
"Merepotkan kau ini sepeda, Aku ini sudah kurus masih saja menyiksaku sepeda bodoh ini" ketus Tiyara dan menghempaskan sepeda tersebut ke sembarang arah saat dirinya sudah sampai dikediaman lama Jasson.
"Sudah lama tidak kemari" ucap Tiyara dengan senyumnya menatap rumah yang sudah tua itu.
"Quenza jangan bersembunyi terlalu jauh" Jasson kecil terus mengejar Quenza kecil.
"Em? Siapa kau?" Jasson kecil melihat Tiyara kecil yang datang bersama ibunya.
"Ibu" Tiyara kecil langsung bersembunyi dibalik ibunya.
"Kenapa takut? Ini adalah kakakmu, Sapa dia sayang" ibu Tiyara mencoba membuat Tiyara kecil tidak berlindung lagi dibelakangnya namun Tiyara kecil terus saja berlindung.
"Kak Jasson cepat cari aku" teriak Quenza kecil.
"Iya" Jasson kecil langsung berlalu dari sana untuk mencari Quenza.
"Jika waktu itu aku menjawab pertanyaanmu kau pasti tidak akan melupakanku kan?" tanya Tiyara dengan senyumnya.
"Ah aku kemari bukan untuk mengingat itu, Aku kemari untuk mencari tau kemana bi Rere dibawa oleh penjahat itu" ucap Tiyara dan langsung berjalan masuk kedalam rumah tersebut.
"**** dikunci" umpat Tiyara dan berlalu dari sana mencari jalan masuk kedalam rumah tersebut.
"Dirumah ini pasti banyak rahasianya, Jasson tidak menempatinya lagi" ucap Tiyara yang tidak menemukan celah sedikitpun untuk masuk kedalam rumah tersebut.
Brakkk
"Cari sertifikat asli perusahaan W.D entertaiment" teriak seorang lelaki yang terdengar jelas ditelinga Tiyara.
"Ada orang" ucap Tiyara dan langsung bersembunyi dengan sepedanya yang masih ada dijalanan.
"Ah **** jika ada orang susah untukku mencari cara masuk kedalam dan juga mencari tau kemana bibi diculik" umpat Tiyara dengan kesalnya.
__ADS_1
Tiyara mengambil ponselnya dan melihat jam sudah menunjuk pukul satu malam. "Aku harus cepat kembali kerumah sebelum diketahui oleh orang orang ini" ucap Tiyara dan menyelinap melewati mereka yang mencoba membobol rumah tersebut dan mengambil sepedanya.
Saat sepeda sudah didapatkan olehnya dia langsung berlari dengan mendorong sepeda namun tidak membuat mereka semua sadar dan naik keatas sepeda tersebut dan langsung mengayuhnya untuk kembali ke kediaman.
Satu jam berlalu akhirnya Tiyara sampai. Kunci gerbang yang ada ditangannya membuat wanita itu mudah untuk masuk dan meletakkan sepeda ketempatnya dan dengan sangat perlahan dia masuk kedalam rumah dengan sepatunya yang diletakkan sembarang didepan rumah dan mengenakan sendal yang ditinggalkannya masuk kedalam. "Nona" sapa pelayan yang terbangun
Tiyara membulatkan mayanya namun dengan segera dia memasang wajah mengantuknya layaknya baru bangun tidur. "Siapa?" tanya Tiyara dengan wajah malas dan mengantuk nya.
"Anda sudah bangun sepagi ini nona?" tanya pelayan.
"Aku terbangun tadi. Ini ingin kekamar Jasson" jawab Tiyara dan memutar balikkan tujuannya dan membuka pintu kamar Jasson.
Pelayan tidak menjawabnya sedangkan Tiyara dia tidak ingin tidur sendiri malam ini makanya tidak kekuar lagi dari kamar itu. "Jasson" panggil Tiyara dengan mengguncang bahu suaminya yang tengah tertidur itu.
Jasson menggeliat akibat ada yang mengganggunya. "Ada apa?" tanya lelaki itu dengan suara seraknya dan menyalakan lampu tidur disamping ranjang.
"Aku tidak bisa tidur, Bolehkah aku tidur bersamamu?" tanya Tiyara dengan memelaskan wajahnya agar Jasson mengizinkannya.
"Tidak bisa tidur, Aku tidak lapar" jawab Tiyara yang kembali memelas.
"Aku temani kau keatas, Ayo" ajak Jasson.
"Tidak, Aku ingin tidur bersamamu" jawab Tiyara yang langsung memeluk suaminya tersebut.
"Baiklah, Baiklah" balas Jasson dengan kembali duduk dengan Tiyara berada dipelukannya dan berbaring perlahan dengan Tiyara yang sama sekali tidak mau melepaskannya.
"Tidurlah" ucap Jasson dengan mengusap kepala wanita itu. Jasson yang masih mengantuk dengan mudahnya tertidur sedangkan Tiyara dia tersenyum saat mendapatkan perlakuan tersebut.
"Tanpa berdebat meminta tidur denganmu seperti ini aku sangat menyukainya, Aku juga sangat senang dengan sikap dan nada lembutmu malam ini suamiku" bisik Tiyara dan mencium leher suaminya dan setelah itu menenggelamkan wajahnya dileher lelaki tersebut hingga tertidur nyenyak.
Jasson yang merasakan nafas yang berbeda yang menandakan istrinya sudah tertidur membuka matanya perlahan. "Dari mana hem kau malam malam seperti ini?" guman Jasson dengan menatap lekat wajah yang sudah tertidur itu.
__ADS_1
"Sudah berani berbohong hem? Kau bilang ingin tidur tapi jam sebelas kau keluar dan kabur dari rumah, Apa yang sedang kau lakukan diluar malam malam seperti ini?" tanya Jasson dengan wajah datar bingungnya dengan menatap tajam wanitanya tersebut.
Bagaimana tidak dia tidak mengetahui istrinya yang kabur karna saat Tiyara keluar tadi dia masih terbangun dan mendengar suara orang mengobrak abrik digarasi membuatnya penasaran dan melihat siapa orang itu dan ternyata itu adalah wanitanya yang tengah mengambil sepeda. "Aku tunggu penjelasanmu besok" ucap Jasson kembali dan memeluk erat tubuh tersebut dan kembali memejamkan matanya mencoba untuk tidur.
Keesokan paginya.
Jasson terbangun terlebih dahulu. Bibirnya langsung membentuk sebuah senyuman saat melihat wanitanya yang masih tertidur nyenyak didalam dekapannya. Perlahan bibir itu mendekat ke dahi wanitanya dan menciumnya hingga tiga puluh detik dia melepaskannya dan kembali memperhatikan wanitanya tersebut.
Jasson langsung menoleh kearah jam dinding dan terlihat jam tersebut sudah menunjuk pukul enam pagi. "Bagaimana caranya melepaskan dia?" tanya Jasson yang berusaha lepas dari wanitanya yang tengah berbaring diatas lengannya.
Hingga usaha yang begitu keras untuknya mencoba lepas akhirnya terlepas juga. Jasson langsung duduk dari baringnya tersebut dan kembali menatap wanitanya. "Masih terlalu pagi, Tidurlah dengan nyenyak, Jika sudah tidak berselera tidur nanti bangun dan cari aku untuk menjelaskan kemana kau tadi malam" bisik Jasson dengan mengusap kepala wanitanya tersebut.
Sebelum berlalu dari sana dia memberikan satu kecupan terlebih dahulu didahi wanitanya dan setelah itu baru berlalu untuk olahraga pagi.
"Salju semakin hari semakin sedikit turun" ucap Jasson dengan membuka pintu rumah dan terlihat ada sedikit salju dihalaman rumahnya.
"Olahraga diatas saja diruangan" ucap Jasson dan berlalu menaiki anak tangga.
"Em, Bi" panggil Jasson akan pelayan yang berada dibelakangnya yang tengah bekerja.
"Iya tuan" jawab pelayan.
"Jika Tiyara mencariku katakan aku berada diruang gym" ucap Jasson dengan wajah datarnya.
"Baik tuan, Akan saya katakan jika beliau mencari anda" jawab pelayan dengan hormatnya. Jasson tidak mengeluarkan suaranya lagi dan kembali melanjutkan langkah kakinya naik keatas dan masuk kedalam ruangan gym.
"Sudah lama tidak olahraga" ucap Jasson dan melepaskan baju yang dikenakannya dan menaikkan sedikit celananya dibawah lutut dan memulai olahraganya.
Tiyara membuka matanya perlahan dan menatap kedepan mencari lelakinya namun dia tidak menemukannya. "Jasson" teriak Tiyara yang baru saja bangun itu namun tidak didengar oleh siapapun karna seluruh kamar dirumah itu kedap suara.
"Jasson kau dimana?" teriak Tiyara kembali dengan wajah yang hampir menangis saat ditinggal suaminya. Tiyara langsung duduk dan menatap kesekitar kamar tersebut namun tidak menemukan suaminya.
__ADS_1
"Jasson, Kau dimana?" teriak Tiyara kembali.