tidur dengan nyenyak dan nyaman.
Tiga hari berlalu.
“Bagaimana kondisi pasien?.” Tanya dokter senior kepada Jasson.
“Semakin hari kondisinya semakin membaik dan besok atau lusa dia sudah bisa pulang kerumah.” Jawab Jasson dengan senyum senangnya.
“Apa kau membawa apa yang aku pinta?.” Tanya Tiyara saat Dery masuk kedalam ruangannya.
“Iya nona, Ini.” Ucap Dery dengan memberikan map yang tidak tau apa isinya kepada Tiyara. Dengan senyum yang lebar Tiyara menerimanya dan membuka map tersebut.
Cukup banyak berkas didalamnya dan Tiyara menyusunnya dengan baik. Tangannya menandatangani beberapa surat dengan terus menarik nafas. “Kenapa anda memberikan semuanya kepada tuan Jasson?.” Tanya Dery saat bisa membaca surat pengalihan nama perusahaan dan lainnya.
“Tidak sopan mengintip.” Ucap Tiyara dengan wajah datarnya dan melihat surat perceraian yang sudah ditanda tangani oleh Jasson. Wanita membuang nafas panjang dan menandatangani surat tersebut.
“Apa ini? Bagaimana bisa kalian memiliki surat perceraian?.” Tanya Dery dengan mengambil surat tersebut namun dengan segera Tiyara mengambil surat itu kembali dari tangan Dery.
“Kau ini.” Ketus Tiyara dengan melototkan matanya.
Dery langsung terdiam namun matanya terus menatap ketangan yang terus menulis itu. “Aku akan kembali ketempat asalku, Kau dan bibi tetap disini, Jaga Jasson dan bibi Rere, Jasson tidak menginginkanku sejak awal bertemu, Sekarang dia sudah mendapatkan bibi Rere kembali dan pasti tidak akan kesepian lagi pula kalian semua juga akan bersamanya. Aku harap kau tidak mengungkit apapun kepadanya dan tidak menyakiti hatinya dengan perkataan buruk tentangnya, Sudah cukup hidupnya menderita selama ini ditambah dengan kehadiranku menjadi istrinya dan kau jangan menambah beban hidupnya, Saham perusahaan 15% atas namamu dan 60% atas nama Jasson dan sisanya berikan kepada orang orang yang membutuhkan dan iru memang dikhusukan.” Jelas Tiyara dengan kembali merapikan dokumen tadi dengan surat didalamnya.
“Ah.” Wanita itu melepaskan infus yang masih melekat ditangannya dan membuangnya.
“Kemarikan kursi rodaku.” Ucap Tiyara. Dery tidak menjawabnya ataupun menuruti perintahnya.
__ADS_1
“Apa kau tidak mendengarkannya.” Tanya Tiyara kembali dengan wajah kesalnya. Dery masih tidak menjawab sebab tidak terima akan keputusan Tiyara saat ini.
“Cih.” Wanita itu berusaha menggerakkan kakinya.
Brukkkk
Dirinya malah terjatuh kelantai. “Nona.” Dery dengan segera membantunya dan langsung ditatap tajam oleh Tiyara. Saat Tiyara sudah jatuh baru Dery langsung menggendong wanita itu dan meletakkannya diatas kursi roda.
“Berikan aku ongkos.” Ucap Tiyara dengan menengadahkan tangannya meminta ongkos untuk berangkat kepada Dery.
“Nona jangan, Pergi tidak akan menyelesaikan semuanya.” Ucap Dery.
“Ini akan menyelesaikan semuanya, Semuanya sudah beres, Tugasku sudah selesai tidak ada lagi orang yang akan menyakitimu ataupun Jasson hingga semuanya akan baik baik saja, Cepatlah berikan ongkos kepadaku.” Balas Tiyara dengan mengambil dompet Dery dan mengambil beberapa dolar untuknya berangkat dan makan.
“Terima kasih.” Ucap Tiyara dengan mengembalikan dompet Dery dan keluar dengan mendorong kursi roda sendiri.
“Apa?.” Tanyannya dengan wajah datarnya.
“Aku mohon jangan pergi, Bibi akan sangat sedih jika…….”
“Hey bodoh, Kau adalah suaminya dan kau bisa membujuknya, Tidak usah merengek seperti ini, Memalukan.” Potong Tiyara dengan wajah datarnya.
“Tapi nona…….”
“Sudahlah aku akan pergi nanti aku tertinggal pesawat, Dah.” Potong Tiyara kembali dan kembali mendorong kursi rodanya. Dery kembali mengejarnya dan meraih kursi roda itu.
__ADS_1
“Dery kau mau apa?.” Tanya Tiyara yang hawatir jika Dery membawanya kembali kerumah sakit.
“Aku akan mengantarkan anda.” Jawab Dery dan mendorong kursi roda wanita itu sehingga sampai ditrotoar.
“Hem.”
“Sudah tidak ada cctv.” Ucap Tiyara dengan senyumnya sebab menghindari cctv. Dery menghentikan taxi yang melintas dengan Tiyara yang terus saja tersenyum lebar.
Taxi berhenti dan Dery kembali membantu wanita itu agar masuk kedalam Taxi dengan sopir yang meletakkan kursi roda dibelakang. “Kemari.” Ucap Tiyara dengan melebarkan tangannya agar dapat memeluk Dery.
“Paman tampanku jagalah bibi dengan baik, Jangan menyakitinya, Dan juga jaga perkataanmu sebab mungkin dari mulutmu akan melukai banyak orang dan satu lagi, Tolong jangan melukai hati Jasson lagi atas apa yang pernah terjadi.” Bisik Tiyara dengan masih memeluk Dery.
Dery hanya diam saja sehingga matanya meteskan sedikit air mata dan Tiyara melepaskan pelukannya. “Sudahlah tidak usah menangis, Kau ini lelaki.” Ucap Tiyara dengan senyumnya.
“Apa sudah siap nona?.” Tanya sopir.
“Iya pak.” Jawab Tiyara dengan senyumnya dan Dery pun menutup pintu taxi dan taxi langsung melaju dengan kecepatan sedang meninggalkan Dery.
“Tanpa harus melakukan perlisahan dengan bi Feiy, Dia pasti akan tau dimana aku berada.” Guman Tiyara dengan menatap kedepan.
“Tiyara mama da……”
“Tiyara?.” Panggil Rere saat masuk kedalam ruangan namun tidak menemukan Tiyara. Rere meletakkan rantang bawaannya disamping ranjang dan menatap kepada map yang ada diatas ranjang.
Wanita itu membukanya dan terlihat ada kertas kecil yang berisikan surat dan melihat kertas berikutnya. Matanya langsung membulat saat melihat itu. “Mama.” Panggil Jasson dengan wajah yang masih senang saat melihat ada ibunya didalam ruangan.
__ADS_1
Nafas Rere naik turun dengan cepat. “Tiyara mana ma?.” Tanya Jasson dengan wajah bingungnya dan meletakkan makanan buatannya diatas meja.