My Ekstrovert Wife

My Ekstrovert Wife
Hah? Suami?


__ADS_3

Jasson dan juga Syeri langsung menoleh kebelakang dan terlihat Tiyara berjalan cepat kearah suaminya tersebut. "Cih wanita itu mencoba menggoda suamiku?, Jangan harap karna dicerita hidupku tidak ada ******." umpat Tiyara yang langsung menggapai lengan kekar tersebut.


"Sayang kau baru selesai bekerja?." tanya Tiyara dengan senyumnya dan menyandarkan kepalanya dilengan suaminya tersebut.


"Dokter Jasson, Dokter Syeri, Ini undangan untuk kalian jika memiliki waktu datanglah." ucap dokter wanita dengan senyumnya sambil menyodorkan undangan kepada Jasson dan juga Syeri.


Jasson menerimanya dan melihat ada dokter itu tertera disana. "Kau akan menikah?." tanya Syeri.


"Jika tidak dia akan menikah mana mungkin dia memberikan undangan bodoh." guman Tiyara dengan wajah kesalnya.


"Iya dokter, Saya harap kalian datang dan membawa pasangan, Jika kalian pasangan datanglah secara bersamaan nanti." ucap dokter itu dengan senyumnya.


Syeri langsung menoleh kearah Jasson namun tidak dengan Jasson yang hanya diam saja sedari tadi. "Cih." umpat Tiyara yang terdengar jelas oleh Jasson.


"Jika begitu saya permisi." pamit dokter tadi dengan senyumnya.


"Hati hati ya jangan sampai nanti pasanganmu dikira milik orang lain." teriak Tiyara dengan wajah kesalnya.


"Hey apa yang kau katakan." ucap Jasson dengan menatap tajam kearah wanitanya tersebut. Tiyara tidak memperdulikannya dan masih kesal dengan dokter tadi.


Syeri langsung menoleh kearah Tiyara begitupun dengan dokter tadi yang menghentikan langkah kakinya.


"Ah ada dokter waktu itu, Ada urusan apa mengikuti suami saya hingga ingin masuk keruangannya?." tanya Tiyara dengan tangan yang masih merangkul lengan suaminya tersebut dan tersenyum menatap Syeri dengan sorotan tajam dari matanya.


"Hah?, Suami?." ucap Syeri dengan wajah kagetnya.


"Maaf nona maksud anda dokter Jasson adalah suami anda?." tanya dokter yang memberikan undangan tadi.


"Jika bukan suamiku apa?, Kau mengira dia adalah kekasih dokter ini?." tanya balik Tiyara dengan wajah kesalnya.


"Tiyara bicaralah dengan sopan." ucap Jasson yang nampak tidak masalah akan Tiyara yang mengatakan yang sebenarnya namun cara bicaranya saja.


"Benarkah dokter Jasson?." tanya Syeri sedangkan dokter yang memberikan undangan tadi hanya menatap mereka berdua.


Cupp..


Mata Jasson membulat saat Tiyara yang memegang wajahnya dan langsung mencium bibirnya. Meskipun langsung dilepaskan dalam beberapa detik namun hal tersebut membuatnya kaget. Syeri dan juga Dokter tadi juga ikut membulatkan mata mereka akibat kaget. "Sayang maaf jika aku melakukannya didepan umum karna mereka tidak percaya jika aku adalah istrimu." ucap Tiyara dengan nada manjanya.


"Apakah masih belum bisa meyakinkan dokter berdua jika Jasson adalah suamiku?." tanya Tiyara dengan senyumnya menatap Syeri dan juga dokter tadi.

__ADS_1


"Jasson tidak menolak ataupun marah, Apa benar mereka sudah menikah?." guman Syeri yang nampak kaget dan sedih. Hati yang terasa hancur saat mengetahui lelaki pujaan hatinya sudah menikah dan sekarang malah berciuman tepat dihadapannya.


"Ah saya percaya nona, Maafkan saya sudah berbicara seperti tadi, Datanglah nanti bersama dengan dokter Jasson." ucap dokter yang memberikan undangan tadi dengan senyumnya.


"Dengan senang hati." jawab Tiyara dengan senyum ramah.


"Saya permisi." pamit dokter tadi. Tiyara menganggukkan kepalanya dengan senyum yang mengembang namun tidak dengan Jasson yang wajahnya memerah dan Syeri yang nampak kesal.


"Apa dokter masih ada urusan dengan suami saya?." tanya Tiyara saat melihat Syeri yang hanya diam membatu dihadapannya.


Syeri tidak menjawabnya dan langsung berlalu dengan langkah kaki yang cepat dari sana membuat Tiyara kebingungan. "Aneh sekali dokter itu." ucap Tiyara dengan sudut bibir atas yang terangkat.


"Tenang." guman Jasson dengan menggelengkan kepalanya dan langsung memasang wajah datarnya menatap istrinya tersebut.


"Kau kenapa bisa disini?, Akukan tadi tidak menyuruhmu keluar." ucap Jasson dengan wajah datarnya.


"Tidak ada teman untuk berdebat dirumah makanya aku kemari." jawab Tiyara dengan senyumnya.


Syeri yang bersembunyi disudut ruangan tersebut bisa mendengar jelas ucapan keduanya. "Mereka memang sudah menikah buktinya dia bilang tidak ada teman berdebat dirumah dan itu menandakan jika mereka sudah tinggal satu rumah?." guman Syeri dengan wajah kecewanya.


"Aku masih ada pekerjaan disini, Kau kembalilah kerumah terlebih dahulu." ucap Jasson dengan wajah datarnya.


"Tidak, Aku ingin pulang bersamamu." jawab Tiyara yang kembali merangkul lengan suaminya tersebut dan tersenyum lebar.


"Jika kau disini juga tidak ada teman untuk mengobrol." balas Jasson.


"Biarkan saja, Aku ingin mengawasimu takut nanti ada yang mencoba mendekatimu lagi." jawab Tiyara dengan wajah kesalnya saat mengingat Syeri tadi.


"Yasudah ayo masuk." ajak Jasson dengan memegang punggung wanitanya tersebut. Tiyara mengiyakannya dengan senang hati dan masuk kedalam ruangan tersebut begitupun dengan Jasson.


"Dokter anda kenapa?." tanya suster yang lewat disana saat melihat Syeri yang menangis.


"Bukan urusanmu." ketus dokter Syeri dan langsung berlalu dari sana.


"Kau keluar hanya untuk kemari?." tanya Jasson dengan mendudukkan tubuhnya diatas kursinya. Tiyara ikut duduk dihadapan suaminya tersebut dan menatap lekat lelaki yang bertanya namun tidak menatapnya itu.


Jasson tidak mendapatkan jawaban dari Tiyara hingga membuatnya menoleh kearah wanita itu. "Kenapa hanya diam?." tanya Jasson yang kembali membuang pandangnya saat tidak menatap sekejap istrinya itu.


"Kau bertanya kepadaku namun kau tidak melihatku bagaimana aku menjawabnya." jawab Tiyara yang nampak sedikit kesal.

__ADS_1


Jasson menghentikan tangannya yang tengah membalik balikkan buku dan menatap istrinya yang masih berada dihadapannya dan raut wajah wanita itu nampak kesal. Jasson meletakkan sikunya diatas meja dengan buku yang diletakkannya diantara kedua tangannya dan menatap lekat Tiyara. "Kau keluar hanya untuk kemari?." tanya Jasson dengan menatap lekat wanita itu.


Tiyara yang melihat Jasson memperhatikannya langsung tersenyum lebar. "Iya." jawab Tiyara dengan senyum yang mengembang tulus menatap suaminya tersebut.


"Akukan tadi sudah bilang jangan kekuar, Cuaca sangat dingin." ucap Jasson.


"Tidak dingin, Lagi pula kau juga keluar, Jika kau kedinginan aku akan menghangatkanmu." balas Tiyara dengan senyum centilnya menatap suaminya tersebut.


"Aku sedang berbicara sungguh sungguh kepadamu." ucap Jasson yang memiliki kesabaran setipis tisyu itu.


"Aku juga serius." jawab Tiyara yang berdiri dari duduknya dan berjalan mendekat kearah suaminya tersebut.


"Kemari kemari biar aku peluk supaya tidak kedinginan lagi." ucap Tiyara dengan senyumnya dan membukakan coat bagian depan yang dikenakan dan langsung memeluk bagian kepala Jasson dan menutupnya menggunakan cota tersebut sehingga kepala lelaki itu tidak terlihat lagi.


"Sangat ingin menolak." guman Jasson.


"Aku akan menghangatkanmu, Jangan merasa kedinginan lagi." ucap Tiyara dengan senyumnya sambil tangan yang memeluk erat kepala suaminya tersebut.


"Namun ini terlalu nyaman." sambungnya dan membalas pelukan tersebut dengan melingkarkan tangannya dipaha istrinya tersebut.


Tiyara bisa merasakan jika Jasson membalas pelukannya dan terus saja mengusap kepala itu. "Apakah masih kedinginan suamiku?." tanya Tiyara dengan senyumnya.


Jasson langsung melepaskan tangannya dan memundurkan tubuhnya. Wajahnya seketika memerah saat dirinya sadar akan dia yang membalas pelukan dari istrinya tersebut. "Kenapa menjauh?, Kemari jika masih kedinginan atau mau memelukku, Masuk sini lagi." ucap Tiyara yang kembali menggoda lelaki itu yang nampak sedikit salah tingkah.


"Siapa juga yang ingin memelukmu." jawab Jasson dengan mengambil kembali buku yang diletakkannya dan membacanya dan hal tersebut adalah data data penting miliknya.


"Jasson." panggil Tiyara dengan meletakkan tangannya disamping tangan Jasson dan menatap lekat lelaki itu. Jasson menatap tangan kecil itu dan setelah itu menatap orangnya dengan tatapan datarnya.


"Apakah kau mencintaiku?." tanya Tiyara saat tidak mendengar sepatah katapun keluar dari mulut suaminya tersebut.


"Apa yang kau bicarakan?." tanya Jasson dengan wajah datarnya dan langsung membuang pandangnya dari Tiyara namun Tiyara langsung meraih dagu suaminya tersebut.


"Kau tidak bisa menjawab pertanyaanku ya sehingga betanya balik?." tanya Tiyara dengan menatap tajam lelakinya tersebut dengan tangannya yang memegang dagu suaminya tersebut.


"Jika aku jawab tidak apa kau akan kecewa?." tanya Jasson dengan wajah datarnya.


Tiyara langsung terdiam saat mendengar pertanyaan tersebut namun dengan segera dia mencoba untuk tenang. "A-aku tidak akan kecewa." jawab Tiyara dengan menelan silivanya.


"Baik aku akan menjawabnya, Aku belum menyukaimu." jawab Jasson sesuai dengan keinginannya.

__ADS_1


"Benarkah?." tanya Tiyara dengan masih memasang tatapan tajamnya.


"Apakah kau kecewa?." tanya Jasson yang nampak memasang wajah sedikit sedih saat mendengar pertanyaan istrinya tersebut.


__ADS_2