My Momy My Wonderwoman

My Momy My Wonderwoman
Episode 72 # Pertemuan Zain dan Ardan


__ADS_3

Pertemuan dengan Ardan Wiratama Yudha.


Zain sudah menunggu Ardan kurang lebih 15 menit di salah satu cafe di pusat perbelanjaan moderen untuk membahas tentang sebuah kerjasama.


"CK,Kenapa orang ini lama sekali."Gerutu Zain yang tidak sabaran untuk menunggu.


"Asisten Ferdy!"Panggil Zain kepada asisten Ferdy yang duduk tidak jauh dari bangku nya.


"Iya tuan!"


"Saya mau ke toilet sebentar."Ucap nya dan asisten Ferdy mengangguk kan kepala.


Zain pun berjalan menuju toilet.Setelah selesai aktivitas nya,Zain mencuci tangan nya di wastafel.


Ketika dia mulai mengeringkan,


"Ayo dek... Cuci tangan nya."


Zain menghentikan aktivitas nya,setelah mendengar suara yang tidak asing yang pernah dia dengar dan menoleh kebelakang.


Setelah menoleh kebelakang,


"Om brewok....?"


"Haii... Kita bertemu lagi."Sapa Zain.


"Sini Om brewok bantu.Kamu mau cucu tangan kan?"Seru Zain yang mengangkat tubuh bocah tujuh tahun itu untuk cuci tangan di wastafel.


Setelah mengeringkan tangan nya,


"Terimakasih ya Om.Om sudah menolong adik saya untuk ke dua kali nya."Ucap Sang kakak yang sangat bijak dan penyayang sama adik nya.


"Sama-sama.Kamu pasti kakak ya?"Tanya Zain dan bocah itu pun mengangguk.


"Pantas sayang sekali sama adik kamu."Ucap Zain sembari mengacak rambut adik nya.


"Iya Om,kata Momy aku adalah kakak.Aku harus jadi orang yang melindungi adik-adik ku dan menyayangi mereka.Karena kalau bukan aku,siapa lagi yang mau menjadi pelindung untuk adik-adik ku dan Momy ku."Celoteh bocah itu.


"Anak pintar!"Ucap Zain yang mengusap punggung sang kakak.


"Adik-adik?"Ulang Zain yang mengkerut kan alis.


"Adik aku ada dua Om."Jawab sang kakak.


"Kita kembar tiga!"Sahut adek bontot sembari menunjukkan tiga jari nya kepada Zain.


"Kembar tiga?Kok kalian hanya berdua?"Tanya Zain yang penasaran.


"Adik ku yang satunya sedang bermain sama papi dan Momy."Sahut si Kaka.


Zain pun mengulas senyumnya.


"Om brewok.."Kata si adek.


"Hm?"


"Kita kembali duluan ya.Nanti kami dicariin sama papi."Ujar nya.


"Ah,iya.... Kalian hati-hati ya."Pesan Zain.

__ADS_1


"Da... Da..."Seru bocah kedua itu yang pergi meninggalkan kamar mandi.


Zain kembali kepada posisi semula menatap diri nya di pantulan kaca cermin.


"Kembar tiga?"Gumam Zain.


Mata nya pun mulai berkaca-kaca,ketika dia teringat dengan ketiga anak kembar nya.


"Rey... Ryo... Ryu... Dimana kalian berada nak?Dady sangat lah rindu dengan kalian."Gumam nya.


Zain memutar air kran di wastafel lalu membersihkan wajah nya.


Setelah selesai dia mengeringkan nya,dia bersiap kembali ke meja cafe.


"Hai!Dengan tuan Ardan Wiratama Yudha?"Sapa Zain dengan nada menebak.


"Dengan tuan Zain Abigail Abraham?"Tebak Ardan.Dan Zain mengangguk.


"Silah kan duduk tuan Ardan!"Kata Zain sembari duduk ditempat nya.


"Maaf tuan Zain,saya terlambat.Tadi masih ada keperluan."Ucap Ardan.


"Its okay Mr Ardan don't worry be happy."


"Ok,kalau begitu kita mulai saja meeting nya."Ucap Ardan dan Zain pun segera membuka laptop nya.


"Jadi tuan,"


"Ardan seperti nya lebih enak di dengar ya."Potong Ardan.


"Oh,Ok.Panggil saya Zain juga kalau begitu.


"Jadi saya mau menawarkan beberapa unit untuk mempermudah pekerjaan di lokasi pertambangan yang akan Anda mulai bangun.Unit nya meliputi exacavator,drum truck dan kapal tongkang untuk mempermudah ekspor batu bara anda keluar negeri."Kata Zain yang memperjelas kan.


"Betul Zain.Saya direkomendasikan oleh beberapa teman untuk memilih Abraham group sebagai ekspor batu bara serta kami juga butuh beberapa unit untuk dilokasi."


"Kalau untuk soal harga?"Tanya Ardan.


Zain pun mengulas senyum nya.


"Kalau untuk harga,saya bisa memberi sedikit diskon untuk perusahaan Wiratama karena kalian mau membuka lahan baru."


"Bagaimana Ardan?"Tanya Zain.


"Tawaran yang cukup menarik."Jawab Ardan.


"Ok.Silahkan kirim daftar harga nya kepada kami,kami nanti akan mempelajari nya dulu."Tambah Ardan.


"Ok.Nanti asisten saya akan segera mengirimkan file-file nya."Jawab Zain.


"Ngopi dulu Zain."Kata Ardan dan Zain pun mengangguk.


"Sudah menikah Zain?"Tanya Ardan dan Zain mengangguk.


"Segera.Doa kan saja!"Jawab Ardan sembari menyeruput kopinya.


"Pasti dong.Asal jangan lupa undangan nya."Sahut Zain sambil nyeruput kopi nya.


Tak terasa 60 menit sudah berlalu.Setelah Zain berpamitan dengan Ardan,datang lah Dinda bersama ketiga anak nya di cafe tempat Ardan dan Zain meeting.

__ADS_1


"Papi......?"Seru Ryu dari arah pintu kepada Ardan dan Ardan melambaikan tangan nya.


"Jangan lari Ryu....."Seru Dinda yang mengekor di belakang Ryu menggandeng Rey.


"Momy,kita pulang ya... "Pinta Rey yang berjalan di gandeng oleh Dinda.


"Iya sayang,mobil nya kan sama Om Ardan."Jawab Dinda.


"Papi... Momy!"Potong Rey.


"Hm....."


"Sudah selesai bang meeting nya?"Tanya Dinda yang baru tiba kepada Ardan.


"Sudah.Mau pulang atau masih mau main?"Tanya Ardan lagi.


"Mau pulang... Kakak capek."Sahut Rey dengan lemas.


"Mau pulang?Ya sudah sini papi gendong."


"Kenapa kakak yang di gendong?Adek kan juga mau digendong papi.Adek kan juga mau ngerasain pingin di gendong seperti apa?Kan cuman kita bertiga disekolah yang enggak punya Papa."Sahut si bontot Ryu yang meraju dan melipat kedua tangan didada.


Deg....


Jantung Dinda merasa seperti tertancap luka.


"Ryu... Kok Ryu bicara nya seperti itu nak?"Tanya Dinda yang mensejajarkan dengan Ryu dengan raut wajah sendu.


"Kan benar Momy.Terus dimana Dady kita Momy?Teman Ryu bilang,kalau ayah nya pergi meninggalkan dia ka....."


"Ryu cukup!"Bentak Dinda yang reflek.


Dan bocah itu pun menitikan air mata nya.


"Ryu...."Dinda memanggil Ryu dengan lirih.


"Momy jahat!"Umpat nya ke Dinda dan lari.


"Astagfirullah hal adzim nak.. Ryu."Panggil Dinda kepada Ryu.


"Kamu disini dengan Rey ya,biar aku yang mengejar nya."Kata Ardan yang menurunkan Rey dari gendongan nya dan lari mengejar Ryu.


"Dinda ikut bang."Teriak Dinda yang akan hendak lari.


"Ayo nak.Kita mencari adek Ryu dulu."Kata Dinda dan berjalan buru-buru sambil menggandeng Rey anak pertama nya.


Ryu bocah usia tujuh tahun itu berlari sekencang nya di pusat perbelanjaan moderen.


Dia merasa sedikit kecewa dengan Momy nya yang merengek yang hanya ingin minta digendong oleh sosok yang disebut nya sebagai ayah.


Bersambung......


♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️


Terimakasih kakak atas dukungannya untuk Dinda.


Jangan lupa like dan Komentnya ya.🤗


Dukungan kalian adalah motivasi terhebat untuk Author.

__ADS_1


__ADS_2