
Dinda sangat terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Zain.
Zain menatap datar wajah Dinda yang berada duduk di pangkuannya.
jedug... jedug... jedug..
Suara deru jantung Dinda yang kencang hingga membuat nya tertunduk kikuk.
Dia berusaha turun dari pangkuan suaminya namun Zain berusaha mencegah dengan menatap tajam tanpa ekspresi.
"Kamu kabur dari rumah"Tanya Zain.
"E-enggak tuan."Jawab Dinda tertunduk.
"Lantas kenapa bisa kamu sampai disini hm?"Tanya Zain dengan muka datarnya.
"Sa.."
"Jangan pernah mencoba main-main dengan saya paham!"Peringat Zain dan Dinda hanya terdiam tertunduk.
"Jawab!"Kata Zain lirih sambil menekan intonasi.
"I-iya tuan,"Jawab Dinda yang masih menunduk.
Zain pun tersenyum smirk.
Lalu dia menarik ke dua tangan Dinda dan dilingkarkan dilehernya.
Dinda berusaha menolak,namun Zain melototin Dinda hingga membuat Dinda pasrah.
Sebenarnya Dinda merasa bahagia dengan perlakuan suaminya itu.Lima bulan dia tidak pernah se intens ini.Duduk di pangkuan suaminya membuat dia menjadi penasaran.
"Kenapa dia berubah menjadi manis seperti ini?"Batin Dinda yang sedikit mencuri perhatian.
Zain melingkarkan kedua tangan nya ke pinggang Dinda dan membuat Dinda terkejut membulatkan ke dua matanya.
"M-maaf tuan,tolong lepaskan Dinda.Dirumah sedang ada banyak orang."Pinta Dinda dengan polos.
Zain tidak menjawab apa yang dikatakan Dinda.Dia hanya diam dengan wajah datarnya sembari mengangkat dagu Dinda.
"Kalau saya sudah merasa nyaman seperti ini.Jangan harap kamu bisa merubahnya."Jawab Zain datar.
"CK!"Dinda yang mencebik.
"Maaf tuan,"Kata Dinda dan berdiri dari pangkuan Zain.
Kali ini Zain tidak bisa protes dengan sikap dinginnya Dinda.
Dinda pun menyimpunin piring bekas suaminya ke dapur.Sedang kan Zain masih duduk di meja makan sembari memainkan handphone nya.
"Saya mau minum kopi."Kata Zain ke pada Dinda.
"Iya tuan."Ucap Dinda sambil menyalakan kompor gasnya.
Beberapa menit kemudian,Dinda menyuguhkan kopi yang diminta suaminya.
Zainpun menyruput kopi buatan Dinda,
"Kenapa kamu berdiri disitu.Duduk!"Suruh Zain kepada Dinda yang berdiri di depannya.
Dinda pun duduk atas interupsi Zain suaminya.
__ADS_1
Tak berapa lama kemudian datang Ayah Dinda pak Ali.
"Nak Zain,istirahatlah.Dinda antar suami kamu ke kamar kalian."Suruh pak Ali.
"Terimakasih Ayah,maaf saya tidak bisa bergabung dengan Ayah dan asisten Ferdi "Ucap Zain sembari beranjak dari kursi.
"Enggak apa-apa nak Zain.Dinda temani suami kamu."Titah pak Ali.
Dinda dan Zain beranjak dari meja makan menuju ke kamar Dinda.
Ceklek...
Dinda membuka pintu kamarnya.Kemudian Zain mengekor dibelakang Dinda.
"What...???"Zain terkejut melihat keseluruhan isi kamar Dinda.
"Enggak usah kaget tuan.Kamar saya kecil.Ranjangnya juga kecil.Tidak seperti di rumah tuan."Jawab Dinda dan menaruh tas baju Zain di dekat lemari.
Dinda melihat ke arah Zain yang kegerahan mengipas-kipaskan telapak tangannya ke dadanya.
"Huft... Dasar orang kaya."Gumam Dinda yang didengar oleh Zain.
Zain pun membulatkan ke dua bola matanya ke arah Dinda.
"Apa kamu bilang?"Tanya Zain sembari mengacak pinggang dengan ke dua tangan yang dipunggang.
"Sudahlah tuan,lebih baik tuan pulang ke kota."Jawab Dinda.
"Kamu mengusir saya?Saya ini suami kamu hah!"
"Suami?"Ulang Dinda dengan senyum kecut.
Dinda melangkah kan kaki mendekat ke arah Zain.Lalu menempelkan punggung tangan nya untuk memeriksa kening Zain.
"Apaan sih!"Zain yang geram mengibas tangan Dinda dengan kasar.
"Bukankah selama ini tuan ingin bercerai dengan saya?Lelucon apa lagi yang tuan perankan?hm."Ujar Dinda yang menatap tajam ke Zain.
"Capek tuan saya menjalani pernikahan seperti ini.!"
"Pura-pura bahagia di depan orang banyak."
"Memberi harapan palsu kepada Opa."
"Tanpa sadar kita menyakiti hati Opa dan kedua orang tua Dinda."
Zain masih berdiri mengacak pinggangnya.Lalu melihat Dinda yang menaiki ranjang single nya yang begitu kecil.
Dan membelakangi Zain yang masih berdiri.
"Astagfirullah... Kesal sekali rasanya."Batin Dinda sambil memejamkan mata dan meringkuk memeluk tubuhnya.
Melihat Dinda yang sedang kesal dengannya,Zain bergegas berjalan ke dalam kamar mandi dan membersihkan badannya.
Setelah membersihkan badannya,Zain berjalan ke arah ranjang Dinda.
"Aish.. "Kata Zain sembari melihat Dinda yang tertidur pulas.
Dengan perasaannya yang entah berantah.Akhirnya Zain merebahkan dirinya memunggungi Dinda.
Malam yang melelahkan untuk Zain.Akhirnya dia ikut memejamkan matanya.
__ADS_1
Pukul 03:00 pagi,Dinda mulai membuka matanya.
Dia merasa aneh,pinggangnya terasa berat.
Dia mencoba mengumpulkan nyawanya dulu.Tersadar kalau saat ini Zain tengah memeluknya.
"Tuan... Entah kenapa kamu membuatku nyaman untuk ke dua kalinya.Iya.. Aku kesal dan sebal sekali dengan mu.Tidak memungkiri tuan aku sangat butuh pelukanmu,"Batin Dinda dengan mengulas senyumnya.
"Sania...."
Deg...
Jantung Dinda berdenyut.
"Sania.."Ucap Zain yang mengigau.
Dinda pun tersadar,kalau Zain sedang memimpikan Sania.Lantas pelukan Zain?Dinda pun lekas melepas tangan Zain yang melingkar di pinggangnya.
Dengan pelan Dinda turun dari ranjang dan masuk ke dalam kamar mandi.
Dinda pun menyandarkan punggungnya dibalik pintu kamar mandi sembari menghapus buliran beningnya dengan kasar.
"Hiks.. Seharusnya aku sadar diri.Aku ini siapa.Aku hanyalah pembantu."Lirih Dinda dengan perasaan yang kacau.
"Lima bulan sudah menjadi jawaban untukku.Seharusnya aku lebih peka.Kalau di hati dia hanya ada Sania."Gumam Dinda lagi.
Sudah merasa sedikit tenang,Dinda mengambil air wudhu nya.Dan dia selalu menunaikan 2 rokaat di sepertiga malamnya.
Dan setelah menyelesaikan sholat subuh,Dinda memilih ke dapur untuk menyiapkan sarapan.
Hari ini Dinda membuat sarapan nasi kuning.
"Kok sudah bangun nak?"Tanya ibu Ali.
"Sudah pagi loh Bu."Jawab Dinda sembari mengaduk nasi.
"Baru jam setengah enam pagi nak.Nanti suami kamu mencari kamu."
"Dia sudah gede Bu.Bukan anak-anak lagi."Jawab Dinda sambil mengulas senyumnya.
Mendengar jawaban dari Dinda ibu Ali hanya menggendikan ke dua bahunya.
"Jam 07.00 pagi ibu sama ayah mau ke kampung sebelah ada acara pernikahan teman ayah.Ibu berpesan sama kamu ya nak.. Baik-baik ya sama suami kamu layani dia dengan baik."
Mendengar pesan yang diucapkan oleh ibu nya Dinda hanya mengulas senyumnya.
"Iya.. Bu,"
"Ya sudah.Ibu berangkat dulu ya nak."
"Loh,ibu sama ayah enggak sarapan dulu?"Tanya Dinda.
"Tadi ibu sudah makan roti sama Ayah,enggak enak sama asisten Ferdi.Soalnya kan asisten Ferdi yang mengantar sekalian dia pulang ke kota."Jawab Ibu Ali.
"Asisten Ferdi kembali ke kota Bu?Te.. "
"Iya.Soalnya tuan Leo yang meminta untuk handle kerjaan suami kamu."
"CK,"Dinda yang mencebikkan mulut.
"Ibu pamit ya... Assalamualaiku..."
__ADS_1
"Kapan ibu pulang?Waalaikum salam,"Tanya Dinda.
"Nanti ibu kabarin."Jawab ibu Ali seraya melenggang pergi.