My Momy My Wonderwoman

My Momy My Wonderwoman
Episode 9 # Tak Di anggap


__ADS_3

Jam dinding di kamar Dinda menunjukan pukul 03:00 pagi.


Seperti kebiasaan sebelum-sebelumnya,Dinda selalu bangun untuk mengerjakan qiyamul lailnya.


Dia menghampar sajadahnya,bersujud lama dengan memanjatkan doanya.Isak tangisnya menjadikan saksi sebagai aduan nya kepada Yang Maha Esa.


"Ya... Allah,sesungguhnya hamba mu ini adalah hamba yang lemah.Tiada daya dan upaya yang bisa hamba lakukan kecuali mohon ampunan mu.Wahai engkau Ya.. Rabb,yang mampu membolak-balikkan hati manusia.Bukalah mata hati suamiku Zain Abimanyu Abigail Abraham agar dia bisa bersikap rendah hati dalam menyayangiku seperti istri.Berikan perlindungan untuknya dimanapun dia berada.Berikanlah hambamu ini kesabaran dalam menjalani ujian dari mu ini.Aamiin..."


Terlelap dalam sujudnya,Dinda langsung duduk untuk bertasyahud akhir.


"Assalamualaikum warahmatullahi."


"Assalamualaikum warahmatullahi."


Tanpa Dinda sadari ternyata Zain sudah bangun dan memperhatikannya sejak dia mulai sholat malam sembari menyandarkan punggungnya dikepala ranjang.


Dinda yang menoleh ke arah belakang pun terkesiap melihat Zain yang melihatinya dengan tatapan datar.


Dinda segera melepas semua mukena nya dan terlihatlah rambut Dinda yang terurai yang selama ini dia simpan dibalik hijabnya.


"Shiit..."Batin Zain yang melihat Dinda sejenak mengibaskan rambut yang panjangnya sebahu itu.


Dag.. Dig.. Duh...


Suara denyut jantung Zain yang mulai berirama.Sembari menatap Dinda yang berjalan ke arahnya.


"M-maaf tuan,apa ada yang bisa saya bantu?"Tanya Dinda yang sembari menunduk kepala hormat.


"Aku haus.Tolong ambilkan aku minum."Titah Zain yang menghilangkan sikap groginya.


"Baik Tuan,"Jawab Dinda sambil memakai jilbab instannya dan melenggang pergi menuju keluar pintu kamar.


"Hufttt... "Zain menggelar nafasnya dan menutup mata sejenak.


Ternyata otak Zain sudah dicemari oleh bayang-bayang Dinda.Zain tersadar Dinda memanglah sangat cantik.


"Berambut hitam tergurai,kulit putih mulus.Badannya mirip gitar spanyol,hmmm... " Gumam Zain sembari tersenyum dan akhirnya tertidur belum sempat minum air yang diminta kepada Dinda.


Dindapun datang membawa segelas air putih untuk Zain suaminya.Dia berjalan menuju ranjang Zain.


"Yah.. Tidur lagi orangnya,bangunin enggak ya?"Gumam Dinda.

__ADS_1


"Eits,tunggu-tunggu.. Mendingan enggak usah di bangunin nih 🦁 singa,entar malah aku dicakar-cakar lagi.Bikin ribet."Monolog Dinda sembari menaruh segelas air putih itu di meja nakas.


"Sudah adzan subuh"Ucap Dinda yang alarm ponselnya sudah berdering menandakan waktu sholat subuh.


Dinda pergi ke kamar mandi untuk ber wudhu dan menunaikan kewajibannya sebagai umat muslim untuk sholat.


Setelah sholat,Dinda beranjak pergi ke dapur seperti biasa dia membantu mbok Sumi menyiapkan sarapan untuk suami,Opa Leo bersama ayah dan ibu Dinda yang masih dirumahnya Opa Leo.


"Loh,nak.. Pagi-pagi begini kok kamu sudah berada didapur?"Tanya ibu Ali yang melihat Dinda baru turun dari lantai dua.


"Iya tu mbak,pengantin baru bukan nya enak molor malah turun ke dapur."Goda mbok Sumi sambil mencuci piring.


"Tuan masih tidur Bu."Jawab Dinda.


"Tuan siapa maksud kamu?"Sahut Opa Leo yang mendengar ucapan Dinda.


Mbok Sumi dan ibu Ali menundukkan kepalanya ketika Opa Leo berjalan menuju ke arah Dinda.


"Zain itu suami kamu Dinda,bukan majikan kamu.Kamu itu istrinya."Tutur Opa Leo dan Dinda menggeleng kan kepala.


"Apa Zain yang menyuruhmu memanggil begitu?"Selidik Opa Leo sembari menatap tajam ke Dinda.


"Hmmmm..."Opa Leo yang mendehem.


"Naik lah ke atas temani suamimu.Entah dia masih tidur ataupun yang lainnya temani dia.Siapkan perlengkapan baju ke kantornya,hari ini dia harus bekerja."Titah Opa Leo dan Dinda mengangguk.


Mendapat interuksi dari Opa Leo,membuat Dinda melangkahkan kakinya menuju kamar.


"Leo.. Leo.. Kamu memang usil sama cucumu ya."Sahut Ali yang duduk di minibar bersama Opa Leo.


"Sudahlah Ali,aku itu ingin sekali mendapatkan cicit dari Zain.Aku ingin rumah ini ramai."Jawab Opa Leo.


"Yah.. Semoga saja mereka secepatnya membuatkan kita cucu ha.. ha.."Jawab ibu Ali yang diikuti gelak tawa Opa Leo bersama pak Ali dan istrinya.


Sementara itu dikamar,


Dinda membersihkan semua ruangan kamar.Dia tidak mendapati Zain diranjang,namun dia mendengar ada suara gemericik air di dalam kamar mandi.


Ceklek...


Zain membuka pintu kamar mandi nya.Dindapun menelan salivanya,ketika melihat Zain keluar dari kamar mandi dengan keadaan handuk yang dililitkan ditubuhnya bawah pusat.

__ADS_1


Terlihat tubuh atletisnya yang kotak-kotak berotot.Rambut nya yang basah dan acak-acakan menghipnotis mata Dinda.


Rahang yang kuat tubuh yang kekar.Benar-benar paket komplit perfect.Fix idaman semua para wanita.


"Kenapa kamu menatapku seperti itu?"Tanya Zain yang ketus dan membuat Dinda kalap membuyarkan lamunannya.


"E-enggak T-tuan..."Jawab Dinda terbata.


"Lanjutkan kerjamu."Perintah Zain dengan ketus dan berjalan ke arah walk in closet.


"T-tuan,"Panggil Dinda dan Zain menoleh.


"Saya sudah menyiapkan baju Tuan di atas ranjang ini.Dan Opa tadi berpesan Tuan hari ini harus bekerja."Jelas Dinda dan Zain hanya berdiri mematung sambil melirik baju kantornya yang lengkap yang sudah disiapkan di ranjang.


"Hufffft...."Zain pun memutar badannya tanpa menanggapi Dinda dan menuju ke walk in closet.


Dindapun terdiam melihat muka datarnya suaminya.


10 menit kemudian,Zain keluar dari ruangan walk in closet ya dengan stelan jas yang dipilihnya sendiri.


Lalu dia memakai parfum yang berada di meja riasnya.


Dinda hanya terdiam melihat suaminya yang entah dengan sengaja ataupun tidak sengaja yang bersikap dingin kepadanya.


Bahkan baju yang dipilihkan oleh Dinda tidak disentuhnya.Kecewa?Saat ini Dinda memang sedang kecewa.Dia tidak pernah dianggap oleh Zain.


"Iya.. Aku sadar!Aku ini siapa?Istri bukan babu iya,astagfirullah.. Sadar dong Dinda.Kamu ini hanya pembantu!Sampai kapan?Entahlah dia mau membawa pernikahan ini sampai dimana?"Batin Dinda.


"Ambil sepatu ku."Ucap Zain ke Dinda sembari duduk dipinggir ranjang.


Dinda sebagai istri Solehah pun mengambil sepatu Zain.


Dia menaruhnya dibawah tepat kaki Zain.


Setelah memakai sepatu,Zainpun mulai ke luar kamar.Baru diujung pintu,Zain menghentikan langkahnya dan berbalik ke arah belakang.


"Hey.. Kamu mau turun ke bawah apa masih mau beres-beres kamar?Jangan sampai Opa berceramah ke padaku,karena kamu tidak kunjung turun."Ucap Zain dengan mode datarnya.


"I-iya tuan..."Jawab Dinda yang mengekor di belakang punggung Zain.


Pengantin baru itu pun bersama-sama menuju ke arah tangga untuk sarapan sebelum beraktivitas.

__ADS_1


__ADS_2