
Hari ini Dinda begitu disibukkan oleh pekerjaan akhir bulan nya.Dia harus memeriksa gaji para karyawan nya serta bonus-bonus yang lain untuk para karyawan.
*Tung ting....📲
dering notification aplikasi hijau handphone Dinda yang berbunyi.
Abang Ardan
Aku tunggu kamu di lobby,kita harus menyelesaikan soal hubungan kita.
Dinda yang sejenak diam berpikir sebelum dia membalas chat dari Ardan.
Dinda menarik nafas dalam-dalam nya.
"Tunggu 10 menit lagi selesai"Balas Dinda dalam chat nya.
Dinda melanjutkan tugas nya kembali untuk menyelesaikan laporan-laporan akhir bulan nya.
Hingga 10 menit kemudian dia menutup laptop nya dan merapikan meja kerja nya.
Dia berjalan menyusuri restourant menuju Lobby dan menemui Ardan.
"Bang.... "Sapa Dinda dari balik punggung Ardan.
Ardan pun menoleh dan mengulas senyumnya.
"Sudah selesai?."Tanya Ardan dan Dinda pun mengangguk kan kepala.
"Kita ngobrol disini bisa kan bang?"Tanya Dinda kepada Ardan.
"Soal nya aku harus segera pulang."Tambah Dinda lagi dan duduk di depan Ardan.
Dengan raut wajah yang terpaksa Ardan menganggukan nya.
"Dinda,mama papa ku menuntut ku untuk segera menikah dan aku ingin kamu bersedia untuk menikah dengan ku."
deg......
"Menikah bang??"Ulang Dinda dengan raut wajah terkejut.
"Iya.Aku mau kita menikah."Jawab Ardan.
Dinda sejenak terdiam dan berpikir,
"Kenapa Dinda?Apa ada yang sedang kamu pikirkan?"Tanya Ardan ketika melihat Dinda sedang memijit ujung pelipis nya.
"Bang,maaf kan Dinda ya bang.Dinda tidak bisa untuk menikah dengan Abang."Jelas Dinda.
"Kenapa Dinda?"Tanya Ardan sedikit menaikan nada.
"Maaf bang,aku salah dalam hubungan ini.Seharus nya aku sadar dari dulu aku masih ber status suami orang."
"Tapi kan kamu ingin bercerai dari Zain bukan?"
__ADS_1
"Entah lah bang,kalaupun bercerai nanti nya kita juga enggak bisa bersama."Jawab Dinda.
"Kenapa?"Tanya Ardan berkerutkan kening nya.
"Aku tau bang,kedua orang tua mu tidak bisa menerima ku."Jawab Dinda dan menatap Ardan.
"Kita bisa memperjuangkan nya Dinda bersama-sama."Jawab Ardan.
"Enggak bisa bang.Karena aku sudah memiliki anak.Kamu tau enggak apa yang dimaksud oleh kedua orang tua kamu itu?Mereka mengingin kan seorang istri untuk kamu yang masih singgle dan belum berstatus."Jelas Dinda dan Ardan nampak kesal mendengar kan nya.
"Dan kalau pun kita memaksa kan hubungan ini,aku yakin bang rumah tangga kita pasti akan terombang-ambing."
"Kamu jangan berekspektasi buruk dulu,semua yang menjalani ini adalah kita.Kita tidak tahu kedepan seperti apa."
"Dinda tidak berekspektasi buruk bang,Dinda hanya melihat dari realita nya sekarang."Jawab Dinda yang tidak mau mengalah.
"Bang,Dinda mohon maaf sekali mulai hari ini kita akhiri hubungan ini.Dinda juga tidak melarang Abang untuk menikah dengan perempua lain."Kata Dinda.
Ardan terdiam membisu seribu bahasa.Sedangkan Dinda juga terdiam menunduk.
"Ardan,Dinda pamit ya...."Ucap Dinda namun tidak direspon oleh Ardan.
Dinda beranjak berdiri dari kursi dan melangkah kan kaki nya untuk pergi.
Krekkk....
Suara dorongan kursi Ardan yang beranjak berdiri.
"Tapi aku sayang nya dengan kamu Dinda!"Teriak Ardan di Lobby restaurant dan semua para Custumer itu menatap kan pandangan nya ke arah Ardan.
Dinda pun terdiam mencoba menahan rasa malu karena sudah menjadi faktor pusat perhatian seluruh pengunjung restourant dan Dindapun memutar tubuh nya.
"Maaf Ardan,tolong jaga sikap kamu.Kamu adalah seorang Presdir,tolong jangan rendah kan harga diri kamu didepan umum hanya karena masalah cinta."
"Mohon maaf semua nya,silahkan dilanjutkan untuk menikmati hidangan di restaurant ini."Seru Dinda dan beranjak pergi meninggalkan Ardan.
Dinda pergi menuju tempat parkir dan masuk kedalam mobil nya.
"Huft....."
"Astagfirullah hal adzim... Ardan kenapa kamu tidak bisa memahami ku sama sekali."Gumam Dinda.
Dinda menenangkan pikiran nya sejenak sebelum dia menyalakan mesin mobilnya.
Setelah dia merasa tenang,dia kembali menyalakan mesin mobil nya.
Tiga puluh menit kemudian Dinda sampai dirumah nya.
Dinda bergegas turun dari mobil,suasana sore hari yang membuat Dinda sangat begitu stress.
Diapun berjalan menuju ruang tamu dan terkejut melihat ada koper besar.
"Selamat sore nona..."Asisten Ferdy yang menyapa.
__ADS_1
"Sore asisten Ferdy."Jawab Dinda sembari mengulas senyum nya.
"Asisten Ferdy,tolong jelaskan apa maksud dari mas Zain membawa koper nya kerumah saya?"Tanya Dinda kepada asisten Ferdy.
Belum sempat asisten Ferdy menjawab ketiga anak Dinda keluar dari ruang keluarga yang diikuti oleh Zain kedua orang tua Dinda dan mbok Sumi.
"Momy....."Seru ketiga anak-anak nya yang bersalaman satu-satu mencium punggung tangan Dinda.
Tatapan Dinda langsung tertuju kearah Zain yang berdiri diantara kedua orang tua nya dan mbok Sumi.
"Mas...!"
"Tolong dijelaskan apa maksud kamu membawa koper kamu kesini?"Tanya Dinda kepada Zain.
"Dady.. Mau tinggal bersama kita Momy."Jawab Ryu dan Dinda melebarkan kedua mata nya.Sementara Zain hanya senyum-senyum.
"Apa....???"Dinda yang terkaget mendengar jawaban Ryu.
"Enggak bisa!"Tolak Dinda sembari melipat kedua tangan nya.
"Kenapa enggak bisa?"Protes Zain menghampiri Dinda dan mendekatkan wajah nya ke arah Dinda.
"Jaga jarak mu mas..."Ucap Dinda dan sedikit mendorong Zain untuk mundur.
"Apa kata orang nanti di komplek rumah ini mas?"
"Perduli amat dengan kata orang."Sahut Zain yang enteng sembari mengacak pinggang nya.
"Harus dong mas... Kamu ini tinggal di lingkungan orang,bukan di hutan.Semua tetangga itu tau nya aku janda tiga anak.Apa kata nya nanti kalau aku membawa laki-laki menginap dirumah ku?"Jelas Dinda dengan nada berat nya.
"Asisten Ferdy.... Temui pak RT dan bilang ka..."
"Kamu lah mas yang pergi,masak kamu menyuruh asisten Ferdy untuk pergi kerumah nya Pak RT?"Potong Dinda dan semua orang tertawa ngikik melihat kelakuan Zain.
"Itu kecil.Jangan kaget ya kamu nanti kalau aku sudah dirumah pak RT."Jawab Zain dan menatap tajam Dinda sebelum pergi.
"Ayah... Dimana rumah pak RT?"Tanya Zain kepada Ayah Ali.
"Blok G no 29.Nak..."Jawab Ayah Ali.
"Terimakasih ayah."Jawab Zain dan menghampiri ketiga anak nya.
Zain pun merangkul ketiga anak nya.
"Ingat ya.. Visi misi kita ok?"Kata Zain kepada ketiga anak nya.
"Ehem... Ehem..."Dinda yang melipat kan kedua tangan nya yang berdehem dan membuyarkan perkumpulan Dady dan anak-anak nya.
Zain pun mengedipkan mata ke anak-anak nya.Dan berjalan pergi ke arah pintu keluar.
"Ok Dady...."Jawab nya serentak.
"Hmmmm..... Sedang ada visi apa mereka ya?"Batin Dinda.
__ADS_1
Bersambung........
♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️