
"Beraninya mereka mengekspos wajah suamiku, Akan kupatahkan tangan kalian yang....."
"Jasson." ucap Tiyara saat sadar ada suaminya yang sudah mematung di depan kamar mandi dan langsung mematikan televisi yang masih menyala itu.
"Kau sudah selesai?." tanya Tiyara dengan mendekat dan tersenyum melihatnya.
"Apa yang kau katakan barusan?." tanya Jasson dengan wajah penasarannya.
"Kau sudah selesai?." ulang Tiyara saat mendapatkan pertanyaan tersebut dari Jasson.
"Sebelumnya." balas Jasson. Tiyara memikirkan apa ucapannya sebelum bertanya tadi.
"Jasson." jawab Tiyara dengan wajah polosnya.
"Haiisss, Sudahlah ayo pulang." ajak Jasson yang merasa percuma bertanya kepada istrinya itu.
"Dia belum terbuka kepadaku." guman Jasson dengan wajah kesalnya sambil mengganti baju dengan Tiyara yang hanya memperhatikannya.
"Bukan tidak mau memberitahu mu, Cuma kau seharusnya tidak memikirkan hal lain selain pekerjaan dan kehidupan pribadi mu." guman Tiyara dengan tatapan kosong menatap Jasson yang tengah mengenakan baju itu.
"Ayo." ajak Jasson kepada Tiyara yang hanya diam saja. Tiyara sadar akan ajakan tersebut dan tersenyum dan menggandeng tangan suaminya itu.
Tiyara memimpin jalan dan keluar dari hotel dengan mata yang kemana mana mengawasi sekitar hotel. Tiyara dapat melihat orangnya dan orangnya itu menganggukkan kepalanya memberitahu bahwa sekitar itu aman. Tiyara tidak merespon dan kembali membawa suaminya tersebut berjalan untuk meninggalkan hotel itu.
"Ah." Tiyara menghentikan langkah kakinya sekejap dan meremas apa yang ada ditangannya dan itu tangan Jasson.
"Kau kenapa?." tanya Jasson yang sadar akan hal tersebut.
Tiyara membuang nafas panjang dan langsung menggelengkan kepalanya. "Tidak apa apa, Ayo." ajak Tiyara kembali dengan tersenyum lebar menatap suaminya tersebut dan kembali melanjutkan langkah kakinya.
"Masuk." ucap Tiyara mempersilahkan suaminya masuk terlebih dahulu kedalam taxi yang melintas. Jasson masuk kedalam mobil dan setelah itu baru Tiyara.
"Dimana Derwin, Mengapa kita malah naik taxi?." tanya Jasson dengan menatap sekeliling mencari Derwin.
"Mereka terjebak di lobi hotel, Jadi tidak......"
"Awas." Tiyara langsung melindungi tubuh suaminya menggunakan tubuhnya.
"Kau....." Tiyara langsung menangkap pisau yang ada pada sopir taxi itu.
__ADS_1
"Ti-tiyara punggung mu......"
"Tutup matamu." teriak Tiyara dan menghajar sopir yang mencoba menyakiti suaminya.
Setelah sopir lemah Tiyara membuka pintu mobil dan mengeluarkan sopir begitupun dengan dirinya yang juga ikut keluar. "Katakan siapa yang menyuruhmu." teriak Tiyara.
"Kau ini siapa? Aku tidak memiliki urusan denganmu." teriak sopir itu.
"Kau tidak perlu tau siapa aku, Siapa yang menyuruhmu." teriak Tiyara dengan memeras tangan sopir itu.
"Tidak akan aku katakan sampai matipun. ah." teriak sopir yang kesakitan saat tangannya dipatahkan oleh Tiyara.
"Nona." Para pengawal datang.
"Urus orang ini." ucap Tiyara dengan mengibaskan tangannya tanpa sadar akan luka yang ada dipunggungnya.
"Bawa Jasson kembali terlebih dahulu dan......"
"Tubuhmu terluka." ucap Jasson yang keluar dari mobil setelah ketakutannya dan memberanikan diri untuk keluar mobil.
Tiyara bisa merasakan gemetaran tangan suaminya itu dan menggenggam balik tangan lelaki itu. "Aku tidak apa apa, Kau pulang bersama pak Derwin terlebih dahulu ya agar kau aman." ucap Tiyara dengan senyum baik baik saja padahal tidak.
"Dia ketakutan." guman Tiyara dengan wajah bersalahnya saat suaminya semakin takut.
"Tapi kita pisah mobil tidak apa apa? Kau masuk ke mobil itu ya." balas Tiyara dengan senyumnya mencoba menenangkan suaminya yang ketakutan itu.
"Aku akan mengobati lukamu." ucap Jasson.
"Yasudah ayo masuk mobil belakang saja." ucap Tiyara dengan mengenggam tangan lelaki yang ketakutan itu dan membawanya masuk kedalam mobil.
Keduanya masuk kedalam mobil. "Ini tuan." ucap Penjaga dengan memberikan kotak obat kepada Jasson. Jasson menerimanya dan membuka kotak obat itu.
"Robek saja bajunya, Tidak apa apa." ucap Tiyara.
Krekkkk
Jasson langsung merobek baju tersebut dan terlihat luka tusukan pisau itu tidak terlalu dalam. Dengan perlahan dan hati hati Jasson membersihkan luka itu sedangkan Tiyara hanya mendesis sedikit kesakitan. "Tahan sedikit ya." ucap Jasson dengan wajah hawatirnya.
Tiyara tidak menjawabnya dan hanya diam dengan mata yang terpejam dan mulut yang terkunci rapat mencoba agar tidak mengeluarkan suara sebab takut nanti Jasson semakin hawatir akannya. "Setiap saat terluka juga tidak apa apa, Yang penting dia memperhatikan ku dan menghawatirkanku." guman Tiyara dengan senyumnya sedangkan Jasson dia menempelkan perban ke luka istrinya itu.
__ADS_1
Setelah selesai mengobati istrinya Jasson melepaskan jaket yang dikenakannya dan mengenakannya jaket itu ke tubuh istrinya yang mengenakan baju hanya sebelah tangan saja.
"Hati hati, Nanti tidak kering obatnya." ucap Jasson. Tiyara tersenyum lebar.
"Terima kasih." ucap Tiyara yang masih tersenyum menatap suaminya itu.
Jasson tidak menjawabnya dan membuang pandangnya. "Ini baju ganti untuk nona." ucap pengawal dengan memberikan baju kepada Jasson.
"Terima kasih." Jasson menerimanya dan meletakkan baju itu diatas pangkuannya.
"Semuanya pasti sudah di urus oleh Dery itu sebab nya dia tidak terlihat." guman Tiyara yang sadar akan Dery yang tidak terlihat.
Sopir masuk kedalam mobil. "Apakah mobilnya harus dijalankan sekarang nona?." tanya pengawal.
"Em." balas Tiyara dan menyandarkan kepalanya dibahu lebar suaminya tersebut.
"Baik." pengawa melajukan mobil dengan kecepatan sedang dan meninggalkan tempat tersebut dengan beberapa mobil yang mengikuti dan ada juga dua mobil di depan memastikan keamanan majikan mereka yang baru saja terkena musibah itu.
"Kau tidak tambah takut bukan setelah melihat kejadian tadi?." tanya Tiyara dengan wajah hawatir, Hawatir jika suaminya semakin ketakutan.
"Tidak memikirkan yang tadi, Jika kau mengantuk tidur saja." ucap Jasson dengan semakin mengusap kepala istrinya tersebut.
Tiyara tidak menjawabnya. Tubuh yang tengah lemah itu dengan cepat memejamkan mata dan beristirahat di sandaran suaminya. "Langsung kerumah sakit saja." pinta Jasson saat tau jika tubuh wanitanya itu semakin melemah.
"Baik tuan." jawab pengawal mengiyakan perkataan Jasson dan menyalakan telepon pemberitahuan.
"Tuan meminta untuk langsung kerumah sakit." ucap pengawal yang mengemudi mobil yang di tumpangi Jasson dan juga Tiyara.
"Baik." jawab Mereka semuanya bersamaan dan mobil berpindah jalur menuju kerumah sakit milik Jasson yang dibelikan Tiyara.
"Ssshhh." Tiyara kembali mendesis, Wajahnya memucat dan tangannya mencoba mencari celah kehangatan di sekitar.
Jasson sadar akan hal tersebut dan memperat pelukannya. "Tahan sedikit ya." ucap Jasson dengan menggenggam tangan istrinta itu.
"Percepat laju kendaraan, Nona kesakitan." perintah pengawal dan seluruh mobil melaju dengan cepat menuju kerumah sakit.
"Ibu." mulut itu mengeluarkan suara yang sangat rendah. Jasson meletakkan tangannya dudahi istrinya saat dia meraskan suhu yang cukup tinggi di tubuhnya.
"Suhu tubuhnya naik." guman Jasson yang semakin hawatir saat mengetahui hal tersebut.
__ADS_1