
Ckleekkk
Jasson masuk kedalam ruangan tersebut. "Aku sama sekali tidak ingat dengan ajaran sopan santunnya, Apakah dia benar benar pernah mengajarkanku atau tidak?" tanya Tiyara kembali saat tidak mendapatkan jawaban dari Dery.
"Nona, Siapa yang mengatakan anda tidak memiliki sopan santun? Mengatakan apa yang ada didalam hati anda bukanlah tentang kesopanan...."
"Jadi itu apa? Bagaimana bisa Jasson marah kepadaku hanya karna aku berbicara jujur tentang apa yang ada dihatiku?" potong Tiyara dengan wajah bingungnya.
"Jasson brengsek ini berani beraninya dia membuat nona sedih" guman Dery dengan rahang yang mengeras dan tangan yang menggepal.
"Aku tidak tau lagin harus menjawab apa, Jika aku menjawab ini akan pasti nona bertanya lebih lagi yang memperdulikan aku" guman Dery dengan menelan silivanya akibat tidak mau menyinggung hati wanita itu.
"Aku datang" ucap Jasson dengan senyumnya dan berjalan mendekat kearah Tiyara dan juga Dery.
Tiyara dan juga Dery menoleh kearah suara dan terlihat Jasson berjalan mendekat dengan kresek yang berisikan buah ditangannya. "Kalian sedang membicarakan apa? Kenapa nampak serius?" tanya Jasson dengan meletakkan buah buahan disamping Tiyara dengan berdiri disamping Dery.
"Aku membelikan buah untukmu, Kau mau makan buah apa?" tanya Jasson dengan tersenyum lebar menatap wanitanya tersebut.
"Biarpun tidak memiliki perasaan suka ataupun cinta terhadapnya dia tetaplah istriku yang sah dimata hukum ataupun agama" guman Jasson yang masih tersenyum lebar menatap wanita itu.
Tiyara menatap lelakinya tersebut dengan tatapan sendu, Otaknya masih saja memikirkan ucapan lelakinya tadi. "Tetaplah tersenyum meskipun kau sedang sedih, Dengan senyum akan membuatmu percaya diri dan mudah berbicara dengan siapapun" ucapan ibunya selalu terngiang ngiang dibenaknya.
"Kau harus menjadi tegas, Wanita yang kuat tidak akan mudah dipatahkan oleh apapun, Tidak memiliki teman tidak apa apa yang penting kau berkuasa" begitupun dengan ucapan ayahnya yang juga terus teringat ngiang dibenaknya.
Tiyara langsung tersenyum lebar menatap lelakinya tersebut. "Aku hanya ingin menguasai hatinya dan terus bersama dengannya ayah, Ibu" guman Tiyara yang masih tersenyum menatap lelakinya tersebut.
"Ingin buat pir, Apel, Jeruk atau...."
"Pir" jawab Tiyara dengan senyumnya saat mendapatkan tawaran.
__ADS_1
"Baiklah akan aku kupas sebentat" ucap Jasson dengan senyumnya juga dan duduk disamping buah dan mengambil pisau yang juga sudah dibeli olehnya dan mengusap buah pir yang diinginkan wanitanya.
Tiyara tersenyum lebar akan Jasson yang memanjakannya saat ini dan itu membuat Dery ikut tersenyum. "Tuan, Nona saya permisi" pamit Dery mengundurkan diri namun tidak diperdulikan oleh kedua orang itu.
"Aku diacuhkan, Hiksss" ucap Dery dengan wajah sedihnya dan langsung berlalu keluar dari ruangan tersebut.
"Makanlah, Jika kurang katakan" ucap Jasson dengan menyodorkan buah pir yang sudah dikupas itu kepada wanitanya.
Tiyara tersenyum lebar menatapnya dan menerima buah tersebut dan memakannya. "Iyapun aku tidak mencintainya....."
"Bahkan nanti jika kau tidak menyukai pasanganmu kau harus memperlakukannya dengan baik, Penyesalan tidaklah datang diawal. Papa tidak ingin kau menyesal sama seperti papa yang kehilangan mamamu hanya karna tidak menyukainya"
"Dia tetap istriku" guman Jasson kembali dan memejamkan matanya. Marah saat mengingat ucapan ayahnya tersebut namun saat ini dia dalam kondisi itu.
"Kau tidak mau?" tawar Tiyara.
"Tidak, Aku membelikannya untukmu" jawab Jasson dengan senyumnya.
"Kau dalam keadaan seperti ini masih memikirkan liburan? Apa kau tidak mencintai nyawamu hingga bekum sembuh sudah ingin berkeluyuran?" tanya Jasson dengan tatapan tajamnya.
"Tidak, Aku mencintaimu" jawab Tiyara dengan senyumnya.
Jasson sontak langsung terdiam dan menatap lekat wanitanya yang saat ini menatapnya, Wajah yang langsung memerah saat mendengar jawaban dan melihat senyuman wanita itu membuat Jasson dengan cepat mengalihkan pandangnya. "Sudahlah jangan berpikir macam macam kau belum sembuh dan juga belum dibolehkan untuk pulang, Jadi tidak ada liburan liburan" ucap Jasson.
"Tapi semuanya sudah aku siapkan" balas Tiyara.
"Terserah, Bakar atau tidak berikan tiket itu kepada orang" jawab Jasson dengan wajah datarnya dan pandangan entah kemana.
"Hey apa kau pikir tiket untuk naik bis sehingga bisa diberikan begitu saja?" ketus Tiyara dengan melototkan matanya padahal dia tau bagaimana bentuk tiket pesawat akibat tidak pernah naik pesawat karna memiliki jet pribadi.
__ADS_1
"Aku sudah bilang kau belum sembuh jadi tidak ada LIBURAN" Jasson menekankan kata kata liburan kepada wanitanya tersebut agar mengerti.
"Baiklah aku menerima keputusanmu, Tapi setelah aku sembuh kita harus pergi berbulan madu" balas Tiyara dengan senyum yang menggoda suaminya saat mengatakan bulan madu.
Jasson kembali diam. "Bagaimana?" tanya Tiyara dengan merangkul lengan lelakinya tersebut. Jasson menoleh kearah wanita tersebut, Tatapan penuh harapan sangat terlihat jelas dimata itu.
Jasson memgambil buah yang sudah dikupasnya tadi dan langsung menyumbatnya kemulut wanitanya yang tak henti henti berbicara sedari tadi. "Habiskan buahnya, Jangan sisakan sedikitpun itu sangat mubazir" ucap Jasson tanpa menjawab ucapan Tiyara.
"Hmmp, Kau pikir aku ini suka buang buang makanan? Banyak orang yang tidak makan diluar sana dan aku buang buang? Sungguh pikiran yang sangat buruk tentangku, Aku akan memakan seluruhnya namun kau harus menjawab pertanyaanku tadi" jelas Tiyara dengan mulut yang mengunyah pir yang disumbat oleh suaminya.
"Tidak berjanji" jawab Jasson dengan wajah datarnya.
"Baiklah berarti kau setuju" balas Tiyara dengan senyum yang mengembang dan memakan sisa buah yang sudah dikupas tadi.
Beberapa jam berdiaman dengan Tiyara yang sedikit kekenyangan akibat mengunyah sedari tadi dan Jasson yang memang suka diam. "Hey" panggil Tiyara akan Jasson yang hanya diam termenung.
Jasson langsung menoleh kearah wanita itu tanpa menjawab panggilannya. "Apa lagi yang mengusik pikiranmu?" tanya Tiyara dengan wajah biasa saja.
"Tidak ada" jawab Jasson dengan wajah datarnya.
"Sebenarnya aku setiap hari ini bercerita tentang kehidupanku kepadamu, Namun semenjak kita menikah kita selalu bersama jadi tidak jadi" ucap Tiyara dengan wajah kecewanya.
"Tidak usah, Itu hanya membuang buang waktu bercerita tentang keseharianmu" balas Jasson.
"Tapi sebagai istri yang baik aku harus mengatakan apa saja yang aku lakukan setiap harinya" jawab Tiyara.
"Istirahat, Ini sudah larut" ucap Jasson dengan wajah datarnya tanpa menjawab ucapan wanitanya tersebut.
"Kau tau bagaimana hari hariku tanpa kehadiran kalian disisiku? Ayah meninggalkanku karna tembakan waktu itu begitupun dengan papamu dan kau dibawa pergi oleh pengawal papamu karna kau tidak sadarkan diri, Semenjak kalian semua meninggalkanku aku sangat kesepian" air mata tiba tiba menetes diwajah wanita itu membuat Tiyara langsung menundukkan kepalanya dan mengapus air mata tersebut.
__ADS_1
Jasson sadar akan air mata yang menetes itu langsung berjalan mendekat kearah wanitanya tersebut. "Kenapa kau menangis? Apakah ucapanku tadi menyakiti hatimu?" tanya Jasson dengan mengusap air mata yang menetes diwajah itu.