
Dengan menandatangani surat keterangan persetujuan,akhirnya Dinda bisa pulang kerumah walau keadaan nya masih lemah.
"Toddy,terimakasih kamu sudah membantu ku."Ucap Dinda di lobby rumah sakit.
"Lekas sembuh ya Dinda,jaga kandungan kamu baik-baik."Pesan Toddy dan Dinda pun mengangguk.
Taxi Online yang dipesan Dinda pun sudah datang,Toddy membuka pintu mobil bagian belakang.Dan Dinda pun masuk kedalam mobil tersebut.Tak lupa dia melambaikan tangannya ke Toddy.
Toddy pun kembali masuk ke dalam rumah sakit.Dia melihat Zain suami Dinda yang sedang berada diruang administrasi.
Toddy pun melenggang pergi,dia tidak mau Kepo dengan urusan orang lain termasuk urusan Zain.
Sementara itu,
taxi online yang ditumpangi Dinda melaju dengan kecepatan rendah.
Dinda nampak menyenderkan kepala nya di kaca mobil.
Sesekali dia melihati ke arah luar jendela menikmati segala kemacetan hiruk pikuk kota metropolitan.
Tak terasa ke dua manik-manik matanya menitipkan air mata.
Dia merasakan betapa sakit hatinya melihat suami nya lebih perduli dengan Sania mantan kekasihnya.
"Hiks... Hiks..."Sendu Dinda dan mengusap air matanya.
Driver taxi online itu pun mencoba melirik ke arah spion dalam untuk memastikan kalau penumpang nya baik-baik saja.
"Diminum mbak,"Kata emak-emak yang merupakan driver dari taxi online.
"Terimakasih mbak."Jawab Dinda sembari meraih sebotol air mineral dan meminumnya.
"Alhamdulillah,"Ucap Dinda setelah meminum dan menutup kembali botol air mineral itu.
"Mbak,nanti tolong berhenti di depan penjual mangga itu ya."Ucap Dinda dan driver taxi online itu pun mengangguk.
Setelah belanja buah mangga Dinda kembali masuk kedalam taxi.
"Mmmmpphh... Enggak sabar jadi cepet-cepet sampai rumah."Gumam Dinda sembari mengendus buah mangga yang muda.
"Sabar ya...."Ucap nya sambil mengusap perut datarnya.
"Lagi nyidam mbak ya?"Tanya diberi taxi online itu.
"Alhamdulillah,iya mbak."Jawab Dinda sembari mengulas senyumnya.
"Sehat-sehat ya mbak.Semoga diberi kelancaran saat melahirkan nanti."Ucap driver taxi online itu.
"Aamiin.Doa terbaik juga untuk mbak dan keluarga."Balas Dinda sembari mengulas senyumnya.
Tak terasa 45 menit obrolan Dinda dan driver taxi online harus terhenti,karena Dinda sudah sampai di titik lokasi tujuannya.
__ADS_1
Dirumah Opa,
Ceklek...
Dinda menarik tuas pintu rumah dan berjalan menuju dapur untuk menaruh buah mangganya.
"Dinda....?"Seru mbok Sumi yang datang menghampiri Dinda.
"Mbok...."Kata Dinda dan memeluk mbok Sumi.
"Bukannya kamu sedang dirumah sakit?Kata tuan besar Dinda hamil dan pendarahan?Terus bagaimana keadaan Dinda sekarang?Kenapa Dinda tiba-tiba pulang?"Interupsi mbok Sumi yang bertubi-tubi.
"Satu-satu dong mbok kalau bertanya😬"Canda Dinda dan tersenyum.
"He.. He..He.."Mbok Sumi yang ketawa ngikik.
"Mbok penasaran Dinda dengan yang ada di perut kamu."Kata mbok Sumi sembari mengusap perut datarnya Dinda.
"Alhamdulillah mbok dedek bayi nya sehat.Sebentar lagi mbok akan punya cucu."Canda Dinda lagi.
Mbok Sumi dan Dinda pun saling tertawa ngikik bahagia.
Tanpa mereka berdua sadari sepasang bola mata sudah memantau mereka dengan raut wajah datar dan dingin.
Yang berdiri di depan Dinda membelakangi mbok Sumi dengan ciri khas nya yaitu salah satu tangannya yang dimasukan kedalam saku celana.
Zain menatap Dinda dengan tatapan tajam dan penuh amarah.
"Kenapa pulang?"Tanya Zain dengan raut wajah kesal.
"Dinda sudah sehat kok mas,"Jawab Dinda yang tertunduk.
Zain yang kesal dengan Dinda hendak mengangkat tangan tangannya untuk menampar Dinda.Emosi Zain terkontrol dan memilih meninju angin untuk meluapkan emosinya.
"Kamu itu gila ya.Kamu itu masih dalam masa perawatan di rumah sakit.Kamu belum diperbolehkan untuk pulang,lantas kamu senekat ini.Kamu enggak mikirin bayi yang ada diperut kamu.Egois kamu,"Kata Zain yang marah.
"Dinda egois?Egois seperti apa mas?Tolong di jelaskan?"Jawab Dinda sembari mendongakkan kepala.
"Dinda capek mas.Tolong jangan berdebat.Dinda tau,mas sedang sibuk dengan Sania!"
Deg,....
Jantung Zain berasa mau terlepas setelah mendengar ucapan dari Dinda.
"Mbok,Dinda keatas dulu ya.Sama Dinda minta tolong kupasin mangga muda yang Dinda beli ya."Ucap Dinda dan bergegas menaiki anakan tangga menuju ke kamarnya tanpa melihat Zain suami ya.
"Den,kasian non Dinda.Dia sedang hamil.Ibu hamil itu sedang sensitif,kalau bisa Aden jangan bikin non Dinda stres kasian dedek bayi nya."Nasehat mbok Sumi untuk Zain.
"Zain itu kesal mbok dengan Dinda.Bisa-bisa nya pulang dari rumah sakit tanpa seizin Zain.Mbok lihat sendiri kan raut wajah nya masih pucat seperti itu.Nanti kalau ada apa-apa dengan dia dan bayinya bagaimana coba?"
"CK,"Zain yang berdecih.
__ADS_1
"Sudah-sudah... Sekarang Aden susulin dia diatas sekalian bawa in mangga dan di kupas ya.Non Dinda sedang ngidam kelihatan nya."Kata mbok Sumi yang menenangkan hati Zain.
"Ngidam?"Pikir Zain.
"Itu loh den,suatu kondisi yang dialami oleh wanita yang sedang hamil, ketika ia begitu mengingikan sesuatu baik itu yang bersifat wajar maupun di luar batas kewajaran."
"Terus kalau enggak diturutin mbok?🤔🤔"Tanya Zain lagi.
"Ih... Amit-amit jabang bayi.Memang Aden mau anak nya ber liuran iler gitu?"Kata mbok Sumi sambil menggendikan ke dua bahu nya.
"Ahh mbok!Bikin takut aja."Kata Zain sembari mengambil mangga dan pisau yang sudah disiapkan mbok Sumi melenggang pergi menaiki anakan tangga.
Mbok Sumi pun ketawa ngikik ketika melihat Zain ketakutan sembari membawa buah mangga ke lantai dua kamar nya.
Tap... Tap... Tap...
Suara sepatu Zain yang berjalan pelan menuju ke kamar.
Zain pun menarik tuas pintu kamarnya.
Ceklek.....
Dinda yang duduk di atas ranjang menyandarkan punggungnya di sandaran ranjang,dengan kaki selonjor menoleh ke arah sumber suara.
Zain mengulas senyumnya dan berjalan menghampiri Dinda yang duduk bersandar disandaran ranjang dengan berselonjor.
"Nih,mas bawa kan mangga."Ucap Zain sembari duduk miring menatap Dinda.
"Itu kan mangga Dinda,bukan mangga nya mas."Kata Dinda.
"Siapa juga yang bilang kalau mangga ini punya mas.Wleeee..."Jawab Zain sembari mengolok Dinda.
"CK,"Decih Dinda kesal.
"Nih mas kupasin."Kata Zain sembari mengulas mangga.
"Tu... Tunggu-tunggu,biar Dinda yang kupas.Mas kan enggak bisa ngupas."Kata Dinda yang khawatir melihat Zain mengupas mangga.
"Bisa."Jawab Zain dan melanjutkan mengupas mangga.
Pelan-pelan Zain mengupas kulit mangga.Setelah dicuci kemudian Zain menyisir mangga muda itu dan disiapkan ke istrinya.
"Enak...?"Tanya Zain sambil mengkerutkan alisnya.
Dinda pun mengangguk kan kepalanya.
"Mas mau..?"
Zain pun menggeleng kan kepala dan menolak nya.
♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️
__ADS_1