
Beberapa Minggu setelah pendarahan itu,
10 Minggu kemudian kehamilan Dinda sudah mulai terlihat perut nya yang kini mulai menonjol.
Organ-organ tubuh janin sudah mulai terbentuk.
Tubuh Dinda sebagai ibu hamil pun akan semakin berubah seiring dengan perkembangan buah hati yang berada dalam kandungan.
Entah mengapa selama menginjak kehamilan yang berusia 10 Minggu ini,Zain semakin sibuk.
Selalu pulang malam.
Setiap di tanya dia selalu berdalih lembur.
Kebetulan Opa Leo sedang berada di luar negeri untuk meninjau bisnis nya.
Waktu sudah menunjukan pukul 12 Malam.
Dinda mulai gelisah ketika Zain belum pulang ke rumah,
"Sudah larut malam begini kamu kemana mas Zain?"Gumam Dinda sembari melihati layar ponselnya.
Ceklek.....
Dinda yang terduduk di sisi ranjang pun menoleh ke arah pintu yang terbuka.
"Mas..... "Kata Dinda yang berdiri menghampiri suaminya.
"Huwek.... "Dinda yang mual karena tidak bisa mencium bau alkohol.
"Astagfirullah mas,kamu habis minum lagi ya?"Tanya Dinda sembari menutup hidungnya.
Zain tidak menjawab pertanyaan nya Dinda.
Dia lebih memilih merebahkan tubuh nya yang mabuk berat itu ke ranjang.
"Ya Allah mas,tolong ja..."
"Shut Up Dinda!"Bentak Zain ke Dinda.
Deg.....
Jantung Dinda terasa sakit mendengar bentakan dari Zain.
"Kamu itu berisik!Bisa tidak kamu diam?"Bentak Zain lagi dan mengambil bantal untuk menutupi telinganya.
"Kamu kenapa mas?"Batin Dinda sesenggukan.
👉👉 Keesokan paginya,,
Waktu sudah menunjukan pukul 10 pagi.Hari ini adalah schedule Dinda untuk memeriksa kehamilannya dengan dokter Nisya.
"Mas,bangun mas... "Dinda yang membangun kan Zain.
"Hmmmmm.."Zain yang masih malas bangun dan menarik bantal untuk menutup telinga nya.
"Mas,bangun mas..."Gugah Dinda lagi sembari menggoyang-goyang kan lengan Zain.
"Aish... Omaygod.. Dinda,don't disturb me!"Kata Zain kesal dan mendudukan bokong nya sembari mata yang terpejam.
"Astagfirullah mas,ini sudah jam 10 pagi loh.Hari ini kita ada janji sama dokter Nisya."Jelas Dinda sambil mengusap perut buncitnya.
__ADS_1
"Sama mbok Sumi.Mas ngantuk sekali."
"Kok sama mbok Sumi mas?Mas Zain kan suaminya Dinda.Memang nya mas enggak mau melihat tumbuh kembang anak kita di dalam perut?"Tanya Dinda kesal.
"Kamu kenapa sih mas?Menjadi Berubah seperti ini semenjak bertemu dengan mantan kekasih Kamu itu?"
JLEEPP....
Zain yang tadi nya memejamkan kedua mata kini terbuka terbelalak menatap tajam Dinda.
"Jangan bawa-bawa nama dia,paham!"Bentak Zain dan menarik selimut nya lagi dan berbaring.
"Astagfirullah hal adzim,"
Dinda memejam kan mata agar manik-manik air matanya tidak terjatuh.
Dia mengambil nafas dalam-dalam dan mengeluarkan dengan pelan.
"Bismillah,"Ucap Dinda sembari mengusap perutnya dan beranjak berdiri dari duduk nya di sisi ranjang.
Diapun mengambil tas nya yang berada di sofa dan berjalan ke arah pintu keluar serta menutup pintu kamar nya.
Sembari memegangi pegangan tangga Dinda berjalan pelan-pelan menuju ke lantai bawah.
"Alhamdulilah sampai juga dibawah."Gumam nya sembari mengusap perut buncitnya.
"Loh,Dinda mau kemana nak?"Tanya mbok Sumi yang menghampiri Dinda.
"Mbok,temani Dinda check up ke dokter kandungan ya mbok?"Pinta Dinda yang memelas.
"Den Zain?"Tanya Mbok Sumi penasaran.
Dinda hanya diam tertunduk dengan raut wajah sedih nya.
Mbok Sumi adalah saksi kunci rumah tangga Dinda dan Zain yang saat ini sedang tidak baik-baik saja.
45 Menit kemudian,
Mbok Sumi dan Dinda sudah sampai di rumah sakit.
Mbok Sumi menggandeng pelan-pelan Dinda yang terlihat hamil besar.
"Nak,mbok perhatikan perut kamu kok ukurannya lebih besar dari ukuran perut ibu hamil tiga bulan yang lainnya?"
"Dinda juga tidak tau mbok,makanya nanti Dinda mau menanyakan dokter Nisya."Jawab Dinda sembari berjalan menuju lorong rumah sakit.
Setelah registrasi,
Dinda dan mbok Sumi menunggu di luar ruangan obygin.
Dinda merasa kikuk,
pandangan nya tak lepas ketika melihat di sekelilingnya.
Dia melihati ibu-ibu yang sedang check up kandungan dengan ditemani suami siaga nya masing-masing.
Mbok Sumi yang peka dengan keadaan Dinda bergegas menghiburnya.
"Saat ini Dinda fokus dengan ke hamilannya ya.Jangan mikir yang aneh-aneh.Mungkin saja den Zain sedang capek atau sedang ada masalah pekerjaan dikantornya."Hibur mbok Sumi sambil mengusap punggung nya.
"Iya mbok,"Jawab Dinda.
__ADS_1
Tak lama kemudian nama Dinda dipanggil oleh perawat.
Diruang dokter Anisya Salwa SpOG,
"Selamat pagi menjelang siang Bu Dinda."Sapa dokter Nisya yang ramah.
"Iya dokter selamat pagi juga."Balas Dinda sembari duduk di kursi yang sudah di sediakan dengan ditemani mbok Sumi.
"Ibu Dinda sehat?Apa ada keluhan dalam 10 Minggu ini?"Tanya dokter Nisya.
"Alhamdulillah sehat dok,hanya saja mungkin saya sedikit lelah ya karena bawaan perut yang membesar ini."
"Kalau dilihat dari ukuran perut kemungkinan ibu Dinda sedang hamil bayi kembar."
"Ma Sya Allah,itu beneran dok?"Tanya Dinda dengan gembira sembari mengangkat kedua tangannya untuk menutup mulutnya.
"In Sya Allah Bu,mari kita cek dulu.Silahkan baring di brankar."Titah dokter Nisya.
Mbok Sumi dan seorang perawat membantu Dinda berbaring di brankar.
Lalu dokter Nisya pun mengolesi cairan bening dingin seperti gel itu diperut Dinda.
"Suami kemana Bu?"Tanya dokter Nisya yang basa-basi sembari memeriksa perut Dinda menggunakan alat USG.
"Kerja Bu."Jawab Dinda yang beralibi.
"Ma Sya Allah...."Ucap dokter Nisya sambil melihat monitor.
"Ada apa dok?"Tanya Dinda penasaran.
"Bu Dinda selamat ya,sesuai hasil USG yang sudah saya cek berulang-ulang ternyata Bu Dinda sekarang sedang hamil bayi kembar."
"Alhamdulillah,bayi kembar dok?"Kata Dinda kaget mendengarnya.
"Mbok,Dinda punya dua baby kembar mbok."
Tambah Dinda dengan raut wajah bahagianya.
"Bukan 2 Bu Dinda,tapi empat baby kembar."Sahut dokter Nisya.
"Empat dok?"Seru Dinda dan mbok Sumi bersamaan terkaget.
Dokter Nisya pun mengangguk kepalanya.
"Ma Sya Allah... Alhamdulillah.. Engkau memberikan titipan anugerah yang luar biasa."
Ucapan rasa syukur Dinda yang tiada hentinya diucapkan berulang-ulang kali.
"Mas... Kita akan memiliki anak.Anak kita 4 mas.."Batin Dinda sembari mengusap perut buncit nya itu.
Dinda dibantu mbok Sumi dan seorang perawat kembali duduk dikursi yang sudah disediakan.
"Ibu Dinda,saya berikan resep vitamin saja ya Bu.Jangan lupa jaga kesehatan makan dan minum-minuman yang bergizi."Pesan dokter Nisya sembari memberikan resep kepada Dinda.
"Iya terimakasih banyak ya dok."
"Ada yang perlu ditanyakan lag?"Tanya dokter Nisya.
"Untuk saat ini cukup dok.Kalau begitu kami izin untuk permisi.Selamat siang.."Pamit Dinda.
"Selamat siang hati-hati."Balas dokter Nisya yang ramah.
__ADS_1
Bersambung.........