
Menangis bukanlah hal yang salah.Dinda, kamu berhak menangis saat sedih. Air mata yang tumpah ke pelupuk mata, bisa membuat hati lebih tenang. Pilihlah tempat yang paling nyaman untukmu menangis.
Betapa hancur hati Dinda mendengar sebuah pengakuan dari suaminya.Bahwa suaminya akan menikahi seseorang yang pernah menjadi mantan kekasihnya dalam keadaan hamil.
Dinda pun teringat kalau hari ini dia ada janji dengan dokter kandungannya.Yaitu dokter Nisya,
Dinda pelan-pelan menuju kamar mandi untuk membasuh wajah nya dari hujaman air mata yang terusan mengalir.
Kemudian dia bersiap-siap.
Ketika Dinda mau menarik tuas pintu,ternyata dengan bersamaan Zain masuk ke dalam kamar.
Zain pun memperhatikan penampilan Dinda dan istrinya dari bawah hingga ke atas.
"Sayang... Kamu mau kemana?"Tanya Zain kepada Dinda namun Dinda memilih diam dan bungkam sembari keluar dari kamar nya.
"Sayang.... "Cegah Zain yang menarik tangan Dinda dengan pelan.
"Tolong mas lepasin tangan kamu."Kata Dinda sembari melepas tangan Zain.
"Di minibar sedang ada Opa dan kedua orang tua kamu.Mas enggak mau mereka berpikir kepada kita kalau kita sedang ada masalah."
"Memang kita sedang ada masalah kok."Jawab Dinda ketus.
"Semua berawal dari kamu mas!"Ucap Dinda lagi sembari menunjuk dada bidang Zain dan ditekan nya.
"Iya,mas akui mas memang salah!"
"Iya,itu harus!Mas harus mengakui kalau mas itu salah."Potong Dinda nampak kesal dengan Zain dan Dinda berjalan menuju ke arah pintu keluar kamarnya.
"Sayang... Tolong jangan seperti ini,kamu mau kemana?Mas antar ya!Mas khawatir dengan kamu dan anak-anak kita."Cegah Zain lagi.
"Mas,aku butuh waktu untuk nenangin diriku sendiri.Tolong lepasin tangan ku,"Kata Dinda sembari berkaca-kaca.
"Iya,mas enggak akan ganggu kamu.Tapi jangan kemana-kemana ya sayang."Pinta Zain memelas dengan memegangi tangan Dinda.
Dindapun menarik nafas nya dan mengeluarkan nya.
"Maaf mas,"Ucap Dinda dan melepas tangan Zain yang memegangi lengan nya.
"Loh,ndok mau kemana?"Tanya ibu Ali.
"Dinda mau keluar sebentar Bu,"Jawab Dinda.
"Sama nak Zain kan?"
"Enggak Bu,biarkan mas Zain intropeksi diri dirumah."Jawab Dinda sambil melirik suami nya dengan kesal.
"Aduuh nak ibu khawatir loh,"Kata ibu Ali yang mengelus dada nya.
"Dinda pamit ya Bu,Assalamualaikum."Ucap Dinda.
"Waalaikum salam."
"E... Bu,Zain ke kamar dulu ya..."Kata Zain buru-buru pergi karena takut diintrogasi oleh ibu mertua nya.
Ibu Ali hanya mengangguk kan kepala.
Dinda pun keluar menuju mobil yang di supiri oleh pak Ujang,supir pribadi Dinda.
Sementara itu,
Di dalam mobil Dinda hanya bisa menangis dan menangis sembari mengusap perut besar nya.
__ADS_1
Mang Ujang hanya bisa memperhatikan Dinda dalam kaca spion mobil.
"Maaf non,mau kemana?"Tanya pak Ujang.
"Ke rumah sakit seperti biasa pak."Jawab Dinda dan pak Ujang mengangguk.
Sampainya dirumah sakit...
Dinda berjalan menuju lorong ruangan dokter Nisya.
Belum sampai ke ruangan tiba-tiba perut Dinda terasa nyeri dan membuat Dinda merintih kesakitan.
"Awwwwww....."Rintih Dinda sembari memegangi perutnya.
"Aduhhhhh....."Rintih Dinda lagi.
"Dinda...?"Panggil Toddy dan menghampiri Dinda yang merasa kesakitan.
"Toddy...."Kata Dinda lirih menahan sakit.
"Sebentar.Kamu jangan panik,atur nafas kamu Dinda."Kata Toddy yang mencoba menenangkan Dinda.
Toddy pun melihat ada kursi roda di depan ruang laboratorium diapun mengambil kursi roda itu.
"Sini duduk lah."Kata Toddy yang membantu Dinda duduk.
"Alhamdulillah,terimakasih Toddy."Ucap Dinda.
"Sama-sama.Kamu mau kemana?Biar saya antar?"Tanya Toddy.
"Aku mau periksa kandungan ku ke dokter Nisya Toddy..."
"Ya,sudah saya antar!"Kata Toddy dan mendorong kursi roda Dinda.
"Selamat siang dokter."Sapa Dinda.
"Selamat siang Bu Dinda,loh kok bisa berbarengan?"Tanya dokter Nisya yang terkejut Toddy mendorong Dinda.
"Tadi saya lihat pasien dokter Nisya sedang mengalami kram perut nya,jadi saya bantu untuk membawa ke sini."Jelas Toddy.
"Oh,Bu Dinda kita ke brankar ya untuk memulai USG, tuan Zain dimana biar bisa membantu Bu Dinda untuk baring di Brankar?"
"Dok,saya tadi datang sendiri."Jawab Dinda lirih.
"Biar saya bantu saja."Kata Toddy dan membantu memapah Dinda ke brankar.
"Dokter Toddy di persilah kan tunggu diluar."Ucap seorang perawat dan dokter Toddy pun mengangguk.
Dokter Nisya pun memulai mengolesi perut Dinda dengan gel yang dingin sembari melihat ke layar monitor.
"Bu Dinda,usia kehamilannya memasuki 8 bulan ya bu,di usia 8 bulan ini ibu akan merasakan munculnya kontraksi palsu, ibu Dinda akan mengalami kesulitan bernapas, sulit tidur, nyeri pada ulu hati, merasa cepat lelah, hingga sering buang air kecil pada malam hari."Jelas dokter Nisya.
"Iya dok,saya sudah merasakan itu semua sekarang."Jawab Dinda.
"Bagaimana ibu Dinda sudah disiapkan semua keperluan untuk persalinannya?"Tanya dokter Nisya.
"In Sya Allah sudah dok semua sudah di siapkan."Jawab Dinda.
"Baik Bu Dinda sedikit saya informasikan untuk tanda-tanda seminggu sebelum melahirkan:
Tanda-tanda seminggu sebelum melahirkan:
Bayi Mulai Masuk ke Panggul.
__ADS_1
Leher Rahim Melebar. Hal lain yang bisa menjadi tanda-tanda seminggu sebelum melahirkan adalah leher rahim yang melebar. ...
Kram dan Nyeri Punggung. ...
Sering Kelelahan dan Banyak Tidur Siang. ...
Diare. ...
Keluar Keputihan yang Banyak dan Berwarna Merah. ...
Ketuban Pecah.
"Segera ibu Dinda untuk merujuk kerumah sakit terdekat dan jangan panik y Bu"Ucap dokter Nisya.
"Baik Bu Dinda sudah selesai pemeriksaan nya.Keadaan anak-anak ibu sehat semua detak jantung juga sehat dan semua sangat aktif.Sus,minta tolong untuk membantu ibu Dinda turun dari brankar ya."
"Baik dok!"Jawab Perawat itu.
Tak lupa Toddy juga membantu Dinda untuk turun dari brankar dan duduk di kursi menghadap ke dokter Nisya.
"Silahkan Bu Dinda mungkin ada yang ingin di tanyakan?"Tanya dokter Nisya.
"Apakah bayi kembar selalu lahir prematur dok?"
"Kebanyakan bayi kembar lahir sebelum usia kehamilan 38 minggu. Namun pada umumnya bayi sudah mampu bertahan di luar kandungan pada usia tersebut. Meski begitu, penanganan khusus tetap diperlukan untuk memastikan kondisi bayi.Disaran kan nanti melahir kan secara sesar"
"Baik dokter saya rasa sudah cukup penjelasannya terimakasih banyak"
"Semoga diberi kemudahan dan kelancaran ya Bu."
"Aamiin terimakasih dokter Nisya"
"Saya antar sampai kedepan ya bu Dinda?"Kata Toddy sembari mau mendorong kursi roda.
"Enggak usah dokter Toddy,saya bisa sendiri."Tolak Dinda.
"Kalau begitu saya pamit."Kata Dinda dan pergi keluar menggunakan kursi roda.
Sampai punggung Dinda menjauh Toddy masih bengong menatapi kepergian Dinda.
"Heh...!"Kata dokter Nisya yang melambai di depan wajah dokter Toddy.
"Aish,"Decih dokter Toddy.
"Kamu kenal kah dengan pasien nona Dinda tadi?"Tanya dokter Nisya dan Toddy mengangguk.
"Who....?"Tanya dokter Nisya penasaran sembari mengacungkan cari telunjuk nya ke dagu.
"Kepo ya .....😄😄😄😄"Jawab dokter Toddy sembari mengolok dan ngibrit pergi.
Dokter Nisya pun hanya menggelengkan kepala mengulas senyum melihat ke pergian rekan kerja nya itu.
Bersambung........
♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️
Hy kakak terimakasih banyak atas dukungannya untuk Dinda,,
Selamat malam,
Balikpapan,09052023
22:46 Wita
__ADS_1