
Seharian ini Zain sangat disibukan dengan pekerjaannya.Dia diminta Opa Leo untuk menghandle semua pekerjaan Opa.Termasuk untuk melanjutkan progres perusahaan Opanya.
Jam Dinding sudah menunjukan pukul 11 malam dia masih berkutat di depan layar monitor laptopnya.
Handphone Zain berdering,,
Opa calling....
🧓:Mau sampai kapan kamu disitu?
🧔:CK,
🧓:Pulang!
🧔:Masih banyak kerjaan.
🧓:Jangan ngebut,
🧔:1 jam lagi.
🧓:Sekarang.
🧔:Opa..?Kenapa Opa cerewet sekali seperti seorang istri.
🧓:Pulang sekarang!No protes!.
🧔:Tadi nyuruh kerja,sekarang nyuruh pulang.Besok-besok Opa nyuruh apa lagi hah?
🧓:Bikin kan Opa cucu,setelah itu Opa tidak akan mengganggumu.
Tut.... Tut... Tu...
Opa Leo yang memutuskan sambungan telfonnya.
"Opa-opa,dikira ngadon donat mudah?"Gumam Zain sembari menutup layar monitor laptopnya.
Sementara itu Dinda sedang duduk di ruang tamu untuk menunggu suaminya yang belum datang dari kantor.
Hingga jam dinding menunjukan pukul 11:30 malam, membuat Dinda tertidur pulas di kursi sofa panjangnya.
Opa yang mendengar suara ketukan pintu dari luar langsung membukanya.
Ceklek
"Opa?"Zain terkejut ketika Opa membuka pintunya.
"Hmmm..."Opa Leo yang berdehem.
"Tumben?"Zain yang menaikan alisnya.
"Tuh,istrimu tertidur menunggumu"Kata Opa yang menunjuk Dinda tidur di sofa.
"Jadi Opa yang buka pintu"
Zainpun melihat sekilas dengan muka datarnya.Sembari melangkahkan kaki.
"Pindahkan dia ditempat sepatutnya dikamar kalian."Titah Opa Leo.
"CK,astaga Opa.Biarkan aja lah dia tidur disitu.Lagian siapa suruh dia menungguku."
Mendengar Zain berbicara seperti itu,Opa Leo segera menjewer telinga cucunya itu.
"Jangan banyak protes,angkat dia ke kamar kalian."Kata Opa Leo dengan tatapan tajamnya.
__ADS_1
"CK,"Zain hanya bisa mencebikkan bibirnya.
Zain mendekat ke arah Dinda dan menggendong Dinda ala bridal style menaiki anak kan tangga.
Opa yang melihatnya nampak bahagia.
"Aish,berat sekali..."Gerutu Zain sembari melihat raut wajah Dinda.
"Huft...."Zain menghela nafas panjangnya.
Akhirnya setelah menaiki anakan tangga,Zain sampai juga dikamar mereka.Dia membuka pintu kamar menggunakan salah satu kakinya menuju ke ranjang.
Sretttt....
Kaki Zain terkena kain bedcover.Alhasil mereka berdua bersamaan terjatuh di atas ranjang.Dengan posisi Zain menindih tubuh istrinya.
Dinda terkesiap kaget membuka matanya,ketika tubuhnya merasa tergoncang seperti ada guncangan gempa bumi.
Dia terkejut melihat Zain sudah berada diatas tubuhnya dengan tatapan intens.
❤️ Jantung keduanya sama berdenyut dag Dig dug bersamaan.Deru nafas mereka begitu nyaring terdengar ditelinga.
Mereka berdua saling menatap intens.Hingga membuat Dinda menenggak ludahnya sendiri.Aroma parfum Zain sangat mempesona.
Wajah yang datar.Orang yang kasar keras kepala.Kini berhasil di tatap sempurna oleh Dinda.
"Ma Sya Allah... Kalau menatap dia sedekat ini,entah kenapa hatiku begitu nyaman."Batin Dinda.
"Tapi....??"Batin Dinda lagi.
Lamunan Dinda ditepis oleh Zain yang salah tingkah.Zain pun terduduk.
"****..."Zain yang mengumpat.
"M-maaf tuan..."Ucap Dinda yang mencoba mendudukan dirinya.
"Enggak usah membuat drama menunggu saya pulang.Saya capek harus menggendong kamu ke lantai dua."Kata Zain ketus.
"Hah?M-mak..."
"No debat!Saya mau membersihkan diri.Siapkan air hangat buat mandi.!"Titah Zain.
"I-iya tuan.Tuan mau makan sekalian?"
"Saya mau mandi saja terus tidur!"Jawab Zain.
"Enggak lihat apa tangan saya pegel gara-gara gendong kamu."Gumam Zain dan Dinda yang mendengar langsung senyum merekah.
"Alhamdulillah,,, sedikit kemajuan.Tuan ku mau berjuang buat menggendongku..."Batin Dinda yang masih senyum-senyum.
"Kalau kamu disitu terus.Kapan saya mandinya?"Sentak Zain yang mengagetkan Dinda.
"Maaf tuan."Ucap Dinda dan bergegas ke kamar mandi untuk menyiapkan air hangat Zain untuk mandi.
20 menit Zain berendam didalam bathtub.Melepaskan kepenatan yang seharian menghinggapi seluruh di badannya.
Zainpun segera menuju walk in closet,dimana tempat semula baju-baju nya disimpan.
Dinda terduduk terdiam di sofa nya,sembari menunggu tuannya keluar dari walk in closet baru dia mulai untuk tidur.
Zainpun keluar dari walk in closet menuju ranjang dengan mengenakan kaos dalam putih dan celana pendeknya.
Zain duduk di pinggiran ranjang,melepas sendal memasukan kaki nya ke dalam selimut.Dia menata bantal dan merebahkan tubuhnya diranjang sembari menarik selimut memunggungi Dinda.
__ADS_1
"Mungkin tuan sangat capek.Ya sudah lah,lebih baik aku ikut tidur juga."Batin Dinda yang menggelar kasur mininya di dekat sofa.
Malam ini terasa datar.Seperti dengan raut wajah Zain yang dingin dan keras kepala.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pagi hari seperti biasa Dinda sudah didapur membuat sarapan untuk suami dan Opa.
Setelah selesai memasak Dinda menaiki tangga menuju ke kamarnya.
Dia menyiapkan baju kerja suaminya stelan jas yang senada dengan celana abu-abunya di ranjang.
Ceklek...
Zain yang membuka pintu kamar mandi.Seperti pagi-pagi sebelumnya,dia begitu menggoda kaum hawa.Terlebih Dinda dengan dada exsotisnya.
Rambut basah yang beracakan.Rahang yang kokoh dan tentu dengan wajah datarnya.Itu adalah pemandangan hari-hari yang Dinda nikmati.
Tidak munafik juga bagi diri Dinda yang menginginkan sentuhan dari suaminya.Nafkah batin.
"Kenapa kamu senyum-senyum begitu?"Tanya Zain dengan wajah datarnya.
"E-enggak tuan!"Jawab Dinda tertunduk.
"Tuan,saya sudah menyiapkan se..."
"Enggak perlu!"Jawab Zain ketus dan berjalan menuju walk in closet.
Entah kenapa,tadinya Dinda menggebu-gebu yang memiliki peran sebagai istri harus menelan pil pahitnya.
Karena suaminya tidak pernah menghargai dirinya sebagai seorang istri.
"Kamu ingat baik-baik.Jangan pernah kamu ber mimpi,kalau aku akan menyentuhmu."Ucap Zain sembari menatap Dinda.
Entah kenapa Zain tiba-tiba bisa membaca isi hati Dinda.
"Iya.. Dinda sadar tuan.Dinda ini siapa,tapi Dinda juga memiliki hak atas diri tuan.Dinda adalah istri sah tuan yang sudah tuan nikahi di hadapan orang banyak dan tentunya di saksikan oleh Allah."
"I hate you."
"Aku benci pernikahan paham kamu."
"Kalau waktu itu kamu tidak masuk kedalam kamarku,semua ini enggak akan terjadi"
"Atau kamu dengan sengaja memanfaatkan Opaku?"
Sakit banget hati bak ke iris tipis-tipis.
"Iya tuan,saya memang miskin tuan,setidaknya saya bisa berdiri sendiri dikaku sendiri.Tanpa harus memakai embel-embel nama orang tua."
Jawaban Dinda tidak sengaja membuat Zain.
Zain yang kesalpun menarik tangan Dinda dan memepetkannya di dinding dekat jendela.
"Dengar.Aku menikahi kamu atas perintah Opa."Tambah Zain dengan menatap tajam.
"Semua yang tuan lakukan adalah perintah dari Opa!Tanpa tuan memikirkan perasaan orang lain?Egois."Jawab Dinda.
"Sekarang giliran Dinda bertanya,apa tuan bisa menerima permintaan Opa Leo untuk menghamili Dinda?"
deg...
.
__ADS_1