My Momy My Wonderwoman

My Momy My Wonderwoman
Episode 29 # Pendarahan


__ADS_3

Sania benar-benar marah besar.


Sesampainya dia pulang dari kantor Zain,dia mengobrak-abrik semua barang-barang dirumahnya.


"Arghkkkkkkk..... Zain... Zain I love you I love you Zain. I can't be without you Zain."


Tap ... Tap...


Terdengar suara sepatu pantofel yang datang menghampirinya.


"Oh my god what are you doing Sania?Are you crazy?Destroy all the things in this house.?"Kata Luis Putra Dewantara


Luis Putra Dewantara adalah suami dari Sania.Kehidupan rumah tangga Sania dengan Luis bisa dibilang tidak harmonis,dikarenakan Luis sering main tangan dan kasar.


Sebelumnya Luis memiliki karakter yang baik,semenjak dia kehilangan anaknya yang meninggal karena kecelakaan atas keteledoran Sania,Luis berubah menjadi suami yang kasar.


Itulah sebabnya,Sania yang gencar ingin melepaskan diri darinya.Dan berniat untuk mengakhiri rumah tangga nya dengan Luis.


"Bersih kan semua ini."Pekik Luis sambil mencengkeram lengan Sania dengan kasar.


"Auhh... Sakit Luis,"Rintih Sania.


"Dasar enggak waras kamu."Bentak Sania berjalan ke arah dapur.


Prak....


Luis menendang sisa-sisa barang pecah belah milik Sania.


Dari arah dapur Sania membawa sapu untuk membersihkan lantai.


"Sania... Cepat dibersihkan!"Sentak Luis dan Sania terkaget.


Dengan wajah yang tak sedap dipandang dan menggerutu Saniapun membersihkan barang pecah belah nya.


"Aku bersumpah Luis!Aku akan meninggalkanmu."Batin Sania yang bersumpah serapah sambil melihati Luis.


"Apa yang kamu lihat?"Sentak Luis lagi dan Sania mengacuhkan nya.


Sementara itu diruangan Zain,


Opa Leo,Zain dan Dinda sudah berkumpul untuk makan siang bersama.


Soto ayam yang dipesan Zain kini menjadi santapan makan siang bersama.


Dinda yang raut wajah nya mendadak pucat dan menahan sakit di area bawah perut yang ditahannya kini terpaksa mengeluarkan rintihan kesakitan.


"Auwwww..... "Rintih Dinda.


Opa Leo dan Zain menoleh ke arah suara rintihan Dinda.


"Dinda kamu kenapa?"Tanya Zain dan berdiri dari kursi kerjanya menghampiri Dinda yang berdiri di pantry mini.


"Dinda enggak tau mas.Tiba-tiba perut Dinda sakit."Jawab nya sambil merintih ke sakitan.


"Zain.Bawa istrimu itu kerumah sakit,lihat di betisnya ada darah mengalir."Kata Opa Leo yang menunjuk ke arah kaki Dinda.

__ADS_1


Pandangan Zain tertuju di betis Dinda,dimana darah merah segar yang mengalir.


Dengan gerakan cepat,Zain menggendong Dinda ala bridal style nya.Opa Leo pun juga mengikuti langkah Zain dari belakang.


Semua karyawan tengah sibuk bertanya-tanya kenapa gerangan dengan istri dari CEO itu?Sakit apa?


Asisten Ferdy sudah standby di lobby kantor.Serta bergegas membuka pintu untuk tuannya.


"Perut aku sakit mas... Auuuhh... Hiks.."Rintih Dinda yang menggenggam lengan Zain kuat erat-erat.


"Sebentar lagi sampai.Pukullah aku jika itu bisa mengurangi rasa sakitmu."Jawab Zain yang menguatkan Dinda sembari menghapus keringat dingin Dinda.


Sampailah mereka dirumah sakit.


Stelan Jas kantor Zain sudah penuh dengan darah segar Dinda yang terus-terusan mengalir.


Pria yang terlihat dingin cuek datar itu memiliki rasa empaty yang tinggi terhadap Dinda yang beberapa bulan lalu telah dinikahinya.


"Sus.. Sus.. Tolong istri saya."Ucap Zain sembari membaringkan Dinda di brankar.


"Mari kita bawa ke Instalasi Gawat Darurat Tuan."Kata Suster itu dan dianggukan oleh Zain.


Perawat itu mendorong brankar Dinda menuju instalasi Gawat Darurat.


"Dokter tolong tindak pasien ini dok."Panggil Suster ke salah satu dokter jaga di ruang Instalasi Gawat Darurat itu.


Dokter itu pun menoleh,


"Dinda??"


"CK,Toddy Bear?"


"Eits,tunggu-tunggu dulu.Saya mau meminta ganti dokter."Sahut Zain.


"Zain!Apa-apan kamu?Kamu tidak melihat kah Dinda sudah merintih kesakitan?"Seru Opa Leo yang datang tiba-tiba.


"Opa??Opa tau sia...."


"Stop tuan!Ini adalah misi kemanusiaan,tolong Dinda harus segera di tindak karena ini menyangkut dengan nyawa anak anda tuan!"Pekik Toddy.


deg...


"Anak...?"Ulang Zain lemas.


"Ayo sus,bawa pasien ke dalam ruang instalasi gawat darurat."Titah dokter Toddy.


Perawat pun membawa Dinda ke ruang instalasi gawat darurat.


"Tolong jangan berpikiran yang buruk.Ada kalanya kita mengalah dan jangan mementingkan ego karena ini bisa berdampak negatif.Permisi...."Ucap dokter Toddy dan melenggang pergi menuju ke ruangan Instalasi gawat darurat.


"****..."Umpat Zain kesal.


"Seharus nya bukan dia yang menangani Dinda Opa!"Gerutu Zain kesal.


"Itu sudah tugas dia kenapa kamu yang riweh?"Jawab Opa Leo.

__ADS_1


"Dokter itu mantan kekasihnya Dinda Opa"Jelas Zain dengan menekan kalimat akhirnya.


"Hanya mantan kan?Kamu suaminya."


"Ayolah please Opa.Nan..."


"Zain di saat yang genting seperti ini kita tidak memiliki banyak pilihan.Biarkan dokter Toddy menjalankan tugas dan tanggung jawabnya.Selebihnya kita berdoa agar Dinda dan calon bayi nya baik-baik saja."Ucap Opa sembari menenangkan hati Zain.


Satu jam Zain berdiri mondar-mandir didepan ruangan Instalasi.


Stelan jas nya yang tadi berhamburan darah kini sudah diganti dengan baju rumahan yang sedikit santai.


Ceklek...


Dokter Toddy membuka pintu ruangan Instalasi gawat darurat itu.


"Bagaimana keadaan Dinda?"Tanya Zain ketus.


"Zain???"Kata Opa Leo lirih.


"Alhamdulillah,Dinda dan calon bayinya baik-baik saja.Selepas Dinda siuman nanti tolong ditemani ke ruangan dokter SpOG.Agar mendapat kan pemeriksaan lebih lanjut.Karena saya disini hanya sebagai dokter umum."Jawab Toddy.


"Baik dokter.Kalau boleh tau apa yang menjadi penyebabnya Dinda bisa mengalami pendarahan ya dok?"Tanya Opa Leo.


"Lelah dan Stres!Tuan,"Jawab dokter Toddy sambil melihat ke arah Zain denga n tatapan tajamnya.


"Kalau begitu saya permisi tuan."Pamit dokter Toddy dan Opa Leo pun mengangguk.


Zain dan dokter Toddy saling menatap tajam yang seakan saling memiliki dendam.


Setelah dokter Toddy terlihat jauh,Zain membuka pintu ruangan Instalasi gawat darurat itu.


Dia melihat Dinda yang terbaring lemah memakai oksigen tangan kanannya yang juga terpasang infus.Kedua mata nya yang terbuka sayu.


Opa Leo duduk di kursi samping brankar Dinda.


"Cepat sembuh ya cucu menantuku..."Ucap Opa Leo sambil mengusap puncak rambut Dinda.


Dinda hanya bisa menjawab dengan mengangguk.


"Kenapa kamu enggak cerita sama aku kalau kamu hamil?"


"Senengkan diperiksa Toddy bear hah?"Kata Zain yang mengacak pinggang kesal.


Dinda pun mengulas senyumnya.


"Astagfirullah mas..."Ucap Dinda lirih.


"Zain.Jangan membuat onar disini."Kata Opa Leo yang menasehati cucunya itu.


"CK,"


"Sudah lah Zain fokus lah ke istri mu yang sakit."Kata Opa Leo.


"CK,"

__ADS_1


Zain pun mencoba untuk menurunkan ego nya agar tidak membuat Dinda stres.


♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️


__ADS_2