
Tiyara mengiyakannya dan meminum minuman yang dibuatkan suaminya untuknya itu dan memegang minuman itu ditangannya namun Jasson mengambil minuman itu sehingga membuat Tiyara menatapnya.
"Tidak usah menatapku seperti itu." ucap Jasson dengan wajah datarnya. Tiyara hanya tersenyum dan kembali menyandarkan kepalanya dibahu tersebut.
Jasson tidak memperdulikannya dan kembali menatap ketelevisi. Televisi menayangkan adegan dewasa dengan Jasson yang benar benar memperhatikannya sehingga semakin panas dia menoleh kepada istrinya dan ternyata wanita itu sudah tertidur.
Jasson mengambil remot dan langsung mematikan televisi. "Hah." dia membuang nafas panjang mencoba menghilangkan pikirannya tenyang yang ia saksikan barusan setelah itu dia baru kembali menatap istrinya.
Jasson memilih untuk memindahkan dan membawa istrinya masuk kedalam kamarnya setelah itu mengunci pintu kamar dan kembali keranjang. Matanya menatap lekat istrinya yang sudah tertidur itu, Dia meletakkan punggung tangannya didahi istrinya dan ternyata suhu tubuh wanita itu sudah normal.
Jasson terus saja menatap lekat wanita itu hingga bibirnya membentuk sebuah senyuman. Mata yang terpejam menambah kecantikan wanitanya pikirnya saat ini. "Aku harap kau bukan anak paman agar kau selalu berada disisiku dan tidak ada dendam diantara kita." ucap Jasson dengan senyumnya dan mencium pucuk kepala istrinya tersebut.
Jasson memilih untuk membersihkan kakinya terlebih dahulu dan mencuci wajah dan ritual sebelum tidur lainnya. Tiyara membuka matanya sebab dia sadar saat Jasson mengangkatnya kekamar. Tiyara menatap keergian suaminya tersebut dan mengerutkan dahinya. "Kenapa dia berbicara seperti itu? Apa dendam yang dia maksud?." guman Tiyara dengan wajah bingungnya.
"Ucapannya barusan benar benar menandakan bahwa dia menganggap ayah pembunuh paman." sambungnya dengan wajah yang cukup kecewa akan perkiraannya tersebut.
Jasson kembali kekamar sehingga membuat Tiyara kembali memejamkan matanya. Jasson menatap kepadanya dan kembali tersenyum setelah itu dia mengganti baju tidurnya sehingga Tiyara mengintipnya namun saat Jasson berbalik dia kembali memejamkan mata.
Jasson mendekat dan masuk kedalam selimut yang menyelimuti tubuh istrinya tersebut. Lelaki itu langsung memeluk tubuh istrinya dan ikut tidur bersama Dengan Tiyara yang berada didekapannya.
Cukup lama mencoba tidur dan tidak ingin tidur Tiyarapun membuka kembali matanya. Matanya menatap kedepan, Tatapannya laangsung kosong dengan isi pikiran yang banyak. "Aku benar benar tidak boleh membiakran Jasson membenci ayah hanya karna tidak ada bukti yang membuktikan bahwa ayah bukan pembunuh paman." guman Tiyara dengan wajah hawatirnya.
"Tapi aku tidak tau kemana aku mencari bukti buktinya lagi selain menangkap Ferdi si pembunuh itu."
__ADS_1
Plakkkk.......
"Ah." Jasson terbangun saat siku istrinya menyikut perutnya sehingga mambuat Tiyara membulatkan matanya dan langsung menoleh kepada suaminya tersebut.
"Sayang apa sakit?." tanya Tiyara dengan memegang tangan suaminya yang memegang perut itu. Jasson membuka matanya dan menatap istrinya yang terlihat panik dengan wajah baru bangunnya.
"Kerumah sakit ya, Takutnya terjadi apa apa dengan perutmu." ucap Tiyara dengan menatap hawatir kepada suaminya itu.
"Tidak apa apa, Tidak usah kerumah sakit." jawab Jasson dan meraih punggang istrinya dan menenggelamkan wajahnya diperut datar istrinya tersebut.
Tiyara diam dengan menunduk menatap suaminya itu dan Jasson mendongakkan kepalanya. "Kau bermimpi tentang apa sehingga kau menyiku perutku? Apa mimpimu buruk?." tanya Jasson. Tiyara diam sejenak hingga dia sadar akan pertanyaan suaminya.
"Ti-tidak aku tadi hanya....."
"Kemari." Jasson meraih leher wanita itu dan kembali memeluk erat tubuhnya.
"Em, Aku tidak berharap akan hal itu sebab aku yang akan selalu menjagamu agar tetap aman dan selaku bahagia." guman Tiyara tanpa menjawab ucapan suaminya barusan.
"Kembalilah tidur, Aku akan berusaha untuk hati hati dan tidak menganggu tidurmu." ucap Tiyara dengan menenggelamkan wajahnya didada bidang suaminya tersebut.
"Kau juga kembalilah tidur." bisik Jasson dengan suara serak dan memberikan kecupan selamat malam dan kembali memejamkan matanya yang cukup mengantuk itu.
Tiyara membuang nafas panjangnya dan memejamkan matanya juga dan ikut tertidur bersama suaminya tersebut.
__ADS_1
Keesokan paginya.
Tiyara terbangun terlebih dahulu dijam empat pagi itu,Dia langsung bergegas menuju kekamarnya dengan hati hati agar tidak membangunkan suaminya dan mengganti seluruh pakaiannya menjadi pakaian tertutup. "Dery sudah meyakinkanku siapa pembunuh papa dan paman dan juga siapa penculik bibi dan dia adalah orang yang sama, Dia pernah menawarkan bekerja sama dengan perusahaanku namun aku menolaknya dan sekarang........"
Ting....
Pesan tadi malam masuk sehingga membuat Tiyara membuka ponselnya dan terlihat itu adalah pesan dari Dery yang mengirimkan poto Rere yang tengah dibawa paksa oleh pengawal Ferdi masuk kedalam rumah.
Pesan kembali masuk dan itu adalah alamat rumah Ferdi. Tiyara menerimanya dengan senang hati dan langsung keluar dari rumah, Dia membuka gerbang sendiri dan mengeluakrna mobil setelah itu menutup gerbang itu kembali.
"Didapatkan informasi dari pengawal yang datang menemui anda kemarin, Anak kecil yang bersama dengan anda tadi malam memang sudah cukup sering mencoba masuk kedalam pekarangan rumah tuan Jasson namun selalu tidak diizinkan di karenakan anak tersebut cukup terlihat mencurigakan, Namun setelah diselidiki lebih lanjut lagi anak kecil itu memang dari keluarga baik baik, Dia mengagumi anda dan ayahnya adalah pemimpin anak dari perusahaan kita." Pesan suara dari Dery di dengarkan baik baik oleh Tiyara namun Tiyara tidak mengubrisnya lagi dan menambah kecepatan laju mobil dijalanan yang masih sepi itu.
Sesampai ditempat tujuan.
Tiyara langsung turun dari mobilnya yang terparkir cukup jauh dari rumah Ferdi. Dia mencari celah dan tempat agar bisa melihat kedalam rumah tersebut untuk mengetahui keadaannya supaya dia bisa menerobos hingga akhirnya dia memilih untuk memanjat pohon dan melihat sekeliling rumah tersebut.
"Jika aku menembak mati para pengawal itu akan menjadi keributan besar dan membuat semuanya terbangun dan tidak mungkin aku menembak mereka sebanyak itu sekaligus." guman Tiyara saat melihat penjagaan disana benar benar ketat.
"Em, Laser pemberitahuan jika ada penyusup juga menyala dan aktif di pintu pintu utama dan hanya ada......"
"Disana, Disana terdapat banyak kawat makanya tidak mengenakan itu." guman Tiyara saat melihat benda itu.
"Aku akan meninggalkan ini disini agar nanti jika aku tidak keluar atau tidak bisa dihungi Dery dapat menemukanku." ucap Tiyara dengan meletakkan pelacak kecil miliknya diatas pohon tersebut.
__ADS_1
Shyunhggg
Wanita itu meloncat turun sehingga membuat penjaga yang sadar menoleh dan menyinari daerah sana namun dia tidak menemukan apapun. Tiyara yang merasa sudah aman berjalan dengan kaki yang berusaha untuk tidak mengeluarkan suara dan mendekat kearah jalan masuk satu satunya kepekarsngan rumah tersebut.