
“Aku tidak akan menyakitimu, Kau adalah istriku, Bagaimana bisa aku menyakitimu.” Ucap Jasson dengan senyum tulusnya.
Tiyara sama sekali tidak menanggapi ucapannya dan hanya menatap datar kepadanya.
“Makanlah.” Ucap Jasson dengan menyuapi wanita itu namun Tiyara langsung membuang pandangnya menghindari suapan tersebut.
“Apa kau tidak suka masakanku?.” Tanya Jasson dengan wajah sedikit kecewa.
“Aku tidak lapar, Lepaskan aku.” Jawab Tiyara dengan wajah datar dan kesalnya.
“Kenapa kau memintaku untuk melepaskanmu? Apakah kau tidak nyaman hodup bersamaku?.” Tanya Jasson kembali sehingga membuat Tiyara langsung menoleh kepadanya dengan tatapan tajam.
__ADS_1
“Sudahlah Jasson, Tidak usah memasang wajah seperti itu, Aku bukan Tiyara, Aku bukan istrimu, Aku ingin hidupku kembali seperti semula dengan tidak bertemu denganmu lagi.” Balas Tiyara dengan kesalnya dan kembali membuang pandang dengan menggeserkan tubuh menjauh dari lelaki tersebut.
“Aku minta maaf tentang kejadian lampau, Aku hanya ingin kau tetap bersamaku dan selamanya bersama denganku.” Ucap Jasson dengan mendekat namun Tiyara sama sekali tidak merespon ucapan lelaki itu.
“Makan ya, Kau harus meminum obat agar luka di dadamu bisa sembuh, Setelah itu kita akan berlatih untuk berjalan agar kau bisa kembali berjalan seperti biasa.” Ucap Jasson dengan senyumnya sehingga membuat Tiyara menoleh kepadanya dengan tatapan tajam namun Jasson hanya tersenyum tulus menatapnya.
Tiyara mengambil piring dan sendok dari tangan Jasson dan memakan sendiri makanan tersebut. Jasson tidak masalah akan perlakuan tersebut dan malah tersenyum senang saat melihat istrinya yang makan dengan cukup lahap itu.
“Paman, Paman, Ayah Jasson dimana?.” Tanya Qiao yang baru sampai namun tidak menemukan Jasson didalam makanya bertanya dengan Derwin.
“Kan sudah mami bilang, Ayahmu tidak ada dirumah, Kau malah tidak percaya dan berkekeh untuk kemari.” Balas Quenza dengan wajah datarnya sedangkan suaminya hanya menggelengkan kepala akan anaknya yang selalu mencari Jasson.
__ADS_1
Felix menundukkan tubuhnya dan langsung menggendong putranya tersebut. “Sayang, Ayah Jasson sedang tidak dirumah, Bagaimana kita kembali saja ke apartemen kita? Nanti sampai disana kita telpon ayah Jasson dan menanyakan kapan dia kembali agar kau bisa bermain lagi bersamanya.” Bujuk Felix dengan lembut.
“Bagaimana sekarang saja kita telpon ayah pi?.” Tanya Qiao. Felix menatap kepada Quenza dan Quenza langsung menghubungi Jasson sesuai permintaan putranya tersebut.
“Ini.” Ucap Quenza dengan menyodorkan ponsel kepada Felix. Felix menerimanya dan berjalan keluar dengan sedikit menunduk kepada Derwin dan dibalas sama pula oleh Derwin.
“Apa kau tidak ingin mengembalikan kursi rodaku?.” Tanya Tiyara dengan menelan makanan yang baru saja selesai ia kunyah.
“Makan dahulu, Setelah itu akan meminta Derwin mengantarkannya.” Jawab Jasson dengan mengusap kepala wanita itu.
“Sudah jam lima pagi.” Guman Jasson saat melihat jam dan dia maupun Tiyara belum istirahat. Jasson menoleh kepada wanitanya dan terlihat wanitanya tersebut sudah terlelap disampingnya dengan kepala yang berlawanan arah dengan tubuhnya.
__ADS_1
Jasson tersenyum lebar dan mencium pucuk kepala wanita itu setelah itu mengangkatnya menuju keranjang dan menidurkannya disana. “Aku sangat bahagia hari ini, Aku harap besok dan seterusnya akan tetap seperti ini, Kau selalu berada disampingku dan menemaniku sampai kapanpun.” Bisiknya dengan nada rendah.
“Aku sangat sangat mengharapkan hal itu.” Sambungnya kembali dengan mata yang perlahan terpejam.