
Zain nampak terpukul sekali atas meninggalnya Opa Leo.
Opa Leo adalah orang yang berjasa dalam hidup nya.
Setelah pulang dari pemakaman Opa Leo, nampak Zain yang begitu sedih dan memasuki ke dalam kamarnya.
Dinda pun mencoba untuk menenangkan hati suaminya.
Didalam kamar,
"Mas....."Kata Dinda lirih kepada Zain yang berdiri di depan jendela dekat dengan Zain.
Zain hanya diam,
"Mas... Kamu belum makan loh dari kemarin.Mas makan dulu yuk."Kata Dinda.
Zain tak menjawab dan diam.
"Mas...."Panggil Dinda.
"Dinda tau mas sedih atas meninggal nya Opa.Itu sudah menjadi takdir mas,kita enggak boleh terus-terusan seperti ini mas."
"Diam!!"Bentak Zain dan menatap kearah Dinda dengan sorotan tatapan mata tajam.
"Semua ini gara-gara kamu.Seandainya kamu tidak bilang sama Opa,pastinya tidak akan terjadi hal seperti ini ."
"Astagfirullah hal adzim mas,berapa kali aku harus bilang sama kamu mas?Aku tidak pernah bilang sama Opa mas!"Jawab Dinda.
"Keluar kamu dari sini.."Kata Zain sembari menunjuk pintu keluar.
"Keluar...."Teriak Zain kepada Dinda dan Dindapun mulai berkaca-kaca dan pergi keluar dari kamar.
"Arkghhhhggghhhhh"Teriak Zain dan menghambur seluruh isi kamar.
"Hiks... Hiks... Hiks...."
Sementara itu,
diruang tamu...
"Kamu kenapa nak?"Tanya Bu Ali dengan raut wajah nya yang cemas.
"Bu,mas Zain masih marah dengan Dinda.Dia masih saja menuduh Dinda,bahwa Dinda lah yang menjadi penyebab Opa Leo meninggal."Cerita Dinda dan menangis dipelukan ibu Ali.
"Sabar ya nak,suami mu saat ini sedang dalam keadaan berduka di......"
"Hanny......"Teriak Sania yang tiba-tiba datang.
Dinda yang tadi nya sedang dalam pelukan ibu nya kini berdiri menghampiri Sania.
"Untuk apa kamu datang kesini?"Kata Dinda dengan raut wajah kesal nya.
"Mau mencari calon suami ku.."Jawab Sania sinis.
"Karena didalam perutku ini ada anaknya Zain!"Tambah nya.
"Dasar perempuan tidak tau diri!"Umpat ibu Ali yang geram melihat keberadaan Sania.
Braakkkkkkk
Semua pandangan orang tertuju ke arah koper yang dibuang oleh Zain.
"Mas....?"Tanya Dinda yang terkejut dan menghampiri Zain.
"Mas,ini semua baju-baju aku mas.Kenapa kamu menaruh di dalam koper itu?"Tanya Dinda yang berkaca-kaca.
"Silahkan pergi dari rumah ini!"Kata Zain kepada Dinda.
"Nak Zain!"Pekik Ayah Ali dan menghampiri Zain.
"Tolong ayah juga angkat kaki dari rumah ini."
"Benar-benar jahat kamu Zain.Apa kamu tidak melihat Dinda saat ini sedang hamil besar mengandung anak kamu?Sebentar lagi dia mau melahirkan Zain.Sampai hati kamu mengusir dia tanpa ada kesalahan yang dia perbuat?"Ucap ayah Ali dengan geram.
"Sudah lah ayah!Bukan kah ayah sudah tau Dinda lah sumber penyebab dari Opa Zain meninggal!"
"Sekarang pergi... Pergi.."Kata Zain yang mengusir keluarga Dinda.
"Ayah... Mari kita pergi dari sini,suami Dinda sudah tidak waras lagi dia sudah dimabukan oleh cinta dari perempuan murahan itu.Sampai-sampai akal dan logikanya sudah tidak ada lagi."Kata Dinda sembari menggandeng ayah nya menjauh dari Zain.
"Non Dinda,mbok Sumi ikut...."Panggil mbok Sumi dan Dinda menoleh.
"Mbok!"Pekik Zain.
"Maaf Den,mbok mau ikut nona Dinda."Jawab mbok Sumi.
"Mbok!Kalau mbok ikut mereka,mbok tidak akan mendapat gaji!"Kata Zain ke mbok Sumi dengan menekan kalimat akhirnya.
"Enggak apa-apa den,mbok lebih baik ikut mereka.Hiks... "Ucap mbok Sumi.
"Ayo nak kita harus pergi dari sini."Ucap ibu Ali sembari memapah Dinda.
"Pergi kalian semua... Jangan harap kalian kembali lagi kesini.Arkhhhh...."Teriak Zain sembari menendang salah satu koper milik Dinda sampai ke luar pintu.
"Astagfirullah hal adzim mas... Semoga Allah membuka kan mata hatimu yang tertutup."
"Dan kamu.... Ingat,hukum tabur tuai tidak akan salah alamat."Ucap Dinda kepada Sania.
Dinda dengan kedua orangtua nya bersama mbok Sumi keluar dari rumah Opa Leo.
"Mbok... Maaf,apa mbok yakin ingin ikut Dinda mbok?Jujur Dinda tidak punya apa-apa untuk menggaji mbok Sumi."Kata Dinda sembari menunduk.
"Iya mbak Sumi,tolong dipikir kan dulu keputusan mbak Sumi.Mumpung masih di sini"Tambah ibu Ali.
Mbok Sumi pun mengulas senyum nya.
"Mbok enggak digaji enggak apa-apa non,selain mbok enggak punya siapa-siapa lagi di dunia ini,mbok sudah berjanji sama Opa Leo."Jawab mbok Sumi dan Dinda pun mendongak kan kepala yang sempat tertunduk.
"Berjanji apa mbok?"Tanya Dinda penasaran bersamaan kedua orang tua Dinda.
"Tuan besar bilang ke saya.Sumi... Titip Dinda dan cicit-cicit ku Sumi.Apa pun yang terjadi,jangan kamu tinggal kan mereka."Kata mbok Sumi yang mengikuti khas bicara Opa Leo.
__ADS_1
"Opa....???Hiks.... Hiks..."Kata Dinda sesenggukan yang teringat dengan Opa Leo.
"Ya sudah nak,ayo kita pergi dari rumah ini.Seperti nya mau hujan."Seru Ayah Ali sambil melihati langit-langit yang mulai mendung.
Dinda dengan kedua orang tuanya bersama mbok Sumi pun mulai keluar dari pelataran rumah Opa Leo.
Tak lama rintik-rintik hujan mulai turun.
Dan tiba-tiba Dinda merasa kalau perut nya mulai mulas.
"Aduhhhh......"Celetuk Dinda merintih sakit sembari memegangi perut nya.
"Dinda kenapa nak?"Tanya ibu Ali bersamaan dengan mbok Sumi yang panik.
"Awwww.... Aduhhhh... Ibu perut Dinda sakit Bu..."Rintih Dinda sembari mengusap perut buncit nya.
Mbok Sumi pun memperhatikan air yang mengalir dibetis Dinda.
"Mbak,sudah saat nya Dinda melahirkan itu air ketubannya sudah keluar.Tunggu disini mbok Sumi memberi tahu den Zain."
"Ayo Sumi kita kedalam."Sahut Ayah Ali dan bergegas masuk kedalam rumah Opa Leo.
Mbok Sumi dan Ayah Ali pun masuk kedalam gerbang rumah Opa Leo untuk menemui Zain.
"Tahan nak sebentar ya...."Ucap ibu Ali yang menenangkan Dinda.
Didalam rumah Opa Leo...
"Zain...."Panggil Ayah Ali kepada Zain yang sedang duduk menyeruput kopi bersama Sania.
"Zain,Dinda mau melahir kan,ayah minta tolong sama kamu untuk mengantar Dinda ke rumah sakit..."Pinta Ayah Ali yang memelas.
"Betul den Zain,non Dinda mau melahirkan kami minta tolong den."
"Itu pasti akal-akalan mereka saja Hanny...."Seru Sania yang menghasut Zain.
Zain pun terdiam..
"Tolong nak,diluar sudah mulai gerimis kasihan Dinda."Pinta ayah Ali yang memelas.
"Maaf!Saya enggak bisa membantu!"Ucap Zain dan beranjak mau pergi menuju ke kamarnya.
"Zain...."Teriak Ayah Ali dan Zain pun berhenti tanpa menoleh ke Ayah mertuanya itu.
"Manusia enggak punya hati nurani kamu Zain!Ingat Zain diatas langit masih ada langit.Ayo Sumi kita enggak punya banyak waktu untuk mengemis."Seru Ayah Ali.
"Mbok,enggak menyangka dengan kelakuan aden Zain.Suatu saat den Zain akan menyesal."Ucap mbok Sumi dan membuang muka nya ketika melewati Sania.
Sementara itu diluar gerbang rumah Opa Leo...
Terlihat Dinda yang sakit merintih memegangi perutnya..
"Astagfirullah hal adzim... Bu,Dinda enggak tahan Bu.... Perut Dinda sakit sekali."Rintih Dinda yang mulai menangis.
"Ya.. Allah ndok,sabar sebentar ya.. Ayah sama mbok Sumi sedang berada di dalam sedang memberi tahu nak Zain."
"Aduh Bu.... "Rintih Dinda yang duduk selonjor di pangkuan ibu Ali.
"Bagaimana Ayah?"Tanya ibu Ali .
"Sudah lah Bu,kita enggak usah mengharapkan lagi anak itu.Ayah akan mencoba minta bantuan kepada mobil yang lewat.Ayah sama sekali tidak memiliki uang."Jawab Ayah Ali.
"Aduhhh... Aduh... Bu,"Rintih Dinda lagi.
"Ayah cepat cari bantuan...."Pekik ibu Ali yang menangis melihat anak perempuannya yang merintih kesakitan.
"Itu ada mobil pak Ali ayo kita stop...."Seru mbok Sumi.
Pak Ali dan mbok Sumi pun melambaikan tangannya ke arah mobil sedan hitam itu.
Dan mobil sedan hitam itu menyalakan send nya dan menepi....
"Toddy...?"Kata pak Ali kaget.
"Pak Ali...?"Sapa Toddy sambil menutup pintu mobil nya.
"Astagfirullah hal adzim Dinda?"Toddy terkejut melihat Dinda yang merintih kesakitan dipangkuan ibu nya.
Toddy pun bergegas menggendong Dinda dan membawanya masuk ke dalam mobil.
Diikuti ibu Ali,ayah Ali dan mbok Sumi.
"Dinda... Tarik nafas nya keluar kan pelan-pelan ya..."Intruksi Toddy sembari fokus kemudi.
"Din.. da... Sudah enggak k...uat..."Jawab Dinda terbata.
"Enggak nak,Dinda kuat... "Sahut ibu Ali yang menenangkannya.
"Toddy.. Bagaimana ini?"Kata Ayah Ali yang panik melihat Dinda yang duduk di bangku belakang.
"Sabar... Pak Ali sebentar lagi kita sampai dirumah sakit."Jawab Toddy yang menambah kecepatan mobil nya akan segera sampai dirumah sakit.
Sampainya dirumah sakit,
Toddy langsung bergerak cepat.Dia turun dari mobilnya dan mengambil brankar yang sudah di siap kan perawat.
Toddy menggendong Dinda dan membaringkan tubuh nya dibrankar.
"Suster ayo cepat kita keruang persalinan."Seru Toddy.
"Sakit... Aduh sakit..."Dinda merintih dan terus merintih.
"Sabar Dinda..."
Ayah Ali,ibu Ali dan mbok Sumi nampak berkaca-kaca matanya melihat keadaan Dinda yang memprihatinkan
"Dokter Nisya tolong Dinda..."Kata Toddy yang melihat dokter Nisya masuk kedalam ruang bersalin.
"Ini Bu Dinda sudah waktu nya melahirkan kah?"Tanya Toddy.
"Dari HPL nya seharus nya Minggu depan,tapi ini air ketubannya sudah pecah jadi kita harus melakukan tindakan Cesar"Kata dokter Nisya.
__ADS_1
"Dimana suaminya?Seharus nya dia ikut mendampingi?"Tanya dokter Nisya kepada Toddy.
"Aduuh...Saya enggak tau,sekarang tolong berikan pelayanan yang terbaik untuk Dinda."Jawab Toddy yang cemas.
"Pasti,bantu kamu dalam doa.Tolong sampaikan kepada keluarga nya."
"Baik dok.Saya keluar dulu."Kata dokter Toddy dan keluar dari ruangan.
Ceklek.....
Toddy membuka ruang persalinan,
Semua pandangan mata tertuju pada nya.
"Toddy bagaimana keadaan Dinda?"Tanya ibu Ali yang panik mencemas kan anak nya.
"Iya Toddy bagaimana keadaan Dinda?"Tambah Ali lagi.
"Ayah,ibu... Tenang ya.Dinda sebentar lagi akan melakukan operasi Cesar untuk pengangkatan bayi-bayi nya.Mari kita bantu team dokter dalam doa agar semuanya dalam keadaan baik-baik saja."Jawab Toddy yang menenangkan keluarga Dinda.
"Dimana Suami Dinda?"Tanya Toddy kepada kedua orang tua Dinda.
"Ceritanya panjang nak Toddy."Jawab ibu Ali yang menahan air mata nya.
"Ya sudah Bu.Kita fokus mendoakan Dinda ya."Jawab dokter Toddy.
"Terimakasih nak Toddy sudah menolong Dinda.Coba kalau tidak ada dokter Toddy?"Kata Ayah Ali yang mengingat peristiwa 1 jam yang telah berlalu itu.
"Semua sudah ditakdirkan oleh Allah pak."Jawab Toddy.
Sementara itu,,,
Dikediaman Opa Leo...
Terlihat Zain yang tengah berdiri mondar-mandir,,
"Perasaan ku kenapa mengkhawatirkan Dinda dan bayi-bayi ku?Benar kah Dinda mau melahirkan?"Batin Zain.
"Hanny.... Apa sih yang kamu pikir kan?"Tanya Sania sembari memeluk Zain.
"CK,"Zain yang melepas pelukan nya Sania.
"Hanny???"
"Aduh... Kamu berisik sekali Sania?Kalau kamu enggak bisa diam,lebih baik keluar."Usir Zain kepada Sania.
Sania pun memilih diam dan terduduk di sofa.
"Apa sih sebenar nya yang dipikirkan Zain itu?"Batin Sania kesal.
Zain pun melirik Sania yang duduk di sofa.
Dan menggeleng kan kepala.
"Semua hancur... "Batin Zain.
"Sania,bagaimana kita batalkan pernikahan kita."Ucap Zain tiba-tiba.
"Apa...?"Sania tersentak dan berdiri dari duduk nya.
"Hanny?Kau mau bermain-main dengan ku?Saat ini aku sedang mengandung anak mu,Zain."
"Kamu mau mengancam aku apa lagi?Opa ku sudah meninggal,Dinda sudah pergi dari rumah ini hah?"Kata Zain sembari mendongak kan kepala nya keatas.
"Aku tau Zain kamu itu Cinta betul sama Dinda,aku juga bisa membuat anak-anak mu kehilangan nyawa nya saat ini juga."Ancam Sania dan Zain pun tertunduk.
"Dasar gila."Sahut Zain.
"Ingat besok kamu harus datang kerumah untuk melanjutkan akad kemarin yang telah gagal.Awas kalau kamu macam-macam."Ancam Sania kepada Zain dan melenggang pergi.
"Brengsekkkk...... "
"Aku harus mencari bukti agar aku bisa terlepas dari jerat Sania."Gerutu Zain.
Zain pun mengambil handphone nya yang berada di saku celana nya,lalu dia mengirim kan pesan kepada salah satu seorang untuk mengintai Sania.
Sementara itu,
Dinda sedang bertaruhan nyawa di dalam ruangan operasi itu.Mata nya terbuka dengan kedua manik mata nya yang terlihat mengeluarkan air mata.
Dia begitu membatin dengan keadaan nya yang di alami saat ini.Dia berjuang didalam ruang operasi tanpa di dampingi suami.
"Astagfirullah... Astagfirullah..."
Tak hentinya Dinda beristigfar dengan menggunakan jari jemarinya.
"Ibu Dinda rilexs ya...."Ucap dokter Nisya.
Dokter Nisya memberikan obat bius melalui selang infus Dinda.
Setelah obat bius bekerja, dokter mulai melakukan operasi caesar dengan membuat sayatan pada perut dan otot rahim, kemudian mengeluarkan bayi secara perlahan.
Alhamdulillah,
Ke-empat bayi-bayi Dinda berhasil dilahirkan dan saat ini sedang di pindahkan keruangan NICU.
Berikut adalah alasan kenapa bayi-bayi nya Dinda yang baru lahir,harus masuk ke ruang NICU.
Karena bayi Dinda lahir prematur, yaitu sebelum memasuki minggu ke-37.
Bayi Dinda mengalami masalah saat persalinan berlangsung.
Bayi menunjukkan tanda-tanda gangguan kesehatan saat dilahirkan.
Bersambung........
♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️
Author udah Up 2000 kata nih,,
Bagi author Like & komen nya kk🙏😉😉
__ADS_1