My Momy My Wonderwoman

My Momy My Wonderwoman
Episode 31 # Curhat nya sang mantan


__ADS_3

Zain masih penasaran tentang apa yang terjadi dengan Sania.


Sehingga dia terlihat gelisah mondar-mandir di ruangan tunggu instalasi gawat darurat.


Zain yang mondar-mandir khawatir itu ternyata sedang dalam pemantauan Dinda yang duduk di kursi roda di balik lorong rumah sakit.


Awalnya Dinda merasa bosan dikamar nya,lalu dia memutuskan untuk menyusul Zain yang mau menebus resep dari dokter.


Asisten Ferdy pun datang menghampirinya.


"Tuan muda,"Sapa asisten Ferdy ke pada Zain.


"Bagaimana asisten Ferdy?"Tanya Zain yang penasaran.


"Sania menjadi korban KDRT tuan oleh suaminya sendiri yaitu Luis.Karena Sania menggugat cerai Luis.Saat ini Luis sudah di amankan di kantor kepolisian."Jawab asisten Ferdy.


"Bagus."Kata Zain dengan tangan yang mengepal nya.


"Baiklah asisten Ferdy saya rasa sudah cukup.Asisten Ferdy bisa kembali ke kantor."Titah Zain.


"Baik Tuan!"Jawab asisten Ferdy dan melenggang pergi.


Pintu ruangan Instalasi gawat darurat itu pun sudah di buka.Dokter umum yang menangani Sania pun menghampiri Zain.


"Dengan keluarga pasien?"Tanya dokter itu.


"Iya dok."


"Saya temannya dok.Keluarganya berhalangan hadir."Jawab Zain dan dokter umum itu pun menganggukan kepala.


"Jadi bagaimana dok dengan keadaan pasien?"Tanya Zain dengan panik.


"Keadaan nya sudah membaik.Luka-luka memarnya sudah membaik.Besok lusa dia sudah bisa pulang."Jawab dokter itu.


"Ok dok.Terimakasih,lakukan pengobatan yang terbaik untuk pasien.Semua biaya saya yang menanggung."Pesan Zain.


"Baik.Kalau begitu saya pamit."


Setelah dokter umum itu meninggalkan ruangan,Zain membuka pintu dan menjenguk Sania yang terlihat sudah sadar dari pingsannya.


"Zain...."Kata Sania lirih yang melihat Zain berdiri di dekat brankar.


"Bagaimana keadaan kamu?Dan apa yang terjadi?"Tanya Zain sembari menarik kursi yang berada tidak jauh dari Zain berdiri.


Sania pun mulai mengeluarkan air matanya.


Dan dia belum bisa menjawab pertanyaan dari Zain


"Luis... ??"Tanya Zain.


Sania pun mengangguk.


Sebenarnya Zain sudah tau tentang apa yang dialami oleh Sania.Hanya saja dia mencoba untuk memastikannya.


"Kenapa Sania?"Tanya Zain lirih kepada Sania.


"Aku meminta cerai dari dia Zain."Jawab Sania.


Zain pun mengkerutkan keningnya.


"Luis sudah berubah.Dia berubah menjadi brutal.Karena kematian anak kami.Dia menuduhku,menghujat ku memukuli ku sebagai ibu yang tidak bertanggung jawab.Karena kelalaian ku anak kamu meninggal."Cerita Sania.


"Hiks.. Hiks... Hiks..."Sania yang menangis sesenggukan.


"Turut berbela sungkawa atas meninggalnya anakmu Sania."Ucap Zain.


Sania pun memeluk Zain dengan erat.


Dinda yang saat itu sembunyi di balik dikoridor,harus menelan pahitnya saat melihat Zain sedang di peluk erat oleh perempuan yang sudah di kenalnya.

__ADS_1


Sania..


Masa lalu Zain yang kini kembali hadir di tengah-tengah kebahagiaan Dinda.


Dinda mengusap mata nya yang mulai berkaca-kaca.


Diapun kembali mendorong kursi roda nya kembali menuju ruang rawat nya dengan kecewa.


"Hiks... Hiks... Hiks..."


Zainpun melepas pelukan Sania.


Sania pun membatin ternyata Zain masih perduli dengan dirinya.


"Zain,aku minta maaf sama kamu Zain."


"Tentang semua yang sudah ku lakukan padamu."


"Aku sudah memaafkan mu Sania."Jawab Zain.


"Apa kamu masih mau berteman dengan ku Zain?"Tanya Sania.


"Its Ok,"Jawab Zain.


"Kamu istirahat ya."Ucap Zain.


Sania pun mengangguk.


Zain meninggalkan ruangan Sania setelah Zain memberikan nomor phonsel miliknya.


"Step.. By step,aku pasti akan meluluhkan hatimu kembali my honney..""Batin Sania sembari mengusap kasar air matanya.


Sania berhasil menjual cerita sedih nya kepada Zain.


Agar dapat menarik perhatian Zain kembali dan juga menarik cinta Zain kembali


Zain pun kembali ke ruangan rawat Dinda.


"Dari mana mas...?"Tanya Dinda dengan raut wajah datar nya.


"Habis Nebus obat dari apotek."Jawab Zain sembari menaruh obat Dinda di meja nakas.


Zain pun melirik Dinda yang membuang muka kepadanya.


Dan bersikap dingin.


Zain pun mengambil kesimpulan kalau Dinda sedang marah dengan nya.


Zain yang terduduk di atas kursi disamping brankar,kini memindah tubuhnya untuk duduk menyamping di pinggiran brankar menghadap Dinda yang memalingkan raut wajah nya.


Huwek... Huwek... Huwek...


Dinda mual sembari menutup hidung ketika Zain mau mencium pipi nya.


"Kenapa Dinda?"Tanya Zain yang panik melihat Dinda mual seakan mau muntah.


"Kamu bau mas.Dinda enggak tahan tolong jauh-jauh."Jawab Dinda sembari mendorong tubuh Zain pelan.


"Bau apanya?Mas sudah mandi loh,"Jawab Zain sembari mengangkat kedua tangannya dan mengendus-ngendus area tubuhnya.


"Mas juga sudah pakai parfum!"Tambah Zain lagi.


"Parfum yang mana mas?"Tanya Dinda lagi sembari menatap wajah suaminya.


"Parfum yang biasa mas pakai."Jawab Zain.


"Parfum yang mas biasa pakai bukan bau nya seperti ini.Ini seperti parfum perempuan."Kata Dinda tegas.


"Mas habis memeluk siapa?"Tanya Dinda kepada Zain yang sedikit menyelidik.

__ADS_1


Deg....


"Hah,??"Zain yang ter kaget dan terdiam.


"Kenapa diam mas?"Tanya Dinda.


"Ah,jangan asal bicara."Jawab Zain yang terlihat nervous.


"Dinda tau mas bohong."Jawab Dinda sembari memposisikan tubuhnya miring di brankar dan menarik selimutnya membelakangi Zain.


"Kamu jahat mas sama Dinda."Batin Dinda.


Tak berapa lama kemudian dering phonsel Zain berbunyi,Zain menjawab panggilan telfon itu sedikit menjauh dari Dinda.


Entah kenapa,


Panggilan telfon itu membuat Dinda menjadi kepo.


Setelah Zain selesai menerima panggilan itu tanpa berpamitan dengan Dinda,Zain bergegas pergi.


Dinda yang sedari tadi memperhatikan gelagat suaminya itu bergegas menaiki kursi roda dan mendorong nya ke ruang Instalasi gawat darurat.


Ruangan itu,ruangan dimana dia melihat suaminya sedang dipeluk mesra oleh mantan kekasihnya.


Feeling Dinda sangat tajam kalau mereka akan bertemu disana.


Dan rasa penasaran Dinda sudah terjawab.Dia melihat Zain suaminya berada di ruangan Instalasi gawat darurat itu dengan Sania.


Kebetulan pintu ruangan itu terbuka dengan lebar.


Dua orang perawat sedang membantu Sania memapah ke kursi roda,sedangkan Zain terkesiap terjaga untuk mendorong kursi rodanya.


Dinda pun memutar kursi rodanya dan bermaksud untuk menjauh dari pemandangan sepasang mantan kekasih itu.


Mata nya mulai berkaca-kaca dia tahan agar tidak jatuh membasahi pipinya.


Hingga dia bertemu dengan Toddy di koridor menuju ruang administrasi.


"Dinda...?"Sapa Toddy.


Dinda bergegas menghapus air mata nya yang nampak tertahan di manik-manik matanya.


"Toddy,"Dinda menyapa balik dengan mengulas senyumnya.


"Kamu mau kemana?"Tanya Toddy yang berlutut menyamakan posisi nya dengan Dinda.


"Ak.. Aku.. Mmmm Toddy,kamu mau pulang hari ini.Apa kamu bisa membantu ku untuk keluar dari rumah sakit ini?"Tanya Dinda kepada Toddy.


"Pulang...??Dinda,jadwal kamu pulang kerumah itu besok lusa.Saat ini kamu sedang dalam masa observasi.Kamu baru saja mengalami pendarahan."Jelas Toddy kepada Dinda.


"Please,Toddy... Tolong aku.Aku butuh bantuan dari kamu."Pinta Dinda dengan raut wajah nya yang memelas kepada Toddy.


Toddy pun terdiam sejenak.


♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️


Hallo man.. teman.. Jangan lupa ya like & koment nya untuk Dinda agar lebih semangat lagi dalam menjalani kehidupan rumah tangganya dengan Zain☺️.


Ku juga menunggu bunga-bunga nya


🌹🌹🌹🌹🌹🌹 yang banyak ya... Biar bermekaran di kebun Dinda.


Sambil menunggu Up ceritanya jangan lupa baca juga cerita Author yang lain🥹


TM3 dan Valentain Terakhir.


Makacih... Cayank kalian semua Muach..


😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2