My Momy My Wonderwoman

My Momy My Wonderwoman
Episode 8 # Perang di malam pertama


__ADS_3

Ceklek....


Dinda pun menarik tuas pintu kamar Zain.Dia membuka dan berjalan mengendap-ngendap seperti pencuri.


Dia masuk ke kamar sembari melihat sisi kamar serta sudut-sudut kamar.


"Huft... Syukurlah sepertinya dia enggak ada."Kata Dinda dan berjalan menuju meja riasnya.


Dinda duduk mencoba untuk melepas satu persatu aksesoris pengantin yang dikenakannya.


"Alhamdulillah,sudah selesai semua."Ucap Dinda berdiri dan beranjak dari meja riasnya.


Dinda segera menuju ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.Setelah selesai dengan aktivitasnya,Dinda segera mengganti bajunya didalam kamar mandi dan memakai jilbab instannya yang tinggal pakai.


Ceklek...


Dinda menarik tuas pintu kamar mandi.


"T-tuan??"Kata Dinda terkejut ketika melihat Zain suaminya yang berdiri tepat di depan nya.


"****!!!"Batin Zain.


"Tanpa polesan make-up saja dia begitu cantik.!"Batin Zain yang terbengong.


"M-maaf tuan.Permisi."Ucap Dinda sembari menunduk dan melewati Zain.


Zain memejamkan matanya sebentar mencium wangi tubuh Dinda.


Zain yang melihat Dinda hendak pergi tidak tinggal diam,tangannya menarik kencang lengan Dinda dan memutar tubuh Dinda dengan kasar lalu mengibas tangan Dinda dan menatap dengan tatapan datar.


"Auuu,"Dinda yang meringis kesakitan sembari memegangi lengannya.


"Dengar ya!Kamu jangan pernah berharap ada malam pertama di antar kita.Seharusnya kamu itu sadar,kamu itu siapa.Ciih,"Ucap Zain dengan kasar sembari memegang rahang Dinda dengan kuat.


"Hah,dasar babu!"Umpat Zain ke Dinda sambil membalikan tubuhnya dan melangkah ke arah pintu keluar.


Langkah Zain mendadak terhenti,


"Satu lagi.Aku tidak mau satu ranjang dengan kamu.Carilah tempat tidur lain dan ingat jangan sampai Opa tau dengan semua ini."Pekik Zain.


"B-baik tuan."Ucap Dinda sembari menunduk dengan menahan buliran beningnya.


"Aku enggak suka bunga!Buang semua bunga-bunga yang berada diatas ranjang itu.Bikin kotor saja."Titah Zain yang menunjuk ke arah ranjangnya sembari berjalan kearah pintu dan membating pintu kamar.


Brakkkkk...


"Astagfirullah hal adzim ,,, "Ucap Dinda sembari memegangi dadanya.


Setelah Zain keluar dari kamar,Dinda bergegas menuju ke arah ranjang dan memunguti bunga mawar yang cantik itu.


"Hiks... Hiks... Hiks..."Dengan sendu Dinda memunguti bunga mawar itu.


"Seperti ini kah pernikahan yang sakral?Pernikahan yang seharusnya menjadi kebahagiaan buat sepasang suami-istri?"

__ADS_1


"Hiks... Kenapa dunia begitu kejam!Seandainya aku tidak memasuki kamar ini,mungkin nasib ku tidak seperti ini."


"Hiks... Hiks..."Tangis Dinda yang memukuli bantalnya.


30 menit kemudian,tangis Dinda membuatnya terlelap di ranjang tuannya dengan posisi meringkuk mendekap guling.


Zainpun berdiri sambil melipat ke dua tangannya di dada dengan memakai piyama tidurnya.


Dia hanya menggelengkan kepala dan menatap Dinda dengan tatapan sendu.


"Opa... Opa... Bagaimana bisa Opa menikahkan aku dengan dia.Dia seorang pembantu itu."Batin Zain.


"CK,"Zain yang mencebikkan mulutnya.


Dengan perlahan Dinda membuka mata pelan-pelan sembari mengumpulkan nyawa.Dia terkejut ketika melihat Zain suaminya yang berdiri di depan ranjang dan menatapnya dengan tatapan datar.


"T-tuan??"Dinda yang terkejut segera menuruni ranjang tuannya.


Zain masih menatap Dinda dengan datar.


"M-maaf tuan!"Ujar Dinda sembari menunduk.


"Kenapa kamu tidur disitu?"Tanya Zain dengan muka datarnya.


"Jawab!"Pekik Zain.


"M-maaf tuan tadi saya tertidur."


Dengan kasar Zain pun menarik tangan Dinda menjauh dari ranjangnya dan mengibaskan tangan Dinda kasar didepan sofa yang berada di sudut ranjang.


Dinda yang meringis kesakitan hanya bisa memegangi lengannya sembari menatap suaminya itu.


"Ganti semuanya.Aku enggak mau tidur bekasmu."Pekik Zain.


Dinda hanya terdiam menunduk memegangi lengannya yang terasa sakit.


"Ganti!"Teriak Zain dan membuat Dinda terkejut.


Tak terasa buliran-buliran bening air mata Dinda terjatuh.Dia bergegas berjalan menuju ranjang dan mengganti sprei seperti yang diperintahkan oleh Zain.


Zain hanya terduduk disofa menyandarkan punggungnya dan menyilang satu kakinya.


Tangannya sembari memainkan ponselnya scroll dari atas kebawah.


Sementara matanya sedikit melirik ke arah punggung Dinda yang mengganti sprei.


Dindapun membawa sprei yang telah digantinya ke bawah di tempat khusus cucian linen atau laundry.


"Astagfirullah... Mbok Sumi,bikin Dinda kaget saja."Ucap Dinda sembari memegangi dadanya yang dag dig dug kaget.


"Aduh... Maaf non,"Kata Mbok Sumi yang membuka pintu linen tiba-tiba.


"Mbok... Mulai dech.Panggil Dinda saja kenapa sih mbok??"Gerutu Dinda.

__ADS_1


"Hehehe . .. Maaf non,mbok takut kena omel dari Opa Leo kalau memanggil dengan panggilan Dinda.Non kan sudah menjadi istrinya den Zain."Jawab mbok Sumi.


"Enggk apa-apa kok mbok. Dinda Lebih nyaman dipanggil Dinda."Jelas Dinda.


"Hmmm.. Ya udah lupain saja,kamu kesini ngapain tengah-tengah malam?"Tanya mbok Sumi penasaran.


"Mau ambil sprei yang baru mbok!"Jawab Dinda sembari berjinjit mengambil sprei yang tertata rapi bersih di rak.


"Bukannya spreinya tadi pagi sudah mbok ganti sebelum akad Dinda dan aden Zain ya?"Tanya mbok Sumi lagi.


"Iya.. Kotor mbok,"Jawab Dinda polos.


"Kotor??"Batin mbok Sumi sambil berpikir.


"Hahhhh???Dinda berarti kamu sudah anu dong 😂"Seru mbok Sumi.


"Anu apa mbok??"Tanya Dinda yang penasaran.


"Ye... Dinda mah pura-pura polos."Goda mbok Sumi sembari ngikik.


Dindapun sedikit berpikir tentang apa yang diucapkan oleh mbok Sumi.Diapun menggendikan bahunya.


"Huft... Mbok,sudah malem Dinda ke atas dulu ya."Pamit Dinda sembari berlalu menuju kepintu keluar.


"Iya Dinda!'


"Eh.. Eh... Dasar pengantin baru.Kemarin katanya benci.Eh hari ini belah duren besok-besok nya apa yakk?Semoga lekas lahir cicit untuk tuan Leo."Gumam mbok Sumi sembari berharap.


Dikamar Zain,


Ceklek...


Dinda menarik tuas pintu kamar.Dan melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar.


Dia pun berjalan menuju ranjang tanpa perduli dengan Zain yang sedang memandanginya.


Dindapun memasang sprei dengan perasaan kesal sembari sedikit melirik ke arah Zain yang dari tadi melihatnya.


Zainpu berjalan ke arah ranjangnya dan menatap Dinda dengan tatapan datarnya.


"Lama sekali sih kerja begitu saja."Gerutu Zain sembari melepas sendal dan merangkak menuju ranjang.


"Ini buat kamu!"Kata Zain yang melempar satu bantal ke arah Dinda.


Dengan sempurna Dinda menangkap bantal yang dilempar ke arahnya oleh Zain.


"Terserah kamu mau tidur dimana,asal jangan diranjang ini paham!Posisikan diri kamu siapa dan aku siapa disini.Mengerti."


"I-iya tuan."Jawab Dinda mengangguk.


Zainpun mulai menata bantalnya dan memposisikan tubuhnya.Diapun mulai menarik selimutnya serta memunggungi Dinda yang berdiri di belakangnya.


Melihat Zain yang selesai menarik selimutnya membuat Dinda menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


Dia pun menggelar kasur kecil di dekat sofa.


"Bismillah,Alhamdulillah..."Ucap Dinda sebelum matanya terpejam.


__ADS_2