
"Jasson kau dimana?" teriak Tiyara kembali dengan wajah yang hampir menangis saat ditinggal suaminya. Tiyara langsung duduk dan menatap kesekitar kamar tersebut namun tidak menemukan suaminya.
"Jasson, Kau dimana?" teriak Tiyara kembali.
Tiyara yang masih tidak mendapatkan jawaban berdiri dari duduknya dan berlalu dari sana dengan ranjang yang acak acakan dia keluar dari kamar Jasson. "Jasson kau dimana? Kau hari ini libur tidak ada kerja" teriak Tiyara dengan mata yang masih nampak mengantuk.
Pelayan bisa mendengar teriakan tersebut dan langsung menoleh kearah Tiyara. "Nona anda mencari tuan?" tanya pelayan yang berbicara kepada Jasson tadi.
"Iya, Dimana dia?" tanya Tiyara yang nampak benar benar kehilangan lelakinya tersebut.
"Tuan diatas nona diruangan gym" jawab pelayan. Tiyara tidak menjawabnya dan melangkahkan kaki menaiki anak tangga dengan sangat perlahan hingga sampai diatas dia langsung menju keruangan gym yang dimaksud dan membuka pintu ruangan itu.
"Kenapa meninggalkanku sendiri?" tanya Tiyara yang masih sedikit mengantuk dan nampak lemah tanpa menatap Jasson.
Jasson yang tengah latihan menarik alat disana langsung menoleh kearahnya dan terlihat wanitanya tersebut nampak masih sedikit mengantuk. "Jika mengantuk kembalilah kekamar dan istirahat, Tidak usah kemari" ucap Jasson dengan wajah datarnya dan kembali melanjutkan olahraga menariknya.
"Tidak ada kau, Aku jadi tidak mengantuk lagi" jawab Tiyara dengan kaki yang terus melangkah mendekat dengan kepala masih menunduk.
"Hey nantik kakimu tersandung besi jangan berjalan menunduk" ketus Jasson. Tiyara tidak menjawabnya dan langsung mengangkat kepalanya.
Mata wanita itu tidak mengedip dan terbuka sempurna tidak seperti awal yang masih sangat mengantuk, Bagaimana tidak, Tubuh kekar yang ada dihadapannya saat ini mengalihkan rasa kantuknya. Perut kotak yang diidam idamkan seluruh umat wanita saat ini berada dihadapannya. Lelaki yang sudah menjadi suaminya namun tidak pernah melihat bentuk tubuhnya saat ini dia menyaksikan dengan jelas tubuh bagus itu. Kaki wanita itu perlahan melangkah mendekat dengan mata yang menatap perut kotak itu.
"Wah tidak aku sangka kau memiliki perut kotak seindah ini" ucap Tiyara dengan mencoba menyentuh perut lelakinya tersebut namun tangannya ditahan oleh Jasson.
Tiyara langsung menatap suaminya dengan tatapan tajamnya dan melepaskan dengan kasar tangannya dan duduk diatas paha suaminya tersebut. "Aku pikir tubuhmu hanya tulang saja, Ternyata ini lebih indah dari yang aku lihat biasanya" ucap Tiyara kembali dengan senyum yang mengembang dan tangan yang masih mencoba meraba perit tersebut.
"Jangan macam macam kau. Turun" tegas Jasson dengan wajah datarnya.
__ADS_1
"Cih, Jika sudah duduk tidak mau berdiri lagi" jawab Tiyara dan langsung menempelkan tangannya diperut suaminya tersebut.
Tangan itu meraba raba keatas kebawah membuat mata Jasson membulat kaget. "Tiyara" teriak Jasson dengan wajah memerah akibat ulah wanita itu.
Tiyara tidak menjawabnya dan terus saja merabanya dengan sangat lembut. "Tangannya lembut sekali" guman Jasson dengan menelan silivanya akibat ulah wanita itu.
"Aku tidak pernah menyentuh perut seperti ini, Ini pertama kalinya untukku namun aku senang karna ini adalah perut suamiku sendiri" ucap Tiyara dengan senyumnya dan bersandar ditubuh suaminya itu.
"Tidak usah merasa canggung, Kita sudah menjadi suami istri" bisik Tiyara dengan senyumnya.
"Eh tunggu" guman Tiyara saat lututnya bersentuhan dengan sesuatu yang terasa keras dibawah.
"**** aku ini lelaki normal" guman Jasson saat Tiyara malah menggerakkan kakinya menyentuh miliknya.
"Astaga tubuhnya bereaksi, Aku kira dia tidak bisa tegang" guman Tiyara dengan sedikit takut dan langsung berdiri dari duduknya diatas paha Jasson.
Jasson membuang nafas panjang saat terlepas sedangkan Tiyara dia bisa melihat jika wajah suaminya itu memerah. "Maaf, Aku akan mengganti baju dulu dan ikut olahraga bersamamu" ucap Tiyara dengan senyumnya.
"Pantas saja cepat bereaksi sikecil ini, Ini pertama kalinya untukku, Melakukan hal itupun aku tidak pernah seumur hidupku" ucapnya kembali.
"Jasson tadi bereaksi begitu cepat, Apakah aku harus bertanggung jawab akan hal itu?" guman Tiyara dengan memilah baju untuk olahraga bersama suaminya.
"Namun seharusnya suami istri memanglah harus melakukan itu, Tapi dia tidak pernah memintanya" ucap Tiyara dengan nada kecewa saat mengatakan tapi dan seterusnya.
"Apakah aku sebagai istrinya harus berinisiatif untuk memintanya?" tanya Tiyara dengan mengganti seluruh pakaiannya dengan pakaian olahraga.
"Tapi sebelum aku menemukan pembunuh ayah dan paman sepertinya sedikit sulit untukku hamil sambil mencari tau tentang mereka" ucap Tiyara dengan menatap lekat tubuhnya dicermin kamarnya tersebut.
__ADS_1
"Ah terserah pikirkan nanti saja, Aku belum memikirkan cara untuk menggodanya, Namun jika sudah berhadapan langsung dengannya dengan sendirinya jiwa menjadi wanita penggoda mungkin akan meronta ronta dengan sendirinya" ucap Tiyara dengan senyumnya dan berjalan kembali keluar dari kamarnya tersebut.
"Jasson aku kembali" teriak Tiyara dengan girangnya. Menggunakan pakaian olahraga berwarna hitam dan las berwarna biru dengan sleting baju olahraga yang ditutup hanya sebatas perut saja dengan tali tangtop yang bisa dilihat oleh Jasson.
"Hey jangan melihat kemana mana" ketus Tiyara akan mata Jasson yang menatap dadanya.
"Cih bilang tadi jiwa wanita penggoda meronta ronta jika bertemu dengannya" Tiyara berbaju hitam atau iblis Tiyara.
"Kau iblis jahat jangan menggodanya, Wanita tidak boleh berinisiatif memberikan dirinya ditambah ini pertama kalinya untuk Tiyara kecilku ini" Tiyara berbaju putih atau malaikat Tiyara.
"**** menganggu" teriak Tiyara dengan wajah kesalnya hingga membuat Jasson langsung menoleh kearahnya.
"Ada masalah?" tanya Jasson dengan wajah bingungnya dan berjalan kearah pakaiannya. Dia mengenakan baju dalamnya akibat sedikit tidak nyaman akan kehadiran Tiyara dengan tubuh yang bertelanjang dada itu.
"Eh kenapa ditutup?" tanya Tiyara dengan menarik baju dalam yang hendak dikenakan oleh Jasson itu.
"Ada kau disini, Tidak mungkin aku seperti ini" ketus Jasson dengan melototkan matanya akan Tiyara yang menghentikannya hendak mengenakan baju.
"Tidak apa apa, Aku menyukai ini" balas Tiyara dengan senyumnya dan tangan yang kembali meraba perut suaminya tersebut.
"Tiyara kau tidak sopan sekali" teriak Jasson akibat sedari tadi mencoba menenangkan dirinya namun malah kembali digoda oleh istrinya.
"K-kau berteriak ditelingaku hanya karna ini?" tanya Tiyara dengan wajah yang langsung bersedih padahal sudah biasa berteriak satu sama lain layaknya bermain teriakan.
Jasson membuang nafas panjang. "Maaf aku tidak bermaksud hanya saja kau tidak boleh tidak sopan seperti ini denganku" ucap Jasson yang memasang wajah sedikit kesal namun merasa bersalah.
"Kenapa tidak boleh? Aku ini istrimu, Tidak masalah jika istrimu sendiri yang menyentuhnya dan melihatnya, Seharusnya suami istri itu sudah melakukan kewajiban mereka pada saat hari pertama setelah menikah sedangkan kita?" tanya Tiyara dengan wajah menyedihkannya.
__ADS_1
"Sedangkan kita, Kau saja melarangku untuk melihat tubuhmu, Hikssss" sambungnya yang menangis dengan wajah cemberut.
"Hey jangan menangis, Aku tidak bermaksud" ucap Jasson tanpa menyentuh wanita itu.