
Mendengar ucapan Dinda,Zain nampak membelalak kan ke dua matanya.Dia menatap tajam pandangan matanya ke pada Dinda.
Sementara Dinda terdiam menegang seperti patung manekin.Dia begitu bodoh atas ucapan yang di ucapkannya tadi.
"Aduh Dinda... Mengapa kamu begitu bodoh sekali..."Batin Dinda getir yang menggigit bibir bawahnya.
"Di hati saya,perempuan itu adalah sama dan penghianat!"Ucap Zain yang menekan kan kalimatnya ke pada Dinda.
Sebelum Zain membalikkan badannya,Dinda menarik lengan Zain.
"Jangan sama kan saya dengan Shania Tuan!"Jawab Dinda menekankan kalimat nya dan mengibaskan tangan Zain.
Kesal dengan ucapan Dinda.Zain menarik kasar lengan Dinda dan mencekal kuat-kuat.
"Sa... Sakit tuan."Rintih Dinda yang berupaya melepaskan diri dari cengkeraman Zain.
Zain melemahkan cengkeraman tangannya kepada Dinda.Kemudian mengibaskan dengan kasar tangan Dinda hingga tanpa sadar Dinda terjatuh dan keningnya berhantup di ujung meja nakas.
Dinda berusaha kuat untuk duduk sembari memegang keningnya yang terasa sakit,dan membuat tubuhnya lemas pingsan.
"****....!"Umpat Zain yang melihat Dinda tak berdaya.
Zain pun mencoba membangunkan Dinda dengan menggoncang-goncangkan tubuhnya.
"Dinda.. Dinda bangun.."Gugah Zain.
Merasa tidak mendapat respon dari Dinda,Zain mencoba mengangkat tubuh Dinda dan digendongnya untuk dilarikan kerumah sakit.
Opa Leo yang sudah duduk dengan anteng di meja makan kini nampak panik melihat cucu menantunya dalam keadaan tidak baik-baik saja.
"Zain,ada apa dengan Dinda Zain?"Tanya Opa Leo yang panik menghampiri Zain.
"Nanti dulu Opa,kita bawa Dinda ke rumah sakit dulu."Jawab Zain sembari berjalan menggendong Dinda menuju ke arah pintu keluar.
"Ferdi... Siapkan mobil.Antar cucuku kerumah sakit!"Teriak Opa Leo.
Asisten Ferdi yang sudah nampak siap berjaga,langsung membuka kan pintunya untuk Zain dan istrinya Tuan muda.
"Asisten Ferdi tolong dipercepat."Suruh Zain yang memangku Dinda dalam keadaan pingsan.
Asisten Ferdi nampak mengamati Zain yang gusar dan panik ketika melihat istrinya yang tak berdaya.
"Dinda.. Please bangun saya minta maaf."Gerutu Zain yang merutuki penyesalan nya.
"Maaf Tuan,sebenarnya apa yang terjadi dengan nona Tuan?"Tanya asisten Ferdi sembari mengemudikan mobilnya.
Zain terdiam dia memilih tidak menjawab pertanyaan dari asisten Ferdi.
Beberapa detik kemudian dia bersuara,
"Diamlah Ferdi,fokus saja dengan kemudi mu."Sentak Zain yang begitu panik melihat Dinda yang tak sadarkan diri dari pingsannya.
15 menit kemudian,
__ADS_1
Mobil Zain sudah sampai di lobby rumah sakit.
Segera Zain turun dan mengambil brankar untuk Dinda.
"Sus.. Tolongin istri saya."Kata Zain kepada suster yang piket di pagi hari itu.
Suster dan Zain bersamaan membawa brankar tersebut dan Zainpun memindahkan Dinda ke brankar.
Brankar Dinda di dorong menuju ruang instalasi gawat darurat.
"Tuan,mohon ditunggu diluar."Kata Suster yang berdiri di ambang pintu.
"Itu istri saya sus!"Kilah Zain.
"Iya Tuan mohon tunggu diluar,biar pasien segera di tindak oleh dokter."
"CK,"Zain yang mencebikkan mulutnya.
Akhirnya Zain terpaksa menunggu Dinda di ruang tunggu.
Tap... Tap.. Tap...
Suara sepatu dengan tempo tinggi seperti berlari itu menghampiri Zain.
"Zain.Bagaimana dengan keadaan Dinda?"Tanya Opa Leo yang panik.
"Masih diperiksa dokter Opa,"Jawab Zain dengan lemas.
"Zain?Jawab!"Pekik Opa yang kesal karena Zain tidak kunjung menjawab pertanyaannya.
Ceklek...
Belum sempat menjawab pertanyaan dari Opa,Zain segera masuk ke dalam ruangan Dinda.
"Zain."Pekik Opa.
Zain pun menghela nafasnya.
"Huft..."
Zain yang berdiri di pintu sambil mengacak pinggang terlihat lega,melihat Dinda sedang bersandar di kepala brankar,dengan didampingi oleh dokter dan perawatnya yang sibuk memplester ujung pelipis Dinda.
"Zain!"Teriak Opa.
Teriakan Opa itu membuat semua yang berada di ruangan Instalasi Gawat Darurat itu menoleh ke arahnya.
"Tuan Leo dan Tuan Zain.Mohon maaf tolong ke luar sebentar kami sedang melakukan tindakan."Seru seorang dokter.
"Dasar cucu laknat."
Plakkk...
"Opa...??"Kata Dinda lirih ketika melihat Opa Leo yang menampar Zain suaminya.
__ADS_1
"Dinda.. Cucu mantuku,bagaimana keadaan mu nak?Apa yang terjadi denganmu?"
"Dinda baik-baik aja Opa."Jawab Dinda yang menutupi alibi suaminya Zain sembari melirik Zain yang bermuka datar.
"Apa yang dilakukan oleh Zain kepadamu Dinda?"Tanya Opa Leo lagi sembari menunjuk ke arah Zain.
"Mas Zain tidak melakukan apa-apa Opa,dia tadi berusaha menolong Dinda.Opa jangan marah lagi ya,"Kata Dinda yang meredam emosinya Opa.
Mendengar pengakuan dari Dinda,membuat Opa Leo terdiam dalam mencurigai Zain cucunya.
Opa Leo pun bergegas ke luar dari ruang Instalasi Gawat Darurat itu.Dan melewati Zain.
"Tuan Zain,hari nona Dinda diperbolehkan pulang setelah 2 jam kemudian.Karena kami baru saja memberikan obat ke padanya.Ini resep obat yang harus ditebus Tuan,"Ucap dokter sambil menyerahkan resep obat ke Zain.
"Terimakasih dok,"Ujar Zain.
"Sama-sama tuan.Saya permisi dulu."Pamit dokter itu dan melangkah pergi setelah Zain menganggukkan kepalanya.
Setelah dokter dan perawat meninggalkan ruangan Instalasi itu,Zain menghampiri Dinda yang duduk bersandar di kepala brankar.
"Saya tidak butuh pahlawan yang pura-pura baik ke pada saya."Kata Zain yang sinis menatap Dinda dengan tatapan tajam menghunus.
"Sebagai fitrah seorang istri saya hanya melindungi nama baik suami saya,Tuan Zain."Jawab Dinda dengan menekan kan kalimatnya.
"Sejak dari awal saya pernah bilang dengan kamu,kalau saya akan membuatmu tidak bahagia dengan pernikahan ini."Kata Zain dengan wajah datarnya.
"Dan pada akhirnya kamu akan menyerah dan meminta pisah dari saya.Ha... Ha... Ha..
Dan saya pasti bebas dari belenggu pernikahan petaka ini."Ucap Zain dengan nada sombongnya sembari melipat ke dua tangan di dadanya.
"Ingat lah Tuan,Tuhan itu yang mampu membolak-balikkan hati manusia.Manusia bisa berencana,tapi Tuhan yang menentukan."
Jawab Dinda sambil menahan manik-manik matanya yang mulai mengembun.
Zain menatap Dinda dengan tatapan tajam sebelum dia pergi meninggalkan ruangan Instalasi Gawat Darurat itu.
Air mata Dinda akhirnya tumpah ruah setelah Zain pergi dari ruangannya.Dadanya begitu sesak ketika dia mendengar ucapan Zain.
"Pernikahan Petaka."
Dinda mengingat kalimat setiap kalimat yang telah Zain ucapkan kepada dirinya
Hingga membuat nya haru sendu.
"Hiks... Hiks.. Astagfirullah hal adzim,tega sekali kamu tuan."Gumam Dinda yang merutuki kesedihannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Haii readers ☺️☺️ Jangan lupa Like,komen dan Vote nya ya!! Agar author tambah semangat. Jangan lupa baca cerita ku yang lainnya.👇👇👇
1.Valentain terakhir Bahagia
2.TM3
__ADS_1