My Presdir

My Presdir
Pak Presdir


__ADS_3

Aza hanya diam tak menanggapi perkataan Aksa. Lelaki itu hanya bersandiwara saja, pikirnya. Hingga tak disadari, mobil Aksa telah sampai di depan rumah Aza. Saat Aza ingin keluar dari mobil, Aksa langsung mencekal tangannya.


"Bagaimana keputusanmu? Apa masih sama seperti hari- hari sebelumnya?"


"Ak- aku..."


Aksa menatap penuh harap wanita di hadapannya. Ia sangat mendambakan Aza mau menikah dengannya.


"Aku tetep nggak bisa! Aku nggak akan mengkhianati Reyfan meskipun dia sekarang berada di dunia lain, terima kasih telah mengantarkan aku pulang," Aza langsung membuka pintu mobil dan keluar.


"Dia itu sudah mati nggak akan hidup lagi! Kamu harus memikirkan dirimu sendiri, hidupmu masih panjang! Kamu harus memiliki pendamping supaya hidupmu lebih bermakna!" Teriakan Aksa membuat langkah Aza terhenti, wanita itu kembali menatap Aksa.


"Ini hidupku, aku yang menjalaninya. Kamu bukan siapa- siapaku, kumohon berhentilah mengejarku," ucap Aza dengan mata berkaca- kaca. Ia langsung masuk ke dalam rumahnya dan menguncinya.


Aza menangis menyandarkan tubuhnya di balik pintu. Ia kembali mengingat kekasihnya yang telah tiada. Sentakan dari Aksa cukup mengguncangnya, lelaki itu memang benar jika hidupnya masih panjang dan butuh pendamping untuk menjalani sisa hidupnya ini.


Tapi, bagaimana dengan Reyfan di sana? Apakah dia akan merelakan dirinya menjadi milik lelaki lain? Bukankah jika begitu, Aza berarti telah mengkhianati Reyfan?


"Rey...Aku merindukanmu..." lirih Aza di sela isakannya.


*****


Suara ayam berkokok milik tetangganya terdengar jelas di indra pendengarannya, wanita itu terbangun. Ia baru sadar jika dirinya semalam tidur menyandar di balik pintu. Wajahnya kembali sendu, ia teringat dengan perkataan Aksa. Tapi, ia sebisa mungkin menepisnya dan tampil ceria karena hari ini adalah pertama kalinya ia akan bekerja di Sanjaya Group.


Aza segera membersihkan dirinya dan bersiap. Ia menatap dirinya lekat di depan cermin kamarnya, berbalut kemeja dan rok span selutut serta sneakers putih seharga dua ratus ribuan itu. Aza tak suka jika memakai sepatu high heels. Sekarang, Ia benar- benar menjadi wanita kantoran, bukan pelayan restoran lagi.


Wanita itu segera mengepang rambutnya dan mengambil totebag warna hitam miliknya, ia sudah siap untuk ke Sanjaya Group. Perusahaan elit dimana hanya orang- orang dengan IQ tinggi yang bisa bekerja di sana.


Ketika membuka pintu, ia terkejut mendapati mobil Aksa masih terpakir di depan rumahnya. Samar- samar terlihat lelaki itu tengah tertidur di dalam mobilnya.

__ADS_1


"Apa dia nggak pulang semalam?" Pertanyaan itu terlintas di kepalanya, ia tak habis pikir dengan Aksa yang terus saja mengejarnya meskipun telah menerima penolakan berulang kali.


Tok- tok- tok!


Aza mengetuk kaca mobil berharap lelaki itu segera bangun. Bukannya kasihan, tapi Aza hanya tidak enak saja jika dilihat para tetangganya.


Perlahan, lelaki itu mulai mengerjap. Senyum terulas di wajahnya ketika mendapati Aza di hadapannya. Segeralah ia membuka jendela mobilnya.


"Ohayou gozaimasu..." sapa Aksa tersenyum lembut. Tapi, Aza tak terbuai akan senyuman itu, yang ada malah rasa kesal yang teramat. Aksa benar- benar sudah gila.


"Pergilah dari sini, jangan membuatku dalam masalah," ketus Aza berlalu meninggalkan Aksa.


Aksa segera turun dan mengejar wanita itu. "Kamu mau kemana?" tanyanya sembari mencekal tangan Aza.


"Ciumlah tubuhku, bau bukan? Kamu nggak menyuruhku untuk mandi di rumahmu dulu?" Aksa mengangkat tangannya dan menyuruh Aza mencium ketiaknya. Sontak, Aza pun langsung menutup hidungnya, tampan tapi badannya sangat bau!


"Ah, ini bukan urusanku. Lagipula kamu kan bisa pulang ke rumahmu sendiri," ucap Aza dengan tangan yang masih menutup hidungnya karena Aksa belum juga menurunkan ketiaknya.


"Aksaaaaaa!!!" teriakan Aza ini tak mampu menghentikan lelaki itu, ia pun mengikuti Aksa dan mengawasinya supaya tidak berbuat hal yang aneh- aneh.


Aksa langsung masuk ke kamar mandi dan membasuh tubuhnya. Sedikit kesusahan karena mandi menggunakan gayung. Selesai mandi, ia pun kebingungan mencari handuk. Ia baru ingat jika Aza meletakkan handuknya di depan kamar mandi, ia segera membuka pintu dan tangannya meraba mencari handuk. Setelah melilitkannya di pingang, Aksa langsung keluar. Ia kebingungan mau memakai baju apa setelah ini karena bajunya tadi sudah basah dan kotor.


"Za..."


Aza mendengar sapaan dari Aksa, tapi wanita itu tak menggubrisnya. Aksa pun menggoyangkam pundak Aza dari belakang, wanita itu pun menoleh ke arahnya.


"Aaaaaaaaaaaaa!!!" Aza berteriak sembari menutup mata dengan kedua tangannya. Ia terkejut mendapati Aksa bertelanjang dada. Dada putih mulus tanpa bulu terekspos jelas, Aza sedikit membuka jarinya supaya bisa mengintip. Sayang juga kalau melewatkan pemandangan indah ini, pikir Aza.


"Ada baju cowok nggak? Bajuku basah, masa iya aku ke kantor pakai handuk doang," lirih Aksa mendamba.

__ADS_1


*****


Kini, Aksa sudah memakai baju milik Almarhum Papa Aza. Kaos dengan ukuran M terlihat begitu menyesakkan lelaki yang biasa memakai kaos berukuran L, lekuk tubuh Aksa terlihat jelas tatkala memakai kaos itu. Tambah seksi, seru Aza dalam hatinya.


"Sudah kubilang kan, bajunya akan kekecilan untuk tubuhmu yang besar itu," ucap Aza terkekeh.


"Biar saja, ayo berangkat aku ingin segera ganti baju." Aksa menarik tangan wanita itu dan menyuruhnya masuk ke dalam mobil. Aza tak menolak, waktu telah menunjukkan pukul tujuh pagi dan angkot pasti sangat ramai, jadi lebih baik Aza ikut dengan lelaki menyebalkan itu.


"Kamu bekerja dimana?" tanya Aksa pura- pura tidak tahu.


"Sanjaya Group. Hebat bukan? Itu berarti aku sangatlah pandai hingga Sanjaya Group saja melirikku," ucap Aza sangat bangga. Ia tak tahu jika Aksa adalah anak dari pemilik perusahaan itu.


"Ohh, Sanjaya Group. Aku dengar Presdir di sana itu baru. Dia sangatlah tampan, kece, keren, tiap kali wanita bertemu dengannya pasti langsung pingsan melihatnya."


"Oh, ya? Kamu kenal sama dia?" tanya Aza.


"Sangat mengenalnya, sebentar lagi dia juga mau menikah. Tapi lagi nunggu si cewek peka dulu," ucap Aksa bermaksud menyindir Aza. Tapi wanita itu acuh dan menganggukkan kepalanya saja.


Mereka terus saja menyisipkan obrolan ringan selama perjalanan, hingga tak sadar jika mobil telah memasuki gerbang utama Sanjaya Group. Aza sedikit terheran- heran melihat satpam menundukkan kepalanya dan hormat saat mobil Aksa lewat.


"Kenapa dia menghormatimu? Dihh, satpamnya sudah error nih. Masa iya orang kaya kamu dihormati," celetuk Aza membuat Aksa sedikit geram.


Aksa segera memarkirkan mobilnya di parkiran khusus untuk dirinya. Ia segera mengajak Aza turun.


"Heh, kenapa kamu juga ikut turun?" tanya Aza.


"Ohh, kamu juga kerja di sini ya? Tapi kok kamu nggak ganti kemeja dan celana panjang dulu? Nanti dimarahin Pak Presdir loh," tambah Aza. Aksa semakin gemas dibuatnya.


"Jangan banyak bicara, aku kan sangat mengenal presdir di sini. Jadi nggak masalah kalau aku ke kantor cuma pakai kaos dan celana pendek saja."

__ADS_1


Aza hanya mengangguk paham, ia segera turun dan mengikuti langkah Aksa karena dirinya juga belum tahu dimana ruangannya. Ia kembali dibuat heran dengan para karyawan yang terus saja menatapnya saat turun dari mobil hingga memasuki loby.


"Sa, kenapa mereka ngelihatin aku gitu sih? Emangnya ada yang salah ya sama penampilanku?" Aza mengamati dirinya mencoba mencari kesalahan, ia semakin bingung tapi Aksa malah terkekeh gemas dan mencubit pipi Aza.


__ADS_2