
Pukul 07 malam tepatnya Dinda dan Zain sudah tiba di kediamannya Opa Leo.
Ceklek....
Zain membuka pintu utama rumah kediaman Opa Leo.
Zain dan Dinda pun segera masuk ke dalam rumah.
Dinda dan Zain melihat Opa Leo yang sedang duduk di minibar.
"Assalamualaikum Opa."Sapa Dinda kepada Opa Leo sembari mengulas senyumnya.
Opa Leo pun menoleh.
"Dinda??Cucu menantuku..."Ucap Opa Leo dan berjalan menghampiri Dinda dan Zain.
Sementara asisten Ferdy menghentikan langkahnya sembari membawa barang-barang tuan dan nona muda nya itu.
"Asisten Ferdy tolong dibawa sampai ke atas!"Titah Zain.
"Baik tuan."Jawab asisten Ferdy dengan anggukan.
"Dinda cucu menantuku akhirnya kamu kembali lagi nak."
"Iya Opa,"Jawab Dinda yang mengulas senyumnya sembari mencium punggung tangan Opa Leo.
Opa Leo pun melirik lelaki yang berada di samping Dinda yang tak lain adalah Zain suaminya Dinda.
Opa Leo pun senyum smirk.
Lalu memberikan punggung tangannya didepan Zain.
Kemudian Zain pun mengerutkan alisnya sembari menatap Opa Leo.
"CK,"Zain yang mencebikkan bibir nya kini meraih tangan Opa Leo dan mencium punggung tangannya.
"Anak Soleh..."Ucap Opa Leo sembari mengusap punggung Zain.
"Sudah puas,?"Tanya Zain kepada Opa Leo.
"Its Ok ."Ucap Opa Leo sambil me puk-puk bahu Zain.
Tanpa basa-basi lagi karena kelelahan,Zain dengan santainya berjalan menuju anakan tangga.
"Zain...."Panggil Opa Leo dan Zain pun menghentikan langkah sembari memejam ke dua matanya sejenak.
Diapun menarik nafas dalam-dalam sebelum memutar tubuh nya untuk menghadap Opa Leo.
"Aish,,Why Opa?You know I'm so tired.."Jawab Zain sembari menghadap Opa dengan raut wajah kesalnya.
"Di gandeng dong Dinda,"Seru Opa Leo sembari mengulas senyum.
"Helech.. Kira in apa.Huft..."Ucap Zain dan mulai memutar tubuhnya menaiki anakan tangga.
"Dia bisa jalan sendiri,enggak usah manja!Saya enggak suka istri manja!"Jawab Zain lagi yang pelan-pelan menaiki tangga.
"Za...."Kata Opa Leo yang terpotong.
"Enggak apa-apa Opa.Kasian mas Zain masih capek."Sahut Dinda.
"Kalau begitu susul lah dia nak.Istirahatlah."Titah Opa Leo.
"Iya Opa,Dinda naik ke atas dulu."Ucap Dinda dan Opa Leo menganggukkan kepalanya.
Didalam kamar,
Zain segera membersihkan diri setelah Dinda membersihkan diri nya juga.
__ADS_1
Seperti biasa,Dinda mulai menggelar kasur kecilnya didekat sofa.
Zain pun mengerutkan keningnya sembari kedua tangannya di pinggang.
"Mau ngapain?"Tanya Zain dengan datar.
Dinda pun menoleh ke arah Zain.
"M-mau tidur mas."Jawab Dinda dengan raut wajah polosnya.
"Lipat lagi kasur nya,baru naik ke atas ranjang."Titah Zain sembari melangkahkan kaki.
Dinda hanya terdiam terpelongo sembari mengedipkan kedua mata.
Langkah Zain terhenti ketika Dinda masih terdiam di tempat.
"CK,hey... Buruan dilipat baru naik keranjang."Ujar Zain dengan kalimat terakhir yang menekan.
"I-iya mas..."Jawab Dinda sembari melipat kasur kecilnya.
"Lelet banget,"Omel Zain sembari mengacak rambutnya.
Mendengar Omelan Zain,Dinda hanya tersenyum-tersenyum.
Zain pun melirik Dinda dengan senyum smirknya.
Zain menarik tangan Dinda dengan keras.Hingga Dinda berada di pelukan Zain.
"Apa yang kamu tertawakan dari saya hm?"Tanya Zain sembari mengeratkan tangan di pinggang Dinda.
"E-enggak ada kok mas.!"Jawab Dinda yang mendongak sembari menggigit bibir bawahnya dengan kedua tangan yang menopang di dada bidang Zain.
"Ma Sya Allah... Begitu tampannya anugerah mu."Batin Dinda yang meresapi memandang rait suaminya.
"Few....."Zain yang meniupkan angin di ke dua kelopak mata Dinda.Dan Dindapun mengerjapkan.
"Mmmmm...."Jawab Dinda sembari berpikir.
"Dinda...?"
"Dinda ngantuk mas!"Jawab Dinda sembari
melepas pelukan Zain dan berlari ke arah ranjang.
"Aish,...."Decih Zain sembari mengacak rambutnya dan berjalan melangkah menuju ranjang.
Bahagia..
Seperti itulah yang dirasakan Dinda.
Lima bulan lama nya dia mencoba untuk bersabar menghadapi sifat dan karakter suaminya yang dingin.
Hingga pernah berbagai bermunculan ide niatnya untuk mengakhiri pernikahannya dengan Zain pria yang dingin baginya.
Dinda pun memiringkan tubuhnya,menarik selimutnya dan memejamkan mata.Tak lupa dia mengulas senyum nya malam ini.
Sementara Zain,dia masih duduk menyandarkan punggung dikepala ranjang dengan memainkan phoneselnya.
Tak luput juga dia sebentar melirik istrinya yang tertidur pulas memunggunginya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Ke esokan paginya,
Dinda dan mbok Sumi sudah bergelut di dapur untuk menyiapkan sarapan suaminya dan Opa Leo.
Hari pertama ketika Dinda kembali ke rumah Opa Leo,mengingatkan Dinda dimana moment-moment indah saat dia merasa bahagia bisa dijemput oleh suaminya untuk kembali kerumah Opa Leo.
__ADS_1
Mbok Sumi yang melihat Dinda begitu bahagia.Mulai menggodanya.
"Cie.. Cie.. Ada yang lagi bahagia nih?"Goda mbok Sumi yang menyolek lengan Dinda saat menggoreng telur dadar.
"Ah,mbok Sumi bisa saja."Jawab Dinda yang tersipu malu.
"Memangnya Dinda kalau enggak bahagia wajahnya terlihat ya mbok?"Tanya Dinda sembari mengangkat telur dadarnya.
"Uh,jangan di tanya kan lagi.Setiap hari terlihat wajahnya kusut ditekuk."
"Seperti roti sobek."Jawab mbok Sumi dan diikuti gelak tawa mereka berdua.
"Mmmppp.... Mbok bisa saja dech."Ucap Dinda sembari memeluk mbok Sumi.
"Ya sudah,bangunin nak Zain si muka datar.Waktunya untuk pergi ke kantor."Kata mbok Sumi yang mengingatkan Dinda.
"Hussstt... Mbok,jangan keras-keras nanti dia ngomel-ngomel."Seru Dinda memperingatkan mbok Sumi.
"He.. He... Siap!!"Jawab mbok Sumi sembari hormat.
Dinda pun berjalan menuju ke lantai dua.
Ceklek....
Dinda membuka pintu kamarnya.Kemudian dia masuk dan berjalan menuju ruangan walk in closet.
Dia mulai menyiapkan baju kantoran dan perlengkapan kerja suaminya yang lain.
30 menit kemudian Zain keluar dari kamar mandi dengan mengenakan handuk yang dililitkan di sebagian tubuhnya.
"Mas,ini bajunya.."Ucap Dinda dan menaruh stelan baju kantornya di ranjang.
"Hm!"Jawab Zain dengan singkat sembari memakai kaosnya.
"Sini."Ujar Zain sembari mengancingkan kancing lengannya.
Dinda pun patuh dengan ucapan suaminya dan berdiri di hadapannya.
"Ada apa mas?"Tanya Dinda.
"Saya enggak bisa memakai dasi!"Jawab Zain singkat sembari membetulkan kerah bajunya.
Dinda pun tersenyum dan mengangguk.
Dia mulai mengalungkan dasi ke leher suaminya.
Zain dengan iseng menarik pinggang Dinda yang mirip gitar spanyol itu dan melingkarkan kedua tangannya.
"Jangan menatap ku seperti itu mas."Ucap Dinda sembari memakaikan jas suaminya.
Zain hanya memilih untuk diam tanpa menjawab pertanyaan dari Dinda.
Cup
Zain mengecup bibir Dinda dan mengeratkan kedua tangannya di pinggang istrinya.
Lima menit kemudian Zain melepaskan pagutannya.
Dia pun melangkahkan kaki nya menuju pintu keluar kamar.
Sedangkan Dinda masih tersenyum bahagia dengan pipi meronanya dan memegangi bibir nya yang sudah di kecup suaminya.
Selamat menantikan berbuka puasa🙏🙏
Balikpapan,
Friday, 07 April 2023
__ADS_1