My Ekstrovert Wife

My Ekstrovert Wife
Tahanlah sedikit


__ADS_3

"Ini tuan kotak obatnya" ucap pelayan membuat ucapan Tiyara terpotong. Jasson menerima kotak obat tersebut dan kembali menarik tangan yang menjauh darinya tadi dan melihatnya.


"Hanya luka kecil tidak perlu di obat" ucap Tiyara dengan menarik kembali tangannya namun Jasson yang tidak mengizinkannya menahan tangan tersebut.


"Biarpun hanya luka kecil, Ini tetap harus diobati" jawab Jasson dengan wajah datarnya dan mengambil kapas dan mengelap darah yang ada dengan sangat pelan. Tangan yang kesakitan tidak bisa dihindari membuat tangan Tiyara bereaksi menandakan ada sesuatu didalam tangan itu hingga Jasson membersihkan darah terlebih dahulu hingga tersisa sedikit baru melihat apakah pecahan kaca yang tertinggal besar atau kecil.


"Hanya pecahan kaca kecil, Tahanlah sedikit" ucap Jasson dan mengammbil penjepit untuk menarik kaca tersebut dan menekan telapak tangan itu hingga kaca kecil itu timbul dan menariknya dengan sangat perlahan.


Tidak ada suara rengekan dari Tiyara menandakan jika dia tidak apa apa namun tangannya terus bergerak akibat rasa sakit yang membuat tangan itu bereaksi sendiri dan Tiyara tidak bisa berbohong kepada Jasson tentang dia yang sedikit kesakitan. "Tahanlah sebentar, Ini tidak akan terlalu sakit" ucap Jasson.


Tiyara tidak menjawabnya dan hanya menatap lekat wajah lelakinya yang tengah mengobatinya. Raut wajah yang semulanya tidak baik langsung tersenyum lebar saat memperhatikan wajah tampan lelaki dihadapannya. Jasson memberikan betadin ketangan itu namun Tiyara sama sekali tidak merengek kesakitan hanya saja tangannya yang masih bergerak memberi peringatan sakit.


Tiyara masih tersenyum lebar menatap lelakinya tersebut hingga akhirnya Jasson selesai memberikan perawatan kepada Tiyara dan mendongakkan pandangnya menatap istrinya. "Apa yang kau senyumkan?" tanya Jasson dengan wajah datarnya.


"Wajah tampanmu" jawab Tiyara yang masih saja tersenyum bahagia.


"Tanganmu sudah diobati, Itu hanya luka kecil dan akan sembuh beberapa hari" ucap Jasson dengan membereskan bekas obat yang terpakai dan memasukkannya kedalam kotak.


Senyum diwajah wanita itu sontak langsung menghilang saat mengingat kejadian tadi. "Oh iya, Bagaimana bisa kau memecahkan gelas? Apa pikiranmu tidak tenang?" tanya Tiyara dengan sangat berharap mendapatkan jawaban jujur dari lelakinya tersebut.


"Jika lemah tidak mungkin, Pasti ada sesuatu yang menganggu pikiranmu" ucap Tiyara kembali saat tidak mendapatkan jawaban dari Jasson.


Jasson masih saja diam dan menatap lekat wanitanya yang saat ini tengah menunggu jawaban darinya. "Katakan apa yang menganggu pikiranmu, Mungkin aku bisa memberikan solusi atau mencoba menghiburmu" ucap Tiyara kembali saat melihat tatapan sendu yang ada disorotan mata suaminya tersebut.


"Perasaanku tiba tiba menjadi tidak enak" ucap Jasson yang masih merasa gelisah.

__ADS_1


"Tidak enak? Kenapa?" tanya Tiyara kembali dengan dahi yang mengerut penasaran.


"Entahlah aku juga tidak tau, Tadi aku berniat untuk kembali kekamar karna sudah sore tapi saat aku mencari cari sendal ini tadi gelas yang aku pegang tiba tiba jatuh" jelas Jasson dengan menatap sendal nya sehingga membuat Tiyara juga menatap sendal lelaki itu.


"Siapa orang yang kau pikirkan pertama kali saat gelas ini terjatuh?" tanya Tiyara yang sedikit ragu.


"Mama, Padahal mama sudah meninggal bertahun tahun lalu, Tidak mungkin bukan jika terjadi sesuatu kepada mamaku yang sudah meninggal?" tanya Jasson yang masih saja nampak gelisah.


"Bibi Rere?" guman Tiyara dengan mengingat kejadian Rere nama panggilan ibu Jasson yang diseret oleh orang tidak dikenal.


"Lepaskan aku" teriak Cethlin atau Rere.


Tiyara kecil yang tengah memperhatikan Jasson bermain dengan teman wanitanya secara diam diam bisa mendengar teriakan tersebut dan mengintipnya. "Bibi Rere?" ucap Tiyara kecil.


"Aku ingat jika bibi belum meninggal" guman Tiyara dan menatap kearah suaminya kembali.


"Kenapa hanya diam? Kau tidak..."


"Mungkin kau merindukan mamamu makanya sampai gelisah seperti ini, Namun orang yang sudah tiada tidak akan terjadi apa apa dengannya hingga bisa dirasakan oleh orang sekitarnya" ucap Tiyara dengan senyumnya.


Jasson tidak menjawabnya dan masih memasang wajah gelisahnya menandakan jika dia tidak mempercayai ucapan Tiyara. "Oh iya, Aku kemari ingin kau mengambarkan sepeda untukku" ucap Tiyara dan mengambil kertas dan pulpen yang ia letakkan disamping kursi dan memberikannya kepada Jasson.


"Gambarlah sepeda untukku sesuai keinginanmu" ucap Tiyara kembali dengan senyum yang mengembang.


"Ini sudah sore, Ayo kita masuk" ajak Jasson yang pikirannya masih tidak baik baik saja.

__ADS_1


"Ah baik" jawab Tiyara yang pasrah saat bisa melihat raut wajah yang masih gelisah itu. Keduanya berjalan masuk kedalam rumah dengan Jasson yang membawakan kertas dan pulpen yang diberikan oleh Tiyara tadi.


"Kau tidak mandi dari kemarin, Apa nyaman?" tanya Jasson dengan wajah datarnya saat Tiyara terus mengikutinya.


Tiyara tidak menjawabnya dan mencium bau badannya yang sedikit tidak enak itu. "Ah iya, Karna memperhatikan pemandangan dari kamarmu berjam jam tadi makanya lupa mandi" jawab Tiyara dengan senyum yang mengembang menatap wanita itu.


"Aku keatas dahulu untuk membersihkan tubuh setelah itu kembali kebawah lagi, Aku mencintaimu" teriak Tiyara dengan senyumnya sambil kaki yang melangkah menaiki anak tangga.


Jasson tidak menjawabnya, Wajahnya masih saja terpasang datar tidak terlalu memperdulikan teriakan dari wanitanya tersebut dan hal tersebut berbanding terbalik terhadap beberapa pengawal dan pelayan yang mendengarnya namak senyum senang. Jasson langsung menatap kemereka dengan tatapan tajamnya membuat mereka sadar dan kembali melanjutkan pekerjaan mereka masing masing.


"Tuan Jasson nampak menakutkan" guman pelayan.


Jasson masuk kedalam kamarnya dan kembali menutup kamar tersebut dan meletakkan pulpen dan kertas yang diberikan oleh istrinya tadi disamping ranjangnya. "Apakah mama benar benar baik saja disana? Apakah sudah bertemu dengan papa? Apa yang dikatakan papa kepada mama? Apa kalian saling bercerita, Papa kau sudah mencintai mama bukan?" guman Jasson dengan menatap poto masa kecilnya bersama ayah dan ibunya.


"Disaat aku lulus menjadi dokter spesialis tidak ada satupun orang yang datang mengatakan selamat kepadaku" ucap Jasson dengan mengusap poto orang tuanya itu.


"Apakah kalian masih belum ingin mengucapkannya? Aku sudah sering tidur agar bertemu dengan kalian, Namun satupun dari kalian tidak memperdulikanku dan tidak menemuiku" ucap Jasson kembali.


Tiyara yang saat ini baru saja keluar dari kamar mandi dengan baju handuk yang melekat ditubuh dan handuk biasa yang melingkar rambut basahnya. "Bibi Rere belum meninggal, Tapi siapa yang menculiknya waktu itu?" guman Tiyara dengan menghempaskan tubuhnya keatas ranjang duduk disana menatap kedepan.


"Yang aku ingat hanya plat mobil yaitu XXXXX tapi mobil itu sudah sangat lama, Apakah masih ada?" tanya Tiyara dengan wajah bingungnya.


"Jika tidak salah merk mobilnya itu xxxxxx, Ada tidak ya mobil seperti itu diinternet" ucap Tiyara dengan wajah bingungnya.


"Coba cek saja dulu" ucapnya kembali dan langsung menelungkup mengambil ponselnya yang masih dicas dan memainkannya sambil dicas.

__ADS_1


__ADS_2