
"Hubby, aku masih lapar," cicit Aza memegang perutnya yang masih merona minta untuk diisi karena tadi hanya makan beberapa potong cooked beef yang disajikan dengan saus red wine.
"Aku juga masih lapar, Za. Kita cari makanan yang berat ya." Aksa sendiri juga masih lapar, makanan restoran yang menyajikan porsi sedikit memang tak cocok di perutnya.
Mobil telah sampai di Pasar Malam Sanur. Aksa lalu menggandeng tangan Aza mengajaknya menyusuri pasar malam yang selalu ramai itu. Banyak sekali pedagang berjajar rapi menjajakan barang dagangan mereka yang beraneka ragam sekaligus menggugah selera.
"Hubby, aku mau sate ayam," ucap Aza menunjuk warung yang bertuliskan Mama Sate. Warung sate di Pasar Malam Sanur
Aksa menggelengkan kepalanya melihat istrinya yang gila jika soal makanan. Tangan wanita itu padahal sudah penuh dengan makanan- makanan yang dijajakan di sana.
"Hubby, kita makan di sini saja ya." Aza mendudukkan tubuhnya di kursi sembari menunggu pesanan sate ayamnya. Ia lalu mengeluarkan semua makanan yang dibelinya hingga meja itu penuh.
"Perutmu muat segini banyaknya?" tanya Aksa, lelaki itu menggigit sate lilit. Sate yang dililitkan di batang sereh, rasanya sangat nikmat.
"Kan sama kamu."
Dua piring sate beserta lontong telah sampai di meja Aksa dan Aza. Wanita itu pun sumringah, ia segera menyantap sate itu tak lupa dengan lontongnya.
"Rasanya lebih enak dari sate yang di Jakarta, Hubby."
"Oh ya?" Aksa menarik tangan Aza yang memegang satu tusuk sate, ia lalu menarik daging yang ditusuk dengan bambu itu.
"Hubby, punyamu kan ada. Kenapa makan punyaku..."
"Lebih enak punyamu."
"Ah, bagaimana bisa? Aku kan memesan sate yang sama, kamu ini ada- ada saja."
Aksa terkekeh mendengarnya. Mereka kembali menyantap berbagai makanan yang telah dibeli. Habis? Tentu saja habis. Aksa dan Aza benar- benar lapar hingga makanan yang sebanyak itu dihabiskan dalam sekejap.
"Hubby, perutku sudah penuh..." Aza menyandarkan tubuhnya di kursi, memegang perutnya yang sedikit membuncit karena terisi makanan yang sangat banyak.
"Sama."
Pasutri itu istirahat sejenak sembari menunggu perutnya membaik. Aza hampir saja tertidur di sana karena kantuk yang menyerangnya. Malam semakin larut, ia pun belum istirahat tadi. Dan kini, rasa lelah mulai menyerang.
"Baru jam segini udah ngantuk?" tanya Aksa membelai wajah Aza yang mengantuk.
Wanita itu mengangguk, lalu menyandarkan kepalanya di bahu Aksa. "Hubby, ayo pulang."
"Serius nih mau pulang?"
Aksa pun terkekeh, sepertinya Aza memang sudah tak bisa menahan kantuknya.
"Naik ke punggungku!" Aksa berjongkok supaya istrinya itu naik ke punggungnya.
Dengan senang hati, Aza pun naik ke punggung suaminya. Menyandarkan kepalanya di bahu yang terasa sangat nyaman itu.
"Za?" tanya Aksa memastikan istrinya itu sudah tidur atau belum.
"Hm..."
"Kamu nggak mau beli oleh- oleh dulu buat temen di kantor?"
"Ah iya, Hubby! Aku hampir melupakannya, ayo kita beli oleh- oleh, Hubby!"
Kantuk Aza seakan telah hilang, ia kembali bersemangat apalagi untuk urusan oleh- oleh. Ia sudah tak sabar berbelanja.
"Tapi kan kamu ngantuk, besok saja lah."
"Udah enggak, Hubby. Katanya besok kita akan di dalam kamar terus? Tapi kalau kamu maunya besok ya nggak papa sih, aku mal-"
"Kita beli sekarang, besok kita akan di kamar terus!" ucap Aksa memotong perkataan istrinya.
*****
Aksa memutuskan untuk pergi ke pusat perbelanjaan oleh- oleh yang sering ia kunjungi. Meskipun dirinya sering pergi ke Bali, tapi Aksa selalu saja menyempatkan diri untuk berbelanja oleh-oleh dan tak pernah bosan akan hal itu.
"Hubby, kita beli pie susu berapa?" tanya Aza sembari memilih merk pie susu mana yang hendak dibeli.
"Terserah, beli semuanya juga boleh." Aksa langsung mengambil banyak sekali pie susu coklat maupun original ke dalam keranjang belanjaan Aza membuat wanita itu langsung meletakkannya di lantai karena berat.
__ADS_1
"Hufft, banyak sekali! Aku nggak kuat, Hubby."
"Harusnya kita pakai troli. Aku ambilkan dulu kamu pilih yang lain." Aksa pergi mengambil troli setelah mengecup kening istrinya.
Aza pun kembali memilih makanan khas bali lainnya. Kacang disko, Kopi Kintamani, pia legong, tak lupa juga dengan Bali Home spa.
"Aduh, keknya kacangnya kurang deh. Beli banyak sekalian aja lah, buat cemilan di kantor," gumam Aza. Ia pun kembali ke rak di mana terdapat banyak sekali kacang disko yang berjajar.
Ia tak sengaja mengambil satu kotak kacang disko bersamaan dengan orang lain. Ia pun menoleh ke arah orang yang hendak mengambil kacang itu juga.
"Maaf, Kak," ucap orang itu. Lelaki tampan yang terlihat keren, tapi masih lebih keren suaminya.
"Nggak papa kok."
"Udah selesai belum, Za? Sebagian pindah ke troli sini..." ucap Aksa sembari memindah beberapa makanan ke dalam troli yang baru saja ia ambil.
"Loh, Kak Aksa!" ucap orang itu.
Aksa pun menoleh, menatap siapakah yang telah menyapanya itu. Ia tersenyum dan langsung merangkulnya layaknya lelaki pada umumnya.
"Halo, Farel. Kamu di sini juga ternyata..."
"Iya Kak, main sama temen. Besok udah balik lagi ke Jakarta," jawab Farel. Lelaki yang merupakan adik Tania, empat tahun lebih muda dari Aksa.
"Oh ya, hampir lupa. Ini kenalin Aza, istri kakak. Kamu dulu nggak dateng sih pas pernikahan aku, jadi nggak tahu kan," ucap Aksa memperkenalkan istrinya kepada lelaki yang sudah dianggap menjadi adiknya sendiri.
"Halo kak, kenalin aku Farel." Lelaki itu mengulurkan tangannya tapi disambut Aksa bukan Aza.
"Aku sudah memperkenalkannya tadi, nggak usah kenal lebih hehe..." Aksa lalu mengajak Farel mengobrol sebentar dan membiarkan Aza untuk memilih oleh- oleh lagi.
Cukup lama mereka mengobrol hingga belanjaan Aza sudah dibayar dan dikemas ke dalam beberapa paper bag.
"Hubby, sudah selesai. Ayo pulang..."
"Iya, Za. Aku pamit duluan ya, Farel. Kamu hati- hati pulangnya nanti," ucap Aksa menepuk bahu Farel sebagai tanda pamit.
"Iya kak, hati- hati di jalan juga. Sampai bertemu lagi..." Farel melambaikan tangannya menatap Aksa dan Aza yang mulai menjauh.
"Hubby, tadi itu siapa?" tanya Aza setelah mereka sudah berada di dalam mobil.
"Adiknya Tania, Za. Kenapa memangnya?"
Aza menggeleng, "Oh ya, Hubby. Aku kok sekarang udah nggak lihat Tania lagi? Dia kemana? Padahal aku mau ngajakin berantem, kuku ku kan sudah panjang."
Aza lalu memperlihatkan kuku- kukunya yang panjang, ia menuruti saran dari Aksa untuk memanjangkan kuku supaya jika ada yang mengajaknya berantem Aza tak kebingungan lagi karena sudah punya senjata.
"Udah nggak akan ada yang ngajak kamu berantem lagi, Tania itu sekarang ada di Singapore."
"Yahh, berarti sia- sia dong aku panjangin kuku!"
"Besok dipotong aja. Punggungku malah jadi korban kalau malam." Aksa bergidik ngeri, akhir- akhir ini mereka selalu bermain dan Aza selalu mencakar punggungnya tatkala merasakan sakit.
"Nggak mau, Hubby. Ini senjataku, kalau Tania sudah nggak ada kemungkinan besar masih ada wanita lain."
"Wanita lain siapa?" tanya Aksa mengernyitkan dahinya.
"Siapa tahu kami punya simpanan di belakang aku," jawab Aza lirih di akhir kalimatnya.
Aksa mengacak- acak rambut Aza, ia begitu gemas dengan wanita yang duduk di sampingnya itu. Bagaimana bisa Aza berpikiran kalau dirinya itu punya simpanan.
"Nggak ada sama sekali, aku cuma milikmu. Aku nggak akan pernah mengkhianatimu. Jangan pernah membahas ini lagi, aku nggak suka," ujar Aksa sembari mendaratkan satu kecupan di kening Aza.
*****
Benar dengan apa yang dikatakan Aksa, hari ketiga mereka di Bali hanya dihabiskan di dalam kamar. Untuk makan saja Aksa juga sudah menyuruh pelayan hotel untuk membawakan makanan ke dalam kamar.
"Hubby, apa kamu nggak bosan?" tanya Aza membelai wajah suaminya.
"Kenapa memangnya? Bukankah seperti ini sangat menyenangkan? Hanya ada aku dan kamu di sini."
"Ayo pergi jalan-jalan sebelum kita pulang, Hubby."
"Mau jalan- jalan ke mana? Dua jam lagi kita sudah harus sampai di bandara loh."
__ADS_1
Aza pun patuh. Ia terus membelai wajah suaminya, memainkan hidung, pipi, mulut, dan lain sebagainya. Wanita itu benar- benar bosan.
"Hubby..."
"Hm?"
"Hubby..."
"Hm?"
"Hubby..."
Berulang kali istrinya itu memanggilnya, tapi tak kunjung mengatakan apapun. Aksa mendengus kesal.
"Apa yang kamu mau? Sampai kamu memanggilku tak jelas seperti itu lagi aku akan melakukannya lagi padamu," ancam Aksa tapi tak membuat Aza takut.
"Hubby..." Aza kembali memanggil suaminya, ia terkekeh karena berhasil menggoda lelaki nakal itu.
"Ada apa sayangku, cintaku, kasihku?" Aksa menangkup kedua pipi Aza, menatapnya lekat supaya wanita itu mau mengatakan apa yang ia inginkan.
"Bagaimana kalau sekarang saja? Daripada berdiam diri di kamar seperti ini, lebih baik pulang, Hubby."
"Beneran mau pulang?"
Aza mengangguk.
"Udah kangen sama Mama Aira."
"Serius nih? Atau jangan- jangan kamu kangennya sama Mama Anandhi?" goda Aksa mengerlingkan matanya.
Aza langsung menyentil kening Aksa dan berbalik membelakangi lelaki itu.
"Gitu aja ngambek," seru Aksa. Tangan lelaki itu tak bisa diam, ia masuk ke dalam baju Aza, memainkan jarinya di perut kecil wanita itu.
"Hubby, geli!"
"Makanya jangan merajuk!"
Aksa dan Aza terdiam menatap langit- langit kamar hotel. Sesekali saling pandang, lalu kembali menatap langit-langit. Ada dua ekor cicak di sana, saling mengejar. Sudah dipastikan jika cicak yang mengejar itu cicak jantan. Sang betina sedang merajuk.
"Coba tebak, apakah cicak jantan itu bisa mengejar cicak betina?" tanya Aksa kepada Aza.
"Bisa, kita lihat saja nanti."
Mereka lalu menatap dua ekor cicak tadi, mengikuti kemana mereka pergi. Hingga pada akhirnya, sang cicak betina berhenti dan menatap cicak jantan. Mereka seperti tengah mengatakan sesuatu.
"Mereka bicara apa? Sepertinya serius sekali," celetuk Aksa dengan mata yang masih tertuju pada dua ekor cicak yang sedang bercakap.
"Mana kutahu. Sepertinya tadi cicak jantan melamar cicak betina. Tapi cicak betinanya nggak mau, terus jadi kejar- kejaran deh," jawab Aza sekenanya.
"Sama kaya kita dulu dong. Dan akhirnya kamu mengalah dan mau menikah denganku," sahut Aksa tersenyum tipis. Kisah beberapa bulan yang lalu kembali teringat, lucu dan menggelitik. Dirinya yang angkuh akhirnya mampu meluluhkan seorang wanita yang kini telah menjadi istrinya.
"Lah, mereka udah baikan, Hubby," ucap Aza terkekeh tatkala melihat dua ekor cicak itu sudah tak kejar- kejaran melainkan sudah berjalan beriringan.
Aksa ikut terkekeh melihatnya. Cicak itu sama seperti kisahnya dulu. "Dan akhirnya sang betina mau menerima sang jantan. Mereka pun segera mempersiapkan acara pernikahan. Semoga pernikahan berjalan lancar dan mereka bisa hidup bahagia selamanya. Tamat..."
Aza tertawa terpingkal- pingkal mendengar perkataan suaminya. Ia sudah seperti menonton pertunjukkan drama saja.
.
.
.
.
.
FYI
Ini novel dengan konflik yang ringan. Perlahan dan tak menukik tajam. So, buat kalian yang terheran- heran karena gaada konflik berat, sabar aja. Novel ini buat seneng- seneng aja, ga kaya novel lain yang konfliknya banyak, mengalir cepat, dan langsung menukik 🙏
Salam sayang dari Aza dan Aksa❤️❤️❤️
__ADS_1