
Dinda dan Zain berada di ruangan dokter spesialis kandungan yaitu dokter Nisya.
Setelah selesai USG,Dinda dan Zain kembali duduk di kursi yang sudah disediakan sembari sesi bertanya.
"Alhamdulillah,hari ini ibu Dinda sudah diperbolehkan untuk pulang.Ibu dan ke empat calon anak-anak nya juga sehat semua.Bulan depan sudah memasuki tri semester ke dua ya Bu Dinda.Jangan lupa terus untuk check up."Pesan dokter Nisya.
"Baik dok,"Jawab Dinda.
"Mungkin ada yang ingin dipertanyakan?"Tanya dokter Nisya.
"Hmmm... Dok,saya mau nanya bagaimana cara berhubungan intim yang nyaman kepada istri yang sedang hamil dok?"Tanya Zain kepada dokter Nisya.
Pertanyaan yang dilontarkan Zain tentu saja membuat Dinda malu☺️.
Bisa-bisa nya dia menanyakan hal yang seintim itu.
Dinda pun berbisik kepada Zain.
"Mas...?Bisa-bisa nya kamu bertanya mengenai hal itu?"Tanya Dinda dengan raut pipi merah merona.
"Oh,itu harus sayang.Jangan malu-malu bertanya.Mas enggak mau sesuatu terjadi dengan kamu dan anak-anak kita saat berhubungan suami istri betul enggak dok?"Jawab Zain sembari mengulas senyum nya.
Dokter Nisya hanya membalas tersenyum sementara Dinda tertunduk diam malu akibat ulah Zain.
"Hubungan intim aman saat dilakukan selama dilakukan dengan kondisi kandungan ibu sehat dan kuat."
"Kalau boleh tau dok berapa kali dalam seminggu?"Tanya Zain lagi.
"Sebenarnya Tuan Zain dan Bu Dinda bisa melakukan hubungan intim sesering yang diinginkan.Namun, terlalu sering berhubungan intim saat hamil juga tidak dianjurkan. Hubungan intim saat hamil yang terlalu sering (lebih dari tiga kali dalam seminggu) bisa memicu terjadinya infeksi saluran kencing (ISK). Bila tidak segera diobati, ISK dapat menyebabkan masalah dalam kehamilan."Jawab Dokter Nisya.
"Jadi lebih baik tanya kan terlebih dulu kepada Bu Dinda."Kata dokter Nisya.
"Memasuki trisemester ke dua,perut Bu Dinda akan mulai membesar karena ukuran janin yang semakin bertambah.Hubungan suami istri pada trimester kedua inilah, hubungan intim suami istri dianjurkan. Namun, tetap pastikan Bu Dinda berada pada posisi yang tepat agar tetap nyaman.Hindari posisi berhubungan dengan telentang karena mengakibatkan perut dan pembuluh darah di sekitarnya mengalami tekanan. Posisi berhubungan intim yang disarankan adalah posisi miring (spoon position), duduk (sitting dog), atau woman on top."
"Bagaimana tuan Zain?Apa ada penjelasan yang belum bisa tuan pahami?"Tanya dokter Nisya.
Zain pun merasa paham dan mengangguk dengan penjelasan dokter Nisya.
"Wauuu... Baik dok terimakasih semua dengan penjelasannya yang lengkap dan sangat membantu saya.Kata Zain dan dokter Nisya mengangguk tersenyum.
"Kalau begitu kami pamit dok,"Pamit Zain dan Dinda bersamaan.
"Baik tuan dan Bu Dinda hati-hati di jalan."Pesan dokter Nisya.
"Terimakasih dokter,"
Zain dan Dinda pun keluar dari ruangan dokter Nisya.
Zain berjalan dengan menggandeng tangan Dinda begitu erat di lorong-lorong rumah sakit.
Mereka berdua berjalan dan ber pas-pasan dengan Toddy yang berjalan menuju ruang dokter Nisya.
"Dinda?"Sapa Toddy dan raut wajah Zain seketika berubah.
"Ada apa pak dokter?"Tanya Zain ketus yang memasang badan.
"Ah,enggak ada apa-apa tuan Zain.Saya hanya sekedar ingin menyapa dan mau menanyakan keadaannya."Jawab Toddy.
__ADS_1
"Kamu lihat sendiri?Istri saya sudah diperbolehkan pulang dan Alhamdulillah dia dan juga anak-anak saya sehat semua nya.Kalau tidak ada hal yang penting lagi kami mau permisi!"Jawab Zain tegas dan berjalan pergi menggandeng Dinda menjauh dari Toddy.
Toddy hanya terdiam menggeleng kepala.
"Sehat-sehat terus Dinda."Batin Toddy sembari melihati punggung Zain dan Dinda pergi menjauh.
Sementara itu,
"Mas,jangan ketus seperti itu dong."Kata Dinda.
"Bilang saja,kamu senang ya kan bertemu dengan mantan?"Jawab Zain yang menggoda Dinda.
"Sudah mas,Dinda malas berdebat!"Jawab Dinda dengan raut wajah kesalnya.
Dinda memasuki mobil yang di supiri oleh asisten Ferdy.
Dan duduk dibelakang bersama Zain.
Sore hari Dinda bersama Zain sudah tiba dirumah Opa Leo.Kedua orang tua Dinda dan Opa Leo sudah menunggu kedatangan Zain dan Dinda.
"Assalamualaikum,"Sapa Dinda bersamaan dengan Zain.
"Waalaikum salam,"Jawab kedua orang tua Dinda dan Opa Leo diikuti Dinda dan Zain mencium punggung tangan ketiga orang tua tersebut.
"Ayah,ibu Opa.Biar kan Dinda istirahat dulu ya."Kata Zain.
"Iya nak,bawa istrimu istirahat dulu."Tambah ayah Ali.
"Sayang kamu istirahat dulu ya,tapi kamar kita ada dibawah."Ucap Zain.
"Mas kasian sama kamu naik turun tangga dengan keadaan hamil besar begini sayang.Mas khawatir."Jawab Zain dan Dinda mengulas senyumnya.
"Makasih mas,mas sudah perhatian dengan Dinda."Balas Dinda.
Zain mengantar Dinda ke kamar tamu yang di sulap Zain menjadi kamar pribadi nya dan Dinda.
Ceklek....
"Assalamualaikum,"Sapa Dinda dan mulai memasuki kamar diikuti oleh Zain.
"Waalaikum salam,"Jawab Zain sambil menutup pintu kamarnya.
Pandangan Dinda menatap ke seluruh ruangan kamar yang sudah disiapkan oleh suaminya.
"Kamu suka?"Tanya Zain.
"Iya mas,Dinda suka."
"Sini duduk di sisi ranjang."Kata Zain dan menuntun Dinda untuk duduk dipinggir ranjang.
"Mau minum?"Tanya Zain dan Dinda menggeleng kan kepalanya.
"Dinda mau ganti baju daster mas,lebih nyaman rasanya karena lebih longgar."Jawab Dinda sembari mau melepas hijabnya.
Dinda pun mau melepas hijab segi empat nya.
"Mas bantu..."Ucap Zain dan membuka peniti dan Bros yang melekat di hijab Dinda.
__ADS_1
Zain terpelongo melihat kecantikan istrinya yang mengurai rambut lurus hitam yang tergerai sebahu.
"Mas...?Mas.. Kenapa?"Tanya Dinda yang menotice Zain.
"Kamu cantik."Ucap Zain senyum.
"Mas gombal."Jawab Dinda yang malu-malu.
"Ih,serius..."Goda Zain.
"Bohong!"Timpal Dinda.
"Kamu sudah siap sayang?"Tanya Zain yang mendekat ke arah Dinda.
"Siap apa mas?"Tanya Dinda yang polos.
"Sayang... Sudah lama mas menahan hasrat ini,mas ingin se..."
"Iya mas!"Jawab Dinda tanpa ada paksaan.
"Mas janji akan melakukannya dengan pelan.Tidak akan menyakiti mu dan mereka."Jelas Zain dan mengusap perut buncit istrinya dan mencium nya.
"Sini mas bantu."Kata Zain yang membantu Dinda membuka kancing atas baju daster dan membuka daster Dinda.
Badan Dinda memang berubah 100 derajat!Pipi nya tambah gembul perut buncitnya semakin besar paha dan juga lengan nya berubah membesar.
"Dinda enggak bisa lepas mas,"Kata Dinda yang tidak bisa melepas underwear nya.
"Sini mas lepasin semua nya ya,"
Zain melorotkan underwear Dinda dan membuka tali kacamata dada Dinda yang terlihat padat berisi.
Cup...
Cup...
Zain menautkan bibir nya.
Mereka berdua saling berpagutan.
"Naik sayang..."Zain meminta Dinda untuk naik ke atas ranjang.
Zain membuka semua bajunya dan dia lemparkan ke arah sofa hingga tak berbusana.
Zainpun menarik ranjang dengan merangkak ke arah Dinda yang sudah terbaring.
"Miringkan tubuh mu sayang sesuai dokter Nisya bilang,kalau capek kita istirahat."Titah Zain.
"Pelan-pelan mas,"Ujar Dinda sembari miringkan tubuhnya.
"Mas mau masuk sayang..."
sstttttttt🤫🤫🤫🤫🤫🤫🤫🤫🤫🤫🤫🤫🤫
SENSOR
♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️
__ADS_1