My Momy My Wonderwoman

My Momy My Wonderwoman
Episode 84 # Menemui Ardan


__ADS_3

Sebelum Dinda pergi menuju ke restaurant seperti hari-hari biasa nya,dia mencoba untuk menemui Ardan.


Dia mencoba untuk melobby dan menego kepada Ardan agar mau memberi keringanan kepada Zain.


Beruntung sekali Zain tidak mengantar nya ke restaurant hari ini.


Tok... Tok...


"Masuk..... "Jawab seorang laki-laki dari balik pintu.


Ceklek,


Skretaris itu pun membuka pintu ruangan.


"Maaf mengganggu,tuan Ardan ada yang ingin bertemu dengan tuan."Jawab skretaris itu.


"Siapa....?"Tanya Ardan yang fokus membaca file dilembaran kertas.


"Ibu Dinda..."Jawab skretaris itu.


Ardan yang tadi nya fokus dengan lembaran-lembaran file bersama tamu nya diruang kerja kini mereka saling bertatap muka setelah mendengar nama yang tidak asing ditelinga Ardan bersama cliennya.


Ardan tersenyum smirk sembari menatap wajah client nya yang berada di depan nya.


"Suruh masuk saja..."Sahut Ardan.


Tap... Tap... Tap...


Suara sepatu high heels terdengar begitu sahdu.


"Selamat pagi ..."Sapa Dinda yang berdiri di belakang punggung client Ardan.


Ardan mendongak kan kepala dan client Ardan memutar kursi dan menoleh ke arah belakang sumber suara.


Dinda sangat terkejut ketika melihat client Ardan.


Mata nya yang terbelalak dan mulut nya yang terbuka sembari ditutup telapak tangan nya.


"Mas.....?"Kata Dinda yang kaget dan Zain berdiri dari kursinya.


Prok... Prok...👏


Ardan yang bertepuk tangan beranjak dari kursi dan tersenyum melihat Dinda dan Zain datang ke kantor Ardan.


"Ha.... Ha...Ha.... ". Ardan yang tertawa ngakak.


Zain dan Dinda hanya terdiam melihat gelak tawa Ardan.


"Couple yang so sweeat.."Tambah Ardan.


"Zain... Zain... Nyali kamu ternyata sangat ciut.Kamu melibat kan istri mu untuk mengemis kepadaku agar bisa meringankan tuntutan mu?Hah,"Kata Ardan dengan sombong.


Zain sudah mengepalkan tangan nya dan berniat untuk menonjok Ardan,namun Zain mencoba memilih untuk menahan emosi dan pergi ke luar dari ruangan Ardan dengan tatapan amarah menatap Dinda dan Ardan.


"Mas....?"

__ADS_1


"Mas....?"Panggil Dinda namun Zain tetap ngibrit meninggalkan nya.


Tatapan Dinda kembali beralih menatap Ardan.


"Apa yang aku lakukan adalah bentuk dari perjuangan ku,dukungan ku untuk suamiku.Masa bodoh atas tentang penilaian mu.Yang perlu kamu tahu,suamiku Zain Abigail Abraham tidak pernah menyuruhku untuk mengemis belas kasihan kepada mu."Ucap Dinda dengan tatapan menghunus tajam ke arah Ardan dan berlalu pergi meninggalkan ruangan Ardan.


Dinda berjalan berusaha mengejar Zain suaminya yang menuju ketempat parkir.


Dinda tidak mendapati mobil Zain di tempat parkir.Dinda mencoba menghubungi nya namun handphone Zain tidak bisa di hubungi.


Dinda menyalakan mesin mobilnya dan menjalankan ke arah rumah nya.


30 menit kemudian Dinda sampai di pelataran rumah dan melihat mobil Zain yang sudah terparkir dihalaman.


Dinda bergegas membuka safety belt dan turun dari mobil.


Dia menapaki kaki nya menuju kedalam rumah,


Dia melihat Zain suami nya yang tengah asik bermain dengan ketiga anak nya yang baru saja pulang dari sekolah.


"Momy.... "Seru Ryo yang melihat Momy nya berdiri di belakang punggung Zain.


Zain menoleh ke arah belakang dan melihat Dinda mengulas senyum nya.Zain hanya menatap Dinda dengan datar.


"Sayang... Dady naik ke atas dulu ya."Ucap Zain dan mencium puncak kepala ketiga anak-anak nya tanpa menatap Dinda.


Dinda merasa kalau Zain sedang marah pada nya.


"Sayang... Sudah makan belum kalian?"Tanya Dinda.


"Terimakasih ya mbok."Kata Dinda kepada mbok Sumi.


"Makan dulu ya sama Mbah Sumi,Momy mau ke atas dulu."Kata Dinda kepada ketiga anak-anak nya.


"Siap Momy!"Jawab ketiga anak Dinda yang kompak.


"Pintar..... "Ucap Dinda sembari mengacak rambut Rey... Ryo... Ryu dan berjalan menuju ke lantai dua.


Pelan-pelan Dinda menaiki anakan tangga menuju kamar nya.


Ceklek....


Dinda membuka pintu kamar dan menutup kembali.


Dia berjalan menghampiri Zain yang berdiri di balkon sembari memegang besi pembatas balkon.


"Mas...."Panggil Dinda dan Zain menoleh kearah Dinda dengan wajah datar nya.


"Kamu marah sama aku mas sampai kamu mendiam kan aku begini?"Tanya Dinda.


"Kamu senang melihat suami kamu diinjak-injak harga dirinya seperti tadi,hah?Puas kamu kan"Jawab Zain yang membentak Dinda.


"Mas!Aku hanya mencoba untuk membantu kamu untuk meringan kan beban kamu."Balas Dinda dengan nada tinggi.


"Apa itu salah?"Pekik Dinda.

__ADS_1


"Salah!Itu salah,sudah berapa kali aku bilang sama kamu.Kamu jangan khawatir dengan masalah ku.Kamu fokus saja mengurus anak-anak dan aku.Aku hanya butuh suport kamu,bukan ikut campur tangan kamu."


"Paham!"Bentak Zain dengan keras suara nya menggelegar sampai terdengar dari bawah balkon oleh ibu Dinda dan mbok Sumi bersama ketiga anak-anak Dinda.


"Nenek... Nenek... Itu suara Dady dari atas ya?Dady sama Momy apa bertengkar ya nek?Rey jadi takut."Kata Rey yang sambil mengunyah makanan.


Ibu Ali dan mbok Sumi saling bertatap muka mengkode-kode.


"Kita makan nya pindah ke dalam ya."Jawab ibu Ali yang mengalihkan pembicaraannya.


"Ayo mbak.. "Ajak mbok Sumi kepada ibu Ali dan menggandeng ketiga cucu nya.


Kembali ke balkon...


"Mas tidak habis pikir kamu mendatangi dia tanpa izin dari mas tanpa sepengetahuan dari mas.Ingat Dinda,kamu itu istri mas.Kemanapun kamu pergi kamu wajib bilang sama mas."Omel Zain yang marah-marah kesal.


"Dinda minta maaf mas soal Dinda yang tidak berpamitan kepada kamu mas,Dinda mengaku salah.Tapi Dinda melakukan ini semua demi kamu mas."


"Enggak perlu!"Bentak Zain dan meraih pot yang menggantung di dinding dan dibanting nya.


Dinda yang terkejut sempat mengangkat kedua tangan nya untuk melindungi diri nya.


Zain benar-benar marah dan kesetanan.


Bugh... Bugh...


Dia menonjok kan tangan ke dinding.


"Mas....."Seru Dinda dan memeluk Zain dari belakang sembari menangis.


"Maaf mas.. Dinda minta maaf.."Sesal Dinda yang memeluk Zain dan menahan nya yang akan menonjok dinding lagi.


"Jangan mas...."


"Biar kamu puas..."Ucap Zain yang mau meninju dinding lagi.


Dinda pun memutar tubuh Zain dengan kasar lalu mendorong nya di dinding.


Mengecup bibir Zain dengan brutal.Zain berusaha membungkam mulut nya agar Dinda tidak leluasa memainkan lidah nya ke mulut nya.


Dinda tidak mudah menyerah,


Hingga akhir nya Zain di buat Dinda menikmati tautan bibir nya.


"Nakal..."Zain yang melepas tautan bibir nya.


Zain menggendong Dinda ala baby koala tanpa melepas kan tautan bibir nya menuju ke ranjang.


Entahlah.... Siang hari yang tadi nya emosi sangat memuncak kini berubah menjadi peluh keringat dalam balutan Cinta.


Salah satu tak tik jitu Dinda dalam melemahkan amarah Zain.


Bersambung.......


♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️

__ADS_1


__ADS_2