
Setelah beberapa jam di perjalanan pulang kampung menggunakan bus,akhirnya Dinda sampai di pelataran rumah dengan diantar ojek yang mangkal di pinggir jalan raya.
Dindapun berjalan melangkahkan kakinya menuju pintu rumah.
Tok... Tok... Tok..
Dinda mulai mengetuk pintu rumahnya yang terbuat dari kayu.
Ceklek....
"Loh,Ndok...."Ibu Ali yang terkejut.
"Ibu...?"Dindapun menghambur pelukan ibunya.
"Siapa Bu?"Teriak pak Ali dari dalam rumah.
Ibu Ali pun menoleh ke arah sumber suara.
"Dinda ayah."Jawab ibu Ali.
Mendengar yang datang adalah anaknya,pak Ali bergegas menghampiri istri dan anaknya.
"Dinda?"Kata pak Ali dan memeluk anaknya.
"Sama Zain kesini?"Tanya Pak Ali seraya melepas pelukan anaknya dan melihat Dinda terdiam menunduk menggeleng kepala.
Sebenarnya pak Ali sudah tau permasalahan Dinda yang pulang kampung dari Opa Leo,pak Ali hanya pura-pura tidak tau agar tidak memperkeruh keadaan.
"Ya sudahlah enggak apa-apa,ayok masuk.Pasti kamu capek."Kata ibu Ali dan menggandeng tangan anaknya masuk kedalam rumah.
Sementara itu Zain masih di perjalan bersama asisten Ferdi.Beberapa kali asisten Ferdi kerap menangkap kerisauan hati dari tuannya itu melalui spion dalam mobil.
"Masih jauh kah asisten Ferdi?"Tanya Zain sembari melihat ke arah luar jendela.
"Kurang lebih 30 menit lagi tuan."Jawab asisten Ferdi dan Zain hanya mencebikkan mulutnya.
Asisten Ferdi pun hanya tersenyum.
"Tuan... Tuan.. Kenapa baru merasa kehilangan sekarang?"Batin asisten Ferdi.
Zain nampak menikmati pemandangan kanan kirinya yang ditumbuhi tumbuhan teh.Perkebunan teh yang sangat luas itu adalah milik dari Opa Zain.Opa Leo,
Tak terasa mobil Zain pun sudah berhenti di pelataran rumah nya pak Ali.Zain sampai dirumah Dinda tepat pukul 7 malam.Perjalanan yang sangat menguras tenaga Zain.
Zainpun membuka jendela mobilnya dan diam tertegun memandangi rumah kecil yang sederhana itu.
"Asisten Ferdi,kamu enggak salah alamat kah?"Tanya Zain yang memastikan.
__ADS_1
"Enggak Tuan,itu rumahnya pak Ali."Jawab asisten Ferdi.
Tanpa berpikir panjang,Zain pun membuka pintu mobilnya dan keluar dari mobil.Dia berdiri sejenak merapikan jas hitam dan dasinya.
Tangan kanannya di masukkan disaku celana sebagai ciri khasnya dan berjalan santai menuju pintu rumah pak Ali.
Tok... Tok... Tok...
"Siapa ya tumben ada tamu selepas magrib begini?"Kata Bu Ali sembari mengarahkan pandangannya ke pak Ali dan Dinda yang sedang sibuk menyendokkan makan malamnya dirumah sederhana itu.
"Biar Dinda yang buka Bu!"Kata Dinda sembari minum air putihnya dengan tandas.
"Biar bapak aja,lanjutkan makan mu nak!"Seru pak Ali dan berdiri dari kursinya.
Sementara itu,
"Lama sekali sih,"Gerutu Zain yang tidak sabar.
"Sabar tuan."Jawab asisten Ferdi yang berdiri dibelakang tuannya.
Ceklek....
"Loh ,ada den Zain?"Pak Ali yang terkejut dengan kedatangan menantunya.
"Pak,selamat malam."Ucap Zain mencium tangan pak Ali.
"Bapak sehat?"Tanya Zain lagi.
Dari luar ternyata gerik-gerik Zain sangat dipantau oleh sepasang mata suruhan Opa Leo.Opa Leo juga meminta orang itu untuk menyudahi pengintaian nya,karena Dinda sudah aman sampai rumah dan keberadaan Zain di kampung sudah membuat Opa Lega.
Tap... Tap... Tap
Suara sepatu yang selalu Dinda dengar setiap hari saat berada dirumah Opa Leo.
"Buk.. Buk.. Coba lihat siapa yang datang?"Kata pak Ali yang berjalan ke meja makan sembari memanggil istrinya.
"Loh,,Dinda.Suami datang nak."Kata Bu Ali yang kaget saat Zain mencium tangan Bu.Ali.
"Malam Bu."Sapa Zain ke ibu mertuanya dan melirik Dinda.
"Akhirnya dapat juga...."Batin Zain yang masih berdiri di meja makan dan melirik Dinda sesaat yang cuek dengannya.
"Malam nak Zain.Ayo duduk dulu,makan dulu.Dinda ambilkan nasi untuk suamimu"Titah ibu Ali dan Zainpun menarik kursi duduk tepat di depan Dinda.
Dinda memasang bola mata malasnya.Sebenarnya dia kesal dengan sikap Zain selama 5 bulan ini.
Dengan raut wajah yang ditekuk Dinda mengambilkan suaminya makanan.Ibu Ali yang melihat Dinda seperti setengah-setengah melayani suaminya seketika menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Dinda,pasang senyum mu nak.Wajah enggak boleh ditekuk dalam melayani suami ya."Pesan ibu Ali dan Dinda mengulas senyumnya.
Sementara Zain hanya terdiam dengan wajah datarnya dan memperhatikan Dinda.
"Ayo nak Zain dimakan.Dinda temani suamimu makan.Ibu mau ke depan mengantarkan kopi untuk asisten Ferdi."Ujar ibu Ali yang beranjak dari meja makan.
Kini Tinggal Zain dan Dinda.Sepasang suami istri yang sudah menjalani pernikahan selama 5 bulan.
Pernikahan yang hambar menurut Dinda.Dindapun memutar bola mata jengahnya ketika mendapatkan tatapan datar dari suaminya.
"Kenapa kamu pergi diam-diam hah?"Tanya Zain dengan wajah datar dengan lirih.
"Silahkan dimakan tuan,"Kata Dinda yang memilih mengalihkan pembicaraan tuannya.
"Jawab pertanyaan saya Dinda."Kata Zain yang kesal sembari menatap pandangan tajam yang menghunus.
Dindapun menarik nafasnya dalam-dalam.
"Tuan jauh-jauh dari kota hanya untuk menanyakan hal ini?Untuk apa?"
"Saya suami kamu Dinda.Saya berhak atas kamu."Ucap Zain yang geram dan mengepalkan tangannya.
"Apa?Suami?Suami diatas kertas tepatnya."
"Dinda!"Pekik Zain dan Dinda terdiam mematung.
"Kenapa tuan marah saat saya berbicara seperti itu?Memang itu kenyataannya tuan.Sampai kapanpun tuan tidak pernah menginginkan pernikahan ini.Iya kan."Sahut Dinda.
"Terserah tuan sekarang,Dinda lelah dengan semua ini."Ucap Dinda yang berkaca-kaca sembari mengusap kasar dengan lengannya.
Zain hanya bisa menatap datar raut wajah Dinda tanpa ekspresi.
Kemudian Zainpun menyendokkan nasi ke dalam mulutnya dan menikmati makan malam sederhana yang sudah di siapkan didepan mata.
Tiada suara diantara mereka berdua,hanya suara nada irama sendok yang menggendong di piring.
glek... glek.. glek ...
Dinda menelan salivanya ketika melihat Zain sedang meminum air dengan tandas.Zain yang merasa diperhatikan oleh Dinda seketika menatap Dinda dengan tatapan tatapan tajam dan datarnya.
Merasa tidak nyaman dengan tatapan Zain,Dinda beringsut membersihkan piring-piring bekas makan mereka.
Zain hanya menatap Dinda dengan tatapan datarnya melihat Dinda membawa piring-piring kotor itu ke wastafel.
Tangan Dinda di tepis oleh Zain.Ketika Dinda hendak mengambil piring kotor milik suaminya.
"CK,"Dinda yang mencebikan mulutnya.
__ADS_1
Zain meraih pinggang Dinda dan ditariknya ke dalam pangkuan Zain dengan posisi duduk miring.
Dinda merasa terkejut dengan sikap Zain kepadanya