
Semua keluarga sudah berkumpul di meja makan.Zain menarik kursi dan duduk disamping Dinda.Sementara pak Ali duduk disamping ibu Ali.Opa Leo duduk ditengah-tangah.
"Tumben sarapannya nasi?"Tanya Zain dengan nada datarnya sembari menyendok nasi goreng dipiringnya.
"Istri mu yang memasak.Katanya biar enggak makan roti terus."Jawab Opa dan Zainpun melirik kan matanya ke Dinda.
"Oh.. Ya haruslah random.Biar enggak monoton yang berujung bosan." Jawab Zain yang tak sadar sedang menambah nasi dan menyendokkan nya dipiring.
Dinda,Opa Leo bersama mertua Zain terlihat bengong menatap Zain yang sudah menghabiskan nasi goreng 2 piring.
"Zain"Panggil Opa lirih yang melihat Zain makan nasi goreng buatan Dinda.
"Rakus sekali kamu."Timpal Opa Leo.
"Lapar Opa!"Jawab Zain yang menghabiskan sisa satu sendok nasinya.
"Berapa ronde semalam?"Tanya Opa Leo yang mengejutkan Dinda dan membuat Zain terbatuk.
"Uhuk.. Uhuk... Uhuk.."
Dengan cepat Dinda mengambil air digelasnya dan dia memberikan ke Zain.
Glek... Glek...
Zain minum dengan tandas.
"Ah.. Opa opa coba kalau ngomong difilter dulu."Kata Zain kesal dan pergi ke arah pintu keluar.
Dinda yang terdiam melihat kode mata dari ibu Ali agar segera untuk menyusul suaminya itu.
Dindapun berjalan menuju ke teras depan.Mengekori suaminya yang berjalan dengan langkah cepat.
"T-tuan.. Tuan... "Panggil Dinda dengan gopoh-gopoh sembari menundukkan badannya dan memegangi lutut.
"Kenapa?"Zain memutar badannya sembari kedua tangannya yang beracak pinggang.
"Jas tuan tertinggal.."
Tanpa basa-basi Zain langsung menarik jas hitam itu dengan kasar dari tangan Dinda.
"Astagfirullah hal adzim."Gumam Dinda.
Saat Zain mau membalikkan badannya,tiba-tiba Dinda meraih tangan suaminya dan mencium punggung tangannya.
Deg,
Zain terdiam melihat Dinda mencium punggung tangannya.Entah kenapa jantungnya begitu dag Dig dug sherr☺️☺️ dengan yang Dinda lakukan.
"Hey... What are you doing?"Tanya Zain penasaran kepada Dinda yang sudah mencium punggung tangannya.
"Dinda hanya menjalankan tugas Dinda sebagai istri tuan!"Jawab Dinda menunduk.
"What...??"
__ADS_1
"Selepas Tuan mengakui atau tidak mengakui pernikahan ini,Tuan sudah berjanji kepada Yang Maha Esa saat mengucapkan akad kemarin,bahwa Tuan sudah menikahi saya.Dinda selalu mendoakan Tuan."Jawab Dinda.
"Anehhh.."Jawab Zain dan memutar badan membelakangi Dinda lalu bergegas masuk mobil.
Didalam perjalanannya bersama asisten Ferdi yang saat ini ditugaskan untuk mendampingi Zain oleh Opa Leo,Zain tertegun dengan apa yang diucapkan oleh Dinda.
Dia menyenderkan kepala di jendela mobil.Asisten Ferdi yang melihat dari dalam kaca spion mobil memberanikan untuk mengajak bicara.
"Tuan Zain?"Panggilnya sembari melihat Zain dari pantulan cermin spionnya.
"Hmmmm.."Zain hanya bisa mendehem.
"Ada titipan bekel dari nona Dinda untuk makan siang tuan."
"Buat kamu aja."
"Tapi Tuan?"
"Berikan kepada yang lain kalau kamu enggak mau!"Titah Zain dengan nada tinggi.
Mobil yang dikendarai oleh asisten Ferdi sudah berhenti di lobby.Zain kemudian turun dari mobil dan berjalan masuk menuju ke ruangannya.
Semua karyawan menegur dan menyapanya sembari mengulas senyumnya.Namun berbanding terbalik dengan apa yang dilakukan oleh Zain.
Jangankan tersenyum,dia ajja mukanya datar dan tidak ber ekspresif sama sekali.
Sampai diruangan kerjanya,
"Asisten Ferdi tolong sampaikan ke sekertaris sebelum jam makan siang kita akan meeting sebentar."Titah Zain sembari mengecek berbagai dokumen yang harus ditanda tangani.
"Ok,boleh tinggalkan saya tuan Ferdi?Saya ingin memeriksa beberapa dokumen,saya tidak fokus kalau ada orang lain diruangan saya."
"Baik Tuan,"Jawab asisten Ferdi dan keluar dari ruangan Zain.
...****************...
Sementara itu di kediaman Opa Leo,
Nampak Dinda sedang membantu ibunya yang sedang berkemas-kemas.Karena hari ini ayah dan ibunya akan pulang ke kampungnya.
"Ndok.... Ingat pesan ibu ya.Selalu hormati suamimu sama mphhhhhh..."
"Sama apa Bu?"Tanya Dinda penasaran sambil mengancingkan resleting tas baju ibunya.
"Kamu sudah it..."
"Ah ibu.Seperti enggak ada pertanyaan yang lain aja."Jawab Dinda kesal.
"Kan ibu mau tau nak,"
"Ibu kita itu enggak boleh mengumbar urusan ranjang kepada siapapun Bu.Karena itu dosa.Bahkan di dalam agama kita itu termasuk aib."Jawab Dinda dengan bijak.
Mendengar ucapan dari Dinda ibu Ali bisa memastikan kalau ke dua pasangan suami istri itu masih canggung.
__ADS_1
"Ya sudah,ibu minta maaf ya.Ingat pesan ibu jangan menunggu perintah dari suami baru kamu melayani.Kalau perlu kamu meminta duluan karena itu adalah hak batin yang sudah menjadi hakmu.Nafkah batin."Nasehat ibu Ali.
"In Sya Allah ibu,"Jawab Dinda.
Tak berapa lama kemudian ayah Ali datang masuk ke kamar tamu menghampiri istri dan juga anaknya.
"Dinda,ayah dan ibu pamit pulang kampung dulu.Sampaikan salam dari ayah untuk Zain suami kamu dan selalu ingat pesan ayah dan ibumu ya nak."Pesan pak Ali dan mengusap rambut anak semata wayangnya itu.
"In Sya Allah ayah."Dinda menjawab sembari senyum simpul.
"Semoga kamu segera memberi kami cucu ya Dinda."Sahut Opa Leo
Deg....
Jantung Dinda mulai berdecak ketika Opa Leo memberikan statement nya.Dinda hanya bisa mengulas senyumnya.
Tak berapa lama taxi online yang dipesan oleh Dinda sudah tiba.Dia mengantar kedua orang tuannya sampai ke depan pintu rumahnya.
"Leo.. Titip Dinda."Ucap Ali sebelum masuk ke dalam mobil taxi online.
"Tenang saja kamu Ali."
"Ingatkan cucumu Zain,kalau kita sudah enggak sabar menggendong cucu.Hahaha..."
"Ayahhhhhh...."Kata Dinda lirih.
"Kamu tenang aja Ali.Zain itu bibit unggul sekali cetak 3 pun langsung jadi.Ha ha ha.."
"Opa.. Opa.. Dikira Dinda ini 🐈 kucing "Jawab Dinda menunduk.
"Ucapan adalah doa, mari kita menjawab Aamiin.Semoga Dinda segera hamil dan punya tiga anak kembar."Sahut ibu Dinda.
"Aamiin."Dijawab oleh Ibu Ali pak Ali dan Opa Leo.
"Aamiin."Jawab Dinda dalam hati sembari senyum dan mengusap perut datarnya.
"Astagfirullah Kok tinggi amat mimpiku."Batin Dinda.
Setelah mobil Taxi Online yang membawa kedua orang tuanya,Dinda memilih untuk turut ikut mbok Sumi dalam mengerjakan pekerjaan dapurnya.
Namun sebelum Dinda pergi ke dapur Opa Leo memanggilnya.
"Dinda..."Panggil OpaLeo.
"Iya Opa,ada yang bisa dibantu ?"Tanya Dinda dan menghampiri Opa nya.
Opa pun mengulas senyum ke pada Dinda.Dan membuat Dinda mengernyitkan alisnya.
"Opa senang sekali akhirnya Zain bisa menikah dengan mu.Ingat kan lah dia nak kalau dia lalai dalam segala hal.Kamu adalah istrinya."Pesan Opa.
"In Sya Allah Opa,Dinda akan mencoba untuk mengingatkan nya."Jawab Dinda dan Opa Leo tersenyum.
"Satu lagi Dinda."
__ADS_1
"Apa?"Tanya Dinda.
"Cicit!"Jawab Opa Leo senyum.