My Ekstrovert Wife

My Ekstrovert Wife
Buka mulutmu


__ADS_3

“Hatimu pasti begitu senang ya sekarang, Senyummu yang begitu langka kau tebar kepada siapapun hari ini.” Goda Tiyara.


“Em, Jelas saja hatiku begitu senang.” Balas Jasson dengan senyum yang semakin bahagia.


“Apa penyebabmu begitu bahagia saat ini?. Apa karna aku bangun setelah sekian lama?.” Godanya kembali dengan senyum nakalnya. Jasson menatap kepadanya dengan bibir yang masih saja tersenyum senang.


“Em, Kau sudah mengetahui jawabannya namun kau masih juga bertanya.” Jawab Jasson dengan senyumnya tanpa rasa canggung sedikitpun.


Tiyara terdiam dan menatap lekat wajah suaminya tersebut sehingga membuat Jasson menatap balik dirinya. “Buka mulutmu.” Ucap Jasson dengan menyodorkan sendok yang berisikan makanan lagi kepada Tiyara.


Tiyara menurutinya dan membuka mulutnya dan mengunyah dengan tatapan kosong menatap kepada Jasson. “Bukankah perkataannya barusan hanya candaan? Dia selalu menjawab perkataanku begini.” Guman Tiyara dengan wajah bingungnya dan tidak terima akan Jasson yang mengiyakan godaannya barusan.


“Kenapa termenung? Apa yang sedang kau pikirkan?.” Tanya Jasson dengan merapikan rambut yang tidak berantakan itu. Tiyara langsung menggelengkan kepalanya dan menerima suapan lagi dari Jasson sehingga makanan habis.


Setelah makanan habis Jasson membersihkan meja makan tersebut dan meletakkan alat bekas makan disamping ranjang, Jasson berdiri mematung disamping istri nya sambil matanya terus menatap wanita itu sehingga Tiyara sadar dan menoleh kepadanya. “Ada apa?.” Tanya Tiyara dengan wajah bingung dan seperti tidak nyaman ditatap oleh Jasson.


“Tidak apa apa.” Jawab Jasson dengan senyumnya sambil tangan mengusap kepala lelaki itu.


“Yatuhan kenapa sikapnya berubah sekali?.” Guman Tiyara dengan kebingungan akan sikap suaminya tersebut.


“Sekali lagi aku berterima kasih kepadamu karna sudah melewati masa sulit dan kembali bernafas bersamaku.” Guman Jasson dengan senyumnya.


“Jasson kau benar benar aneh, Lepaskan.” Ucap Tiyara yang benar benar tidak nyaman akan perhatian yang diberikan oleh suaminya tersebut.


“Kenapa?, Bukankah kau sering memintaku mengusap kepalamu dahulu?.” Tanya Jasson dengan wajah bingungnya.


“Tidak apa apa, Hanya saja sikap mu begitu aneh, Entah itu memang sejak aku hampir mati atau kapan, Tapi aku baru hari ini melihat sikapmu itu, Aku sedikit tidak nyaman.” Jawab Tiyara jujur dengan menundukkan kepalanya.


“Haiss bodoh, Bagaimana bisa kau mengatakan isi hatimu kepada Jasson, Bagaimana jika hatinya terluka?.” Umpat Tiyara kesal dengan memukul kepalanya.


Jasson yang awalnya sedih mendengar perkataan istrinya kembali melebarkan senyumannya dan menundukkan sedikit tubuhnya. “Tidak boleh memukul kepalamu…..”

__ADS_1


“Ah.” Kaki Tiyara yang berusaha bergerak membuatnya kesakitan sehingga Jasson menoleh kepada kaki istrinya tersebut.


“Bagaimana bisa kau bergerak dengan kakimu yang sakit ini.” Ucap Jasson dengan nada yang cukup tinggi sehingga membuat Tiyara terdiam. Jasson belum mengetahui akan hal tersebut dan memeriksa kaki istrinya dan untungnya kaki itu tidak apa apa.


“Apa aku lumpuh?.” Tanya Tiyara saat sedari tadi menggerakkan kakinya namun kesakitan dan tidak bergerak sama sekali.


Jasson langsung terdiam. “Jasson.” Panggil Tiyara saat tidak mendapatkan jawaban dari Jasson.


Jasson menurunkan kaki istrinya dengan sangat perlahan dan setelah itu menoleh kepadanya. Kaki lelaki itu melangkah mendekat dengan kepala Tiyara yang semakin terangkat untuk menatap wajah suaminya tersebut. Jasson langsung memeluk wanita itu dan air matanya kembali menetes setelah sekian lama.


“Maafkan aku, Karnaku kau mengalami lumpuh.” Ucap Jasson dengan memeluk erat lelaki itu. Tiyara terdiam sejenak saat sadar jika suaminya meneteskan air mata dipundaknya.


“Em, Setelah sekian lama kaki ini terluka akhirnya dia bisa istirahat juga.” Guman Tiyara dengan menarik nafas panjang menatap kakinya yang masih berbalut dengan perban itu. Tiyara mengusap punggung suaminya tersebut.


“Hey kau ini lelaki, Kakiku yang lumpuh bukan kakimu kenapa malah kau yang menangis.” Ucap Tiyara yang mencoba membuat suaminya tidak menangis lagi.


“Aku tidak menangis.” Jawab Jasson dengan mengusap air mata yang sempat menetes.


“Kau sudah berapa lama tidak mandi.” Tanya Tiyara saat Jasson yang hanya menatapnya.


Jasson mencium bau tubuhnya. “Pasti sudah berhari hari, Sana mandi terlebih dahulu, Ganti jasmu itu, Bau sekali.” Ucap Tiyara dengan menutup hidungnya.


“Tapi jika aku pergi mandi kau siapa yang akan menjaga.” Ucap Jasson.


“Aku bisa menjaga diriku sendiri, Sana mandi.” Jawab Tiyara dengan mendorong tubuh lelaki itu sehingga Jasson tidak ada pilihan lain dan meninggalkan istrinya tersebut.


“Hah, Hah.” Tiyara mengambil oksigen yang tidak mau ia kenakan tadi dan memegang dadanya yang terasa begitu sakit.


“Ibu sakit.” Ucapnya dengan wajah yang memerah sebab kesakitan.


Cklekkj

__ADS_1


“Nona.” Dery langsung mendekat dan mengusap punggungnya.


“Dok……” tangan Tiyara menghentikan Dery yang hendak memanggil dokter sehingga Dery menatap kepadanya dan Tiyara langsung menggelengkan kepalanya.


“Bantu aku mengenakannya.” Ucap Tiyara dengan nafas yang masih naik turun dengan cepat. Dery mengiyakannya dan mengenakan oksigen itu dengan sangat hati hati sehingga Tiyara merasa tenang dan menyandarkan tuhuhnya diranjang.


“Dimana tuan Jasson?, Bagaimana bisa dia membiarkan anda sendiri tanpa bantuan oksigen?.” Tanya Dery dengan wajah kesalnya.


“Dia sedang mandi, Kau diamlah tidak usah membahas ini dihadapannya, Dia tidak boleh hawatir.” Jawab Tiyara yang sudah mulai tenang.


Dery hanya diam dan menatap lekat wanita itu. “Kenapa Jasson begitu kurus sekarang? Kau menindasnya?.” Tanya Tiyara dengan menatap tajam lelaki itu.


“Tidak nona, Aku tidak pernah menindasnya.” Jawab Dery.


“Jadi kenapa dia seperti itu? Apa kau terlalu memaksanya untuk merawatku dan tidak memberikannya waktu istirahat sehingga makannya tidak teratur?.” Ketus Tiyara dengan kesalnya.


“Bukan nona, Bukan.” Jawab Dery yang kekeh akan jawabannya.


“Dery pasti juga sangat kelelahan, Tubuhnya juga semakin kurus.” Guman Tiyara yang sudah sadar sedari tadi.


“Sudahlah, Kau pasti juga kelelahan karna menjagaku dan mengurus perusahaan, Nanti kau ajak semuanya pulang dan jangan ada yang menginap disini termasuk Jasson.” Jawab Tiyara dengan wajah datarnya.


“Tapi tuan dia yang memiliki tugas untuk menjaga dan merawat anda nona.” Jawab Dery.


“Haisss bagaimana kau bisa mengizinkannya.” Ketus Tiyara dengan melemparkan bantal kepada Dery. Dery menangkapnya dan menundukkan kepalanya.


“Kau Dery, Pantas saja dia semakin kurus, Apa tidak ada dokter lain untuk merawatku sehingga harus dia dan membuatnya seperti saat ini.” Ketus Tiyara kembali.


“Maaf nona, Aku sudah melarang dan melawan tapi dokter yang mengoperasikan anda tidak memperdulikan ucapanku begitupun dengan tuan Jasson yang juga kekeh untuk merawat anda.” Jawab Dery.


Tiyara menarik nafas panjangnya dan memejamkan matanya sekejap setelah itu kembali menatap kepada Dery. “Sudahlah, Pergi kau pulang saja, Kau harus banyak istirahat dan makan makanan yang bergizi jangan sampai kau sakit, Jika kau sakit kasiahan bi Feiy mengurusmu.” Ucap Tiyara dan membuang pandangnya dari Dery.

__ADS_1


Dery menatapnya dan hanya ditatap datar oleh Tiyara. “Saya permisi nona, Sekali lagi maafkan saya.” Ucap Dery dengan menundukkan sedikit kepalanya.


__ADS_2