My Ekstrovert Wife

My Ekstrovert Wife
Adik Kecil


__ADS_3

"Emm Jasson ayolah, Sepedanya juga sudah ada, Ayo kita jalan jalan, Kau tidak pernah mengajakku jalan jalan mengelilingi daerah sini" ucap Tiyara dengan memelas dan tangan yang terus bergelayut lengan suaminya tersebut.


"Tidak, Cuaca diluar masih cukup dingin" tegas Jasson dan mendudukkan tubuhnya diatas kursi yang ada didapur tersebut.


"Makanya aku menggunakan baju tebal, Ayolah Jasson" rengek Tiyara dengan mengguncang lengan suaminya tersebut.


"Diluar saljunya masih turun" balas Jasson akan istrinya yang terus ngotot meminta untuk diajak berkeliling.


"Tidak apa apa, Itu akan menambah suasana romantisnya nanti meskipun seharusnya pada musim gugur, Tapi salju juga tidak apa apa yang penting bersama denganmu" balas Tiyara pula dengan senyum yang mengembang.


"Sikpamu ini terlalu kekanak kanakan" ucap Jasson dengan melepaskan perlahan lengannya dari tangan istrinya.


"Biarkan saja setidak hal ini membuatku merasa bahagia, Bisa ya nanti kita jalan jalan?" tanya Tiyara yang kembali memelas kepada suaminya tersebut meminta diajak jalan jalan.


"Habiskan sarapanmu dahulu" ucap Jasson tanpa menjawab pertanyaan istrinya tersebut.


"Siap pak suami" jawab Tiyara dengan hormat dan tubuh tegap dan langsung duduk ditempatnya dan melahap dengan cepat makanannya.


Jasson memperhatikannya dan sangat terlihat semangat yang membara di wanitanya tersebut. Jasson kembali melanjutkan makannya.


Setelah selesai makan.


"**** jadi sedikit sakit perutku karna terlalu kekenyangan" umpat Tiyara dengan kesalnya.


"Bagaimana? Apa masih ingin jalan jalan?" tanya Jasson dengan senyum menantangnya saat mendengar umpatan istrinya tersebut.


"Jelas saja, Ayo" ajak Tiyara yang langsung berdiri semangat.


"Kenakan sepatumu, Tidak boleh menggunakan sendal" ucap Jasson dengan wajah datarnya.


"Oh iya lupa karna terlalu bersemangat, Terima kasih sudah mengingatkannya suamiku" jawab Tiyara dengan memberikan kecupan diwajah suaminya dan berlari naik keatas masuk kekamar dan mengambil syal dan juga topi rajutnya dan mengenakan sepatu.


Setelah selesai bersiap Tiyara kembali turun dan dia sudah menemukan Jasson yang juga nampak sudah siap. Jasson menatap wanitanya tersebut dan terlihat dia belum mengenakan syal dan syal berada ditangannya. "Aku sudah siap, Ayo" ajak Tiyara dengan semangat empat limanya.


Jasson tidak menjawabnya dan mengambil syal dan juga topi yang ada ditangan istrinya. "Biasakan kenakan pada tempatnya, Cuaca masih cukup dingin" ucap Jasson dengan wajah datarnya sambil tangannya yang melingkarkan syal dileher istrinya sehingga membuat pelayan yang menyaksikannya tersenyum sendiri.

__ADS_1


Tiyara terdiam saat diperlakukan seperti itu oleh Jasson dan menatap lekat suaminya tersebut yang sudah beralih mengenakan topinya hingga tatapan dari Tiyara disadari oleh Jasson dan hal tersebut membuat keduanya saling beradu pandang hingga akhirnya Jasson menurunkan topi rajut tersebut hingga mata istrinya dan langsung berlalu dari sana meninggalkan istrinya. "Hey kau ini tidak sopan sekali" teriak Tiyara dan memperbaiki topinya dan terlihat Jasson yang sudah keluar rumah.


"Hey tunggu" teriak Tiyara dan langsung berlari menyusul suaminya tersebut.


Jasson tidak memperdulikannya dan terus saja melangkahkan kakinya hingga akhirnya sampai digerbang namun Tiyara masih jauh dibelakang mencoba mengekuarkan sepeda dari bagasi. Hingga akhirnya sepeda sudah keluar dia langsung menyusul suaminya.


"Hey kenapa kau laju saja?" tanya Tiyara dengan sedikit ngos ngosan dan sepeda yang didorongnya.


"Kau tadi bilang mau jalan jalan keliling sini" jawab Jasson dengan wajah datarnya tanpa menghentikan langkah kakinya.


"Naik sepeda maksudku" balas Tiyara wajah kesalnya. Jasson langsung menoleh kearah wanitanya tersebut dan Tiyara langsung tersenyum lebar menatapnya.


Ekspektasi. Tiyara yang duduk dibelakang dengan tangan yang melingkar dipinggang suaminya, Jasson yang mengayuh sepeda dengan lincah sambil tersenyum berdua menikmati pemandangan sekitar sana yang ditutupi oleh salju.


Realita. "Aku tidak bisa bersepeda" ucap Jasson. Dengan wajah terpaksa Tiyara yang membonceng Jasson.


"Memang realita tidak semanis ekspektasi" ucap Tiyara dan mulai mengayuh sepeda tersebut dengan kaki yang kecil dia mengayuh sekuat tenaga membawa Jasson yang jauh lebih besar darinya itu membuat sepeda sedikit bergoyang.


"Kau ini berat sekali Jasson" teriak Tiyara yang sedikit kesusahan membonceng suaminya tersebut.


"Aku ingin bersepeda karna ingin seperti mereka yang bisa bermesraan dengan pasangannya makanya aku membelikan sepeda ini untuk dipakai" ketus Tiyara yang kembali mengayuh sepeda hingga lancar.


"Kau terlalu banyak menonton drama makanya selalu berkhayal, Semua hayalan tidak akan sepenuhnya tercapai ingat itu" ucap Jasson dengan menatap kedepan yang terlihat sudah lancar jalannya.


"Bagaimana jika aku mengajarkan kau bersepeda agar kau bisa memboncengku?" tanya Tiyara dengan kaki yang terus mengayuh.


"Tidak mau" jawab Jasson dengan wajah datarnya.


"Kenapa?" tanya Tiyara.


"Saat aku kecil karna membonceng adik kecil dia terjatuh dan terluka dan masuk rumah sakit karna ku jadi aku tidak mau membonceng siapapun lagi" jawab Jasson dengan wajah datarnya.


"Sekarang murah sekali ya mulutnya bercerita" guman Tiyara dengan senyumnya.


"Siapa adik kecilmu itu?" tanya Tiyara dengan wajah bingungnya dan sepeda yang goyang.

__ADS_1


"Kau tidak perlu tau" jawab Jasson dengan wajah datarnya.


"Cih sama saja kau membuatku penasaran" ucap Tiyara dengan wajah kesalnya.


"Akukan tidak menyuruhmu bertanya tentang ini" balas Jasson.


"Tapi kau yang berinisiatif sendiri bercerita tadi" balas Tiyara pula yang tidak mau kalah.


"Aku mengatakan apa alasan aku sampai tidak bisa naik sepeda, Tidak ada menyuruhmu bertanya siapa orangnya" jawab Jasson dengan menantang istrinya tersebut.


"Cih, Akukan penasaran makanya aku bertanya siapa wanita itu, Siapa wanita yang sudah dibawa jatuh oleh suamiku ini? Aku sebagai istrimu ingin tau makanya aku bertanya" balas Tiyara dengan melototkan matanya dengan kaki yang terus mengayuh.


"Kau saja tidak mengatakan tujuanmu kerumah lamamu karna belum bisa mengatakannya begitupun dengan aku" balas Jasson pula.


"Sudahlah Jasson, Kau ini sudah pandai berdebat, Biasanya diam dan tidak menjawab" ketus Tiyara yang sedikit kesal akan lelaki tersebut.


"Kenapa? Aku tidak boleh berdebat dengan istriku sendiri?" tanya Jasson dengan senyumnya.


"Jangan banyak bergerak nanti jatuh" teriak Tiyara akan sepeda yang goyang akibat Jasson yang bergerak.


"Maaf" ucap Jasson yang kembali duduk diam menikmati pemandangan yang semakin dipenuhi oleh salju.


"Kau kedinginan?" tanya Jasson kepada wanitanya tersebut.


"Tidak ada orang yang kepanasan dicuaca seperti ini" jawab Tiyara dengan membuang nafas dan kaki yang terus mengayuh.


"Berhenti" pinta Jasson.


"Untuk apa? Mau turun disini?" tanya Tiyara.


"Berhenti saja" jawab Jasson. Tiyara tidak menjawabnya dan menghentikan kakinya mengayuh sepeda hingga berhenti.


"Ada apa meminta berhenti?" tanya Tiyara dengan wajah bingung dan sedikit kesalnya.


Jasson tidak menjawabnya dan mengambil kedua tangan wanitanya dengan sepeda yang disandarkan dipahanya. Jasson mengusap lembut tangan kecil itu sambil sesekali menghembusnya, Perlakuan baru dan pertama kalinya kembali didapatkan oleh Tiyara hingga kembali membuat wanita itu terdiam dan menatap lekat suaminya.

__ADS_1


__ADS_2