My Ekstrovert Wife

My Ekstrovert Wife
Bidadariku


__ADS_3

"Tuan Jasson sudah berjalan menuju kemari kalau begitu saya pamit" ucap Dery mengundurkan diri.


"Ingatlah kau tidak boleh berbicara sembarangan kepadanya, Kau harus menghormatinya sama seperti kau menghormati paman karna dia adalah putranya" ucap Tiyara dengan wajah datarnya.


Ckleeekkk


Pintu ruangan itu terbuka dan masuklah Jasson dengan wajah dan tatapan tajamnya kedalam ruangan tersebut. "Baik nona saya mengerit" jawab Dery akan ucapan Tiyara.


Tiyara tidak memperdulikannya dan menatap kearah suaminya tersebut dengan senyum yang mengembang. "Sudah selesai urusanmu?" tanya Tiyara dengan senyum senangnya.


Jasson tidak menjawabnya namun kakinya melangkah mendekat kearah ranjang itu. Dery yang melihat Jasson sudah berada disamping ranjang langsung keluar dari ruangan tersebut. "Apa yang kau bicarakan kepadanya?" tanya Jasson dengan wajah datarnya.


"Siapa?" tanya Tiyara dengan wajah bingungnya.


"Asistenmu, Apa yang kau bicarakan dengannya?" tanya Jasson kembali.


"Oh, Aku mengatakan jika aku selamanya akan tinggal dirumahmu" jawab Tiyara dengan senyum yang mengembang tulus dan senang.


"Bagaimana bisa kau berbicara seperti itu kepadanya?" tanya Jasson dengan melototkan matanya akibat sedikit kaget.


"Kenapa? Memangnya salah? Aku adalah istrimu dan kau adalah suamiku dan istri yang baik selalu berada disamping suaminya" jawab Tiyara dengan kembali tersenyum gembira meskipun dia tau Jasson nampak tidak senang.


"Huh" Jasson membuang nafas kasar saat mendengar jawaban yang benar itu. "Sudahlah kau istirahatlah, Kau masih sakit" ucap Jasson dengan wajah datarnya dan melangkahkan kakinya ke dekat sofa dan duduk diatasnya.


"Aku baru saja selesai makan dan kau menyuruhku istirahat, Apakah itu baik untuk kesehatanku?" tanya Tiyara.


"Duduklah sebentar setelah itu kau harus istirahat" balas Jasson tanpa menatap wanita itu dan menatap keluar jendela.


Tiyara tidak menjawabnya dan hanya terus menatap lelakinya tersebut yang sama sekali tidak menatapnya. "Pengawasan yang cukup ketat terhadapnya seperti orang yang memiliki banyak musuh, Dalam beberapa buku tentang mafia ataupun gangster yang aku baca seorang ketua dari geng itu pasti akan diawasi oleh banyaknya orang, Ya sama seperti dia namun sudah banyak buku yang aku baca mafia dan gangster aku tidak pernah membaca tentang mafia wanita" guman Jasson dengan wajah bingungnya dan mata yang menatap bayangan Tiyara yang menatap kearahnya.


"Apa yang sedang kau pikirkan hingga diam sedari tadi?" tanya Tiyara yang masih duduk diatas ranjang.

__ADS_1


"Tidak ada" jawab Jasson dengan wajah datarnya dan menyandarkan tubuhnya disandaran kursi tersebut.


"Tapi mustahil juga untuk dia yang menggemaskan seperti itu adalah mafia ataupun gangster" guman Jasson kembali dengan melihat wajah dengan tatapan kosong yang ada dipantulan kaca bening itu.


"Astaga apa yang aku pikirkan?" ucap Jasson dengan memukul perlahan kepalanya.


"Ingatlah kau bertahan hanya untuk membalaskan dendam kepada orang yang sudah membunuh papa dan wanitamu, Ingatlah itu Jasson" gumannya dengan memukul perlahan kepalanya tersebut.


"Namun saat aku sudah sadar dari pingsan akibat terkena asap bom aku langsung ketempat itu namun tidak menemukan apapun, Bersama dengan polisi kami masih juga tidak menemukan apapun, Namun tembakan yang dilakukan oleh paman tepat dihadapan mataku, Dia yang sudah membunuh papa namun....."


"Dia sedang memikirkan apa?" guman Tiyara dengan wajah bingungnya.


"Namun saat itu dia juga tewas ditempat dengan peluruh yang berada dikepalanya dan juga terkena bom sama seperti papa, Namun wanita itu......"


"Aku mencintainya, Tatapan mata kesedihan yang ditunjukkannya saat melindungiku waktu itu sudah tidak aku temukan lagi, Setelah semuanya terbalaskan aku akan menyusulmu bidadariku" guman Jasson dengan menundukkan kepalanya dengan mata yang terpejam tangannya menggepal dan terletak didadanya.


"Aku akan berjanji akan membelaskan dendam kalian semua" guman Jasson yang kembali mengangkat kepalanya menatap kedepan dengan bayangan ayahnya dan juga wanitanya dia tersenyum mengingat itu.


"Tatapannya menjadi aneh" guman Tiyara yang langsung membuang nafas panjang dan turun dari ranjang, Dia berjalan mendekat kearah Jasson dan berdiri dihadapannya dengan tangan yang berada dibalik tubuhnya.


"Hey, Kau bilang kau tidak memikirkan apapun, Tapi kenapa kau diam sedari tadi dan kepalamu naik turun seperti roler koster?" teriak Tiyara dengan wajah kesalnya.


"Cih, Berisik sekali, Kau kenapa turun dari ranjang?" tanya Jasson dengan menatap tajam wanita itu.


"Dilihat dari raut wajahmu suasana hatimu tidak begitu bagus makanya aku kemari" jawab Tiyara dengan senyumnya yang mengembang menatap lelaki itu.


"Sok tau, Kembali keranjangmu" ucap Jasson dengan wajah datarnya dan membuang pandangnya dari Tiyara.


"Apa ada sesuatu yang menganggu pikiranmu?" tanya Tiyara tanpa menjawab ucapan Jasson ataupun mengikuti ucapannya.


"Tidak" jawab Jasson dengan wajah datarnya.

__ADS_1


"Mustahil tidak, Kau nampak gelisah" ucap Tiyara dengan menarik kursi kecil dan duduk dihadapan suaminya tersebut.


"Coba ceritakan apa yang menganggu pikiranmu" ucap Tiyara dengan menggenggam tangan lelaki itu sambil tersenyum lebar menatapnya.


Jasson terdiam dan menatap lekat wajah wanita yang saat ini berada dihadapannya, Tersenyum lebar dengan menggenggam erat tangannya. Tatapan mata yang tulus bisa sangat dilihat olehnya dari sorot mata wanitanya. "Kau bukan....."


Ckleekk


Pintu terbuka membuat Jasson menghentikan ucapannya. "****" umpat Tiyara dengan wajah kesalnya dan menoleh kearah pintu sedangkan Jasson dia menatap lekat wajah wanita itu.


"Dery kau ini...."


"Maaf, Apakah saya menganggu kalian?" tanya dokter Syeri saat mendengar teriakan dari Tiyara namun terhenti.


"Jelas saja meng......"


"Em" Jasson membekap mulut wanita itu yang hendak berbicara membuat wanita itu memberontak dan dibalas pelototan mata oleh Jasson sehingga membuat Tiyara tidak memberontak lagi daan menatap tajam kearah dokter Syeri.


"Sama sekali tidak, Apa ada perlu?" tanya Jasson dengan wajah datarnya.


Tiyara yang sedikit kesusahan bernafas mengigit tangan lelakinya tersebut. "Ah" Jasson sontak langsung melepaskan tangannya dari mulut wanita itu.


"Kenapa malah menggigitku?" tanya Jasson dengan tatapan kesalnya.


"Tidak bisa bernafas" ketus Tiyara dengan wajah kesalnya dan berdiri dari duduknya. Dia berjalan mendekat kearah dokter Syeri yang saat ini berdiri didekat ranjang.


Jasson tidak memperdulikannya namun dia memperhatikan saja Tiyara yang berjalan mendekat kearah dokter Syeri. "Dokter cantik dan baik, Sebelum anda menjadi dokter pasti sudah diajarkan bukan sebelum masuk keruangan harus diketuk dulu pintunya, Apakah guru atau orang tua anda tidak mengajarkan tentang hal itu?" tanya Tiyara dengan senyumnya.


Mata Jasson membulat saat mendengar ucapan yang tidak sopan dari mulut wanita itu dan langsung berdiri mendekat kearah Tiyara dan langsung menarik tangannya menjauh dari dokter Syeri. "Maaf dok, Ucapannya sedikit tidak sopan kepada anda" ucap Jasson saat melihat dokter Syeri yang tidak merespon ucapan Tiyara.


"Untuk apa kau meminta maaf? Dia memang terlalu lancang masuk keruangan ini tanpa mengetuk pintu" teriak Tiyara dengan wajah kesalnya.

__ADS_1


"Diam kau" tegas Jasson dengan wajah datarnya.


__ADS_2