
Roky yang baru datang menatap Jasson yang tengah mengobrol dengan Tiyara, Meskipun tidak 24 jam berada dirumah sakit dia selalu menjenguk dan Jasson selalu mengajak Tiyara untuk berbicara. “Sungguh sangat rerlihat bukan jika Jasson benar benar mencintai ibu Tiyara, Bukan saat ini cintanya tumbuh namun sudah sangat lama lelaki itu mencintai Tiyara.” Ucap Roky dengan senyumnya sehingga membuat Dery dan bi Nur menoleh kepadanya.
“Perlakuan Jasson dan tidurnya Tiyara seperti dongeng cinderella ya.” Ucap Roky kembali dengan tersenyum lebar menatap Feiy dan Dery secara bergantian.
“Lihatlah semua orang menunggumu untuk bangun diluar.” Bisiknya kembali dengan mencium tangan istrinya yang pucat itu.
Setelah cukup lama mengobrol akhirnya Jasson memilih untuk meninggalkan wanita itu lagi dan keluar dari ruangan. “Apa kalian ingin masuk? Tapi satu satu.” Ucap Jasson yang mengizinkannya sebab sudah jam besuk.
“Masuklah.” Ucap Dery kepada bi Feiy sehingga bi Feiy masuk terlebih dahulu dan bergantian setelah itu Rere dan terakhir baru Dery.
Jasson membuang nafas panjangnya saat melihat mata ibunya yang berbinar dan segera kembali masuk kedalam ruang tunggunya.
Tujuh bulan berlalu
“Hah.” Jasson membuang nafas panjangnya sebab istrinya masih juga belum bangun hingga saat ini.
Perusahaan di urus oleh Dery sehingga membuatnya sulit untuk datang ke rumah sakit sebab tidak ada waktu. “Sudah tujuh bulan lebih, Apa kau tidak merindukanku?.” Tanya Jasson dengan menatap lekat wajah yang semakin memucat itu.
Jasson yang duduk sambil menggenggam tangan istrinya menundukkan kepala prustasi. Kesedihan sangat sangat terlihat dari dirinya, Mulai tubuh yang tidak terawat hingga mata yang menjadi mata panda.
Tangan yang digenggam olehnya perlahan bergerak sehingga Jasson yang sadar langsung mengangkat kepalanya. Matanya menatap tangan istrinya yang masih saja bergerak itu dan setelah itu menatap wajahnya. Wajah senang sangat terlukis di raut lelaki itu sehingga dia berdiri dan memegang kepala wanitanya tersebut.
Mata yang sudah lama tertutup itu perlahan terbuka sehingga wajah girang nan senang tidak bisa disembunyikan. “Hah, Akhirnya.” Ucap Jasson dengan bahagianya dan hal tersebut disadari oleh orang orang yang menunggu diluar.
Mata Tiyara terlebih dahulu menatap langit langit ruangan tersebut setelah itu menoleh kesamping. Wajah lelaki yang tengah tersenyum indah sangat bisa dilihat olehnya. “Apa kau baik baik saja?.” Tanya Tiyara dengan nada rendah sehingga membuat Jasson mendekatkan telinganya kemulut istrinya.
“Aku selalu baik baik saja, Aku akan memeriksamu.” Ucap Jasson dengan senyumnya dan memeriksa keadaan istrinya yang masih lemah itu.
__ADS_1
Hati yang senang membuat Jasson tak henti hentinya tersenyum sehingga dibalas senyuman pula oleh Tiyara. “Tiyara sudah sadar.” Ucap Rere kepada bi Feiy sehingga membuat semuanya menoleh kedalam dan benar Tiyara benar benar sudah sadar.
Jasson kembali menatap wajah istrinya dan terus tersenyum lebar menatapnya dan dibalas senyuman pula oleh Tiyara. “Apa kau sudah menemui bibi?” Tanya Tiyara.
“Iya sudah, Terima kasih sudah membawanya kembali.” Jawab Jasson dengan mengusap kepala wanita itu. Tiyara menggenggam tangan suaminya dan dia bisa merasakan tulang dari tangan itu dan menatap tubuh suaminya yang semakin kurus.
“Apa kau makan dengan baik? Dery menyiksamu ya sehingga kau lebih kurus sekarang.” Tanya Tiyara dengan wajah sedihnya.
Jasson tersenyum dan langsung menggelengkan kepalanya. “Tidak ada yang menyiksaku, Aku hidup dengan normal tapi……..”
“Akhirnya anda bangun.” Ucap Dery yang menerobos masuk sehingga membuat Jasson dan Tiyara menoleh kepadanya.
“Maaf, Tapi untuk saat ini siapapun tidak bisa masuk, Tiyara akan segera dipindahkan keruang rawat setelah itu baru dibolehkan untuk menjenguk.” Ucap Jasson dengan sopannya.
Tiyara menatap kepada Dery dan melototkan matanya. “B-baiklah.” Dery langsung keluar dari ruangan sehingga membuat semua orang diluar menatapnya begitupun dengan Tiyara yang juga menatap keluar.
“Itu sebab semuanya menunggu kau bangun.” Jawab Jasson dengan mengurus seluruh alat alat yang melekat ditubuh Tiyara dengan dibantu oleh beberapa perawat agar Tiyara bisa dipindahkan keruang rawat.
“Kenapa menungguku?, Apa tidak ada kerjaan lain selain menungguku?.” Tanya Tiyara yang masih dengan wajah bingungnya.
“Berhenti mengoceh sebentar, Kau baru sadar dan tubuhmu masih cukup lemah.” Balas Jasson.
“Tidak, Aku sudah sembuh.”
“Ah.” Tiyara menggerakkan tubuhnya dan kakinya terbentur diatas ranjang sehingga membuat Jasson dan para perawat langsung panik.
“Sudah aku bilang, Kau masih lemah dan kakimu sama sekali belum sembuh, Bagaimana bisa kau membentur kakimu sembarangan.” Oceh Jasson dengan melihat kaki istrinya yang sedikit mengeluarkan darah itu.
__ADS_1
“Haisss kau ini.” Ucapnya sambil mengobati kaki istrinya itu. Tiyara hanya diam dan hanya memperhatikan suaminya yang merawatnya dengan sangat baik sehingga membuat dirinya tersenyum bahagia.
“Apa yang terjadi?.” Tanya Rere dan Feiy bersamaan dan dengan wajah hawatirnya.
“Hai.” Tiyara melambaikan tangannya kepada bi Feiy dan Rere yang ada diluar sehingga membuat Jasson menoleh kepadanya.
Jasson menatap keluar juga dan terlihat istrinya tengah melambaikan tangan kepada Rere dan bi Feiy. “Aneh sekali, Biasanya jika orang baru bangun dari koma akan lemah kenapa nona ini malah sepertinya sangat sehat?.” Guman Perawat dengan wajah bingungnya menatap Tiyara yang terlihat sudah baik baik saja.
“Istirahatlah dengan patuh, Kau baru saja bangun beberapa jam lalu.” Ucap Jasson dengan wajah datarnya sehingga membuat Tiyara diam dan kembali membaringkan tubuhnya sebab sudah dimarahi oleh suaminya.
“Kau terlalu sering marah nanti cepat tua.” Ucap Jasson kepada Jasson yang berada disamping kepalanya dan perawat yang membantu mendorongkan ranjang Tiyara menuju keruangan perawatan.
“Sayang.” Feiy dan Rere kembali memanggil bersamaan sehingga Tiyara menoleh ke arahnya dengan wajah senang sedangkan Dery hanya mengikutinya dengan beberapa pengawal yang juga ikut.
“Bibi.” Sapa Tiyara kembali kepada keduanya.
“Mama dan bibi bisa menunggu sebentar, Aku akan memasang alat alat dahulu setelah itu baru diizinkan masuk.” Ucap Jasson dengan menghentikan bi Feiy dan Rere yang ingin masuk.
“Yasudah.” Ucap Dery saat keduanya tidak rela tidak diizinkan masuk.
Jasson masuk dan perawat menutup ruangan. Tiyara menoleh kepada suaminya dan terlihat suster membawa banyak perlengkapan medis mendekat kepadanya. “Kantung matanya juga semakin menghitam, Apa yang terjadi?.” Guman Tiyara yang sangat bisa melihat perubahan yang ada ditubuh suaminya tersebut.
“Kenapa kau menatapku seperti itu? Tidak suka melihatku disini?” Tanya Jasson tanpa menoleh kepadanya.
“Siapa juga yang menatapmu, Aku…… Ah, Sakit.” Teriak Tiyara saat Jasson memasang infus ketangannya.
Jasson menoleh kepadanya dan benar saja wajah wanita itu benar benar kesakitan. “Astaga aku lupa jika dia takut dengan jarum suntik.” Guman Jasson yang baru ingat dan untungnya infus sudah dipasang.
__ADS_1