My Momy My Wonderwoman

My Momy My Wonderwoman
Episode 92 # Pengakuan dari ketiga napi


__ADS_3

Keesokan hari nya....


Dinda bersama asisten Ferdy sudah datang ke rumah tahanan untuk menemui ketiga narapidana yang terduga sebagai penganiayaan terhadap Zain hingga membuat Zain mengalami koma.


Diruang tunggu,


Dinda yang mengenakan stelan Tunik berhijab serta membawa tas tenteng nya sudah tidak sabar ingin bertemu dengan ketiga narapidana itu.


Dinda di dampingi oleh asisten Ferdy dan empat orang body guard anak buah Zain untuk mengantisipasi hal yang buruk.


Ketiga napi itu menemui Dinda diruang tunggu.


Dinda memberi isyarat body guard nya.


Bugh...


Bugh...


Bugh...


Dinda yang menutup mata merasa tidak tega melihat ketiga narapidana itu yang dipukuli oleh body guard nya.


"Stop......"Seru Dinda dan empat body guard itu pun menghentikan pukulan nya.


"Siapa yang menyuruh kalian untuk mengeroyok suami saya.?"Tanya Dinda sembari mata nya yang melotot.


Ketiga narapidana itu pun terdiam sembari memegangi raut wajah nya yang babak belur.


"Sakit....??"Kata Dinda sembari bersendekap.


"Itu adalah hadiah yang pantas untuk kalian."Ucap Dinda.


Dinda pun memberi kode kepada ke empat body guard itu.


Bugh...


Bugh...


Bugh...


"Stop...."Seru Dinda kepada ke empat body guard nya itu.


"Tawaran terakhir untuk kalian dan saya tidak mau bertele-tele."Ucap Dinda lagi.


"Siapa yang menyuruh kalian memukuli suami saya?"Bentak Dinda yang kesal karena ketiga narapidana itu tak kunjung membuka mulut.


"Ok!Kalau kalian tidak mau untuk menjawab nya.Asisten Ferdy panggil mereka."Titah Dinda kepada asisten Ferdy.


"Baik nona."Jawab asisten Ferdy menunduk sambil berjalan menuju ke arah pintu keluar.

__ADS_1


Dinda saat ini bak dalam mode seorang mafia yang berambisi ingin menghabisi musuh-musuh nya.


Asisten Ferdy membawa tiga orang perempuan dengan menggunakan tutup kepala hitam yang membungkus semua kepalanya.


Dinda yang berdiri bersendekap memberi kode kepada keempat bodyguard nya untuk membuka masing-masing pembungkus kepala ketiga orang perempuan itu.


Ketiga narapidana itu sangat terkejut ketika melihat istrinya masing-masing.


"Dewi....."


"Yuli..."


"Asih...."


Ketiga narapidana itu pun saling memanggil nama-nama istrinya.


"Yungalah... Pak... Ini ada apa to?"Tanya seorang perempuan yang bernama Dewi dengan raut wajah yang panik.


"Ibu-ibu mohon maaf sebelum nya perkenankan nama saya Dinda.Dan saya adalah seorang istri sekaligus seorang ibu yang suami nya sudah dianiyaya oleh ketiga suami ibu hingga koma dirumah sakit.Sampai saat ini dia belum sadarkan diri."Ucap Dinda menaikan nada tinggi nya sembari berkaca-kaca mata nya.


"Saya mengumpulkan ibu-ibu disini agar kalian tau bagaimana perasaan kalian ketika melihat keadaan suami saya ketika suami kalian dianiyaya tanpa tau sebab dan akibat kesalahan yang dia buat!"


"Man... Lanjutkan tugas kalian."Ucap Dinda kepada keempat bodyguard nya sembari menghapus air mata dan memunggungi ketiga narapidana itu dan masing-masing istrinya.


Bugh...


Bugh...


"Nona....."Kata ibu Asih yang berlutut dibawah kaki Dinda.


"Asih...."Teriak salah satu narapidana itu yang bernama Bayu yang sembari memegangi perut nya.


"Saya mohon maafin suami saya nona hiks... Tentang apa yang sudah di perbuat oleh suami saya."Ucap ibu Asih yang berlutut sesenggukan.


Dinda yang membalikkan badan pun langsung meminta ibu Asih untuk berdiri.


"Kenapa Bu..?"Tanya Dinda kepada ibu Asih yang menangis sesenggukan.


"Maafkan suami saya nona,saat ini saya sedang hamil 3 bulan mengandung anak nya.Sejahat apa pun dia,dia tetap suami saya dan ayah dari anak yang saya kandung."Jawab ibu Asih yang mengiba.


"Ibu hamil?"Tanya Dinda dan ibu Asih menganggukan kepala.


"Selamat ya Bu.Saya juga sedang hamil Bu dan saya juga memiliki tiga anak kembar laki-laki.Tapi saya juga ingin minta pertanggung jawaban kepada suami ibu tentang apa yang sudah dilakukan terhadap suami saya."Ucap Dinda kepada ibu Asih.


"Hiks... Hiks... Hiks..."Ibu Asih yang masih terus menangis.


"Man... Lanjut kan tugas mu... Bawa ketiga ibu-ibu ini di tempat yang sudah disediakan."Kata Dinda sembari mengambil tas tenteng nya dan bersiap-siap untuk pergi.


"Ardan...."Seru Bayu yang tak lain adalah suami dari ibu Asih.

__ADS_1


Dinda pun menghentikan langkah nya dan menoleh kearah tidak narapidana tersebut.


"Apa bapak yakin..?"Ulang Dinda sembari menatap raut wajah ketiga narapidana tersebut.


"Nona,maaf kan kamu.Kami bertiga memang disuruh oleh Ardan untuk menghabisi suami nona."Jawab narapidana yang lain.


Dinda pun tersenyum smirk😏


"Sudah ku duga ."Batin Dinda.


"Man... Bereskan mereka bertiga.Beri hadiah terakhir kali nya agar mereka juga merasakan apa yang suami saya rasakan."Titah Dinda.


"Asisten Ferdy,mari kita harus kerumah sakit!"Ucap Dinda kepada asisten Ferdy dan asisten Ferdy mengangguk.


"Nona... Saya mohon tolong jangan sakiti suami kami lagi."Kata ibu Yuli yang memohon kepada Dinda.


Dinda pun mengulas senyum nya.


"Seandainya suami ibu-ibu mau di ajak cooperatif saya tidak akan melakukan tindakan yang berlebihan.Itu hanya fisioterapi saja Bu untuk mereka agar mereka juga bisa merasakan seperti yang suami saya rasakan!Bersyukurlah karena saya masih memiliki hati."Ucap Dinda yang sedikit kesal.


Dinda dan asisten Ferdy berjalan meninggalkan ruang tunggu menuju ke arah parkiran mobil.


Asisten Ferdy menjalankan mobil tuan nya menuju kerumah sakit,karena pak Frans sudah tiba dirumah sakit.


Dinda yang duduk dikursi belakang kemudi nampak menyandarkan kepala dipinggiran kaca jendela mobil.


Tangan kiri nya terus-terusan memijit ujung pelipis nya yang menandakan begitu banyak beban.


"Asisten Ferdy.. Bagaimana sudah ketemu dengan pembeli semua aset yang akan saya jual?"Tanya Dinda kepada asisten Ferdy.


"Mohon maaf belum ada nona Dinda,tapi saya sudah menyampaika. kepada pak Frans siapa tau pak Frans bisa membantu."Jawab asisten Ferdy sembari fokus menatap depan kearah jalan raya.


"Kita harus bergerak cepat asisten Ferdy.Saya ingin segera melunasi semua nya dan mengakhiri nya.Dan kembali kerumah Opa Leo."Celoteh Dinda kepada asisten Ferdy.


"Baik nona,semoga kita bisa segera menemukan buyer."Jawab asisten Ferdy.


"Kita juga harus berhati-hati denga Ardan karena dia adalah orang yang licik."Tambah asisten Ferdy.


"Ardan...."Batin Dinda yang mengepalkan tangannya.


Tak teras tiga puluh menit kemudian Dinda beserta asisten Ferdy sudah sampai dirumah sakit keolisian.


Taklupa ketiga anak-anak Dinda sudah berada didalam ruang perawatan Zain bersama didampingi ibu Ali dan mbok Sumi


Pak Frans ternyata menepati janjinya untuk datang tepat waktu.


Bersambung.........


♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️

__ADS_1


__ADS_2