My Momy My Wonderwoman

My Momy My Wonderwoman
Episode 16 # Hak


__ADS_3

Sarapan pagi yang dibuat Dinda sudah siap.Jam dinding kuno yang terpasang di ruang tamu sudah menunjukan pukul 07.00 pagi.


Dinda berniat untuk membangunkan Zain.Namun dia memudarkan niatnya,karena ada suara ketukan pintu dari luar.


Tok... Tok... Tok...


"Assalamualaikum...."Sapa seorang dari balik pintu.


Dinda yang mendengar bergegas menarik tuas pintu rumah.


Ceklek...


"Waalaikum salam..."


Deg....


Dinda terkejut melihat siapa yang datang.


"T... Tody?"Dinda yang terbata karena terkejut.


Tody adalah orang di masa lalu Dinda yang pernah dekat.Hubungan mereka harus berakhir karena Tody ingin melanjutkan kuliah nya di kota.


Saat itu Tody lebih memilih untuk fokus mengejar kuliah ke dokterannya.


"Dinda??"Tody nampak terkejut melihat Dinda.


Info yang Tody dengar dari warga Dinda sudah merantau ke kota.Kini beruntung sekali Tody bisa bertemu Dinda setelah 4 tahun yang lalu Tody memutuskan Dinda.


"Maaf Tody ada yang bisa aku bantu?"Tanya Dinda yang berdiri di tengah-tengah pintu.


"Eh,, iya.Aku mau memberikan undangan ini untuk pak Ali dan ibu Ali.Besok dirumah ada acara syukuran kamu juga datang ya."Jawab Tody sambil menyerahkan undangan syukuran untuk Dinda.


Dindapun membaca undangan tersebut.


"In Sya Allah Tody ya... Selamat ya.Akhirnya semua mimpi-mimpi kamu terwujud dan tercapai menjadi dokter."Kata Dinda dengan senyum.


"Iya terimakasih Dinda."Balas Tody dengan mengulas simpul.


"Oh ya Dinda,aku mau mengajak kamu nanti sore,kamu ma...


"Maaf Tody,aku enggak bisa."Jawab Dinda.


"Oh ya udah enggak apa-apa.Tapi lain waktu bisa ya?"Tanya Tody yang penuh harap.


"In Sya Allah Tody.Aku enggak janji."Jawab Dinda.


"Ya sudah,aku pamit Dinda.Assalamualaikum."


"Waalaikum salam."Jawab Dinda dan menutup pintu.


Dialog Dinda dan Tody pun ternyata sudah di pantau oleh Zain.


"Astagfirullah hal adzim... "Ucap Dinda yang terkejut saat membalikan badannya melihat Zain yang berdiri menatap tajam Dinda.


"Who is he?"Tanya Zain dengan wajah datarnya.


"Teman tuan."Jawab Dinda sembari melangkah pergi.


Zain yang merasa kesal karena Dinda sedang ngobrol dengan pria lain.Langsung menarik tangannya.

__ADS_1


"Auuu tuan sakit."Dinda berusaha melepaskan tangan Zain.


"Lancang sekali dia mengajak kamu jalan."Gerutu Zain.


"Kamu kan istri saya!"Tambah Zain.


"Istri?"Ulang Dinda.


"Sudahlah tuan masih pagi jangan marah-marah.Saya sudah membuatkan sarapan untuk tuan."Ucap Dinda dan pergi meninggalkan Zain dengan kesal.


Setelah keduanya selesai sarapan,seperti biasa Dinda membawa semua piring-piring kotornya ke dapur dan mencucinya.


Pagi yang mendung kini merubah menjadi dingin dan hujan rintik- rintik itu pun mengubah menjadi hujan yang deras.


"Ma Sya Allah dingin sekali."Ucap Dinda sambil memeluk tubuh nya sendiri sebelum menutup jendela ruang tamu.


Dia pun menuju ke kamar nya.Dan melihat Zain yang sedang berdiri melamun di depan jendela.


Zainpun membalikkan badannya ketika mendengar suara pintu kamar terbuka.


Zain dengan wajah datarnya berjalan ke arah ranjang single milik Dinda dan duduk di tepian.


Sementara Dinda sudah menaiki ranjang dan memunggungi Zain.


Kedua nya nampak hening.Menikmati suara deraian hujan yang cukup deras.Hujan deras memang membuat orang beraktivitas.


Gledek..... Gledek... Gledek...


Suara petir berhasil membuat Dinda terbangun dan memeluk erat tubuh Zain dari belakang.


Zain pun menoleh ke arah samping melihat Dinda yang memeluk erat tubuh nya.


Buru-buru dia melepas pelukannya.


"Maaf tuan."Kata Dinda tertunduk.


Zain memutar tubuhnya dan menatap Dinda yang tertunduk.Lalu memegang dagu Dinda dan mengangkatnya.


Zain mendekat ke arah Dinda dan menatapnya secara intens.


Begitupun dengan Dinda yang menatap Zain dengan intens.


Dia begitu penasaran dengan bibir pink yang dimiliki Dinda.


Zain mencoba memiringkan kepalanya, Dinda mulai memejamkan mata ketika dia tau Zain akan meraup bibir nya.


Cup...


Zain mengecup bibir Dinda.


"Damn it... Kenapa cuman mengecup bibirnya senjataku mulai menegang.Selama 5 bulan aku menjauhinya kini aku benar-benar di buatnya tidak berdaya."Batin Zain dan melepas kecupan untuk mengatur oksigen.


Wajah Dinda nampak terlihat kemerahan dan tertunduk malu saat Zain mengecup bibirnya.


Hujan yang masih deras dan belum reda itupun akan menjadi saksi sepasang suami istri yang akan memadu kasih.


Nafkah batin yang selama 5 bulan ini dinantikan oleh Dinda.


Zain mengangkat dagu Dinda yang tertunduk.

__ADS_1


Lalu Zain mencoba melepas hijab yang dikenakan Dinda.


Zain terpelongo ketika melihat rambut panjang Dinda yang terurai.


"Secantik ini dia..??Oh mayyyggod... "Batin Zain yang menyadari akan kecantikan istrinya.


"Dinda,boleh saya meminta hak saya?"Tanya Zain sembari menyisihkan rambut di telinga Dinda.


"In Sya Allah tuan Dinda sudah siap."Jawab Dinda tertunduk malu.


Zain mengangkat dagu Dinda dan mengecup bibir Istrinya.


Dinda pun ikut membalas ciuman suaminya itu.


"Ahhhhhhh.... 'Desah Dinda.


Zain mulai membuka baju kaos oblongnya dan dilempar ke segala arah.Dan tangannya meraih ke dada istrinya dan memulai memainkan nya.


Satu per satu kancing kemeja nya dibuka oleh suaminya hingga menanggalkan pembukusnya yang berwarna pink.


Zain yang memulai memainkan gundukan itu semakin meresahkan Dinda yang dari tadi terus mendesah.


"Ahhhhh.... "Suara Dinda yang mendesah.


Zain berusaha mencoba menjebol pertahanan Dinda dengan beberapa kali hentakan yang belum juga tembus.


Hingga suara rintihan Dinda yang merasa sakit di bagian inti.Karena dia merasa kalau mahkota yang dimilikinya sudah pudar.


Setelah 3 jam berlalu dengan berbagai gaya,akhirnya permainan disudahi.


Tubuh Zain dan Dinda sangat berkeringat.


"Hu... ha... hu ha..."


Deru nafas keduanya yang saling bersahutan.


Kedua tangan Zain menangkup pipi Dinda dan memberikan kecupan di bibir istrinya.


"Kita bersih-bersih dulu.Sini saya bantu kamu."Ucap Zain dan Dinda berusaha beranjak berdiri dari ranjang.


"Auuhh... "Rintih Dinda dibawah intinya yang terasa sakit.


"Kenapa?"Tanya Zain.


"Sakit buat jalan."Dinda yang meringis kesakitan langsung digendong Zain.


"Masih sakit?"Tanya Zain dan Dinda menggelengkan kepalanya.


Dindapun melingkarkan kedua tangannya dileher sang suami berjalan menuju kamar mandi.


"Tuaaaaaaaaann...."Teriak Dinda.


Hari ini Zain menang banyak☺️☺️ Setelah berhasil membuat pertahanan Dinda runtuh di ranjang dia juga menggoyang Dinda di kamar mandi.


1 jam setelah selesai dengan ritual mandi,Zain mengganti sprei yang terkena noda darah dan mencucinya.


Sedangkan Dinda sedang asyik duduk di meja riasnya.


Dia mencoba mengeringkan rambutnya yang basah.

__ADS_1


Dia pun senyum-senyum sendiri di depan cermin dan terus-terusan mengucap syukur kepada Yang Maha Esa,karena sudah mengabulkan sebagian doa nya.


__ADS_2