My Momy My Wonderwoman

My Momy My Wonderwoman
Episode 64 # Prahara rumah tangga dengan madu


__ADS_3

Obat paling ampuh saat letih dan saat pulang kerja itu adalah bertemu dengan anak.Apalagi anak-anak yang menggemaskan seperti baby Rey... Ryo... Ryu!


Ketiga jagoan dari Zain dan Dinda.


Ya... Saat ini Zain sedang sibuk bermain dengan ketiga jagoan nya di kamar Dinda.


Sementara Dinda sedang membersihkan dapur bersama mbok Sumi.


"Uuh.... Panas sekali."Kata Sania yang mengawali pembicaraan nya dan mengipas-ngipas kan tangan nya dekat dengan wajah nya.


Mbok Sumi dan Dinda pun tak menghiraukan nya.


"Dinda!Tolong dong,buat kan aku jus mangga!"Suruh Sania sembari duduk di meja makan.


"Iya sebentar ya,nanti aku buat kan.Aku lihat anak-anak ku dulu."Kata Dinda.


"Eits... Eits enggak mau aku nanti-nanti.Sekarang aku mau nya!"Ucap Sania kepada Dinda.


Dinda pun menarik nafas nya dengan sabar.


"Ya."Ucap Dinda sembari berjalan menuju ke arah kulkas.


"Dinda.... Sayang.... Baby Ryu nangis ini."Teriak Zain yang membuka pintu kamar Dinda.


"Iya mas... Tunggu sebentar."Sahut Dinda sembari mengusap mangga.


"Cepat dong sayang!Sudah Menangis ini."Teriak Zain lagi.


Dinda pun hendak beranjak pergi dari dapur namun tangannya sudah di tarik oleh Sania.


"Buat kan jus mangga sekarang!"Kata Sania yang ketus sembari mencekal tangan Dinda kuat-kuat.


"Aww...... "Rintih Dinda sembari menatap Sania.


"Jus.. Jus...!"Kata mbok Sumi kesal sambil mukul lengan Sania dengan tangan nya.


Akhir nya Sania melepaskan genggaman tangan Dinda.


"Nih jus!"Kata mbok Sumi memberikan kepada Sania dengan ketus.


"Non,masuk sudah!Den Zain dari sudah memanggil.Biar mbok urus Mak lampir satu ini!"Kata mbok Sumi kesal yang menatap Sania dengan tatapan sinis.


"Ya,mbok!"Jawab Dinda yang beranjak pergi sembari memegangi pergelangan tangan nya.


"Heh,Sumi!Awas ya jangan ikut campur!"Ancam Sania dengan mengacak pinggang nya.


"Heh,Mak lampir!Seharus nya yang jangan ikut campur itu kamu.Ingat loh,kamu sedang hamil besar.Jaga ucapan dan jaga sikap!Hukum karma itu ada!"Sahut mbok Sumi yang tak mau mengalah.


"Heh,"Kata Sania dengan senyum smirk.


"Karma?....Karma, is not real!"Jawab Sania dengan membelalakkan mata ke arah mboh Sumi.


"Aduh.... Ndok... Amit-amit jabang bayi.Kasian bayi mu ndok."Seru mbok Sumi menyindir sembari mengusap perut Sania dan menggendikan kedua bahu nya.


"Apa an sih!"Sania yang ketus menepis tangan mbok Sumi dan melangkah kan pergi meninggal kan mbok Sumi yang berdiri sendiri.


"Astagfirullah hal adzim.... Jan Tobat,semoga diberikan kesadaran."Ucap mbok Sumi sembari menggelengkan kepalanya dan mengelus dada.


...****************...


Dinda pun meraih Ryu dari gendongan Zain dan mendudukan bokong nya di Sofa.

__ADS_1


Zain pun ikut terduduk disamping Dinda,Zain penasaran ketika Dinda mau membuka kancing baju bagian atas nya sembari mata nya yang tak berkedip ketika Dinda mau mengeluarkan sesuatu dari balik baju itu.


"Ish,apa sih mas?"Kata Dinda yang ketus dan membelakangi Zain


"Mas kan cuman lihat Ryu *****,kenapa enggak boleh?"Goda Zain dengan mata genit nya.


"Tolong di kondisikan mata nya mas ya.!"Sahut Dinda sembari menutupi baby Ryu yang asik mimik asi.


"CK,"Zain berdecih.


"Puasa mas ya!"Tbah Dinda lagi.


"Mas enggak bisa menahan!"Jawab Zain jujur.


Dinda hanya diam membelakangi suami nya dengan sambil menyusui baby Ryu.


Dilihat nya baby Ryu sudah kenyang perut nya dan tertidur pulas,Dinda pun menidur kan nya di baby box bersamaan dengan saudara-saudara nya yang lain.


Srekkkkkk


Dengan gercep Zain menarik tubuh Dinda ke sofa.


Hingga memposisikan tubuh Dinda berada dibawah Kungkungan tubuh Zain.


Tersenyum smirk Zain.


"Cantik....!"Puji Zain.


"Enggak usah menggombal mas,"Sahut Dinda ketus.


"Serius!"Jawab Zain sembari menutup kan angin dikelopak mata Dinda.


"Fewwwwww"


"Setidak nya berikan kecupan hangat untuk mas."Kata Zain dengan mengulas senyum nya.


"No...!"


CUP....


CUP....


"Jangan pernah menolak nya."Bisik Zain di telinga Dinda.


Kedua tangan yang tadi nya berusaha mencoba menyanggah dada bidang suaminya kini berpindah haluan dan lebih memilih mengalungkan kedua tangan nya di leher sang suami.


Cup....


Dinda yang ikut membalas kecupan suami nya Zain.


Manusiawi.....


Bagaimana pun juga Dinda adalah perempuan yang normal.


Dia juga menginginkan hal yang dimanjakan oleh suaminya.


Masih dalam Kungkungan suami dan mengalungkan tangan dileher suaminya.


Mereka saling menikmati kecupan bibir itu.


Cup....😘

__ADS_1


Cup....😘


Suara nya begitu terdengar,


Hingga.....


Ceklek.....!!!!!


"Zain...!"Teriak Sania.


Zain dan Dinda pun beringsut terkejut dan terduduk.


"Jadi seperti ini cara mu menggoda Zain?"Pekik Sania kepada Dinda.


Dinda pun beranjak berdiri dan menghampiri Sania.


"Menggoda...?Hah,"Ulang Dinda sembari melipatkan kedua tangannya di dada.


"Dia suami ku juga!Mau aku menggoda dia mau aku bercinta dengan dia apa masalah nya?"Timpal Dinda dengan berani.


"Yang penting!Aku bukan penggoda laki nya orang"Tambah Dinda sembari menatap Sania.


"Sudah... Sudah .. Stop it.. Sania tolong kamu keluar dari kamar Dinda,aku enggak mau anak-anak ku terbangun karena mendengar nada suara mu yang cempreng itu!"Usir Zain kepada Sania.


"Enggak!"Jawab Sania.


"Sania!"Bentak Zain.


"Ok,kamu juga harus keluar dari kamar Dinda.Aku juga isteri mu Zain.Kamu juga harus adil dengan ku paham!"Jawab Sania.


Zain pun membelalakkan kedua mata nya menatap Sania.


"Mas... Tolong,kamu keluar bersama istri mu ini.Jangan bikin keributan di kamar ini.Anak-anakku sedang tidur."Kata Dinda yang mendorong Zain dan Sania ke arah pintu keluar.


"Dinda!Mas juga ingin tidur disini."


"Bawa istri mu pergi mas,"Seru Dinda yang mendorong sampai Zain dan Sania berada di pintu keluar.


Brakkkkkk


Dinda yang membanting pintu.


Dinda menyandarkan punggungnya di balik pintu sembari mengusap mata nya yang mulai berkaca-kaca.


Dia pun mendongak kan kepala nya ke atas.


"Hiks.... "


"Mau sampai kapan hidup ku seperti ini terus?Aku capek.... "Keluh-kesah Dinda.


Dindapun mendudukan dirinya dilantai.Menahan tangis nya yang terisak-isak.


Kedua tangan nya memeluk meringkuk kedua lutut kakinya.


"Hiks... Hiks... Hiks..."


"Apa aku harus pergi dari rumah ini?"Dinda yang bermonolog.


"Jujur aku enggak sanggup untuk menjalani hidup seperti ini.Seperti nya aku harus pergi jauh dari kota ini.Agar mas Zain tidak bisa semena-mena mengancam ku lagi dan menjauh kan ku dari ke tiga anak-anak ku."Gumam Dinda.


Bersambung.....

__ADS_1


♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️


__ADS_2