
Suasana pagi di kediaman Opa Leo,jam dinding menunjukan pukul 08:00 pagi.
Berat bagi Dinda merasakan kenyataan pahit,jika kalau suaminya hari ini akan menikahi seorang perempuan yang pernah menjadi kekasih nya.
Kenapa Dinda kamu diam?
Kenapa Dinda kamu tidak melabrak?
Dan kenapa dan terus kenapa kamu menjadi orang yang bodoh?
Mungkin suara itu adalah suara yang akan disuarakan oleh para readers.
Suara gejolak hati Dinda begitu menginginkan nya untuk memberontak.Sekuat hati nya dia mencoba untuk menahan agar tidak melakukan itu semua.
Karena dikenal sebagai sosok yang lemah lembut dan penuh kasih sayang. Terkadang, kelembutan seorang Dinda membuat hatinya begitu rapuh dan sensitif atas luka yang diberi dari suaminya.
Sehingga, hatinya mudah sekali merasa tersakiti dan dikecewakan. Namun, di balik kelembutan dan kerapuhan tersebut, dalam diri Dinda tersimpan jiwa yang kuat dan tegar.
Pagi itu dikamar Dinda dengan pintu yang tanpa mereka sadari sudah terbuka sedikit,
terlihat Zain yang berlutut di depan Dinda yang duduk di sisi ranjang sembari kedua tangannya memeluk perut buncit nya yang akan diprediksikan beberapa Minggu lagi melahirkan.
Dengan membuang muka nya,Dinda melirik suaminya yang berlutut di hadapannya sembari menunduk.
Opa Leo yang tadi nya ingin mengetuk pintu kini mengurungkan niatnya karena melihat Zain yang bersimpuh di depan Dinda.
Sejenak Opa Leo memperhatikan keduanya.
"Mas minta maaf.Mas harus melakukan ini."Ucap Zain seraya meraih tangan Dinda namun Dinda menolak.
"Cukup mas,jangan kamu menyentuh ku.Aku jijik dengan kamu."Jawab Dinda yang kecewa dengan Zain sembari membuang muka nya.
"Enggak ada seorang istri yang mau di madu mas."Ucap Dinda dan Opa Leo terkejut atas apa yang dikatakan oleh Dinda.
Opa Leo tetep memperhatikan Zain dan Dinda.
"Enggak perlu juga kamu berlutut didepan ku mas.Mintalah ampunan sama Allah.Atas segala semua yang kamu lakukan mas."Ucap Dinda yang berkaca-kaca.
"Silahkan kamu menikahi perempuan itu.Setelah anak-anak ini lahir, aku ingin mengakhiri semua diantara kita."Kata Dinda dan membuat Zain dengan Opa terkejut.
"Dinda,mas enggak mau berpisah denganmu.Sampai kapan pun mas akan memperjuangkan pernikahan kita"
"Lantas bagaimana Sania dengan anak kamu yang di kandung nya mas?"Teriak Dinda kesal dan Opa Leo terkejut atas apa yang diucapkan oleh Dinda.
"Itu bukan anakku!"Pekik Zain dan beranjak berdiri.
"Stop mas....."Pekik Dinda.
"Yang aku tau kalian adalah mantan kekasih yang pernah menjalin cinta."
"Bukan itu saja,diam-diam kalian juga masih berhubungan"
"Dan aku datang dalam kehidupan mu saat kamu belum benar-benar bisa move on mas!"
"Pergilah,"Kata Dinda yang membuang muka dan mengusir Zain.
Opa yang melihat Zain akan keluar dari kamar bergegas sembunyi dibalik guji yang besar.
__ADS_1
Zain nampak keluar menggunakan mobil pribadi nya tanpa disopiri.
Opa Leo yang melihat Zain keluar dari rumah segera menelfon orang suruhan nya untuk mengikutinya.
Sementara Dinda hanya bisa menangis didalam kamar nya.
Opa Leo mengajak Ayah Ali untuk mengikuti Zain bersama asisten Ferdy.
Tak lama kemudian Opa Leo sudah mendapat kabar kalau Zain sudah sampai diperumahan minimalis yaitu rumah Sania.
Rumah Sania yang sudah di dekor sederhana ala pernikahan siri Zain dengannya.
Tak luput juga tetangga diundang nya sebagai saksi dan sebagai tamu undangan.
Wali hakim yang ditunjuk Sania yang akan menikahkan nya dengan Zain.
Selebih nya,Sania tidak mau membahas keluarga intinya.
Sania dan Zain sudah duduk bersanding didepan penghulu.
Zain pun mulai menjabat tangan pak penghulu itu.
"Bismillah..."Ucap pak penghulu yang menjabat tangan Zain.
"Saudara Za....."
"Tunggu!!"Teriak Opa Leo dan Zain menoleh kaget melihat Opa Leo yang datang.
"Opa...??"Zain yang terkejut seketika berdiri.
Dan suara bisik-bisik antar tetangga sedang di mulai..
*Plak...
Plak...
Plak*...
Opa Leo menampar Zain berkali-kali.
"Ijul beri pelajaran kepada cucu laknat itu..."Titah Opa Leo kepada body guardnya.
Sania tidak bisa bersuara ketika melihat Zain di hajar oleh Opa Leo hingga babak belur.
Bahkan orang-orang yang ada disitu hanya bisa diam tercengang.
"Stop.... Stop...Opa!"Teriak Dinda yang datang tiba-tiba menghampiri Opa Leo yang berdiri gagah perkasa.
Opa Leo pun memberi kode kepada Ijul untuk menghentikan eksekusi nya.
Dinda yang melihat suaminya babak belur bergegas membantu nya.
"Zain..."Kata Sania yang mencoba mendekat ke arah Zain.
Namun Zain menepis tubuh Sania dia lebih memilih Dinda yang membantunya.
Zain berdiri menghadap ke arah Opa dan berlutut dibawah kakinya.
__ADS_1
"Maafin Zain Opa...."Ucap Zain yang menyesal.
"Zain Abigail Abraham!Mulai saat ini kamu bukan cucuku dan bukan lagi keturunan dari Abraham!Camkan itu!"
"Dan kamu!Saya bisa pastikan kamu tidak akan mendapat kan apapun dari keluarga Abraham meskipun kamu mengakui kalau anak yang kamu kandung adalah anak Zain."Tunjuk Opa Leo kepada Sania.
"Dinda,ayo pulang!"Ajak Opa Leo.
"Tap.... "
"Sudah,biarkan suami itu.Toh kamu sendiri yang bilang kan setelah anak-anakmu lahir kamu akan menceraikannya?"Kata Opa Leo.
"Ali bujuk anakmu."Kata Opa Leo dan melenggang pergi.
"Ayo nak,kita harus pergi"Kata Ayah Ali yang membujuk Dinda sembari memegangi kedua bahu Dinda.
"Itu istri yang kamu bangga kan Zain?Saat suami susah seperti ini dia memilih meninggalkanmu,cuih..."Sahut Sania dengan komentar pedasnya.
"Cukup Sania!"Bentak Zain.
"Sudahlah... Buat apa kalian disini lagi?Pergi kalian ini rumah saya."
"Dasar.Huru hara..."Kata Sania kesal dan marah.
"Zain,ayok lanjutkan acara pernikahan kita"Kata Sania yang menggeret tangan Zain.
"Enggak!"Zain menghempas tangan Sania.
"Zain..."Pekik Sania dan reflek mendorong Sania dengan kencang hingga Sania terjatuh dilantai.
"Astagfirullah hal adzim"Dinda yang terkejut sembari menutup mulut nya.
"Awwwwwwwww...... Sakit perut ku."Ucap Sania yang merintih kesakitan.
"Sania....?"Zain yang terkejut menghampiri Sania.
"Dinda Ali Pulang!"Teriak Opa Leo.
"Sudah Dinda,dengarkan Opa Leo.Ayok kita pulang!"Kata Ayah Ali dan menuntun Dinda untuk masuk kedalam mobil.
Sementara itu,
Sania dibantu dengan tetangga dan Zain membawa kerumah sakit terdekat.
"Perut ku... Perut ku...."Kata Sania yang duduk di bagian mobil dan ditemani oleh tetangganya.
Sementara Zain,fokus dengan menyetir mobilnya.
"Semoga anak yang dikandung Sania tidak apa-apa,agar aku bisa membersihkan nama baikku."Batin Zain.
"Aku yakin itu bukan lah darah daginggku"Batin Zain lagi dengan rasa percaya dirinya.
Tak lama kemudian,mobil Zain sampai disuatu klinik terdekat.Zain pun memanggil perawat untuk membantu Sania membawa keruang tindakan.
Bersambung....
♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️
__ADS_1