
Hari ini Zain sangat di sibukan dengan segala aktivitas nya.Hingga dia melihat jam di tangan nya sudah menunjukan pukul 10 malam.
"Sudah malam."Gumam Zain sembari menumpuk berkas-berkas kerjanya di meja.
Diapun mengusap wajah kasarnya.
"Asisten Ferdy,kamu boleh pulang duluan.Mana kunci mobil saya?"Tanya Zain yang beranjak berdiri.
"Baik tuan.Ini kunci nya."Jawab asisten Ferdy sembari meletakkan kunci di meja kerja Zain.
"Saya pamit tuan."Pamit asisten Ferdy.
"Hm,"
Zain pun menyalakan mesin mobilnya.
Dia mengendarai dengan kecepatan sedang.
Dia fokus menyetir ke depan dengan tatapan datar sambil bersiul untuk mengurangi rasa lelahnya.
Dia menghentikan mobilnya dipinggir jalan ketika melihat sebuah bar.
Lama dia tidak memijakan kaki di tempat itu setelah menikah dengan Dinda.
Dia masih menggantung di mobil sembari membuka kaca mobilnya.Dia menjadi dilema antara pulang atau mau masuk kedalam tempat itu.
"Huft....."Zain menghela nafas panjang nya.
"Riweh!"
Zainpun kembali menutup jendela mobilnya dan mencoba untuk menyalakan mesin mobilnya.
Tok... Tok...
Suara ketukan jendela mobil Zain.
Zainpun membuka jendela kaca mobil.
"CK,"Decih Zain ketika mengetahui siapa yang mengetuk jendela kaca mobilnya.
"Zain.....?Hanny I Miss you."Ucap perempuan itu dengan wajah polosnya.
"Zain,aku mohon dengerin penjelasan aku Zain."Kata perempuan itu.
"Apa lagi yang harus dijelaskan Sania?Sudahlah aku enggak ada waktu!"Dalih Zain.
"Zain.. Zain please,"
Setelah begitu banyak drama dari Sania,akhirnya Zain turun dari mobil dan masuk ke dalam bar tersebut.
Seorang waitres dari bar tersebut menghampiri mereka dengan membawa cemilan kacang-kacangan dan wine minuman salah satu minuman yang ber alkohol.
"Zain,aku minta maaf sama kamu.Aku mohon sama kamu,maafin aku."Ucap Sania yang menggenggam tangan Zain.
"Aku tau,kalau selama ini kamu masih sayang dan cinta sama aku kan?"Tanya Sania dengan percaya dirinya.
"Aku sudah memaaf kan mu Sania."Jawab Zain datar sembari menenggak wine hingga tandas.
__ADS_1
"Tapi kamu masih sayang dan cinta aku kan Zain?"Tanya Sania lagi sambil mengguncang-guncang lengan Zain.
Zain hanya memilih untuk terdiam dan tidak memberi jawaban.Dia menuang wine di gelas nya dan meminumnya.
Jam ditangan menunjukan pukul 00:00 tengah malam.
Dia beranjak dari tempat duduk nya,
"Zain... "Cegah Sania agar Zain duduk lagi di kursi.
"Aku harus pulang."Jawab Zain.
"Zain,......"Kata Sania dan memeluk Zain.
Zain pun melepas pelukan Sania dan melenggang pergi ke arah pintu keluar.
Sementara itu,
Dinda yang terlihat sudah fresh badannya berdiri di depan pintu memandangi pintu gerbang melihat mobil Zain yang baru masuk.
Dinda menoleh ke arah jam dinding yang terpampang di ruang tamu.
"Pukul 00:30 ?Dari mana mas Zain jam segini baru pulang."
Setelah Zain memarkirkan mobil Zain masuk ke dalam rumah dan melihat Dinda yang sedang menunggu di depan pintu.
"Mas...?"Sapa Dinda dan mencium punggung tangan suaminya.
"Mas kok pulang nya malam sekali?"Tanya Dinda.
"CK,"Decih Zain kesal.
Deg....
Entah kenapa Dinda merasa sakit ke ulu hati mendengar apa yang diucapkan suaminya.
"Ma-af mas...."Jawab Dinda menunduk.
Zain pun melirik Dinda yang tiba-tiba menutup hidung.
"Kenapa kamu?"Tanya Zain dan mendekat ke arah Dinda.
"Mas habis minum ya?"Tanya Dinda yang memundurkan diri menjaga jarak dengan Zain sembari menutup hidung nya.
Dengan wajah datarnya Zain memilih untuk berjalan menaiki anakan tangga menuju kamarnya.
Sesampai dikamar,
Zain melepas sepatu dan melemparkan kaos kaki itu ke sembarang arah.Mengendurkan dasi melepas nya dan menaruh jas di atas ranjang.
Lalu dia berjalan ke kamar mandi.
Sementara itu Dinda yang baru datang ke kamar terlihat menggelengkan kepala,melihat semua pakaian yang di kenakan itu berhamburan.
Dinda pun memunguti satu per satu.
"Bau parfum mas Zain kok berbeda?"Gumam Dinda yang mengendus-ngendus kan hidung nya ke jas kerja Zain.
__ADS_1
Dinda pun mengulangi untuk mencium nya lagi.
Karena penasaran tingkat tinggi,Dinda berjalan ke walk in closet tempat koleksi parfum Zain simpan.
Semua jenis koleksi parfum Zain sudah di ciumnya,namun Dinda tidak menemukan jenis parfum yang menempel di jas suaminya itu.
Ceklek...
Ruang walk in closet itupun terbuka.
Zain menatap datar Dinda yang membawa jas nya.
"Kenapa?"Tanya Zain dengan wajah datarnya kepada Dinda.
"Mmmm... Mas boleh enggak mas jawab dengan jujur?"Tanya Dinda yang sedikit ragu.
"Hm,"Jawab Zain.
"Mas habis dari mana?Sampai pulang selarut ini?Dan... Ini bau parfum siapa?"Tanya Dinda pelan.
"Parfum apa an sih?"Kata Zain kesal dan merebut paksa jas nya yang berada di tangan Dinda.
Dindapun terkejut atas reaksi Zain.
"Astagfirullah.."Dinda yang ber istighfar.
"Denger mau aku kemana dengan siapa itu urusan pribadi ku dan kamu jangan mengusik itu."Peringat Zain kesal.
"Memang salah mas?Kalau seorang istri mengkhawatirkan suami nya?Apalagi mas selama kita menikah mas tidak pernah mengabari Dinda kalau mau pergi."Jawab Dinda tegas.
"Pada intinya aku sudah pulang kerumah!"Pekik Zain.
"Lalu apa lagi yang masih kamu permasalahkan Dinda?"Gerutu Zain sembari memakai kaos oblongnya.
"Dinda enggak pernah mempermasalahkan apa pun itu mas asal mas itu terbuka dengan Dinda.Dinda hanya bertanya mas dari mana dan soal parfum itu saja."
"Kamu mencurigai suami kamu sendiri hah?"Kata Zain seraya menatap tajam Dinda.
"Enggak mas!Dinda enggak pernah mencurigai kamu mas,tapi dari gelagat kamu mas Dinda tidak perlu bertanya lagi dengan kamu Dinda sudah tau kamu sudah menemui seorang perempuan.!"Jawab Dinda tegas.
"Iya kan?"Kata Dinda sembari ke dua mata nya yang melotot ke arah Zain.
"Iya.Perempuan itu Sania!"Jawab Zain dengan geregetan.
"Hah,apa susah nya sih dari tadi tinggal menjawab."Sahut Dinda dan pergi keluar dari ruang walk in closet.
"CK,"Decih Zain.
Dinda pun berjalan menuju ranjang dengan menahan buliran air mata sembari menahan sesak di dadanya.
Dia memposisikan tubuhnya dengan miring,lalu menarik selimut dan menutupi tubuhnya hingga sebatas leher.
Tak lama kemudian,Zain juga menuju ranjang dan memposisikan dirinya bersandar dikepala ranjang.
Zain melirik Dinda yang tidur memunggunginya.
"Mas enggak sengaja ketemu Sania tadi.Tadi mas mampir ke bar karena seharian penuh mas fokus ke kantor.Rencana langsung pulang tapi Sania menahan mas."Cerita Zain ke pada Dinda.
__ADS_1
Dinda hanya pura-pura memejam kan matanya sambil mendengar klarifikasi dari Zain.
Karena Dinda tidak kunjung merespon Zain,akhirnya Zain memilih untuk merebahkan tubuhnya disamping Dinda yang saling memunggungi.