My Momy My Wonderwoman

My Momy My Wonderwoman
Episode 77 # Rujuk


__ADS_3

Pagi hari sudah menyapa kembali,


Seperti biasa sarapan pagi begitu terasa istimewa dirumah Dinda dengan berkumpul nya orang-orang yang disayangi oleh Dinda.


"Momy... Kakak mau nasi goreng sama telur ya."Kata Rey dan Dinda mengambil kan nya.


"Si bontot sama adek mau makan sarapan apa?"Tanya Dinda kepada Ryo dan Ryu.


"Ryo minum susu saja Momy masih kenyang."


"Ryu nasi goreng sama telur,"Jawab Ryu dan Dinda menyendokkan nasi untuk Ryu.


Setelah selesai mengambil kan anak-anak nya sarapan,Dinda duduk di meja makan sambil menyantap nasi goreng nya.


"Good morning......"Sapa Zain yang merentangkan tangan berjalan menghampiri anak-anak nya dan mencium ubun-ubun nya satu persatu.


Zain berjalan mencium punggung tangan kedua mertua nya dan mbok Sumi.


Dan yang melihat Zain aneh langsung menepuk jidat nya.


Ketiga anak-anak Zain pun juga menahan tawa nya ketika melihat Dady nya ber gaya aneh.


"Kesurupan setan dimana kamu mas?"Tanya Dinda sembari mengunyah.


Zain pun menarik bangku kosong yang berada di samping Ryu dan didekat kan nya disamping Dinda.


"Aaaaaaaaaaa......"Zain yang membuka mulut berharap di siapin oleh Dinda.


Dinda pun menatap kearah Zain.


Dan mengambil kan nasi untuk Zain.


"Sudah Dinda ambil kan."Kata Dinda seraya berdiri.


"Assalamualaikum.... "Sapa Ardan yang tiba-tiba datang masuk kedalam rumah dan menghampiri semua orang yang berada di meja makan.


Raut wajah Zain seketika berubah.


"Waalaikum salam."Jawab Dinda yang mengulas senyum nya.


"Dasar... Kutu kupret!Cari perkara nih!"Batin Zain sembari memantau gerak-gerik nya Ardan dan Dinda.


"Nak Ardan!"Sini kita sarapan sama-sama.


Ajak ayah Ali.


"Sialun... Ayah mertua ku ini,malah menyuruh duduk lagi."Batin Zain lagi.


"Iya pak."Jawab Ardan dan duduk di tempat Dinda di samping Zain.


"E....h...... Mau ngapain kamu?"Tanya Zain yang ketus dan menatap Ardan.


"Mau duduk lah masak mau mancing?"Tanya balik Ardan.

__ADS_1


"Mas......"Kata Dinda lirih dan Zain pun terdiam.


Ketiga bocah itu bersama nenek kakek nya dan Mbah uti hanya bisa tertawa kecil melihat kelakuan Zain Dinda dan Ardan.


"Momy... Kakak sudah selesai bersama adek-adek."Seru Rey sang kakak.


"Tunggu didepan dulu ya bersama kakek nenek dan Mbah uti."Jawab Dinda dan ketiga bocah itu mengangguk.


Selepas anak-anak itu pergi,


"Ayo Dinda saya antar."Seru Ardan yang berdiri dari tempat duduk nya.


"Mmmm......"Dinda yang bingung harus berkata apa.


Dengan gercep Zain pun menarik tangan Dinda dengan kasar.


"Hey...."Pekik Ardan dengan sorot mata tajam kepada Zain.


" Tuan Ardan Yudha Wiratama.Berapa kali saya harus bilang kepada anda?Kalau Dinda adalah istri saya.Dia juga adalah ibu dari anak-anak saya.Jadi jauhi dia."Ucap Zain dengan menunjuk dada bidang Ardan dan menekan kalimat akhir nya.


Ardan pun menepis jari telunjuk Zain yang menunjuk dada bidang nya.


"Zain Abigail Abraham,saat ini perusahaan kamu sedang tidak baik-baik saja.Kalau kamu main-main dengan ku,jangan harap kamu akan mendapatkan proyek pengelolaan dari perusahaan ku!"Ardan yang mengancam.


"Cuih,aku enggak pernah takut!"Jawab Zain sembari mengeratkan dasi dan pergi menarik tangan Dinda.


Ardan hanya bisa meninju angin.


"Selamat pagi Bu Dinda..."Sapa salah satu karyawan nya yaitu Sinta.


"Pagi Sinta."Jawab Dinda yang mengulas senyum nya.


Sinta lekas mendekat ke arah Dinda dan berbisik ditelinga nya ketika melihat Zain.


Dinda pun mengulas senyum kepada Sinta dan Zain hanya berdiri sembari menelisik kanan-kiri melihati ruang restourant.


"Jadi bagaimana Bu?"Tanya Sinta.


"Ihh... Kepo ya????"Goda Dinda kepada Sinta.


"Ahh,,,ibu...??"Jawab Sinta yang mengerucutkan bibir nya kedepan.


"Itu suami ku!"Jawab Singkat Dinda jelas dan padat sembari berjalan menuju ruangan kerja yang diikuti oleh Zain dari belakang.


"Wahhhhhh......??"Kata Sinta dengan mulut terbuka nya.


"Kenapa mbak Sinta?"Tanya karyawan Dinda kepada Sinta.


"Ida! Kamu tau enggak?Yang berjalan sama Bu Dinda itu ternyata suaminya."Celoteh Sinta.


"Ha....??Ah mbak Sinta jangan asal bicara deh.Nanti jadi fitnah."Kata Ida yang menasehati.


"Aduhhh.... Ida,,Bu Dinda sendiri yang bilang.Lagian nih,Bu Dinda tidak asal bawa masuk orang ke ruang kerja nya.Kalau bertemu dengan clien maupun tuan Ardan pasti di lobby."Balas Sinta yang ngeyel nya gak mau kalah.

__ADS_1


"Terus Tuan Ardan bagaimana dong?"Tanya Ida sembari telunjuk jari di dagu dan berpikir.


Sinta dan Ida saling menatap.


"Patah hati dong 💔,,hiks... hiks..."Seru keduanya bersamaan.


Didalam ruangan kerja Dinda,


Zain tanpa basa-basi langsung duduk di kursi kebesaran Dinda.


Dinda hanya berdecih dan mendengus kesal.


Setelah menaruh tas tenteng di meja nya,


dia duduk sambil melipat kedua tangan di dada dan menyandar kan punggung nya di kursi.


"Kapan mas Zain kembali lagi ke kota metropolitan?"Tanya Dinda dengan tatapan tajamnya.


Zain yang mendengar ucapan Dinda,bergegas berdiri memutari meja dan duduk diatas meja menatap wajah Dinda dengan Intens sambil tangan nya memegang dagu Dinda.


"Ambisi sekali kamu mengusir suami kamu sendiri hah?Apa karena kamu dan Ardan ingin menjalankan visi misi Momy-papi?Hah?"Jawab Zain dan Dinda pun menyingkirkan tangan Zain.


Dinda lebih memilih diam dan berdiri dari kursi nya.


Zain yang merasa kesal karena Dinda hanya memilih diam,akhir nya berulah.


Dia mengangkat tubuh Dinda diatas meja.


Lalu Zain mendekat kan wajah nya menatap intens Dinda.


Dinda yang hati nya mulai jedag jedug langsung menunduk kan pandangan nya.


"Mas... Tolong ,enggak enak dilihat sama karyawan ku."Ucap Dinda sembari mendorong dada Zain sedikit mundur.


"Aku suami kamu dan aku berhak atas kamu."Elak Zain.


"Iya mas.Kamu suami aku,tapi selama tujuh tahun kamu tidak menafkahi ku itu tandanya sudah jatuh talak."


"Bagaimana aku bisa memberi mu nafkah kalau kamu saja pergi meninggalkan ku."Balas Zain yang tidak mau mengalah.


"Ok.Kalau aku tidak bisa mencium kamu menyentuh kamu saat ini.Akan kupaksa kamu untuk menikah ulang biar sah pernikahan kita."Sahut Zain lagi.


"Enak betul,siapa juga yang mau rujuk dengan mu."Jawab Dinda dengan nada sombong nya.


Zain menatap Dinda sembari mengangkat dagu Dinda.


"Akan kupastikan kamu tidak akan pernah bertemu dengan anak-anak mu."


Setelah mengancam Dinda,Zain pun berjalan keluar dari ruangan Dinda.


Bersambung.....


♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️

__ADS_1


__ADS_2