
Sore hari ketika semua keluarga sedang berkumpul di depan teras rumah Dinda,datang seorang laki-laki yaitu Ardan.
"Assalamualaikum... "Sapa Ardan kepada semua keluarga yang berada di teras.
"Wa Alaikum salam.."Jawab semua orang.
Zain yang tadi nya begitu happy santai ngopi raut wajah nya berubah menjadi datar ketika melihat Ardan.
Begitupun juga sebalik nya dengan Ardan.
Raut wajah nya juga berubah ketika melihat Zain.
"Papi......!"Teriak si bontot yang berlari menuju ke arah Ardan dan Ardan pun langsung menggendong nya.
Zain yang terduduk akhir nya beranjak berdiri ketika mendengar anak nya Ryu memanggil Ardan dengan panggilan papi.
"Ryu.. Turun."Kata Zain kepada Ryu yang berada dalam gendongan Ardan.
"Mas....."Ucap Dinda yang menghampiri Zain dan Ardan.
Ryu pun turun dari gendongan Ardan ketika Dinda memberi kode mata ke Ryu untuk turun dari gendongan Ardan.
"Ayah,ibu mbok.. Boleh tolong sebentar anak-anak dibawa kedalam rumah ya."Kata Dinda yang menggandeng Ryu.
"Tapi Dady kami masih ingin bermain dengan papi."Kata Rey yang menyahut.
"Masuk Rey!"Pekik Zain dengan nada tinggi sambil menunjuk kearah pintu masuk rumah.
"Mas....!"Dinda yang juga meninggikan nada suara nya.
"Kamu juga kenapa kamu mengajari anak-anak mu memanggil orang lain dengan panggilan papi.Aku ini bapak nya."Ujar Zain yang kesal.
"Hi.... Hi..."Ketiga bocah itu pun tiba-tiba menangis.
"Mas... Tahan emosi mu.Jangan kamu marah-marah di depan mereka."Kata Dinda sembari menekan kalimat terakhir nya.
"Ayok Cu... Sudah-Sudah "Kata ayah Ali yang menggandeng Rey bersama Ryo dan istri nya yang masuk kedalam rumah.
Setelah Zain memastikan situasi aman dari ketiga anak-anak nya,dia mendekat menatap Ardan.
Dan menoleh ke arah Dinda.
"Tuan Ardan Yudha Wiratama yang terhormat,saya minta kepada anda untuk tidak mengganggu istri dan anak-anak saya lagi."Kata Zain tegas.
"Istri?..... Apa saya enggak salah dengar?"Kata Ardan.
"Setau saya anda akan digugat cerai oleh istri anda.!"Jawab Ardan.
Zain mendekat ke arah Dinda.
"Beri tau dia katakan kepada mantan kamu ini agar dia tidak berharap lebih kepada istri orang sekarang!" Ucap Zain yang sembari mengacak pinggang nya.
__ADS_1
Ardan pun menatap Dinda.
"Ardan,aku sama mas Zain sudah rujuk kembali."Ucap Dinda.
"Rujuk....?Dinda,sadar dong!Dia sudah menyakiti kamu dia sudah me..."
"Ardan,seburuk apa pun dia adalah ayah dari ketiga anak-anak ku."Sahut Dinda yang membela Zain suaminya.
"Cuih,..."Decih Ardan.
"Laki-laki biadap seperti dia kamu pertahanin."Tambah Ardan yang menunjuk muka Zain.
Bugh....
Zain yang menonjok perut Ardan hingga membuat Ardan mengerang kesakitan membungkuk.
"Astagfirullah hal adzim mas...."Ucap Dinda sembari menutup mulut nya yang terkejut.
"Itu peringatan pertama dari saya."
"Ayo masuk!"Zain yang menarik tangan Dinda menuju pintu masuk rumah dan meninggal kan Ardan.
Ardan yang terbungkus menahan sakit perut nya hanya bisa mengepalkan tangan nya.
Sementara itu didalam rumah,
Zain melihat ketiga anak nya yang duduk di sofa yang masih menangis sesenggukannya.
"Dady itu jahat ya,kenapa Dady marah-marah hah?"Jawab Ryu sambil sesenggukan nya.
Zain langsung dihujani pertanyaan yang membuat dia mengolah pikiran nya sembari terdiam sejenak.
"Memang nya kenapa kalau kami memanggil papi?"Tanya Rey lagi.
"Dady minta maaf sama kalian kalau Dady tadi marah-marah.Dady hanya enggak mau kalau kalian memanggil orang lain dengan panggilan seperti itu."Jawab Zain.
"Panggil Om Ardan ya."Tambah Zain lagi dan melihat ketiga anak nya itu manggut-manggut.
"Sudah sore,kalian mandi ya..."Seru Dinda kepada ketiga anak nya.
"Ayok ikut nenek sama Mbah uti ya."Kata ibu Ali dan mengajak cucu nya untuk pergi ke kamar nya.
"Ayah,Zain mau minta pendapat ayah."Kata Zain kepada ayah Ali dan Dinda langsung duduk menyimak di samping suaminya.
"Soal apa itu nak?"Tanya ayah Ali.
"Zain ingin mengajak kalian kembali lagi ke kota metropolitan dan tinggal disana."
"Terus bisnis restaurant Dinda bagaimana mas?Soal nya di kota ini omset nya juga lumayan."Tanya Dinda kepada Zain.
"Sayang... Sebenar nya mas ingin sekali kamu menjadi ibu rumah tangga fokus mengurus mas dan anak-anak saja da...."
__ADS_1
drt.... drt....
Suara dering phonsel Zain berbunyi.
"Sebentar ya mas angkat telfon dulu."
"Hallo...."Sapa Zain melalui via sambungan seluler nya.
Zain terdiam berdiri seribu bahasa selepas menerima telfon sembari berfikir dengan raut wajah yang gelisah.
"Kamu kenapa mas...?"Tanya Dinda yang nampak khawatir dengan keadaan suaminya.
Zain mendudukan bokong nya di sofa sembari memijit ujung pelipis nya.
"Mas cerita dong..."
"Dinda,biarkan suami kamu tenang dulu."Sela ayah Ali.
Zain menarik nafas nya dalam-dalam.
"Enggak ada apa-apa kok sayang."Jawab Zain sembari menutupi kebohongan nya.
"Cerita mas,kamu jangan bohong."
"Wiratama group melaporkan mas kejalur hukum apabila dalam waktu waktu 3bulan tidak segera melunasi hutang-hutang Abraham company sebesar 15 miliyar."
"Hutang...?Hutang apa mas..?"Tanya Dinda yang nampak bingung.
"1 bulan yang lalu 1 buah kapal tengker yang memuat batu bara tenggelam di Laut,dan mereka mengalami kerugian sebesar 15 milyar.Jadi mas harus mengganti sebesar 15 milyar 5 milyar sudah mas ganti 2 Minggu yang lalu.Ini sisa 15 milyar.Masalah nya mas sudah enggak punya uang untuk mengganti sisa nya."Curhat Zain kepada Dinda dan ayah Ali yang masih menyimak.
"Tapi mas?Kenapa harus mas yang mengganti semuanya?"Tanya Dinda lagi.
"Karena didalam surat perjanjian nya seperti itu Abraham company yang memiliki kapal tengker itu bersedia bertanggung jawab apabila ada kecelakaan maupun kendala suatu saat exspor barang."
"Terus kalau mas tidak membayar berarti mas nan..."
"Dipenjara!"
"Astagfirullah mas... Jangan ngomong seperti itu."
"Kenapa nak Zain bingung?Bukannya nak Zain bisa menggunakan uang perusahaan?Itu kan perusahaan nak Zain yang memegang." Kata ayah Ali.
"Opa membekukan semua akses ke uangan Abraham company Ayah,Zain hanya pengelola saja dan tidak lebih.Haduh... "Jawab Zain yang pasrah dan memijit ujung pelipis nya.
Dinda yang menguatkan Zain dengan menggenggam erat tangan Zain dan menyandarkan kepala di bahu suaminya itu.
Bersambung......
♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️
Terimakasih kk atas support dan dukungan nya untuk cerita Dinda.
__ADS_1